[158] Jurus Mengelola Cemburu


Berkaitan dengan postingan saya sebelumnya tentang Cemburu itu Perintah Allah, maka di sini akan saya paparkan terkait Jurus Mengelola Cemburu. Barangkali ada banyak lagi jurus yang bisa meredam api cemburu, yang tidak tertulis di tulisan saya ini, berkaitan dengan keterbatasan ilmu yang saya miliki.

Rasa cemburu (ghirah) adalah fitrah yang Allah tanamkan dalam hati orang yang beriman untuk menjaga martabat keimanan dan kehormatan dirinya. Rasa cemburu (ghirah) yang kita rasakan adalah bukti cinta kepada suami dan perkara normal bagi seorang wanita. Namun, rasa cemburu yang awalnya mulia bisa berubah menjadi hina bagi pelakunya jika direalisasikan dengan menzalimi diri sendiri atau orang lain. Rasa cemburu yang awalnya mulia bisa berubah menjadi hina bagi pelakunya jika direalisasikan dengan menzalimi diri sendiri atau orang lain. Jadi bagaimana agar cemburu kita di ridhai Allah?

  1. Jangan terlalu berprasangka buruk kepada pasangan. Karena dapat membuat diri kita berada dalam dunia khayalan, suamiku sedang apa ya, dengan siapa ya, jangan-jangan suamiku sering komunikasi dengan si fulana, jangan-jangan suamiku pernah makan siang dengan fulana, dll. Hindari berprasangka buruk, karena Allah sesuai prasangka hamba-Nya. Dan prasangka buruk itu sebagian besar datang dari iblis. Percayalah! Jika prasangka kita baik kepada pada Allah dan suami, kebaikan pull ah yang akan terjadi. Namun, jika kita berprasangka negative, artinya kita sudah tertimpa musibah, sebelum datangnya musibah. Jodoh ini adalah takdir baik dari Allah, maka jangan pernah sangsikan akan datangnya kebaikan jika sudah ikhlas menerima takdir-takdir-Nya.
  2. Jangan mencoba untuk membuka ruang. Suami/istri jangan melakukan perbuatan yang mengundang cemburu pasangannya, baik dengan komunikasi verbal atau pun yang lain. Saudariku, jangan pernah menceritakan kecantikan wanita lain kepada suamimu. Karena hal itu sangat dilarang oleh Rosulullah. Sifat laki-laki tentu berbeda-beda, dan bisa jadi apabila kita menceritakan kecantikan wanita lain akan mengakibatkan sang suami terbayang lebih dari yang istri ceritakan. Begitu juga sebaliknya, janganlah seorang suami memuji wanita lain di depan istrinya, ini sangat-sangat dilarang oleh Rosulullah. Perlu koreksi diri, jangan sampai diri sendirilah yang telah membuka ruang.
  3. Menjadi pribadi yang lebih memahami dan percaya terhadap pasangan. Seperti yang telah dikupas di awal bahwa suami pun akan merasa risih ketika diperlakukan layaknya ‘anak kecil’. Letakkan kepercayaan pada suami, dan jangan alih tugas malaikat. Namun, jangan juga terlalu berlaku cuek, berusaha menjadi pribadi yang lebih memahami pasangan. Belajar untuk memperhatikan, jangan terus-terusan ingin diperhatikan.
  4. Banyak berinteraksi dengan Al Qur’an, dengan tilawah, menghafal, mentadabburi, dll.
  5. Redam api cemburu dan amarah dengan memohon perlindungan Allah (berta’awwudz) sehingga tertutup pintu setan untuk memasukkan rasa was-was dalam pikiran dan hati kita. Alihkan pikiran kepada ketaatan dan kebajikan yang mendatangkan manfaat.
  6. Yakin bahwa semua benda adalah milik Allah. Suami adalah amanah istri, sang istri adalah amanah suami. Apabila kita hendak cemburu berlebihan pun, kita tidak ada kuasa terhadap diri kita sendiri. Misalkan kita sebagai wanita sering berpikir kalau kita akan sangat cemburu apabila suami kita diambil oleh orang lain, tapi kita tidak pernah berpikir bagaimana kalau Allah yang ambil? Jadi semasa kita meminjam hak-hak Allah, kita jaga adab meminjam ini baik-baik. Kalau hendak cemburu boleh, asal jangan berlebihan. Semoga kita bisa mengelola cemburu dengan baik, sehingga cemburu itu menjadi cemburu yang disukai Allah, bukan cemburu yang dibenci oleh Allah.

 

Semoga bermanfaat untuk Saudariku semuanya :)

Tulisan saya ini diambil dari berbagai sumber, ada yang dari video, ada yang dari tulisan guru ngaji, dan tentunya semua atas izin Allah.

[157] Cemburu Itu Perintah Allah


Semasa kecil, diri ini sangat penasaran dengan sesuatu yang bernama ‘awan’. Ingiiiin terbang dekat dengannya. Rasa penasaran itu semakin menjadi, ketika Guru di sekolah memberi materi tentang proses terjadinya hujan. Awan itu kumpulan dari bintik-bintik air, begitulah jawaban normatif yang kudapati kala masih berseragam putih-merah. Dalam hati masih terbetik tanda tanya besar. Kalau awan itu bintik-bintik air, kenapa bentuknya mirip kapas.

Dewasa ini aku mengerti bahwa awan merupakan bagian dari siklus hidrologi. Salah satu bukti keagungan Allah.

“Mas, Adee mau bilang sesuatu”

“Ada apa cintaa?”(bersamaan dengan kecupan manis yang mendarat di keningku)

“Mas, sebenarnya Adee cemburu kalau Mas berbicara terlalu akrab dengan fulana.”(sembari menitipkan kepala di pundak pangerannya dengan manjanya)

“MasyaAllah, cintaa, Mas itu menjelaskan berkaitan dengan prosedur pelaksanaan kerja di lapangan, Mas juga sangat menjaga jarak, menjaga pandangan, menjaga hati. Mas masih ada iman cintaa”(kecupan kembali mendarat di keningku)

“Tapi kaaan” (dengan gaya manjanya)

“Iya, iya, lain kali kalau Mas menjelaskan ke fulana jaraknya 5 meter deh” (hahaha, terdengar tawa kami bersama)

Pagi tersenyum cerah, dibumbui tusukan mentari bijak menyapa penghuni bumi. Langit biru berhias awan putih nan teduh turut menambah amboinya suasana pagi di Gorontalo.

Jum’at pagi, kami pun bersemangat untuk melanjutkan membaca surah Al Kahfi.

Alhamdulillah, kini aku merasa menjadi sosok yang lebih dewasa dalam menyikapi hidup, lebih cerdas dalam menghadapi masalah yang berkaitan dengan ‘cemburu’. Minta pada Allah, percaya pada pasangan, selalu pupuk rasa cinta.

Alhamdulillah, suasana hati yang tenang membuat diri ini lebih mudah untuk menghafal Al Qur’an, juz 30 done. Surah Al Mulk di juz 29, alhamdulillah sudah hafal. Berlanjut ke surah Al Qalam. Alhamdulillah, diri ini masih bisa setoran hafalan via Utsmani online. Allah Akbar. Mari semangat untuk menghafal Al Qur’an. Ya Rabb, mudahkanlah hamba untuk bisa menjadi keluarga-Mu. Menjadi seorang hafidzah.

“Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia, para sahabat bertanya, “Siapakah mereka ya Rosulullah?” Rosul menjawab, “Para ahli Qur’an. Merekalah keluarga Allah  dan pilihan-pilihanNya”. (HR Ahmad)

Cemburu itu Fitrah

Ketika seseorang menikah, maka Allah akan hadirkan perasaan ‘cemburu’, yang sebenarnya rasa cemburu ini adalah rasa memiliki, rasa kepunyaan, rasa disayangi. Yaa, perasaan cemburu adalah fitrah dari Allah. Karena cemburu adalah nikmat dalam hidup berumahtangga, dan rasa cemburu itu adalah hadiah yang diberikan oleh Allah. Jadi, tugas kita adalah merawat rasa cemburu itu, jangan sampai Allah mencabut hadiah itu dari diri kita. Maksudnya bagaimana? Adalah fitrah yang diberikan oleh Allah ketika hati kita merasa cemburu saat melihat suami berduaan dengan wanita lain. Kalau rasa cemburu telah dicabut dari diri kita, artinya hadiah dari Allah berupa cemburu itu sudah diambil oleh Allah, maka kita tidak akan peduli lagi tentang apa yang suami kita lakukan, terserah suamiku hendak berduaan dengan wanita mana, hendak berpegangan dengan siapa. Jadi, cemburu itu adalah perintah dari Allah. Jadi tidak boleh suka-suka kita, “aku memilih untuk tidak cemburu”, tidak seperti itu. Karena cemburu adalah perintah Allah.

Sa’ad bin Ubadah ra berkata: “Seandainya aku melihat seorang pria bersama istriku, niscaya aku akan menebas pria itu dengan pedang.” Rosulullah Shalallahu’alaihiwasallam bersabda: “Apakah kalian merasa heran dengan cemburunya Sa`ad? Sungguh aku lebih cemburu daripada Sa`ad dan Allah lebih cemburu daripadaku” (HR Bukhari Muslim).

Saudariku yang dirahmati Allah, dalam hadits tersebut dikisahkan ketika Sa’ad mengatakan bahwa apabila ia melihat seorang pria sedang bersama istrinya, maka Sa’ad akan menebas pria itu dengan pedang. Hingga sampailah berita itu kepada Rosulullah, kemudian Rosulullah Shalallahu’alaihiwasallam bertanya kepada para sahabat, apakah kalian heran dengan cemburunya Sa’ad? Rosulullah mengatakan, “Sungguh aku lebih cemburu daripada Sa’ad, dan Allah lebih cemburu daripadaku.

Jadi jelaslah bahwa Rosulullah pun cemburu, dan Allah pun cemburu. Apabila seorang suami mendapati istrinya sedang bersama laki-laki lain, lantas sang suami tidak cemburu, maka Allah akan sangat marah. Karena cemburu adalah perintah Allah, karena Nabi pun cemburu, karena istri Nabi pun cemburu, dan Allah juga cemburu. Karena sifat cemburu Allah inilah, maka Allah melarang perbuatan keji. Allah pun suka ketika makhluk-makhluk memuji-Nya, bahkan tidak ada yang layak mendapatkan pujian selain Allah.

Rasa cemburu adalah hadiah dari Allah. Rasa cemburu adalah rasa yang Allah hadirkan untuk menjaga sebuah ikatan pernikahan. Tetapi dengan syarat, ketika cemburu itu disebabkan karena kita melihat pasangan kita berbuat sesuatu yang melanggar perintah Allah, atau pun ke arah melanggar perintah Allah.

Contohnya, ketika ada pesan masuk ke handphone suami yang berisi kata-kata mesra dari wanita lain, kemudian sang istri mengatakan “saya tidak cemburu, ini biasa saja, itu kan kawan lamanya”. Di sinilah, Allah sangat-sangat marah. Karena cemburu adalah perintah Allah. Namun, jangan sampai cemburu itu dilampiaskan dengan cara yang tidak benar.

 Wallahu A’lam Bishawab

[156] Cerita dari Desa


Memilih tangkai pohon pisang yang sekiranya pas, menumbuknya, menyisirnya satu persatu. Belum pernah merasa sukses menjadikannya tangkai pohon pisang yang cantik. Senyum menciut, hingga kembali merekah, ketika teman yang baik hati memberikan hasil karyanya untukku. ” Ini dek”. Sepertinya aku lebih suka bermain dengan daun pisah yang diurai. Lebih mudah membuatnya. Sisir, kemudian tempel. Meski hasilnya tak sebagus dari tangkai pohon pisang.

Memanjat pohon melinjo di depan rumah Biyung. Aku lupa, ada berapa pohon melinjo waktu itu. Dua, mungkin dua. Aku suka memanjat pohon melinjo yang ada di sisi “kulon”, di depan rumah biyung, ada perosotan, naah kalau kita menghadap ke selatan membelakangi rumah biyung, pohon melinjonya ada di sebelah kanan perosotan. Seru deh, mencari daun melinjo muda, sama buah melinjo yang sudah berwarna kemerah-merahan. Meski, saat itu aku tak suka makan sayur dari dua jenis bahan itu. Aku hanya suka memanjat, lantas memetiknya. Bersuka ria, lepas, asyik, seru. Oh iya, aku jadi ingat dengan pohon melinjo yang di sebelah “etan”, itu lho yang arah depan dapur. Aku kurang suka memanjat pohon yang itu. Abisnya pohonnya terlalu lebat, kurang asyik.

Jadi inget, zaman suka nangkring di atas pohon waru di deket sawah. Sebelahnya rumahnya Pakdhe Miran. Asik di situ, aku suka menghabiskan masa soreku*siang juga sih, pokoknya abis pulang sekolah gitu, untuk sekedar meneguk semilirnya angin. Lembut meyapu, ramah. Pohon waru itu sedikit bengkok ke arah saluran air di tepi sawah. Jadilah kalau kita manjat naik sedikit saja ke pohonnya, posisi kita uda di atas air. Liat ikan crepeng, bethik, wadher cethur, haaa aku mendapatkan nama-nama ikan itu dari temanku semasa kecil, namanya Dika. Perempuan yang jago banget nangkep ikan. Aku saja sampai bingung. Sejarahku, aku termasuk penakut sama yang namanya tangkep ikan, fresh from the Kalen or Mbanyu. Kalau Dika itu jago banget, nggak jarang aku dapet gratisan tangkepan ikannya, hehee, makasih ya Dika. Meskipun, nggak jarang juga aku jadi ikut diomel-omelin sama Mak’e, akibat terlalu sering main ke Sawah. Heee, secara lah ya, namanya juga ortu, maunya anaknya nggak kakean polah. Tapi yang namanya masa kecil, namanya juga anak kecil, maunya kan main*hihihi pembelaan.

Ohya, aku dulu jago main tali lho. Itu lho yang karet kecil-kecil di sambung trus dipakai loncat-loncatan. Ada yang namanya “merdeka”, ada yang namanya “uding”, jago lah pokoknya. Ada dua jenis karet yang aku tahu waktu itu, kami menyebutnya, aku lupa, aku lupa namanya. Pokoknya sampai sekarang pun aku masih bisa mengenali dua jenis karet itu.

Tau nggak permainan gadheng, gimana ya cara nulisnya, hihi, itu lho yang dari batu kecil-kecil trus dimainin pakai tangan. Biasanya dari batu pilihan ‘kami’. Soalnya ada batu andalan yang asik dan akrab sama tangan karena teksturnya yang pas. Kalau pas zaman SD tu ya, ada puluhan koloni yang main gadheng di sepanjang teras kelas. Asyiik lho, kalau zaman sekarang anak kecil mainannya uda gadget. Huuu cupu. Dulu juga ada yang namanya bekelan. Ada bola dari karet, sama ada yang kecil-kecil jumlahnya 4 dari besi gitu apa ya, namanya apa ya yang 4 itu sampe uda lupa. Aku masih ingat beberapa istilah tentang dunia perbekelan, ada  1 2 3 4, P=Pet, R=Rho, K itu kepanjangan apa ya aku lupa, trus satu lagi S, abis itu N, aku juga lupa kepanjangannya, haaa, terakhirnya juga ada yang ngebuat 1 permainan itu adalah 1 putaran, biasa disebut 1 sawah, namanya juga apa aku lupa. Haaaa aku pernah lho ngerendem tu bola bekel pakai minyak tanah, sampai melembung trus akhirnya pecah geje gitu. Kata orang kalau direndem pke minyak tanah bolanya bisa gede. Jadi, daripada beli bola bekel yang gede kan mahal ya, aku beli yang kecil trus direndem, hehehee, ada yang sukses, ada yang yang sukses pecah. Ternyata tergantung dari bahannya tu bola bekel, ada yang cocok sama minyak tanah, ada yang nggak.

Layang-layang. Jadi inget aku pernah buat layang-layang dari kertas koran apa ya waktu itu. Pokoknya gitu deh, trus nggak bisa terbang gitu, yasudahlah. Seru ya inget masa kecil itu.

Aku juga pernah ngrusakin perkakas dapur. Ceritanya ortu sedang ke sawah. Naah, sebagai anak yang berbakti, aku berencana mau buat surprise ke ortu, rencana awal, hendak memasak. Jadi, kalau ortu pulang dari sawah, kan tinggal menyantap kelezatan masakan sang anak gitu. Yaaa, mungkin aku kurang berbakat, selalu belum sukses menyalakan api dari kayu. Sampai abis minyak tanah berbotol-botol, belum sukses menyala juga itu api. Nyala sebentar efek minyak tanah, trus mati, begitu berulang-ulang, jadilah masakan di atas wajan, hidup segan matipun tak mau. Dan tragisnya peristiwa itu nggak hanya 1 kali terjadi. Setiap ada kesempatan aku bereksperimen di dapur, selalu bermasalah dengan yang namanya susahnya menyalakan api. Jangan tanya kenapa nggak pakai kompor ya. Zaman dulu, belum ada kompor gas. Ada sih kompor minyak tanah, tapi bukan di rumahku, di rumah tentangga, heee. Hingga aku pun melakukan kesalahan, entah bagaimana ceritanya tu wajan kesayangan ortu, aku pakai buat masak yang pakai gula, alhasil itu gula lengket-lengket ke wajan, haaa, trus berujung di wajannya bolong gitu pokoknya, heeee. Hingga aku pernah terpuruk, dan berpikir aku tak berbakat memasak. Padalah aku punya the real of alasan, ‘aku belum sukses menyalakan api’.

Cerita tentang mecahin vas bunga, …. heee udah dulu ya, bener-bener nggak ada abisnya cerita tentang masa kecil..

*Mohon maaf untuk ketidakjelasan penulis dalam menyusun kata-kata hingga membuat pembaca bingung.

Image

[155] Allah Datang


Tulisan di bawah ini saya kutip dari salah satu materi di kuliah online wisata hati. Sengaja saya share di sini. Karena bagi saya, tulisan ini begitu berharga, mengingatkan saya yang masih begitu hina. Saya suka membacanya dengan lirih, terucap dari bibir, bukan membaca dalam hati, bagi saya lebih menyentuh. Menyentuh diri saya yang kotor, penuh dengan dosa.

Tulisan ini ada di Materi Tahajjud (Jalan ampunan, Kemuliaan, Kekayaan, dan Kesehatan), Seri Materi: Allah Datang. Bismillah

Biasanya kita yang datang kepada orang yang lebih kaya.

Ini Allah Yang Maha Kaya yang datang kepada kita.

Allah ini yang punya jagad, datang loh menghampiri kita. Setiap malam DIA datangnya. Ga tanggung-tanggung. Setiap malam. Datang membawa apa yang kita mau, datang membawa apa yang kita harapkan, datang membawa apa yang kita inginkan. DIA yang sudah teramat baik yang selalu memberikan kepada kita apa yang kita butuhkan, masih menawarkan kepada kita pengabulan atas semua doa-doa kita, pengabulan akan hajat dan maksud kita, dan menawarkan juga perlindungan-Nya untuk kita. Subhaanallaah. Untuk mereka yang paham betapa mahalnya apa yang ditawarkan Allah, ternyata rahasianya harusnya begitu mudah bagi mereka yang beriman: Bangun malam, dan kemudian shalat malam.

Tapi manusia ini memang bodoh, bahlul, bin ga ngertilah sebutannya apaan. Payah-payah dia cari rezeki di siang hari. Kadang sampe mengorbankan waktu malamnya. Juga ia korbankan sabtu ahadnya. Sebagai muslim yang harusnya berhari raya di hari Jum’at pun ia korbankan. Banyak fadhilah hari Jum’at yang tidak bisa ia ambil sebab ia masih mencari, mengejar dan memungut rezeki di hari Jum’at itu. Hari Jum’at sama dengan hari-hari biasa lainnya. Tidak ada yang salah. Sepanjang itu juga menjadi ibadah. Namun andai ia tahu kemudahan yang Allah berikan, maka mungkin usaha kerasnya bangun malam, jadi sama kerasnya dengan usahanya di siang hari. Gitu seharusnya.

Ada kalimat kecil yang sering saya ajarkan kepada diri saya, dan kepada siapa yang mau mendengar: Rahasia kecil berburu dunia, bukan di mencari. Namun meminta. Minta sama Allah. Mencari masih ga tahu di mana adanya. Tapi kalo meminta, nanti yang punya yang akan menunjukkan di mana kita harus mencari dan mengambilnya, sehingga energinya tidak besar. Kadang-kadang malah Allah yang mengantarnya!

Ya, saya kadang menarik nafas panjang. Dunia-Nya kita kejar. Namun Pemilik dunia malah tidak kita kejar. Yang memiliki dunia datang dengan membawa dunia yang kita mau kejar, eh yang ditawari, yang sudah susah payah mencari, malah ga tahu bahwa dunia yang dicari dan dikejarnya justru lagi diantar. Kita ga kenal dengan Allah. Itulah sebabnya kita tidak mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan-Nya. Sudah mah di siang hari kita selalu telat terus shalatnya, lalai dalam shalatnya, eh, di malam hari pun masih pula kita abaikan Allah. Kasihan benar diri kita ini.

Jutaan juga manusia mencari dan mengupayakan kesehatan bagi dirinya, tapi siapa yang mencari kesembuhan lewat jalan shalat malam?

Jutaan manusia menginginkan anak yang saleh salehah. Kepengen anaknya gampang diatur, nurut, kalem, tapi juga memiliki prestasi dunia yang bagus, sehat, panjang umur, lagi berbakti sama orang tua. Namun siapa yang kemudian membawa dirinya, membawa keinginannya, dan membawa anak-anaknya untuk ruku’, sujud, dan berdoa kepada Allah di malam hari?

Jutaan manusia menginginkan ilmu Allah. Ilmu yang kalau diteteskan-Nya kepada manusia, maka Kehendak-Nya di atas segalanya. Ada orang-orang yang susah bener ilmu masuk, ada orang yang digampangkan ilmu masuk. Titian ilmu dikejar, sampe kurang S3, masih pula mengikuti pasca doktoral. Kurang pasca doktoral, dititinya lagi disiplin ilmu yang terkorelasi atau bahkan yang berbeda biar tambah mumpuni. Tapi ya ampuuuuuunnnn, buat semakin dekat ke Allah nya, malah makinan engga dekat. Yang punya ilmu datang, untuk DIA bagi ilmu-Nya bagi siapa yang dikehendaki-Nya, namun kemudian yang mencari ilmu ini hanya butuh ilmunya tidak butuh Diri-Nya. Akhirnya, sama seperti nasib pencari dunia. Dunia diberikan, namun keberkahan dicabut. Begitu pula ilmu. Deretan gelar bererot, melebihi panjangnya kosa kata namanya sendiri. namun kemudian ilmu itu dibuat tiada guna buat dirinya, buat keluarganya, dan terlebih lagi buat akhiratnya.

Jangan menjadi bahagian dari jutaan manusia yang mencari kedudukan, kemuliaan, kekayaan, namun kemudian tidak mengenal Allah, tidak mencari Allah, dan tidak berupaya mendekatkan dirinya kepada Allah. Jangan. Kedudukan yang sebenar-benarnya kedudukan, kemuliaan yang sebenar-benarnya kemuliaan, dan kekayaan yang sebenar-benarnya kekayaan, adalah di sisi Allah, dan dari Allah. Cari di Jalan Allah, dan jangan keluar dari jalannya Allah.

Salah satu kekayaan itu adalah tahajjud. Sampai-sampai Allah lewat Rasul-Nya mengatakan shalat malam 2 rakaat di tengah malam, khoirum minad dunyaa wa maa fiihaa, adalah lebih baik dari dunia dan seisinya.

Ayabtaghuuna ‘indahumul ‘izzata, fainnal ‘izzata lillaahi jamii’an. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir tersebut? Maka sesungguhnya semua kekuatan adalah milik Allah. (An Nisaa: 139).

… innal ‘izzata lillaahi jamii’an. Huwas samii’ul ‘aliim. Sesungguhnya kekuasaan itu milik Allah semuanya. Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Yuunus: 65).

Man kaana yuriidul ‘izzata falillaahil ‘izzatu jamii’an. Sesiapa yang menginginkan kemuliaan, maka kemuliaan itu hanyalah milik Allah. (Faathir: 10).

Subhaana robbil ‘izzati ‘ammaa yashifuun. Wa salaamun ‘alal mursaliin. Walhamdulillaahi robbil ‘aalamiin. Maha Suci AllahTuhanmu yang memiliki keperkasaan dari apa yang mereka sifatkan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para Rasul. Dan segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam.(Ash-Shooffaat: 180-182). 

Yaquuluuna la-ir roja’naa ilal madiinati layukhrijannal a-‘azzul minhal adzal. Walillaahil ‘izzatu wa lirosuulih. Walil mu’miniina wa laakinal munaafiqiina laa ya’lamuun. Mereka berkata: “Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah daripadanya.” Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui. (al Munaafiquun: 8).

Bertebaran ayat-ayat Allah tentang Kekuasaan-Nya, Kebesaran-Nya, Keagungan-Nya, Keperkasaan-Nya. Tugas buat Saudara semua adalah:

# Hafalkan ayat berikut ini: Aali ‘Imroon: 26-27, 113-115, al Isroo: 78-84, az Zumar: 9, adz- Dzaariyaat: 15-19, Surah as Sajdah, Surah al Mulk/Tabaarok, al Muzzammil, al Muddatstsir & Surah al Insaan/ad Dahr.

# Cari hadits tentang Allah ini turun ke langit dunia, dan bahwa Allah akan mengabulkan semua doa yang berdoa di malam hari. Cari-cari di berbagai buku yang berisi ajakan dan motivasi shalat malam, dan hafalkan salah satu hadits tentang shalat malam.

Jika ada yang bertanya, koq kenapa kudu dihafal? Emangnya setorannya kemana? Ustadz sempat? Maaf ya. Ini buat Saudara sendiri. ilmu ini buat Saudara. Bukan sekedar ingin didengar dan dipertontonkan kepada yang lain. Saya kepengen ayat-ayat dan hadits-hadits tentang bangun malam dan kekuasaan-Nya ada di hati Saudara semua. Insight gitu di dalam diri. Selamat mempelajari, dan selamat menghafal. Dilihat-lihat juga artinya ya.

Selamat bertahajjud. Meski ilmunya belom lengkap, tapi mudah-mudahan Allah menggerakkan Saudara semua untuk bangun malam dan istiqomah. Amin ya Allah. Sebab pada akhirnya Allah jugalah yang membuat kita semua bisa bangun malam.

//

[154] Resign oh resign


Suka banget sama postingan di instagram punya kak Rika Daniel di suatu pagi. ‘Foto Kembang Kertas’, yang juga tertulis kata-kata seperti ini:

A morning talk.

“Jadi, ga kerja lagi sekarang?”

“Kerja di kantor engga, Bu”

“Wah, sayang yaa..”

“Lebih sayang anak, Bu.”

#nooffense Have a beautiful day! :)

 

Beberapa hari sebelumnya juga baca dari timeline facebook, kurang lebih seperti ini:

 

Seorang anak kecil yang polos bertanya kepada ibunya.

Anak: Ma… Apakah mau mentipkann tas Mama yang berisi uang dan perhiasan kepada pembantu?

Mama: Tentu saja tidak, Nak. Mama nggak percaya sama dia.

Anak: Tapi, Ma… Kenapa Mama menitipkan aku ke dia?

Resign Oh Resign

1922292_645316218839710_406625483_n

//

[153] Berkebun itu Menyenangkan


Salam semangat untuk sahabat semuanya. Pada kesempatan kali ini, saya akan bercerita tentang ‘berkebun’. Karena, berkebun itu menyenangkan lho.

Saya dan suami, tidak pernah menyangka akan tumbuh pohon cabai di sebelah rumah. Karena kami memang tidak menanamnya. Betapa Allah Maha Kuasa. Beberapa pohon cabai rawit itu tumbuh di sebelah rumah kontrakan kami. Tanpa kami tanam, tanpa kami sadari.

Ini dia foto pohon cabai di sebelah rumah kontrakan kami.

1168781_279941775498340_1567352650_nBetapa bersyukurnya kami, sudah beberapa kali kami ‘panen’ cabai rawit ini. Satu kali panen, kira-kira dapat sebanyak ini. Alhamdulillah.

928488_694198333970141_1306647968_nHingga akhirnya, semangat berkebun kami pun tumbuh. Saya dan suami memang sudah lama ‘menyimpan’ benih yang telah dikirim dari Jawa. Hiihihi, jadi ceritanya, kami sudah ‘berniat’ untuk berkebun, tapi belum terealisasi dikarenakan beberapa alasan, salah satunya, kami belum menemukan tanah. Karena tanah di depan rumah kontrakan kami berpasir dan berbatu.

1171649_1436356263271201_1690583114_nTaraaa, ini dia lahan di depan kontrakan kami yang telah dibersihkan, dan siap untuk diolah. Awalnya, di sini adalah ‘kebun rumput’. Setelah rumput dibersihkan oleh saya dan suami saya, tanah yang berpasir tersebut dicangkul-cangkul, kemudian diberi campuran apaa gitu, pupuk kandang dll pokoknya, saya juga kurang ngerti. Katanya si, beli di orang yang menjual tanaman gitu, hihihi. Terus ditambah juga dengan kulit biji padi yang sudah dibakar. Apaa ya namanya, hihihi, saya juga kurang ngerti.

10009358_1407441099526244_713172085_n(Ini adalah bibit bayam, kacang panjang, dan mentimun yang dikirim dari Jawa. Padahal kata tentangga, beli di sini juga ada. Kami kan tidak tahu, hihihi)

10245945_287406308091922_673049477_n(saking amatirnya kami, kacang panjang ini harusnya di tanam dengan jarak tertentu, tapi karena kepolosan kami, kami sebar bibit kacang panjangnya, dengan niat setelah agak besar dipindah ke lahan. Kata suami ini adalah pesemaian. Hihihi, alhasil, jadilah pesemaian yang salah alamat, hihihi)

917554_377200125753693_1613882199_n(Kata ibuk, seharusnya bibit kacang panjangnya langsung ditanam dengan jarak tertentu. Jarak yang kami buat juga terlalu dekat. Karena lahan kami sempit, dan kami ingin menanam banyak, alhasil desak-desakan. Ohya, kata Ibuk, satu lubang tanam itu bisa diisi 2 atau 3 bibit)

10175250_280080125492172_710626919_n(Ini dia suami tercinta yang ‘sibuk’ buat pelindung tanaman. Jadi, karena di Gorontalo itu terik siang hari begitu terasa, suami saya sengaja memberi terpal sebagai penutup di bagian atas, agar tanamannya tidak langsung terkena sianr matahari dan akhirnya layu.*Cara ini belum tentu benar ya teman-teman, hehehe. Oh ya, dengan adanya tanaman di depan rumah kontrakan kami, makin banyak orang yang kami kenal di perumahan. Setiap ada yang lewat dan berkesempatan ngobrol, jadilah silahturahmi semakin luas, obrolan dimulai dengan logat Gorontalo “Ba tanam apa Pak?” Hingga berlanjutlah obrolan panjang dan lebar. Maha besar Allah)

10261328_664848456966647_990766346_n(Alhamdulillah, kacang panjangnya mulai merambat. Saat membuat ‘rambatan’ dari bambu ini cukup seru lho sahabat semuanya. Sampai-sampai, bapak yang sering adzan di masjid pun, turut membawa perkakasnya, hingga alat berat pinjeman tetangga pun di bawa olehnya, untuk membantu kami)

927305_301352090027886_1119180878_n(Ini adalah panen bayam pertama kami. Sebenarnya bibitnya adalah bayam cabut, tapi saya iseng untuk panen dengan memotong batangnya, berharap nanti tumbuh tunas, hhihihi)

916042_662179840519881_1839292952_n(Mentimun sudah mulai berbunga, do’akan semoga hasilnya bagus ya sahabat semuanya. Cantik ya? Saya suka lihat fotonya)

10268751_490388817754070_1296090682_n

 (Kalau ini adalah cabai merah besar. Awalnya saya asal buang sisa cabai merah besar yang ada di kulkas. Saking banyaknya, saya asal buang di depan rumah, alhamdulillah, Allah izinkan untuk tumbuh. Namun, kami masih bingung untuk memindahkannya, lagi-lagi belum punya tanah yang siap dimasukkan ke polybag. Polybag nya si uda dikirim dari Jawa, tapi lagi-lagi kami belum menemukan tanah)

Oh ya, bercerita tentang berkebun dan menanam, sebenarnya bukan lagi hal asing bagi saya. Karena semasa kecil, saya rajin turut serta untuk ‘berkontribusi’ di setiap tanaman yang Pak’e dan Mak’e tanam (Pak’e panggilan untuk Bapak, Mak’e panggilan untuk Ibu). Menanam padi, jagung, kacang tanah, bayam, kacang panjang, dll. Yaa, Pak’e dan Mak’e adalah petani cilik. “Petani”. Ya, petani. Dulu, semasa SMP, SMA, bahkan awal-awal saya masuk kuliah, saya seringkali malu ketika harus menjawab pertanyaan atau pun isian kuesioner terkait data diri, terutama di pertanyaan, “apa pekerjaan orangtua”. Entahlah, apa yang saya pikirkan saat itu. Mungkin hati ini terlalu kotor, terlalu angkuh, sampai-sampai  saya malu mengakui pekerjaan orangtua sendiri. Dulu, saya seringkali malu dan tidak PD ketika harus menjawab “pekerjaan orangtua saya adalah petani’. Bahkan tidak jarang, saya sangat berharap ada pilihan jawaban ‘wiraswasta’ , sehinga saya bisa memilih jawaban itu. Atau pun berisi pertanyaan terbuka, sehingga saya leluasa untuk menulis ‘wiraswasta’, dan saat itu saya kurang suka ketika ada pertanyaan lanjutan, wiraswastanya apa? Itu lah saya, saya dengan segala kebodohan saya.

Semoga Allah ampunkan dosa-dosa hamba.

Di titik sekarang, barulah saya merasakan betapa bangganya diri ini, karena orangtua saya merawat dan mengasuh diri ini dengan uang hasil mengolah sawah dan kebun. Daaan, betapa tidak bangganya ‘anak saya’ nanti, ketika ia tahu bahwa ia dibesarkan dengan penghasilan orangtuanya yang bersumber dari pajak, karena orangtuanya adalah seorang PNS. Ya Allah. Do’akan kami sahabat semuanya ya, do’akan kami agar bisa menjadi entrepreneur, hafidz-hafidzah, penulis, petani, juga guru ngaji, aamiin.

Kenapa semasa silam, diri ini merasa minder dan nggak PD dengan pekerjaan orangtua sebagai petani? Padahal itu adalah pekerjaan halal.

Jawabannya, adalah karena ‘cara pandang’ saya yang keliru. Diri ini telah terjerumus dengan fatamorgana dunia. Mata hati ini telah rabun, bahkan pernah buta. Menakar kemuliaan seseorang hanya dari materi. Menganggap bahwa kebahagiaan itu adalah ketika keinginan kita terpenuhi, baik dari segi kebutuhan fisik, maupun kenyamanan ‘status sosial’.

Saat itu, saya tak pernah menyelami bagaimana kehidupan Rosulullah dan para sahabat. Sebutlah kisah Abdurahman bin ‘Auf, seorang saudagar yang sangat sukses, ia sangat kaya raya, seorang mukmin bijaksana yang tidak mau merebut kekayaan dunia dan mengorbankan bekal akhiratnya. Ia tidak ingin kekayaannya membuat ia tertinggal dari iring-iringan iman dan pahala syurgawi. Ia mendermakan kekayaannya tanpa batas, dengan senang hati dan penuh keikhlasan.

Suatu hari, beberapa orang sahabat berkumpul di rumahnya untuk makan bersama. Ketika makanannya mulai dihidangkan ia menangis, para sahabat bertanya, “Apa yang membuatmu menangis wahai Abu Muhammad?” ia menjawab, “Hingga meninggal dunia, Rosulullah dan keluarganya belum pernah makan roti sampai kenyang, aku tidak ingin melihat bahwa kematian kita ditunda untuk sesuatu yang lebih baik bagi kita.”

Kekayaannya sama sekali tidak membuatnya congkak dan sombong. Bahkan jika ada orang asing yang melihatnya duduk bersama pembantunya, orang itu tidak akan bisa membedakan manamajikan dan mana pembantu…..

Allah Akbar

 

//

[152] Sate Tuna, Danau Limboto, Tumbilotohe, de el el


Sahabat semuanya, setelah kemarin saya bercerita tentang pantai Olele. Di sini saya akan share sekelumit cerita tentang Gorontalo…

Yuk kita simak liputannya :)

1662286_531535146945147_40790498_n(kuda dan bentor)

Kondisi Gorontalo di tahun 2013-2014, dimana kami masih dengan mudah bisa menemui dengan apa yang disebut ‘kuda’ pembawa gerobak yang difungsikan untuk mengangkut barang ataupun orang. Gorontalo yang padat dengan kendaraan bernama ‘bentor’. Apa itu bentor? Bentor adalah kendaraan roda tiga, modifikasi dari sepeda motor. Bentor bisa membawa banyaaak orang. Sayang, saya belum sukses mengambil foto bentor yang ditumpangi oleh 7,8,9,10 bahkan lebih. Yang bisa dikatakan ‘tidak manusiawi’, bagi orang Jawa yang baru melihat fenomena tentang bentor. Kalau sudah terbiasa tinggal di Gorontalo, hal itu menjadi konsumsi ‘hari-hari’. Melihat bentor membawa kasur yang tebal, kursi, almari, dan benda-benda berat lainnya yang tak pernah kami pikirkan sebelumnya, “kok bisa ya”.

Gorontalo yang identik dengan ‘suara musik keras’. Pada awalnya kami terkaget-kaget, mendengar suara musik yang begitu keras, kalau di Jawa layaknya orang lagi ‘hajatan’. Nggak hanya terjadi di rumah-rumah, di motor, di bentor, bahkan di sepeda motor, dan yang bikin geregetan lagi, nggak hanya di siang hari, tapi juga di malam hari. Semoga Allah senantiasa melindungi kita semuanya. Aamiin.

Gorontalo dengan suasana pasar tradisional yang begitu berbeda dengan pasar tradisional di Jawa. Kalau di Gorontalo, teriakan penjual itu begitu ‘mantab’, bersahutan, bak bersaing sound syste, terutama di tempat penjualan ikan. “Ada Oci, Ada Nike, Lima-lima ribu, Tiga-tiga ribu”. Kami pun sempat menjadi ‘korban’, karena ketidaktahuan kami dengan bahasa di sini. Ketika di pasar ada penjual yang berteriak “Lima-lima ribu”, kami kira artinya adalah jika kita membayar lima ribu, kita akan mendapatkan 5 buah barang yang dijual. Ternyata, artinya 1 buah adalah lima ribu. Tiga-tiga ribu artinya harganya tiga ribu. Dua-dua ribu artinya harganya dua ribu, begitulah teman-teman.

206771586a2311e3b4140afe31fac44b_7

Gorontalo dengan pantai yang serba gratis, nggak seperti di Jawa, hihihi. Pantai yang masih begitu polos, yang belum terkena dampak dari keusilan banyak tangan-tangan manusia.

Inilah sekelumit cerita tentang Gorontalo

10254298_1417228261877138_90894055_nIni adalah pemandangan di Danau Limboto, foto dengan suasana pagi hari, terlihat nelayan sedang berangkat mencari ikan di danau. Ada yang menggunakan pancing, ada yang memakai jaring, dll. Oya, sejak beberapa bulan yang lalu, dan sekarang pun masih berlangsung, ada proses pengerukan danau, jadi semacam tanahnya dikeruk agar tak terlalu dangkal. Karena, kondisi sebelumnya danau ini sangaat dangkal dan banyak enceng gondok, yang berakibat nelayan pun kurang leluasa untuk mencari ikan, bahkan ada yang beralih mata pencaharian.

1599648_1407797472805925_1219837649_nIni adalah pemandangan dari dalam pentadio resort ke danau Limboto, jadi lokasi pentadio resort memang berdekatan dengan Danau Limboto, seperti yang telah saya ceritakan di sini. Jadi air panas alami dari pentadio resort itu juga mengalir ke Danau Limboto, jadi ada bagian danau yang juga mengepul asap. Maha besar Allah.

d592fc447e9811e3bf1e1259de3fdb70_7(sate tuna)

Tentang sate tuna ini, kami beli di area sekitar pantai, dapet informasi dari temen, katanya ada sate ikan tuna di sebuah rumah makan deket pantai. Alhasil kami ke sana, meskipun akhirnya kami kurang suka dengan sate tuna nya, hihihi, mungkin kurang cocok dengan lidah kami.

becd63c805ad11e3b9c722000a9e07b7_7

af5d11b605af11e38c8022000ae912e8_7(Tumbilotohe)

Ramadhan tahun 2013 kemarin, di akhir bulan ramadhan kami melihat banyaaak lampu senthir yang sengaja dinyalakan oleh warga, di sepanjang jalan, di tepian sungai, dan dimana-mana. Gambar di atas adalah tumbilotohe, sahabat semuanya bisa search di google dengan keyword ‘tumbilotohe’ atau klik di sini, in syaaAllah akan ada foto yang lebih indah dan juga informasi yang lebih lengkap. Karena saya juga kurang bisa menjelaskan dengan baik terkait tumbilotohe.

ccd4b61069f811e3bae5122554e9122d_7 Naah, yang ini adalah salah satu foto, saat kami sedang berpetualang di salah satu pantai. Air nya, masih begitu bersih, bahkan saat itu suami saya dengan histerisnya menunjukkan kepada saya seekor pong-pongan, hewan yang dulu sering saya jumpai saat SD. Hewan yang menjadi komoditas perdagangan di area sekolah, dulu saya juga sering membelinya, memeliharanya di rumah, meskipun sering berujung pada kematian sang pong-pongan, barangkali tidak sesuai dengan habitatnya. Semoga Allah ampunkan dosa-dosa hamba.

Saat itu suami saya menjumpai satu pong-pongan, beberapa detik kemudian kami ditakjubkan dengan ciptaan Allah, ternyata banyak sekali pong-pongan yang masih hidup di situ. Maha besar Allah

Itulah sekelumit cerita kami (saya dan suami) tentang bumi Gorontalo. Oya, ada juga cerita tentang ikan nike di sini. Dan masih banyak cerita lainnya, yang membuat kami (orang Jawa Tengah) terkaget-kaget. Allah ciptakan, agar kita saling mengenal :)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 54 pengikut lainnya.