[149] Rindu


Untuk kesekian kalinya diri ini diizinkan Allah untuk bertemu dengan sosok laki-laki itu. Laki-laki yang baik, ramah, dan begitu sayang padaku… Laki-laki yang selalu diam, tak berbicara sepatah kata pun ketika bertemu denganku di alam mimpi. Hanya isyarat yang sering ku tangkap darinya. Laki-laki yang membuat aku sering merasa rindu. Paktuwo, begitulah kami biasa memanggilnya. Bapak dari ibu kandungku. Dialah kakekku, yang telah dipanggil Allah beberapa tahun silam.

Semoga Allah, akan mempertemukan kami di syurga nanti. Jauhkanlah kami dari api neraka-Mu ya Rabb…

Oya, aku ingin menceritakan sesuatu. Sesuatu yang seringkali membawaku berpetualang dengan masa kecilku. Tentang hembusan angin, tentang bau tanah, tentang suhu, dan segala perniknya, dan suasana itu bisa mengingatkanku akan masa kecilku. Semilir angin, suara hembusan angin, cuaca, seringkali menyikap kenangan-kenangan ku bersama Paktuwo dan Biyung. (Paktuwo itu panggilan untuk Kakek, Biyung itu panggilan untuk nenek. Itu adalah panggilan yang biasa digunakan di tempat Kakek dan Nenekku tinggal, di Desa Bogor, Kab. Klaten, Jateng. Kecamatannya, kalau tidak salah, Cawas. Sepanjang memoriku, aku hanya ingat tentang Kakek dan Nenek dari Ibu. Kalau Kakek dan Nenek dari Bapak, aku sama sekali tidak ingat. Orang bilang, sewaktu aku bayi, aku pernah digendong oleh beliau, dan beliau telah dipanggil oleh Allah)

Tentang Paktuwo dan Biyung. Tentang rumah sederhana di tepi sawah itu, angin yang  terarak kencang menyapu debu-debu gundukan tanah itu, daun-daun pisang yang rapi terlipat itu, batang pohon pisang yang terolah menjadi  tali untuk pembungkus tempe itu…..Dan, lagi-lagi, aku tak kuasa untuk membendung airmata ini.

931d66e8866211e3b6060a121491ab0d_7

Kini, aku telah dewasa, telah menjadi seorang istri dari lak-laki yang telah Allah pilihkan untukku. Namun, aku tetaplah seorang cucu yang merindukan masa kecilku. Setiap kali aku dibonceng naik motor oleh suami, mata ini acapkali terpana dengan pemandangan sekitar, entah itu pepohonan, bunga-bunga, batu-batuan, orang-orang yang berlalu lalang dengan kesibukkannya, dan masih banyak yang lainnya. Tak jarang bertemu, seorang pria tua renta, dan lagi-lagi mengupas kenangan indah itu. Sesekali aku menyeka air mata, tanpa sepengetahuan pria tampan yang sedang memboncengkanku. Yaaa, karena aku ingat tentang cerita yang dibawakan oleh Paktuwo, tentang uang dan makanan spesial yang sering diberikan untukku, tentang lemari yang penuh buku itu, tentang kerajinan dari bambu itu, tentang piawainya memanjat pohon kelapa, tentang semuanya….

Rabb, jauhkanlah paktuwo dari siksa kubur-Mu, jauhkanlah dari api neraka-Mu
Rabb, berilah kesehatan untuk Biyung, kebahagiaan dunia, juga akhirat….
catatan rindu seorang cucu….

//

[148] Resign


Tentang bekal di peradilan Allah nantinya. Peradilan yang sungguh berbeda dengan peradilan manusia…

Tentang hidup bersama islam secara total, secara kaffah, bukan setengah-setengah…

Tentang porsi rezeki yang telah Allah tetapkan, bahkan sejak diri ini belum lahir ke dunia. Tentang rezeki yang tak akan pernah tertukar…

Menjadi ibu rumah tangga yang bisa sepenuhnya menabung pahala dari sekian banyak aktivitas di rumah, yang belum tentu pahala itu bisa ku peroleh di kantor tempat aku bekerja…

Menatap pagi dengan simpul senyum, bersemangat untuk menyapa sederet kesibukkan tentang Allah, Rosul-Nya, dan Islam. Bukan mengawali pagi dengan setumpuk rasa cemas, tak bersemangat, bahkan takut dengan semua pekerjaan duniawi yang belum tentu bisa sedikit saja menambah timbangan amal baik di akhirat kelak. Atau bahkan, malah sebaliknya….. Bukan larut dan terjerat dalam pekerjaan-pekerjaan yang kabur antara halal dan haram. Bukan hidup dari penghasilan yang bersumber atas ‘pajak’, yang bahkan diri ini pun terlalu lemah untuk membedakan mana yang berasal dari pakak minuman keras, pajak rokok, pajak…. Astagfirullah..

“Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia, para sahabat bertanya, “Siapakah mereka ya Rosulullah?” Rosul menjawab, “Para ahli Qur’an. Merekalah keluarga Allah  dan pilihan-pilihanNya”. (HR Ahmad)

Tentang sebuah cita-cita besarku. Cita-cita yang baru saja aku tanam. Cita-cita yang muncul, di saat aku telah menyandang gelar sebagai perempuan pegawai kantoran. Yaaaa, aku pikir semua belum terlambat. Tentang cita-cita besar itu, yaitu menjadi seorang hafidzah, penulis, dan entrepreneur. Betapa indahnya, ketika setiap hari bergelut dengan anak-anak untuk bersama-sama belajar Al Qur’an. Diselipkan kegiatan membuat berbagai jenis hasil olahan dari bahan kain dan sejenisnya. Menjadi seorang entrepreneur sukses bersama cuindcraft, bekerja penuh dengan semangat bersama islam, yang senantiasa bersemangat saat menatap pagi. Mengasuh anak yang memang telah menjadi kewajiban, fullday, bukan parttime. Anak adalah titipan Allah, jangan lagi dititipkan pada orang yang salah, semoga diri ini masih diizinkan Allah untuk menjadi seorang Ibu…. Menjadi orangtua yang sukses, memiliki tabungan yang sangat berharga, anak-anak yang hafidz dan hafidzah, Allah Akbar…1004942_606433802762206_1868802354_n

Semoga suatu ketika tulisan ini, bukan lagi menjadi sekedar cita-cita, tapi menjadi sebuah kenyataan. Aamiin…

//

[147] Sarimbit Cuindcraft


Kisah bermula pada hari rabu siang (19 Februari 2014). Saat itu, ada pembagian bahan batik dari kantor, satu untukku, satu untuk suamiku. Diminta agar bahan batik itu dijahitin, karena mau dipakai di acara ratekda. Baju batik itu akan dikenakan di acara pembukaan hari ahad malam (23 Februari 2014). Setelah melihat jadwal, jadilah hari ahad siang kita harus sudah chek in, karena ada jadwal briefing berkaitan dengan pekerjaan kami di kantor. Intinya, aku harus berjuang keras agar bahan batik itu berubah menjadi baju batik, maksimal sampai ahad siang, sudah dicuci dan disetrika, nggak ada sepekan.

Haaaaa, awalnya suami juga ragu, uda dibujuk dirayu agar dijahitin di tukang jahit aja. Wajar sih, suamiku ragu, lhaaawong belum pernah liat aku buat baju, lhaaawong waktunya mepet gitu, lhaawoong masih masuk kantor, paling bisa kerja full di hari sabtu karena libur. Aku yakin, aku bisa, bisa, bisa, pasti bisa, Allah mengikuti prasangka hamba-Nya.  Itulah modal menjahitku.

Akhirnya, aku poto tu bahan batik, aku upload di instagram, trus tag nama temen-temen yang sudah mahir didunia jahit-menjahit. Dapatlah saran banyaaaak berkaitan dengan tataletak motifnya. Terimakasih teman-teman semuanya.

76198cdc992e11e3849212fc2fd3be6d_7

Selanjutnya, aku searching bagaimana membuat polanya. Sebenernya ini bukan pengalaman pertamaku membuat baju. Dulu, zaman SMA pas ikut eksul menjahit pernah praktik membuat baju sendiri. Dari membuat pola, sampai bajunya aku kenakan sebagai seragam sekolah. Tapiiii, itu uda duluuu banget, uda nggak nyimpen juga polanya dimana. Lagian itu banyak yang dibantuin sama pak Mul (nama panggilan guru menjahitku). Pertemuan satu membuat ini, pertemuan selanjutnya ini, jadi aku tinggal ngikutin aja. Trus pas ikut eksul itu, masih pakai mesin jahit manual, yang dibawahnya semacam dikayuh gitu, trus ada roda besar di tepinya gitu yang dikontrol pake tangan. Kalau boleh jujur, aku memang merasa lebih susah memakai mesin jahit yang itu, lebih praktis yang sekarang, hihihi, secara teknologi uda semakin berkembang.

Oiyaaa, kok malah cerita sih. Lanjut tentang proyek bajuku yaaa…

Alhamdulillah, Allah berkehendak aku bisa mampir di salah satu tulisan, di situ ada cara membuat pola dasar, pola muka, dan pola belakang kemejanya. Tapi di tulisan itu nggak aku temuin pola untuk lengan panjangnya.

Hahahaha, uda setengah jadi tapi belum nemu pola lengan, suamiku semakin ragu. Soalnya aku buat kemeja tanpa melakukan proses ukur ke badan gitu. Pokoknya bisa dibilang penjahit yang super amatiran lah.

Pas suamiku tanya, “Kok Mas, nggak diukur-ukur gitu sih?”

“Ini adee pakai yang ukuran M di internet kok, semoga saja pas, hehe. Soalnya, belum punya meteran yang buat ngukur kaya di penjahit-penjahit gitu”, jawabku polos

“Dulu kan, pas di toko jahit, uda pernah Mas tawarin”

“Hehehe, soalnya dulu nggak kepikiran bakal mau kepake, nggak kepikiran mau jahit baju”

“Ehmmm, makanya kalau Mas bilang beli sesuatu, beli yaaaa”

“Haaaaa, iya deh Cintaa”

Akhirnya pola lengannya aku coba cari di tempat lain. Trus kerahnya juga hasil liat di youtube di tempat lain pula. Semoga saja suamiku tidak semakin ragu, hahaa, secara polanya aku dapet dari link yang beda-beda, trus nggak diukur gitu ke badan, tapi aku pake penimbang kemeja suami yang uda jadi sih.

9c54e9b69edb11e380f00afa321cabe2_7

Akhirnyaaa, meskipun menceng sana-menceng sini, kami tetep seneng make baju batiknya. Bisa berwujud baju, plus tidak sobek pas dipakai aja, aku udah sangat bersyukur. Allah yang berkehendak. Diri ini hanyalah makhluk yang lemah. Tiada daya, tanpa pertolongan dari-Nya…

ca3b148a9edc11e385ae12776198573d_7

e95a29869edd11e39d5e0e536216357a_7

Segala puji hanya bagi-Mu ya Allah. Engkau yang Maha Berkehendak. Semua atas ridho dan kehendak-Mu. Di acara penutupan, atas kehendak Allah, suamiku dipanggil untuk maju ke depan, juara I untuk penulisan karya ilmiah.

 20140226_111032-1df2a8e829fab11e3b2f5124e8fde040d_7

Segala puji bagi-Mu ya Allah, kami hanyalah makhluk yang lemah, semua karena kehendak-Mu…

//

[146] Penantian #1


Menikah dengan laki-laki terbaik yang telah Allah pilihkan, kemudian diberikan rezeki mempunyai momongan yang shaleh dan shalehah. Betapa bahagianya…

Tapi, setiap orang punya kisah sendiri-sendiri, baik dalam menemukan cinta, dan mendapatkan momongan…

Satu Juli 2012, aku resmi menyandang gelar sebagai seorang istri. Kalau sekarang udah menginjak akhir bulan Februari 2014, berarti usia pernikahanku sudah lebih dari satu setengah tahun, hampir 2 tahun malah. Dan sampai saat ini, aku masih setia menanti amanah dari Allah, menanti saat-saat bahagia ketika hamil, menanti kapan rasa mual hamil itu tiba, menanti saat-saat indah untuk bisa dipanggil ‘ibu’.

Tentang kami dan penantian kami… Perempuan mana yang tidak bahagia ketika bisa hamil dan melahirkan anak-anak yang shaleh/shalehah?

Masih lekat dalam ingatanku, ketika aku memulai sesuatu dengan cara yang salah. Ceritanya kurang lebih seperti ini. Pada bulan-bulan awal pernikahan, aku masih cuek bebek, ketika ada yang bertanya perihal kehamilan. Semakin bertambah usia pernikahan, timbulah rasa ‘jenuh’ dengan pertanyaan seperti itu dan seperti itu. Hingga semakin menjadi-jadi sebagai ‘beban pikiran’, dan tentunya semakin dipikir semakin tidak baik. Dan dari situlah aku mulai melakukan kesalahan, dan kesalahan. Aku sibuk mencari info-info via internet perihal ‘agar cepat hamil’. Keyword yang aku ketik tidak jauh-jauh dari kata-kata itu. Saat itu, aku pun tak menyadari bahwa aku telah memulai dengan cara yang salah. Begitu terus, dan terus.

Setelah sekian lama tak kunjung jua membuahkan hasil, setelah hati ini mantap, kami pun memutuskan untuk pergi ke dokter. Dokter spesialis yang kami anggap mampu memberikan solusi dari permasalahan kami. Satu kali kunjungan, dua, tiga, dan empat. Berpikir akan mendapatkan solusi dengan datang dan membayar sejumlah uang tertentu. Begitulah pemikiran bodohku saat itu. Kesalahan masih terus berlanjut, setelah mendapatkan diagnosa dari sang dokter, aku pun sibuk dengan segala bentuk aktivitas yang dulu tak pernah terpikir olehku. Harus makan ini, tidak boleh makan itu, sibuk ke dapur dengan membawa alarm karena harus merebus sayur dalam sekian menit, harus melakukan olahraga ini, tidak boleh itu, dan semua embel-embel yang membuat aku tersadar. Sadar akan kehampaan dan kejenuhan dengan semua rutinitas itu. Sadar bahwa aku telah lupa akan sesuatu. Sadar bahwa aku telah memulai dengan sesuatu yang salah.

Berikhtiar pergi ke dokter memang bukan sesuatu yang salah. Kesalahanku adalah karena aku melupakan Allah di awal aku memulai. Aku seakan terlupa bahwa Allah lah yang berkehendak akan kehamilanku. Aku yang justru lebih dulu berkunjung ke orang yang tidak tahu apa-apa, bukan berkunjung ke Allah yang jelas Maha Tahu, Maka Berkuasa, Maha Berkehendak. Aku yang salah telah mendahulukan logika di atas kebenaran dari Allah. Logika bahwa kalau begini, maka akan begitu, padahal sesuatu itu terjadi atas kehendak Allah.

Semoga Allah ampunkan dosa-dosa kami dan menjauhkan kami dari api neraka.

Betapa bersyukurnya diri ini, Allah masih menegurku. Ada suatu titik balik yang membuat aku tersadar. Teguran dari sebuah kajian di video yang aku download.

Minta sama Allah dulu. Mengadu pada Allah dulu. Dilanjutkan dengan segala bentuk ikhtiar, dengan tetap terus berdo’a.

Jangan keluhkan masalah pada oranglain, karena itu aib bagi orang beriman. Jangankan fakta, bahkan mimpi buruk pun tidak boleh diceritakan. Pesan Ust.Bachtiar Nasir yang senantiasa lekat dalam ingatanku akhir-akhir ini.

Bersepi-sepi dengan Allah dalam sepertiga malam. Rabbi habli minash sholihin. Rabbi habli minash sholihin. Rabbi habli minash sholihin. Rabbi habli minash sholihin…..

Perbaiki shalat duha, perbanyak istigfar, rajinin sedekah, lebih khusyu’ lagi menghafal Al-Qur’an, bersegera untuk menjemput panggilan Allah saat adzan berkumandang, jangan biarkan Allah menunggu.

Rabbi Habli min ladunka dzuriyatan tayyibatan innaka sami’ud du’a… Do’a Nabi Dzakaria dalam surah Ali Imran ayat 28 tersebut menjadi sering ku panjatkan. Do’a tersebut juga yang aku titipkan ketika ustadzah di Ustmani online pergi ke tanah suci tanggal 9 kemarin. Awalnya sama sekali nggak tahu tentang do’a tersebut, hingga akhirnya suamiku menuntunku untuk menghafalkannya huruf demi huruf. Semoga Allah jauhkan beliau dari api neraka.

Dengan semangat dari titik balik yang telah ku dapati, kini semakin semangat untuk berdo’a dan berikhtiar. Tak lagi ‘jenuh’ dengan pertanyaan dari orang lain perihal kehamilan. Justru, menjadi pertanyaan yang dinanti-nanti olehku, karena menjadi momen yang baik untuk menitipkan do’a kepada yang bertanya.

Harus banyak istigfar. Harus rajin sedekah. Harus bersyukur, memiliki suami dan keluarga yang senantiasa memberikan semangat dan do’a. Harus bersyukur, masih ada orang yang berusaha membuatku akhirnya bisa tersenyum kembali, setelah aku yang akhirnya bermain dengan air mata. Harus banyak bersyukur, betapa banyak hikmah yang didapati. Menjadikan diri lebih memahami bahwasanya anak adalah rezeki. Bersyukur, karena bisa mengenal banyak teman dari segala penjuru, yang punya kisah sama, bahkan lebih… Betapa kuat dan tegarnya mereka yang tak hanya bertahun-tahun, tapi juga puluhan tahun dalam penantian. Mereka dengan setiap masalahnya yang berbeda-beda dari satu orang ke yang lain. Mereka yang senantiasa saling berbagi informasi, berbagi semangat, dan dukungan moril… Sejujurnya, aku memang sering menjadi silent reader baik di group yang aku ikuti maupun story para perempuan pejuang yang juga suka nulis di blog.

Betapa Allah sangat menyayangi setiap hamba-Nya. Allah yang senantiasa memberikan yang terbaik untuk hamba-Nya. Karena skenario Allah pastilah yang terbaik…

Begitu banyak pelajaran dan hikmah yang kami dapati selama penantian.

Rabbi habli minash sholihin. Rabbi habli minash sholihin. Rabbi habli minash sholihin.

Ingin sekali menjadi seorang ibu, yang sukses menjadikan anaknya sebagai penghafal Al Qur’an………

595ec5008a6311e3bf530ec01848ca67_7//

[145] Karya Cuindcraft


Segala puji hanya bagi Allah…

Di postingan kali ini, jadi pengen cerita tentang ‘aku dan cuindcraft‘. Semakin hari, semakin menikmati pekerjaan dari craft. Sungguh sangat jauh berbeda dengan rutinitas kantor, yang isinya serba ya begitulah, hehehe. Resign oh resign.

Beberapa hari terakhir ini, aku jadi rajin banget berduaan sama mesin jahit , bertiga sama suami. Ceritanya lagi coba-coba bikin pouch. Setiap selesai membuat satu pouch, selalu ada pelajaran yang  berharga. “Ehmmmm, ternyata kalau begini, hasilnya jadi kurang bagus ya. Ehmmm, harusnya tadi begini ya”. Nggak jarang juga bongkar jahitan lagi, tapi rasanya tetap menyenangkan, meskipun terkesan mengerjakan ulang jahitan yang sudah jadi. Namanya juga belajar, hehehe.

Oiya, ngomong-ngomong mesin jahit cuindcraft belum pernah nongol di blog ini. Taraaa, ini dia penampakannya, rada kabur sih gambarnya, hehehe.

ba0e2ccc6dfa11e388e70eb3a58c3a0f_7Ini dia pouch hasil eksperimenku. Hasilnya, menceng sana, menceng sini lah jahitannya. Pembaca jangan bosan lihat postingan ini ya, karena akan didominasi oleh picture, ceritanya sedang meluapkan kejenuhan dengan pekerjaan kantor, semoga maklum :)

1727c85061a811e3b995125caca955e5_7(pouch pertamaku)

11b88c4e649e11e39ffa0e299d2480e2_7Kalau yang ini, akhirnya jadi tempat mukena. Mukena ungu dari Bu Jariyah. Terimakasih banyak Bu Jariyah :)

1531717_611059312299655_501565322_n(dibawa sama adikku, Lia)

1604978_613008615438058_781282764_n(punya suami tercinta)

1604889_613646868707566_1411813735_n

Kalau yang ini sekarang jadi tempat camdig dan kabel-kabelnya , chargernya.

1013849_618675001538086_2127551167_nKalau yang tempat hp itu yang buat suamiku, trus kalau bros bunganya yang buat aku. Karena belum fasih buat bros, akhirnya hasilnya kaya kain digulung-gulung gitu.

1796625_619811018091151_1239192493_nKalau ini jadi tempat hp aku

1800199_622485291157057_81053867_nMonik punya, maaf ya mon kalau hasilnya belum rapi, hehe

1560471_623165041089082_418623639_nIni rencananya buat Lia, tapi dianya nolak, maunya dompet aj, ya sudahlah akhirnya yang ini buat Linda, ponakan aku

1900177_623165254422394_61340095_nIni bagian dalamnya. Ceritanya si ponakan masih sekolah gitu. Lupa deh kelas berapa :)

923091_619348218137431_40830780_nIni dompet buatan suami aku lho, trus diminta sama adik perempuanku ,Lia. Yaaa, kami sebagai kakak yang baik, dikasih aja lah ya :)

104f8dfe92b011e3b9d6128aa754a4ad_7Kalau ini pouch yang uda bagus, buat orang spesial, Ibu aku yang di Jawa

1653389_623166407755612_255939675_nIni juga buat ibu aku

09368698916711e3b574122de6ce78ca_7Ada lagi 1 pouch yang paling bawah ini belum sempet terpoto, hehehe. Kalau yang itu mau dikasih bulek Kikin yang di Jakarta

b0e2c3bc83f611e39c5f12b2de8aac91_7Kalau kain-kain yang di poto ini beli di Katun Mansion. Kalau yang di pouch yang di atas ada juga yang beli di Rumah Katun Babana.

24642_611059402299646_311343765_nKalau ini bros mawar dari pita satin 5 cm buatan suamiku, keren banget menurutku. Jadi ceritanya, aku mau coba buat, uda pantengin tutorialnya laamaaa, tapi belum sukses-sukses. Karena capek, aku tertidur, trus surprise banget, pas bangun suami kasih mawar ini ke aku, lalalalala.

1512691_613011605437759_233707419_n Ini mawar kedua buatan suamiku, kalau yang ini lebih tinggi tingkat kesulitannya, soalnya pakai pita satin 3 cm. Ini juga suprise dikasih pas aku bangun tidur :)

Naah itu tadi hasil karya cuindcraft. Sekali lagi maaf ya, kalau terlalu banyak gambar, semoga dimaklumi :)

Karena masih banyak kekurangan di sana-sini, jadi belum berani untuk dipasarkan. Sementara ini masih menjadi gift untuk orang-orang tersayang. Semoga, suatu ketika bisa menjadi lapangan usaha. Do’akan kami ya, pembaca semuanya. Semoga kami bisa lebih produktif lagi, sehingga melahirkan karya yang akan dipasarkan dengan kualitas yang OK punya. Aamiin.

Salam dari cuindcraft.

//

[144] Surat untuk Ibu,


Seorang anak perempuan yang senantiasa bersemangat untuk menyantap sarapan paginya. Suatu rutinitas yang ia lakukan, sebelum ia pergi ke sekolah. Kalian tahu kenapa? Jika kalian berpikir menu sarapannya seperti di hotel bintang lima, kalian salah. Menu yang tersaji hanya sederhana, bahkan tak jarang hanya itu-tu saja. Nasi hangat dengan tempe goreng, sesekali telur ceplok, sesekali gereh layur (sejenis ikan asin yang terkenal di masa itu), sesekali gereh besek (sejenis ikan pindang yang biasanya dibeli oleh masyarakat menengah ke bawah). Kalau sayur nya sudah matang, ia juga suka sayur. Sayur yang sebagian besar di petik sang ibu dari pekarangannya, sesekali beli sayur mentah di warung.

Semasa ia masih berseragam putih-merah, sang ibu selalu menekankan kalau sarapan pagi itu penting, perut nggak boleh kosong, biar bisa fokus saat belajar di sekolah. “Iya, Bu”, ia rajin pergi ke dapur setiap pagi, menyantap sarapannya di sebuah dingklik (bangku kecil yang biasanya digunakan untuk duduk melantai di dapur). Begitu polosnya wajah sang anak, pikirannya belum sampai untuk sekedar merasakan perjuangan sang ibu yang telah menyiapkan sarapan pagi. Ia hanya tahu, sarapan di dapur lengkap dengan tawa canda bersama sang ibu, menceritakan ini itu, tak jarang sang ayah juga sesekali menyambangi dapur bergabung di tengah keceriaan’

Ia belum pernah berpikir tentang pakaiannya yang selalu dicucikan oleh ibunya setiap hari. Bahkan sampai ia SMA pun, ia belum mencuci pakaiannya sendiri. Di masa itu tidak semua rumah mempunyai sumur, termasuk keluarganya. Yaaa, begitu besar perjuangan ibunya.

Ia belum tahu, apa itu ‘perjuangan’. Yang ia tahu barulah ‘nggambek’, ‘mogok makan’, layaknya seorang anak perempuan pada umumnya.

Ia masih seorang anak yang penurut dengan sarapan paginya. Rutinitas itu berjalan terus, bahkan sampai ia  menginjak jenjang sekolah menengah atas. Kehendak Allah, ia diterima di sebuah sekolah favorit di kabupatennya, dan tentunya semakin banyak tantangan untuk dirinya yang dalam keterbatasan. Saat ada kesempatan untuk pilihan ekstrakulikuler, di saat teman-temannya berbondong-bondong memilih KIR, basket, IT; ia memilih ekstrakulikuler ‘menjahit’. Ia berpikir, kalau tak bisa melanjutkan sekolah, ia ingin menjadi penjahit pakaian…..

Menjelang kelulusan, ia mulai resah. Ayahnya seorang petani kecil. Namun, sang ayah masih terus bersemangat agar ia mau untuk melanjutkan kuliah. Kehendak Allah, ia diterima di salah satu perguruan tinggi negeri di karisidenannya. Biaya administrasi cukup membuatnya kaget, lagi-lagi sang ayah membayarkannya dengan senyuman lebar. “sudah, pakai saja uangnya, masih ada kok’. Meskipun ia tahu, kalau ayahnya tak punya cukup uang, ia mulai belajar apa itu perjuangan….

Kehendak Allah, ia juga diterima di salah satu sekolah tinggi yang tidak mengharuskan ia untuk membayar, bahkan akan dibayar setiap bulan ‘mendapat uang saku’ katanya, langsung kerja katanya……. Tapi, bagaimana dengan uang ayahnya yang sudah terpakai untuk administrasi di kampus sebelumnya? Lagi-lagi ayahnya, menjawab dengan senyuman. “Tak apa-apa, Nak”…..Mulai dari situlah, Allah mengizinkan keluarganya untuk bergeser dari kemiskinan.

Ia mulai tinggal jauh dari orang tuanya. Ia merantau ke sebuah kota yang jauh dari tanah kelahirannya, untuk berjuang. Rindu orang tua itu pasti, tapi di balik itu semua Allah telah mengatur yang terbaik untuknya. Di tanah rantaunya, ia dipertemukan dengan orang-orang yang senantiasa mengajaknya ke jalan Allah. Di tanah rantau, ia mulai belajar apa itu ‘tiada Tuhan selain Allah’.

….

Teknologi sudah semakin berkembang, ada magicom, kompor gas, dan perangkat dapur lainnya yang serba mudah untuk digunakan. Di situlah ia mulai belajar, belajar untuk memahami perjuangan sang ibu. Kalau sekarang ia bisa memasak nasi hanya dengan mudahnya.

Padahal dahulu, perjuangan sang ibu…

Air yang digunakan untuk memasak sang ibu tidak bisa diambil dari sumur sekitar, karena rasanya asin. Air harus diambil dari tempat yang cukup jauh menggunakan derigen yang dibonceng dengan sepeda onthel. Belum punya sepeda motor saat itu. Warga bilang air yang bisa digunakan untuk memasak itu adalah ‘air anyep’. Air tersebut juga bagus digunakan untuk mencuci pakaian karena busa yang ditimbulkan bisa melimpah. Kok nggak pakai PDAM? Yaaa, PDAM belum masuk ke desa tersebut. Begitu besarnya perjuangan sang ibu dan sang ayah untuk menyiapkan air. Dilanjutkan dengan aktivitas memasak yang menggunakan kayu bakar. Ibu, tak pernah mengeluh ketika memasak, sepanas apapun  suasana dapur saat itu. Ibu tak pernah menceritakan ribetnya memasak dengan kendil, yang kemudian harus di tapung dipindahkan ke dandang. Bahkan, sampai sekarang saat sang anak sudah bisa memasak dengan magicom pun, ibu tak pernah menceritakan kalau dulu untuk memasak nasi harus ribet, ibu tak pernah menceritakan itu semua, ibu……

Ibu tak pernah menceritakan ribetnya proses memasak air, yang dulu sering diminum. Ibu tak pernah bercerita, peluh sang ayah yang capek pasca kerja di sawah, harus pergi mengambil air anyep, barulah air dimasak, barulah bisa diminum. Ibu tak pernah membandingkan kalau sekarang sang anak hanya cukup dengan membeli air galon apabila menyiapkan minum untuk sang ibu. Ibu….

9aecc150868211e39320122adf243e91_7

Ibu, kini anakmu telah menikah. Anak yang engkau besarkan dengan penuh rasa cinta sedari kecil. Belum jua anakmu ini berbakti kepadamu, anakmu sudah mencintai orang lain yang baru saja ia temui dan hidup bersama laki-laki itu dalam ikatan pernikahan.

Ibu, kini jarak terbantang jauh diantara kita, meskipun tulisan di blog ini belum tentu akan terbaca olehmu. Ibu….

Ibu, engkau yang serba bisa dalam mengatur waktu, padahal perjuangan engkau mencuci pakaian sungguh tak bisa dibandingkan dengan diriku saat ini. Engkau yang selalu tersenyum meski pun belum ada sumur. Pantaskan anakmu ini mengeluh, ketika cucian menggunung, padahal semua serba mesin. Engkau yang begitu terampil mengurus pekerjaan rumah dalam keterbatasan peralatan dan kesibukan mengurus sawah. Engkau yang tak pernah telat menyiapkan sarapan untukku, hingga anakmu ini tak pernah kenal apa itu sakit maagh. Pantaskah anakmu ini mengeluh untuk bisa menjadi sepertimu, bisa menyiapkan makanan untuk keluarga, padahal dengan peralatan dan air yang sangat jauh dari saat itu. Ibu, betapa aku sangat mencintaimu…

[143] Tentang Dunia,,,


Beberapa menit yang lalu, ada sebuah ‘pesan bergambar’ yang masuk ke salah satu group wa yang aku ikuti. Atas izin Allah, dari ‘pesan’ itu, aku tergerak untuk menuliskan sesuatu. Sebuah nasehat untuk diriku sendiri, dan semoga bermanfaat juga untuk saudara/i-ku semuanya. Mari saling mengingatkan. Semoga Allah jauhkan kita dari api neraka, aamiin.

Tentang dunia…

Pada suatu pagi yang cerah, terdengar keributan di sebuah rumah yang berlokasi di perumahan Kamufla. Ada seorang laki-laki bujang tinggal di rumah bercat putih, rumah paling pojok, pas di seberang masjid. Konon, ia adalah seorang perantau. Ia hidup jauh dari orangtuanya. Jauh dari keluarganya, keluarga yang di masa silam telah membesarkannya dengan penuh rasa cinta.

Keributan itu terjadi antara dia dengan dirinya sendiri…

Tentang dunia…

Bangun dari tempat tidur, ia pun melirik ke arah jam. Tersentak kaget, “haaaa, telat bangun, sudaah jam 6 lebih.” Ia pun buru-buru pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu, padahal panggilan dari Allah sudah berkumandang sekitar satu setengah jam yang lalu. Sedari satu setengah jam yang lalu, Allah telah menantinya, tapi ia masih asyik dalam lelapnya. Lantaran semalam, ia tidur terlalu larut karena harus lembur menyelesaikan pekerjaan kantornya. Tadi malam, dengan mata yang terkantuk-kantuk, ia rela untuk merampungkan pekerjaan kantornya, bergelut dengan tabel-tabel penuh angka yang serba fatamorgana. Sayangnya, ia belum pernah berjuang sekeras itu dalam membaca Al-Qur’an. Dalam sejarah hidupnya, ia masih jauh dengan Al-Qur’an. Betapa indahnya, ketika seseorang itu senantiasa berinteraksi dengan Al-Qur’an. Hingga di suatu masa nanti, Al-Qur’an akan memberi syafaat kepadanya, karena ia senantiasa berinteraksi dengan Al Qur’an dalam keadaan terjaga, bahkan sampai ia terkantuk-kantuk.

Tentang dunia…

Sang laki-laki itu  pun lupa mengucap syukur kepada Sang Penciptanya. Saat bangun dari tidur,  ia pun acapkali lupa untuk membaca do’a, alhamdulillaahil ladzii ahyaanaa ba’damaa amaatanaa wa ilaihin nusyuuru, “Segala puji bagi Allah, Dzat yang telah menghidupkan kami kembali setelah mematikan kami, dan kepada-Nya lah kami kembali”. Betapa besar nikmat Allah kepadanya, ia dihidupkan kembali dari mati kecilnya. Barangkali tak pernah terlintas dalam benaknya, bagaimana jika pagi ini Allah tidak mengizinkannya untuk bisa terbangun kembali? Tak bisa lagi menghirup oksigen, yang biasanya ia dapatkan dengan harga ‘cuma-cuma’.

Tentang dunia…

Beberapa saat kemudian, shalat subuh yang super kilat pun berlangsung. Tanpa dzikir. Surah Al Muawidzatain, ayat Kursi, nihil tidak ada yang ditunaikan olehnya. Shalat dengan berbalut baju yang beraroma kurang sedap. Sungguh berbeda dengan baju yang ia kenakan saat menghadiri pertemuan dengan rekanan kerjanya. Padahal, ia tinggal berdekatan dengan masjid. Ia tak pernah bertemu dengan para pejuang subuh. Para pejuang subuh yang datang ke seberang rumahnya, satu setengah jam yang lalu. Para pejuang subuh yang senantiasa berdzikir kepada Allah, yang senantiasa mendapatkan keberkahan dari waktu Subuh.

Tentang duniaa…

Berlanjut aktivitas mandi ala bebek. Bahkan ia pun sudah tak lagi peduli, kaki kanan atau kaki kiri yang ia langkahkan pertama kali untuk memasuki kamar mandi. Allahumma innii a’uudzu bika minal khubutsi wal khabbaa itsi. “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari kejahatan syetan laki-laki dan syetan perempuan”

Masih dalam kondisi terengah-engah, ia pun berkunjung ke almari, dipilih-pilihlah baju andalan. Baju yang masih beraroma baru, baju yang beberapa hari yang lalu ia beli. Yaaa, cukup memakan banyak waktu, ketika ia merapikan pakaiannya dengan besi panas itu. Seakan tak pernah terpikir, betapa panasnya api neraka itu.

Tentang duniaa…

Motor pun melaju kencang. Ia pergi ke luar rumah, tanpa membaca Bismillaahi tawakkaltu’alallaahi laa haula walaa quwata illaa bil laahi. “Dengan nama Allah aku bertawakal kepada Allah, tiada daya upaya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”

Ia pergi untuk mengejar dunia, bergelut dengan kemacetan. Ia sangat bersemangat untuk menerobos jalan. Ia berjuang keras agar tidak terlambat handkey di kantor. Ia terjerat dalam kamuflase dunia. Dengan logikanya, ia pikir kesejahterannya itu bisa diukur dengan mesin handkey yang ada di kantornya. Ia pikir rezekinya akan berjalan lurus dengan grafik sang mesin handkey. Ia pikir, gajinya lah yang telah memberi kehidupan padanya. Ia pikir, nikmat sehat itu bisa ia beli dengan uang yang senantiasa ia timbun. Yaaa, ia begitu bersemangat agar tidak terlambat ke kantor. Pernahkah semangatnya itu muncul ketika menanti panggilan Allah? Pernahkan ia berjuang keras agar tidak terlambat untuk mendirikan shalat subuh, ashar, isya’? Siapa yang memberikan rezeki padanya? Bos di kantornya kah? Mesin handkey kah? Atau kah Allah yang Maha Kaya? (Tiga panggilan dari Allah: Panggilan yang pertama adalah adzan, panggilan yang kedua adalah panggilan haji/umrah, panggilan yang ketiga adalah panggilan kematian)

Ia bangga dengan jabatannya, ia bangga dengan gajinya. Namun, dibalik rasa bangganya itu, ia menyimpan tumpukan ketakutan dalam setiap waktu. Ketakutan terlambat datang ke kantor, ketakutan jikalau ia terlambat menyetor hasil pekerjaan kepada atasannya, ketakutan akan tuntutan rutinitas pekerjaan kantor. Miris, hidupnya hanya penuh dengan ketakutan akan deadline. Ia ‘memaksakan’ diri untuk ‘bahagia’ dengan semua ini. Memaksakan diri untuk mengatakan ‘bahwa ia bekerja untuk mencari sesuap nasi’, padahal faktanya? Ia seringkali merasa tidak punya waktu untuk sekedar menikmati indahnya sarapan pagi. Lagi-lagi, ia masih asyik dengan pekerjaan kantornya. Pagi hari sibuk dengan pekerjaan, sehingga tak ada lagi waktu untuk sarapan pagi. Siang hari, ia lupa jam istirahat, waktu shalat dhuhur sering bergeser, dan ia pun tak sempat untuk sekedar maenyantap makan siang. Ia bilang, “ia sibuk”. Bukankah sesuatu yang lucu, ia bekerja untuk mencari sesuap nasi, tapiii buktinya ia jarang menikmati apa itu nasi?

Ia memaksakan diri berkata ‘aku bahagia’. Meski, ia sendiri pun sadar, bahwa tugas-tugas rutin di kantornya tidak pernah menggugah semangatnya, ia seperti mesin. Mesin yang menanti masa pensiun, untuk menunggu ‘rupiah’ yang tidak seberapa. Kalau usianya bisa mencapai usia pensiun. Lain halnya dengan orang yang memperjuangkan agama Allah, meski berlumur darah, rasanya nikmaat sekali, bahkan ketika ia mati syahid, syurga telah menantinya. Maha Besar Allah.

Tentang dunia…

Ia kejar dunia, mengabdi pada dunia. Apakah seperti itu Rosulullah Shallallu’alaihi wassalam dalam menjalani kehidupan ini???? Siapa yang kita contoh dalam mengarungi kehidupan ini?

98f45cc66a2311e38c480ea056cf7464_7

//

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 49 pengikut lainnya.