[128] Teluk Tomini, Task Force Sensus Pertanian 2013 (ST2013)


OLYMPUS DIGITAL CAMERAMaha Besar Allah, pasti indah dalam setiap cintaan-Nya.

Berikut ada beberapa foto oleh-oleh dari melaksanakan tugas terkait ST2013 di Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo. Tugas kami sebagai Task Force adalah ‘berkunjung’ bertemu petugas dengan mengelilingi wilayah Gorontalo, tentunya dengan mengantongi amanah dan tugas dari pimpinan. Bagi kami berdua, mendapat tugas keluar kantor alias ke lapangan menjadi suatu tawaran yang sangat menarik. Berpetualang dengan medan yang ‘anyar’ bagi kami, tentu sangat menyenangkan. Terlebih bersama orang yang dicinta. Melihat panorama nan indah lukisan Allah sepanjang perjalanan.

Kami siap berangkat, saya bonceng suami naik motor. MasyaAllah, panorama yang begitu mempesona. Lekas-lekas saya ambil kamera, cepret-cepret. Saya sendiri tak jago dalam hal foto-fotoan, biasanya suami yang jepretin. Namun, kali ini saya harus berusaha sendiri. Bermodal kamera saku dengan posisi motor berjalan dalam track yang ‘wow’ tak menghalangi niat saya untuk foto-foto. Meskipun hasilnya, masih sederhana. Alhamdulillah.

Sepanjang kami menjelajah Kabupaten Gorontalo. Ada 2 kecamatan yang cukup sulit untuk dijangkau. Dua kecamatan tersebut cukup jauh dari kota. Akses jalan menuju ke kecamatan tersebut juga cukup ekstrim bagi yang baru pertama menjelajah. Sebelum saya sampai di Kecamatan tersebut, sepanjang perjalanan, saya bertanya-tanya, beneran ada penduduk yang tinggal di sana? Kenapa mereka tidak memilih tinggal di kota? Dan sesampainya di sana, saya baru tahu alasannya, di sana begitu indah. Dua kecamatan tersebut berbatasan langsung dengan Teluk Tomini. Dua kecamatan tersebut adalah Batudaa Pantai dan Biluhu.

………………………………………………………………………………………………………………………………….

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA Foto di Kecamatan Batudaa Pantai yang berbatasan langsung dengan Teluk Tomini.

………………………………………………………………………………………………………………………………….

OLYMPUS DIGITAL CAMERAFoto suamiku tercinta bersama awan yang begitu indah, di jalan menuju Kecamatan Bilato. Kita berhenti sejenak untuk melihat Peta.

OLYMPUS DIGITAL CAMERABersama senja, perjalanan pulang dari Kecamatan Motilango

………………………………………………………………………………………………………………………………..

OLYMPUS DIGITAL CAMERAFoto di Kecamatan Biluhu yang berbatasan langsung dengan Teluk Tomini. Untuk menjangkau kecamatan ini, kami harus melewati bukit selama kurang lebih 1 jam. Dan tentunya jarang bepapasan dengan manusia, karena kanan-kirinya seperti hutan dengan medan yang cukup menantang. Sepanjang perbukitan, saya tak terlalu akrab dengan kamera, karena medannya naik-turun, sehingga kurang terdokumentasi. Setelah melintasi perbukitan, kami disuguhi turunan dengan panorama biru laut yang menawan.

OLYMPUS DIGITAL CAMERASepanjang perjalanan pulang, kami ditemani hujan. Kami juga melintasi beberapa sungai tanpa jembatan. Petualangan yang begitu menyenangkan.

OLYMPUS DIGITAL CAMERAOLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERABahkan ketika perjalanan pulang, jalan perbukitan itu banjir. Akibat mendapat kiriman air dari wilayah yang lebih tinggi. Hehe, main-main air yuk :)

OLYMPUS DIGITAL CAMERAPemandangan menuju kecamatan Biluhu

OLYMPUS DIGITAL CAMERASalah satu rumah penduduk di Kecamatan Biluhu

OLYMPUS DIGITAL CAMERAPemandangan indah di Kecamatan Biluhu yang berbatasan langsung dengan Teluk Tomini. Lautnya indah. Biru. Saya sangat suka.

OLYMPUS DIGITAL CAMERASebuah pelajaran berharga bagi kami. Kenapa mereka tidak pindah ke kota? Kenapa mereka masih bertahan di wilayah yang tidak mudah untuk dijangkau? Kenapa? Karena Teluk Tomini. Karena Allah. Karena tak selamanya hidup diperkotaan itu jauh lebih baik. Karena kebesaran Allah.

ST2013 mencakup seluruh wilayah Indonesia. Tulisan ini hanya salah satu oleh-oleh kami dari tanah Gorontalo. Pasti lebih banyak  dan lebih indah lagi oleh-oleh dari teman-teman yang lain. Dan medan kami, pasti belum seberapa jika dibandingkan dengan yang lain. Ini ceritaku, apa ceritamu?

[127] Ikan Nike (Dowu) hanya Muncul di Bulan Gelap


Maha Besar Allah, karena selalu ada yang indah dalam semua ciptaan-Nya.

Masih dalam tahun pertama, saya dan suami menjajaki tanah Gorontalo. Ada cerita menarik yang saya dapatkan di sini, pengetahuan yang baru saya temui di bumi Gorontalo. Tentang salah satu jenis ikan yang hanya muncul sebulan sekali, munculnya pun di bulan gelap atau biasanya disebut bulan mati oleh masyarakat Gorontalo. Dalam setiap akhir bulan dalam kalender Qomariah, khususnya di muara sungai Bone, akan muncul ikan kecil-kecil dalam jumlah yang banyak. Kalau menurut saya bentuknya mirip ikan teri, tapi ukurannya lebih kecil. Kalau menurut suami saya warnanya mirip udang, hehe. *ini hanya menurut kami. Dari pada penasaran dengan bentuknya, silakan dilihat sendiri ya :)

OLYMPUS DIGITAL CAMERAOLYMPUS DIGITAL CAMERA

Saya sendiri belum terlalu paham dengan ikan jenis ini. Masyarakat biasa menyebutnya ikan Nike Baru atau ikan Duwo. Menurut informasi yang saya dapatkan, ikan ini muncul secara bergerombol, berasal dari hulu sungai Bone terbungkus selaput dan hanyut dibawa arus sungai ke laut. Sampai di laut, selaput yang sangat besar tersebut pecah jika ada ikan laut yang menggigitnya, sehingga ikan Nike menyebar. Dan akan menyebar di laut selama beberapa hari. Karena begitu populernya jenis ikan ini, kehadirannya tak hanya ditunggu-tunggu oleh para nelayan tapi juga oleh masyarakat Gorontalo. Saya dan suami pun termasuk yang merindukan masa panen ikan ini, yang memang hanya terjadi sekali dalam sebulan. Ceritanya, kami memang punya jadwal rutin ke pasar tradisional sekali dalam satu pekan. Awal datang ke Gorontalo, saya juga belum tahu apa itu ikan Nike, sewaktu masih singgah di provinsi, saya pernah dikasih tetangga, tapi ikan Nike dalam ujud sudah jadi peyek. Hingga suatu ketika, saya pergi ke pasar karena memang bertepatan dengan jadwal belanja ke pasar. Waktu itu ada ibu-ibu pedagang yang berteriak ‘ada nike’, memang kalau di Gorontalo itu teriakan penjual sangat dasyat, hehe. Sekilas melihat ada ikan kecil-kecil, spontan saya langsung memanggil suami saya,  “Mas”. Dalam hati, akhirnya ketemu juga dengan ikan Nike yang populer itu, hehe. Dan terjadilah proses transaksi jual beli, saya membeli seharga 15.000 satu kaleng susu. Itulah pertamakalinya saya membeli ikan Nike. Berapapun harga yang  penjual sebutkan, tanpa menawar saya langsung beli. Pikir saya, keburu kehabisan karena hanya muncul sekali dalam sebulan. Dan ternyata setelah saya berjalan beberapa langkah, ada banyaaaaak sekali penjual ikan nike dengan kisaran harga 10.000 per kaleng susu (*tahun 2013). Heeee, ternyata panen ikan nike itu melimpah saudara-saudara.

Belum beranjak dari bahasan ikan Nike, tentang rasa ikan Nike ini, enak, gurih, dan lezat saudara-saudara. Dengan bumbu yang sederhana pun, rasanya sangat lezat, karena memang dari rasa dasarnya ikan Nike yang enak. Untuk pertama kalinya, saya memasak ikan Nike menjadi peyek, karena belum terlalu tau kalau ikan jenis ini biasa diolah bagaimana, alhasil saya olah menjadi peyek, ikut-ikutan tentangga saya yang dulu pertama kali memberi peyek ikan Nike, hehe.

peyek

Ingin mencoba ikan Nike? Yuk berkunjung ke Gorontalo^^

[126] Hidup dengan Membawa Pesan dari Balik Kematian


Sebuah kalimat yang kerap disampaikan oleh Ustadz Bachtiar dalam kajian, yaitu: Hiduplah dengan membawa pesan dari balik kematian. Apa maksudnya?? Mau tau jawabannya? Yuk ngaji :)

Dalam kajian kamis malam di bulan Mei 2012, Ustadz menyampaikan tetang data di memori kita. Pada dasarnya otak di kepala ini netral. Ustadz pernah menjelaskan bahwa otak di kepala ini pada dasarnya dikendalikan oleh otak yang ada di dalam jantung. Karena ada otak di dalam jantung. Orang berilmu belum tentu yakin, karena hakikat ilmu itu adalah jika sudah pada level yakin. Keyakinan itu lah yang bisa membuat kita bisa melihat fakta. Dan keyakinan itu adalah hakekat dari sebuah kebenaran.

“Anda yakin nggak kalau alam barzah itu ada?
Yakinnn (jawaban serentak)
“Tapi pasti akan hang kalau saya tanya, bagaimana Anda bisa yakin?”
Ada jamaah yang terdiam, ada juga jamaah yang saling bertanya satu sama lain.

Kemudian Ustadz kembali menjelaskan, “Yakin itu kan dasarnya ilmu, kok bisa yakin tanpa ilmu? Sama saja langsung jatuh cinta tapi tidak kenal. Belum kenal tiba-tiba ‘I love you’. Tetapi saya bisa jawab, sebetulnya kadang apa yang kita sebut dengan kenyataan itu adalah tergantung data yang masuk ke dalam benak kita ini.”

Kemudian Ustadz Bachtiar bercerita, berikut ceritanya:
“Ada peristiwa. Seorang pengendara mobil mengalami tabrakan. Pada mulanya ia mengendarai mobilnya dengan kencang, hingga akhirnya ia kehilangan kendali.
 ”Aaaaaaaaaaaaaa” (teriakan sang pengendara). Karena sudah tak tahu lagi bagaimana menghadapi persoalannya, ia pun pingsan. “Daaaaarrrrrr” (tabrakan hebat pun terjadi). Jadi ceritanya, ia pingsan sebelum tabrakan. Deg degg degg deggg, tubuhnya luka, hingga akhirnya masuk IGD pun dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Bangun-bangun tubuhnya sudah penuh dengan perban dan kain kasa. Kemudian ia sibuk bertanya, Kenapa saya? Kenapa saya?

Pertanyaannya, apakah ia merasakan sakit saat tabrakan?
“Tidak,” jawaban jamaah
Ustadz kembali bertanya, “Kenapa tidak?”
“Karena pingsan”, jamaah kembali menjawab
“Gampang sekali jawabannya.”

“Peristiwa kedua. Tidur, mimpi dikejar-kejar harimau. Dalam mimpi. Ketakutan, lari terengah-engah. Lari, loncat kiri kanan, naik pohon, dikejar, turun lagi, masuk ke sungai, berenang, dijagain sama harimau, nyebrang lagi, ditarik bajunya. Hingga akhirnya setelah ia capek karena lelah, harimau pun loncat dan menggigit tanggannya. “Haaaaauuuuugg”, suara gigitan harimau.
Dia pun bangun, duduk dari kasurnya, terenggah-enggah dan merasakn sakit. Padahal tidak lari dan tidak digigit. “Haaaaahhhhhh” (suara teriakan kaget saat terbangun). Kemudian ia pegang tanggannya dan ia merasakan sakit, Padahal ia tidak berada di TKP. Sementara yang di TKP tidak merasakan apa-apa. Fenomena apa ini? Yang di TKP tidak sakit, yang tidak di TKP tapi sakit. Anda mau yang mana? Sayangnya nggak bisa milih. Itu tergantung pada data apa yang banyak di dalam dirimu.”

Pikiran saya pun ikut tersentak dengan pemamaran yang disampaikan Ustadz. Dalam hati bercengkrama, ‘Iya ya, kenapa saya tak pernah memikirkan hal ini sebelumnya. Pernah sih, mimpi yang serem-serem seperti itu, merasa dikejar sesuatu lantas terbangun dalam keadaan kaget. Tapiiii, kok hanya sebatas angin lalu. Kadang, kalau masih ingat malah diceritakan kepada orang lain ketika telah terbangun. Hanya sebatas mimpi tidur, dan tidak mendapatkan peningkatan keimanan setelah itu. Rabbana.

Kemudian Ustadz kembali menjelaskan, “Maksud saya begini, bahwa apa yang kita rasakan sakit ketika kita tidak di TKP, itu kan sebetulnya hanya ada dalam pikiran kita, di dalam memori kita. Jadi yang sakit itu sebetulnya apa sih? Apa sih yang disebut dengan sakit itu? Orang dibakar, kemudian pembuluh syarafnya sudah hangus terbakar, karena itu ia kebal kan? Jadi, apa sih yang disebut dengan sakit? Saya juga nggak tau, saya cuma nanya-nanya aja,” dengan nada khas beliau.

Kemudian Ustadz melanjutkan bahasannya,“Saya ingin mengajak Anda, coba keluar, masuk pada alam keyakinan bahwa situasi itu ada. Beriman itu perlu pengetahuan, pengetahuan itu perlu keyakinan, ketertundukan. Di fenomena pertama, dia di TKP tapi tidak merasakan sakit itu karena apa?
“Tidak sadar,” jamaah menjawab
Oke tidak sadar. Tidak sadar berarti? Apa maksudnya tidak sadar di situ?
Ini penting dijawab, karena saya akan tanya kepada Anda. Anda lebih suka mana? Diazab di dunia tapi berasa? Atau di azab di dunia oleh Allah tapi nggak berasa? Mau yang mana? Kalau disuruh milih. Setiap kita pasti pernah berdosa dong. Anda mau pilih yang mana? Disiksa di dunia berasa atau nggak berasa. Untung yang mana? Untung berasa lah ya. Karena kalau kita diazab berasa kita bisa segera bertaubat. Jadi siapa yg sedang sakit, sedang difihnah, siapa yang sedang menderita, yaaaa amanlah. Yang parah itu kalau tidak diberikan daya rasa itu oleh Allah.

Anda bakal yakin adanya Tuhan, Anda bakal tau adanya syurga dan neraka, Anda bakal mengerti bahwa alam barzah itu ada, bagaimana nikmat dan azab kubur itu tergantung memori Anda. Apakah ada data tentang itu.

Orang bule misalnya, nggak yakin sama tahayul, ada mukena goyang-goyang, bermasalah nggak? Nggak.
Gara-gara orang Indonesia punya memori tentang adanya hantu karna kurang kreatif. Ada mukena goyang-goyang dibilang? Hantu.  Jadi sebetulnya hantu itu dimana? Di memorimu sendiri. Pengalamanmu sendiri. Begitu pula daya rasa bertuhan. Daya rasa bertuhan itu sebetulnya setiap orang itu sudah diberikan oleh Allah, tinggal pengetahuan dari Tuhan itu sendiri yang mestinya dimasukkan dalam bentuk apa saja yang disebut belajar. Sehingga potensi daya rasa bertuhan dengan pengetahuan itu kemudian klop. Maka pekerjaan besar setan adalah menutup telingamu supaya kamu tidak kenal siapa Tuhanmu. Menutup telinga berarti kamu tidak diinput data, ilmu di dalam memori tentang siapa Tuhanmu, dan kecelakaan terbesar adalah para penyembah materi  atau orang yang menuhankan ilmu. Mereka tidak akan pernah sampai pada hakekat pengetahuan yang namanya keyakinan, keyakinan yang membawa ke alam fakta nantinya.
Akhirat itu fakta atau fiksi?
Fakta atau fiksi tergantung oleh apa?
Keyakinan
Keyakinan darimana?
Ilmu
Ilmu tentang akhir darimana?
Allah
Ilmu fisika bisa menjelasakan?
Tidak.

(*Untuk membaca lengkap kelanjutan kisahnya, silakan download digital booknya di sini)

[125] Digital Book ‘Catatan Ngaji’


Karena hanya Engkau yang sempurna,

karena hanya Engkau yang Maha Kuasa,

Segala puji hanya bagi-Mu ya Rabb…

Karena rahmat-Mu ya Rabb, akhirnya digital book berjudul ‘Catatan Ngaji AQL’ edisi pertama pun rampung, meskipun masih banyak kekurangan di sana-sini.

Penulis sangat mengharapkan kritik dan saran dari pembaca. Selamat membaca :)

Silakan klik di sini untuk mendownloadnya. Semoga bermanfaat :)

[124] Hikayat Awan dari Tanah Rantau


Semasa kecil, diri ini sangat penasaran dengan sesuatu yang bernama ‘awan’. Ingiiiin sekali terbang dekat dengannya. Dan, rasa penasaran itu semakin menjadi, ketika Bu guru di sekolah memberi materi tentang proses terjadinya hujan. Awan itu kumpulan dari bintik-bintik air. Begitulah jawaban normatif yang kudapati kala masih berseragam putih-merah. Dalam hati masih terbetik tanda tanya besar. Kalau awan itu bintik-bintik air, kenapa bentuknya mirip kapas.

Dewasa ini aku mengerti bahwa awan merupakan bagian dari siklus hidrologi. Salah satu bukti keagungan Allah.

suamiku

Dua puluh enam Desember lalu, Allah memboyongku dan suami terbang ke pulau Celebes via Garuda. Subhanallah, hal ini yang pernah aku mimpikan semasa kecil. Terbang dekat dengan awan, dan riil sekarang aku berada diantara mereka. Dulu, semasa kecil aku membayangkan terbang meloncat-loncat diantara awan, dan sekarang Allah menjawabnya meski bukan nyata terbang lepas, tapi terkerangkeng dalam besi terbang. Dulu, aku berpikir kalau awan itu empuk seperti kasur yang halus, lantas aku bisa tidur di atasnya. Tapi, ternyata, hehehe.

Petualangan baru pun kembali dimulai, aku dan suami yang sama-sama berdarah jawa bertamu di tanah orang. Di sebuah provinsi mini yang terletak di daratan Sulawesi. Kenapa ku bilang mini? Karena luas wilayah secara keseluruhan dari provinsi ini nggak ada satu persen dari luas Indonesia, hanya sebesar 0,63 persen, hanya 12.435 km2 . Sebut saja, Gorontalo. Tapi jangan salah, meskipun mini banyak yang menarik di sini. Apa itu? Yuk kita intip liputannya.

Alhamdulillah, setiap hari kami disuguhi panorama amboi. Seolah kami hidup dipilin bukit-bukit nan hijau yang belum berpenghuni. Awan-awannya pun menjadi sedemikian rendah. Yang membuat hatiku senantiasa berdecak kagum, dalam setiap pagi, gumpalan putih itu berbaris rendah di bawah bukit.

Provinsi mini, penghuni pun masih mini, berkisar angka satu juta orang. Angka yang terbilang kecil untuk ukuran penduduk sebuah provinsi. Oya, ada lagi yang unik, letak kantor Gubernur di sini berada di puncak bukit lho. Pernah suatu ketika, selepas pulang kantor, aku dan suami mampir ke sana.

“Dek, lihat di sekitar kita ada yang indah,”

Sembari membenahi posisi dudukku bonceng di motor, aku bergegas memperhatikan dengan seksama, mencari-cari apa yang dimaksud suamiku. Subhanallah, meski bukit yang kita lintasi tak terlalu tinggi, tapi selama perjalanan kami menerobos awan-awan halus. Kami juga bisa leluasa melihat awan yang tersangga rendah di seberang. Akhirnya, sampailah kami di depan kantor gubernur.

Gorontalo

Ini dia penampakanku bersama sang awan di depan kantor gubernur hasil jepretan suami tercinta.

Oya, ada lagi cerita lain topiknya ‘dari rantau nyemplung ke dapur’. Berapa hari yang lalu, kawan lama suamiku sms. Intinya smsnya kurang kebih seperti ini,

“Udah ditempatkan tugas dimana Ek?”

“Di Gorontalo”

“Weleh-weleh, penelitian akhirku tentang produksi Jagung di Gorontalo lho Ek”,

Subhanallah. Meski propinsi kecil, ternyata jagung di provinsi ini menarik juga untuk diteliti, bahkan tersohor sampai tanah Purwokerto(*hehehehe).

Berbicara terkait statistik, ternyata jagung merupakan komoditas unggulan dari sektor pertanian di Provinsi Gorontalo. Luas panen jagung mencapai 135.754 hektar di tahun 2011. Luasan ini lebih besar dibandingkan dengan luas panen padi (sawah dan ladang) yang hanya mencapai 52.811 hektar. (Diambil dari publikasi ‘GORONTALO DALAM ANGKA 2012’).

Dari data statistik tersebut, merujuk pada kesimpulan bahwa ‘harga jagung di sini lebih murah’. Apabila dianalisis lebih mendalam dengan melihat variabel-variabel yang memengaruhi, maka kesimpulannya menjadi lebih menarik dan mengerucut. Kesimpulannya adalah ‘Yuk masak dengan jagung’. Bahasa statistik ala koki amatiran.

Jagung Manis yang telah dikupas kulitnya

Jagung Manis yang telah dikupas kulitnya

Di Gorontalo banyak masakan khas bertema jagung, salah satunya Milu Siram atau Binthe Biluhuta. Milu/binthe sebutan untuk jagung, sedangkan siram/Biluhuta artinya disiram.

Milu siram (*gambar hasil googling)

Berhubung baru beberapa minggu di Gorontalo dan belum belajar cara membuat masakan tradisional di sini, akhirnya aku memasak jagung bertema lidah Jowo. Yang sederhana dan nggak ribet buatnya, cocok dipraktikan bagi ‘pemasak’ pemula, tapi tetep enyak untuk disantap dan tentunya hahal. Yuk !!

Bakwan Jagung

Untuk melihat cara membuatnya, bisa klik di sini

Jagung Manis Meses

Untuk melihat cara membuatnya, bisa klik di sini

Hikayat awan. Darimu turun menjadi hujan hingga menjadikan jagung-jagung itu tumbuh. Hikayat awan. Ronamu masih saja menyita ruang dihatiku. Senantiasa indah dengan polesan yang tak pernah sama dalam setiap temponya. Rupa-rupamu yang berkolaborasi dengan cahaya kala senja, membuat hati ini senantiasa ingat. Bahwa kami berdua di sini, masih bernaung di bawah langit yang sama dengan keluarga di seberang sana.

Hikayat awan. Memandangmu, lantas tersenyum, senantiasa membuat hati ini bahagia (*silakan mencoba).

Hikayat awan. Karena awan di tanah rantau dan awan di kampung, tetap Allah jua lah penciptanya.

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? (QS : 55 : 55)

Itulah sekelumit ceritaku di tanah rantau, apa ceritamu?

Artikel ini diikutkan dalam Giveaway Gendu-gendu Rasa Perantau

[123] Tadabbur Surah Al Falaq


Ada dua nikmat Allah yang bisa membahayakan kita. Yaitu, nikmat waktu muda dan nikmat waktu luang. Jika tidak cepat-cepat kita sibukkan dengan kebaikan, maka kita akan disibukkan dengan kejahatan. Berhubung libur kerja hari Ahad, yuk kita sibukkan dengan kebaikan :)

Membuka-buka catatan ngaji membuat hati begitu sumringah. Kembali menjereng memori yang dulu pernah terekam. Senyum pun merekah ketika ingat ukhuwah yang terjalin di jalan Mu ya Rabb.

Tertanggal tiga Maret 2012. Hari itu hari sabtu, seperti biasa, setiap Sabtu siang, Karang Asem No. 23 menjadi tempat mangkal remaja-remaja cinta Qur’an. (*info: klo sekarang tempat mangkalnya sudah pindah tempat ke Tebet Utara I No 40 Jaksel). Sabtu pekan pertama jadwalnya mentadabburi Al-Qur’an, dimulai dari juz 30. Bersama Ust. Umar Makka. Berikut Tadabbur Surah Al-Falaq, dari Lapak Q-Gen (Qur’anic Generation)

Sebelum kami mentadabburi surah Al-Falaq kami diminta Ustadz untuk menulis ayatnya lengkap dengan terjemahannya.

Kenapa harus ditulis sih Ustadz? (*barangkali ada bisik-bisik syetan yang menggelitik, tapi ketika hati ini ikhlas karena Allah, bisikan syetan pasti berlalu. Rasa malas pun lenyap, berganti semangat karena Allah)

Karena saat tiba waktunya nanti tangan inilah yang akan berbicara. Seperti firman Alah dalam QS. Yasin ayat 65

“pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.”

Ketika saat itu tiba. Saat setiap mulut ini tertutup, dan tangan-tangan lah yang berbicara, betapa sedih dan menyesalnya kita ketika tangan-tangan itu berbicara

“Ya Rabb, dulu tanganku ini tidak pernah digunakan untuk menulis Qur’an”

Semoga dengan menulis ayat-ayat Mu, Engkau ridho dan memasukkan hamba ke dalam golongan orang-orang yang Engkau jauhkan dari api neraka. Aamiin.

Setelah selesai menulisnya, yuk kita tadabburi ayat-ayatnya.

  1. Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh,
  2. Dari kejahatan makhluk-Nya,
  3. Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita,
  4. Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul
  5. Dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki.”

Ayat 1, “Katakanlah aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh”

Ada apa dengan subuh? Kenapa bukan siang? Kenapa bukan malam? Bukannya malam juga berbahaya? Bukannya siang juga harus berlindung? Tapi kenapa waktu subuh yang Allah tekankan?

Karena subuh adalah pergantian antara malam dan siang. Karena di waktu subuh terjadi pelaporan catatan amal kebaikan. Karena subuh adalah titik point, permulaan manusia melakukan sesuatu/aktivitas.

Lalu, apa kaitan waktu subuh dengan 4 kejahatan yang Allah disebutkan di ayat setelahnya? (*empat kejahatan di ayat 2, 3, 4, dan 5). Dari kejahatan makhluk-Nya, dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki.

Yuk kita bahas satu persatu, pembahasannya dari ayat 2 sampai 5. Dari keempat kejahatan tersebut apasih kaitannya dengan waktu subuh.

Ayat 2 “Dari kejahatan makhluk-Nya”

Kenapa kita harus berlindung dari kejahatan makhlukNya? Karena semua makhluk berpotensi untuk melakukan kejahatan.

Contohnya: Angin itu bermanfaat tidak? Ya. Bermanfaat untuk berlayar, untuk kincir angin, penyegar pikiran untuk sekedar mencari angin. Tapi angin juga bisa berbahaya. Angin ribut? Angin topan? Putting Beliung? Air itu bermanfaat tidak?Ya. Bermanfaat untuk minum, mandi, mencuci, dll. Coba bayangkan ketika tidak ada air. Tapi, air itu juga bisa berbahaya, contohnya ketika banjir. Contoh lain, pohon di pinggir jalan itu bermanfaat tidak? Ya. Bermanfaat untuk penyedia Oksigen dan membuat perjalanan kita menjadi lebih nyaman. Tapi, ketika pohon itu tumbang?

Allah yang ciptakan kebaikan, tapi kenapa Allah juga yang ciptakan kejahatan?

Inilah jawabannya, apa hubungannya harus berlindung dari kejahatan makhlukNya di waktu subuh. Karena pada intinya semua ciptaan Allah itu berpotensi untuk melakukan kejahatan. Disinilah pentingnya kita harus berlindung kepada Allah. Awalilah berdo’a untuk minta perlindungan dari Allah di awal waktu. Ketika subuh.

Ayat 3 “Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita,”

Di waktu malam itu lebih mudah bagi musuh Allah dalam mengecohkan manusia agar manusia masuk ke dalam golongan yang tidak baik. Karena pada waktu malam manusia merasa tidak diawasi oleh Allah, sehingga potensi kejahatan pun tinggi.

Jika malam tiba, suruhlah anakmu masuk rumah karena syetan paling banyak bertebaran di waktu malam. Dan tutuplah pintu-pintu kalian dengan Bismillah. Karena syetan tidak akan masuk ketika pintu rumah ditutup dengan Bismillah. (Sabda Rosul)—–kalau hadits yang ini karena bermodal catatan jadi belum tau periwayatnya dan belum nemu referensinya. Mohon koreksi jika ada kesalahan.

Dan di waktu malam pula syetan juga lebih mudah bekerja untuk mengangkat syahwat bani Adam dengan perzinaan dan lain-lain. Wujud riilnya, banyak praktik-praktik perzinaan yang terjadi di malam hari.

Sihir yang keluar di malam hari pun lebih kuat. Sehingga banyak kasus penculikan, pencurian, penipuan, dll di malam hari.

Begitu banyaknya bahaya di malam hari. Maka, kita diperintahkan oleh Allah untuk berlindung mulai dari waktu subuh.

Sudahkah kita berdo’a pada Allah ketika keluar rumah? Berdo’a agar kita dilindungi Allah, agar tidak disesatkan orang lain juga agar kita tidak menyesatkan orang lain.

Ayat 4 “Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul”

Kenapa wanita? Kenapa bukan pria?

Apa hubungannya tukang sihir dengan waktu subuh? Bukankah waktu subuh penyihir belum bangun?

Kenapa wanita, karena terkait dengan asbabun nuzul surah Al –Falaq, terkait dengan wanita yang menaruh buhul untuk menyihir Rosul. Buhul-buhul itu apa sih? (*untuk lengkapnya baca lagi di sini).

Alasan lain, kenapa wanita? Karena wanita mempunyai potensi untuk menyihir, yaitu wanita yang tidak ada agama di dalam dadanya. Wanita yang suka menggoda ke jalan yang tidak benar. Wanita yang berpakaian, tapi telanjang, yang mengajak manusia ke dalam keburukan.

Ayat 5 “Dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki.”

Dengki/hasad. Dalam kehidupan, banyak kejadian yang timbul bermula dari hasad.  Karena sifat hasad, Adam keluar dari syurga. Karena hasad, terjadilah peristiwa pembunuhan pertama di muka bumi, ketika Qabil membunuh Habil.

Hasad itu pusatnya di hati. Dan yang perlu kita ingat bahwa sifat hasad tidak hanya terjadi pada orang jahat saja. Contohnya, antar Ustadz saja bisa juga timbul sifat hasad, ketika tidak senantiasa berlindung kepada Allah. Begitu pesan Ustadz Umar kala itu.

Semoga kita termasuk dalam golongan orang-orang yang senantiasa dalam kebaikan. Karena orang yang terkena penyakit hati akan susah melihat kesalahan pada dirinya.

Mari awali hari kita dengan berlindung kepada Allah, berlindung mulai dari waktu subuh. Awalilah berdo’a untuk minta perlindungan dari Allah di awal waktu. Ketika subuh. Berlindung dari berbagai jenis penyakit hati yang sering tanpa kita sadari telah masuk dalam hati kita, dan mencemari niatan kita.

Semoga kita termasuk orang-orang yang ringan untuk menajalankan shalat subuh tepat waktu. Karena orang yang berat untuk shalat Subuh, adalah orang-orang yang munafik.

[122] Aku [sempat] Ragu untuk Berjilbab


OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Saudariku, masing-masing dari kita pasti punya kisah tersendiri terkait ‘diri ini dan jilbab’. Barangkali diantara kita ada yang awalnya merasa dipaksa untuk berjilbab. Dipaksa orang tua, dipaksa kakak atau dipaksa aturan karena menjadi tuntutan sekolah yang berbasis Islam. Paksaan yang membuat berang, alhasil memakai jilbab hanya setengah hati. Fisik iya, kalbu tidak. Ujung-ujungnya hanya memakai kain penutup kepala alakadarnya. Baju yang hanya membalut, tapi belum menutupi. Subhanallah, betapa indahnya ketika Allah menghendaki rasa ‘terpaksa’ itu lambat laun luntur hingga menjelma menjadi perasaan ikhlas karena-Nya untuk jilbab. Ketika kita tau betapa Allah sangat memuliakan perempuan.

Barangkali ada yang punya kisah lain. Merasa musibah, berujung berkah. Perempuan berambut indah mengalami musibah kecelakaan sehingga merusak penampilan di bagian kepala atau rambut. “Aduh giman ni?” Hingga akhirnya jilbab menjadi pilihan solusinya. Niat hati berjilbab untuk menutupi kerusakan pada kepalanya, hingga akhirnya pada suatu titik perempuan itu bersujud. Bersyukur pada Allah ketika ia tau sakitnya kecelakaan tak ada seberapanya dengan sakitnya azab Allah. Alhamdulillah, sekarang saya telah berjilbab rapi dan tidak ketat.

Atau mungkin ada yang punya cerita, berawal dari banyak membaca buku agama hingga akhirnya terketuk hatinya untuk berjilbab karena ingin melaksanakan perintah Allah. Subhanallah. Atau malah ada yang sejak kecil memang lahir di tengah keluarga yang berjilbab, mendapat asupan islami, sehingga tak terlalu banyak kendala hingga dewasa ia memantapkan hati untuk berjilbab. Alhamdulillah, saya telah banyak berubah dari sebelumnya berjilbab pendek hingga sekarang berjilbab ‘gede’, berpakaian longgar dan berkaus kaki.

Atau ada yang hingga saat ini masih memantapkan hati untuk berjilbab? Jangan pernah ragu saudariku. Yakinlah saudariku, bahwa sesuatu yang telah Allah wajibkan bagi kita pastilah terbaik untuk kita. Sepandai-pandainya manusia, pasti ia punya salah. Karena yang tidak pernah salah hanyalah Allah. Beberapa bukti sains juga telah menguak bahwa dengan berjilbab kita lebih terlindung dari sinar UV yang merupakan penyebab kanker kulit, karena kulit kita lebih tertutup. Terlindung juga dari debu kotor. Rambut pun lebih sehat karena tidak secara langsung terkena sinar matahari. Kuku-kuku kaki pun lebih bersih karena berkaus kaki, tidak banyak tanah-tanah yang nyelip di pinggiran kuku. Subhanallah.

Itu adalah beberapa manfaat berjilbab yang dibuktikan dengan pengetahuan manusia. Sedangkan dibalik itu semua? Pastilah ada maksud Allah yang dasyat tentang manfaat berjilbab bagi kita.

 “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS: Al Ahzab: 59)

Mantabkan hatimu saudariku, tidak akan pernah kita merugi jika kita berjalan di jalan Allah.

Masihkah terbetik rasa ragu untuk berjilbab? Jangan-jangan kalau nanti aku berjilbab, aku tak dapet kerjaan. Jangan-jangan kalau aku berjilbab rapi, bos tidak suka lagi padaku dan pelanggan pada kabur, terus gajiku dipotong? Jangan-jangan kalau aku berjilbab gede, orang akan mengasingkanku dan aku akan kesulitan mendapat patner kerja?

Yakinlah saudariku, bahwa yang mengatur rejeki kita bukan bos kita, bukan atasan kita, bukan instansi kita, tapi Allah. Allah yang maha kuasa, yang menciptakan seluruh alam raya. Allah yang menciptakan seluruh organ-organ kita. Pernahkah kita berpikir, gimana ya ketika Allah tidak menciptakan ginjal untukku? Apakah aku harus selalu mencuci darahku sendiri? Maha besar Allah. Masihkah kita ragu dengan Allah yang menciptakan kita?

Teringat pesan guru ngajiku Ust. Bachtiar Nasir bahwa, “kebermanfaatan dari setiap penghasilan kita tidak dihitung dari seberapa ontime nya kita terhadap jam kantor, tapi seberapa ontimenya kita pada jam shalat”.

Masih tidak percaya? Ribuan pegawai dari sebuah instansi yang sama dengan jabatan dan gaji yang sama pula. Tapi, apakah pola pemenuhan kebutuhan hidup mereka sama? Apakah sama-sama kaya? Ada keluarga yang gajinya habis karena anaknya boros, ada yang gajinya habis untuk beli obat karena sakit-sakitan, dll. Karena kebermanfaat penghasilan kita yang menentukan Allah.

So, jangan pernah ragu dengan sesuatu yang telah Allah wajibkan untuk kita, termasuk berjilbab bagi perempuan. Jangan takut akan rejeki kita, karena ada Allah. Jangan ragu untuk berjilbab dengan dalih hubunganmu dengan orang lain akan hancur. Justru resepnya, perbaiki hubungan kita dengan Allah, maka Allah akan memperbaiki hubungan kita dengan teman-teman di sekitar kita, Allah akan memperbaiki pula hubungan kita dengan pekerjaan kita. Perbaiki hubungan dengan Allah, salah satu caranya dengan berjilbab. Yakinlah saudariku. Karena kita akan lebih ‘cantik’ dengan berjilbab.

Atau masih ragu karena takut tak dapat jodoh? Yakinlah janji Allah. Karena janji Allah adalah benar..

“… wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk wanita-wanita yang baik (pula)…” (QS:An-Nur:26)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.672 pengikut lainnya.