[161] Apa Sih Bahagia itu?


10665587_1490446044559148_1080744448_n

Apa sih bahagia itu? Ketika bergelimang harta kah? Kalau begitu orang miskin tidak berhak untuk bahagia dong. Banyak kok ditemui di lapangan , orang yang kaya malah tidak bahagia. Dan banyak orang miskin yang bahagia dengan kesederhanaan yang mereka miliki. Kalau begitu apa ya bahagia itu?

Oh ya, kalau begitu aku ubah pertanyaannya. Siapa sih yang disebut sebagai orang yang bahagia? Ehmmm, siapa yaa… Presiden kah? Aku rasa, menjadi presiden juga ada kalanya sedih, sekuat dan sehebat apapun presiden itu, selengkap apapun fasilitas yang ia punya. Suatu ketika, preseiden sangat bahagia, tapi ia akan tetap merasakan apa yang disebut dengan kesedihan, kehilangan orang-orang tersayang karena meninggal dunia, memikirkan masalah negara yang kompleks, atau yang lainnya.

Yaaaa, karena tidak mungkin seseorang itu bahagia selamanya.

Tentang kisah sebuah gelas yang berisi air setengahnya, gelas itu dibawa oleh seorang motivator. Lantas ia melemparkan pertanyaan di tengah forum untuk mengetahui cara pandang seseorang apakah tipe yang positif thingking atau negatif thingking. Tentang bagaimana seseorang itu memandang gelas itu, apakah separuh kosong atau separuh isi. Kalau menjawab separuh kosong berarti tipe orang yang pesimis, kalau separuh isi artinya tipe orang yang optimis. Ehmmm, aku tidak akan membahas hal ini lebih jauh.

Mari kita beranjak ke sisi lain dari gelas berisi setengah air itu. Beratkan apabila kita memegang gelas itu selama satu menit? Mungkin, kita masih mampu, memegang gelas yang isinya kurang dari 250 ml? Tapi, bagaimana kalau kita memegang gelas itu selama satu jam? Dua jam? Atau satu hari penuh? Berat nggak? Yaaa tentu berat, capek, lelah.

Beban-beban hidup seperti gelas itu, bukan berapa beratnya, tapi berapa lama kita memegang beban ini dalam hidup kita.

Jadi apa sebenarnya bahagia itu?

Tentang psikologi islam vs psikologi konvensional. Perbedaan mendasar antara psikologi islam dan konvensional adalah dalam mendefinisikan puncak kemuliaan/keberhasilan hidup. Ketahuhilah bahwa, psikologi konvensional selalu menjadikan happiness/kebahagiaan itu sebagai puncak keberhasilan hidup. Tapi di dalam islam, apabila kita ingin sampai pada kemuliaan hidup, tidak sampai pada yang namanya happiness saja, tapi dengan mencapai ridhanya Allah.  Sebab kebahagiaan itu bisa hilang, karena tidak mungkin seseoorang itu bahagaia seterusnya, tidak mungkin. Ada yang namanya kehilangan, perpisahan, kekalahan, sakit, ketidakmampuan, dan sebagainya.

Jadi, kalau kita menempatkan happiness sebagai puncak atau tujuan dalam hidup, maksimal kebahagiaan yang akan kita peroleh berkisar antara 50 persen saja. Sebab tidak bisa kita bahagia selamanya.

Sesuai dengan firman Allah dalam qur’an surah Ad Dhuha, yang salah satunya bercerita tentang Rosulullah, yang juga pernah merasakan apa yang disebut kehilangan dan perpisahan. Lebih dalam lagi tentang tadabbur surah Ad Dhuha silakan didengarkan dari Ustadz langsung ya.

Tapi Rosulullah, justru damai hidupnya, dan menghantarkan umat manusia ke dalam syurga Allah.

Jadi, ketika kita ingin mendapatkan kemuliaan hidup, bukan hanya dengan kebahagiaan semata, tetapi kita harus berusaha mencapai ridha dari Allah.

Bahagia itu adalah ketika apa yang kita inginkan tercapai, dan kita akan mencapai puncak kebahagiaan apabila apa yang kita peroleh lebih dari apa yang kita inginkan. Dan, yang bisa memberikan itu semua hanyalah Allah.

Lebih dari itu, adalah kondisi well-being, ketika seseorang dimampukan Allah untuk memiliki ilmu kemudian semakin ia tawadu’, dengan bertambahnya harta ia semakin dermawan dan meningkatkan silahturahim, semakin populer maka ia semakin memasyakarat.

Lebih dari itu, kemuliaan hidup akan kita peroleh apabila kita senantiasa ridha akan ketetapan Allah. Senantiasa mengucapkan, ‘alhamdulillah’, baik dalam kerberkahan rezeki maupun sedang dalam ujian dari Allah.

Ridha itu apa?

Ridha itu adalah ketika kita menginginkan sesuatu yang sesuai dengan keinginan Allah, atau kita berusaha untuk menyetarakan antara kehendak Allah dengan keinginan kita. Bahasa halusnya, apa yang kita cari di dunia ini bukan harus selalu yang kita inginkan, karena tidak tepat kalau hidup itu suka-suka gue, tapi suka-suka Allah.

Ketika kita ridha dengan setiap ketetapan yang telah Allah berikan, in syaaAllah, kita akan menemukan apa itu kemuliaan hidup. Baik ketika mendapatkan rezeki maupun sedang ditimpa musibah. Karena kita ridha, dan kita yakin bahwa itulah yang terbaik yang Allah berikan. Karena, belum tentu yang kita inginkan itu, yang terlihat indah itu, memang benar indah adanya.

Semoga Allah senantiasa ridha kepada kita. Hingga kita dimampukan mencapai puncak kebahagiaan itu, dalam syurga Allah…

 –mohon maaf kalau tulisan saya kurang pas, dan masih banyak kekurangan, karena keterbatasan ilmu yang saya miliki. Tulisan ini bersumber dari salah satu video ngaji yang saya download dari Ust.Bachtiar Nasir. Semoga bermanfaat–

[160] Pulau Saronde


Beberapa bulan yang lalu, saya dan suami diberi kesempatan oleh Allah untuk berkunjung ke salah satu pulau di Provinsi Gorontalo, tepatnya di Kabupaten Gorontalo Utara (Gorut), namanya Pulau Saronde. Dari pelabuhan Kwandang Gorut, kami menaiki perahu kecil, namanya Katinting untuk menuju Pulau Saronde. Sepertinya sih, masih ada satu lagi mode transportasi yaitu Taxi Saronde, tapi katanya, sedang ‘tidak beroperasi’. Jadilah kami menaiki Katinting. Ini dia penampakannya. Oh ya, kami membayar 200.000 rupiah untuk pulang-pergi, katanya sih bisa 40an ribu per orang untuk pulang-pergi, kalau ada temennya rame-rame, 1 katinting untuk 10 orang. Tapi karena kami hanya berdua, jadilah seperti perahunya di sewa gitu.

OLYMPUS DIGITAL CAMERAOLYMPUS DIGITAL CAMERA(Tampak Pulau Saronde, foto ini diambil saat perjalanan berangkat, karena ombak cukup tenang, saya masih berani ambil foto sana-sini, cerita ini itu. Saat perjalanan pulang, jangankan mengambil gambar,…)

Di dalam perahu itu, saya banyak berdo’a pada Allah. Pengalaman yang sangat berharga bagi saya, Alhamdulillah, Allah ingatkan saya kembali akan kematian, dan juga tentang kiamat.

Suasana yang cukup ekstrim waktu itu. Perahunya kecil, seharusnya perahu kecil ini bisa menampung sekitar 10 penumpang. Namun, saat itu hanya saya, suami, dan bapak yang mengendarai perahu, jadilah perahu ini kurang stabil. Saat keberangkatan ombak cukup bersahabat, karena masih pagi. Naaah, saat penyeberangan pulang, masyaaAllah, ombak membuat kami sekejab hemat bicara, tidak ngobrol ini itu, hanya sesekali saya bertanya, “Mas, ini lautnya dangkal kan?”. Selebihnya kami khusyu’ berdzikir kepada Allah. Dan saya baru sadar saat berada di tengah laut lengkap dengan ayunan ombak, di perahu ini tidak terlihat ada pelampung’. Saya tengok ke belakang, nihil. Saya hanya diam, menyimpan pertanyaan itu “nggak ada pelampung ya”. Di atas perahu itu, saya berusaha memutar memori, akan dosa-dosa, khilaf, kemalasan yang masih saja dipelihara, dll. Saya pun sangat bersyukur, Allah memberikan ‘kesempatan’ kepada saya untuk bermuhasabah di atas perahu kecil, di laut ciptaan-Nya, menyeberang kurang lebih 45 menit.

Ingat ayat-ayat dalam Al Qur’an tentang, “bumi yang digulung”, “saat laut dihancurluluhkan sehancur-hancurnya”.

Dibalik hikmah yang kami dapatkan, kami juga disuguhkan Allah dengan panorama Pulau Saronde yang begitu memukau. Laut yang begitu bening, biota laut yang menakjubkan, pasir putih yang mempesona, perpaduan warna langit-air laut-sinar matahari yang begitu elok dan memukau.

Dengan menggunakan kamera seadanya, ini dia salah satu cuplikannya. Lebih indah aslinya daripada foto-fotonya. Bener deh :)

10369536_492736670858371_10507055_n(Bening banget kan airnya. Ikan-ikan berlari kesana kemari, dengan indahnya. Oh ya, yang ada beberapa cottage di Pulau ini. Sengaja disediakan untuk para pengunjung yang ingin menginap, melihat sunrise atau sunset. Di foto ini, ada cottage yang berada di atas laut. Tahun 2014, harga menginap untuk 1 malam sekitar 250.000 rupiah, bisa untuk 2 orang, kayaknya sih begitu. Saya juga kurang tahu hehe)

10362179_744182192271230_1756468027_n(Kalau ini cottage yang berada di atas daratan Pulau Saronde)

10449055_1430194383913298_1481062025_n(dermaga)

925277_1482469848636777_975073389_n(Di bagian tepi Pulau Saronde yang berbatasan dengan air laut, ada yang berupa hamparan pasir putih. Ada juga sebagian yang berupa batu-batu, ada juga yang bati-batu berpasir.)

 10004164_1440300122886875_1418326067_n(tenda ini entah namanya apa, hehe)

Itulah tadi sekelumit cerita kami tentang Pulau Saronde. Karena berbagai keterbatasan kami, kami hanya bisa mengambil foto seadanya. Bagi sahabat yang ingin tahu lebih banyak tentang Pulau Saronde serta melihat postingan teman-teman lain yang lebih amboi bisa via googling, heee. Klik aja di sini.

Semoga bermanfaat :)

[159] Jatuh Cinta


10608029_266497776880733_1433744610_n

Menaruh rasa ‘suka’ kepada seseorang, tanpa seseorang itu tahu. Memperhatikan seseorang, tanpa seseorang itu menyadari. Meletakkan rasa ‘cinta’, tanpa seseorang itu….

Apa yang sebaiknya aku lakukan. Aku masih berstatus mahasiswi, dengan ‘rule’ tidak boleh menikah sebelum lulus kuliah. Ahhh, aku rasa itu alasan klasik. Pertanyaan yang lebih mendasar dan pantas untuk dipertanyakan adalah, emangnya ‘seseorang’ itu juga mempunyai rasa seperti yang aku rasakan?

Sejauh ini aku hanya bisa menyimpan rasa ini rapat-rapat. Bahkan sahabat dekatku pun, belum tahu kalau aku menaruh rasa pada ‘pria pendiam’ itu. Meskipun, akhir-akhir ini sahabatku sudah menebak-nebak, karena aku yang suka terlihat grogri banget, kalau ketemu atau ada acara bareng dengan ‘pria pendiam’ itu.

Aku tahu ini salah. Meletakkan rasa kepada seseorang yang belum sah menjadi suami. Tapiiii, aku juga tak tahu bagaimana asal mula rasa ini datang. Bukan aku yang meminta rasa ini datang. Bukan aku yang meminta kepada hatiku, agar hatiku suka padanya. Semuanya datang dengan sendirinya. Bahkan bisa dibilang aku pun terlambat menyadari, kalau aku telah jatuh cinta padanya.

Aku juga tak sengaja mengenal pria itu. Tiba-tiba saja ia muncul dan menjadi teman sekelasku. Yang lebih membuatku gemes, di tengah perjalanan semester, ia juga yang menjadi ketua kelas. Masya Allah. Berdesir, rasanya hati ini ketika seringkali mendengar ‘pidato’ ketua kelas itu. Yang selalu terstruktur, rapi, sopan, tenang, dan rendah diri. Kalimat-kalimat bijak yang senantiasa terlontar dari sosok pria pendiam itu. Yaaa, aku percaya semua yang aku anggap tidak sengaja itu, adalah skenario dari Allah, atas kehendak Allah, dan tentu karena campur tangan Allah.

Ok, kita kembali ke akar masalahnya. Jadi, aku semakin merasa kesulitan untuk menutupi rasa ini. Bahkan, aku rasa ia pun mulai menyadarinya. Menyadari kalau aku menitipkan rasa itu, mungkin. 

Semakin hari, rasa ini semakin menjadi-jadi. Ia yang terus terbayang. Terus berlalu lalang dalam pikiran, tanpa aku minta.

Aku terus berdoa pada Allah. Meminta kepada Dia Yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Allah lah yang telah memberikan rasa ini, kepada Allah jua lah, semestinya aku berserah diri. Memohon kepada Nya, solusi akan perkara hati ini.

Aku masih ingat kejadian itu, sewaktu aku hendak pergi ke kampus. Sendirian, dengan berjalan kaki. Sampailah aku di lampu merah depan kampus, ceritanya ingin nyebrang. Tiba-tiba saja ia muncul dari arah yang berlawanan dari tempat aku berdiri. Menaiki sepeda merah dengan ransel hitam yang berbentuk kotak  itu. Ditambah deburan angin, menyapu rambut hitam yang lurus dengan penuh pesona itu. MasyaaAllah, hati ini berdebar tak karuan. Bisa diprediksi, beberapa detik lagi, aku akan berpapasan dengan sosok itu. Sepandai-pandainya aku menyembunyikan pandangan dengan terus menunduk, sepandai-pandainya aku menutupi segala kegrogianku, tapi tetap saja aku terlihat grogi.

Yaaaap, kami berpapasan. Senyum ringan dengan penuh basa-basi. Lantas, ia berlalu dengan begitu santai dan tenang. Ya Rabb…

Ia berlalu, dan aku pun masih sibuk menata hatiku…

….

_catatan hati untuk suamiku, betapa aku mencintaimu, terimakasih cintaa_

//

[158] Jurus Mengelola Cemburu


Berkaitan dengan postingan saya sebelumnya tentang Cemburu itu Perintah Allah, maka di sini akan saya paparkan terkait Jurus Mengelola Cemburu. Barangkali ada banyak lagi jurus yang bisa meredam api cemburu, yang tidak tertulis di tulisan saya ini, berkaitan dengan keterbatasan ilmu yang saya miliki.

Rasa cemburu (ghirah) adalah fitrah yang Allah tanamkan dalam hati orang yang beriman untuk menjaga martabat keimanan dan kehormatan dirinya. Rasa cemburu (ghirah) yang kita rasakan adalah bukti cinta kepada suami dan perkara normal bagi seorang wanita. Namun, rasa cemburu yang awalnya mulia bisa berubah menjadi hina bagi pelakunya jika direalisasikan dengan menzalimi diri sendiri atau orang lain. Rasa cemburu yang awalnya mulia bisa berubah menjadi hina bagi pelakunya jika direalisasikan dengan menzalimi diri sendiri atau orang lain. Jadi bagaimana agar cemburu kita di ridhai Allah?

  1. Jangan terlalu berprasangka buruk kepada pasangan. Karena dapat membuat diri kita berada dalam dunia khayalan, suamiku sedang apa ya, dengan siapa ya, jangan-jangan suamiku sering komunikasi dengan si fulana, jangan-jangan suamiku pernah makan siang dengan fulana, dll. Hindari berprasangka buruk, karena Allah sesuai prasangka hamba-Nya. Dan prasangka buruk itu sebagian besar datang dari iblis. Percayalah! Jika prasangka kita baik kepada pada Allah dan suami, kebaikan pull ah yang akan terjadi. Namun, jika kita berprasangka negative, artinya kita sudah tertimpa musibah, sebelum datangnya musibah. Jodoh ini adalah takdir baik dari Allah, maka jangan pernah sangsikan akan datangnya kebaikan jika sudah ikhlas menerima takdir-takdir-Nya.
  2. Jangan mencoba untuk membuka ruang. Suami/istri jangan melakukan perbuatan yang mengundang cemburu pasangannya, baik dengan komunikasi verbal atau pun yang lain. Saudariku, jangan pernah menceritakan kecantikan wanita lain kepada suamimu. Karena hal itu sangat dilarang oleh Rosulullah. Sifat laki-laki tentu berbeda-beda, dan bisa jadi apabila kita menceritakan kecantikan wanita lain akan mengakibatkan sang suami terbayang lebih dari yang istri ceritakan. Begitu juga sebaliknya, janganlah seorang suami memuji wanita lain di depan istrinya, ini sangat-sangat dilarang oleh Rosulullah. Perlu koreksi diri, jangan sampai diri sendirilah yang telah membuka ruang.
  3. Menjadi pribadi yang lebih memahami dan percaya terhadap pasangan. Seperti yang telah dikupas di awal bahwa suami pun akan merasa risih ketika diperlakukan layaknya ‘anak kecil’. Letakkan kepercayaan pada suami, dan jangan alih tugas malaikat. Namun, jangan juga terlalu berlaku cuek, berusaha menjadi pribadi yang lebih memahami pasangan. Belajar untuk memperhatikan, jangan terus-terusan ingin diperhatikan.
  4. Banyak berinteraksi dengan Al Qur’an, dengan tilawah, menghafal, mentadabburi, dll.
  5. Redam api cemburu dan amarah dengan memohon perlindungan Allah (berta’awwudz) sehingga tertutup pintu setan untuk memasukkan rasa was-was dalam pikiran dan hati kita. Alihkan pikiran kepada ketaatan dan kebajikan yang mendatangkan manfaat.
  6. Yakin bahwa semua benda adalah milik Allah. Suami adalah amanah istri, sang istri adalah amanah suami. Apabila kita hendak cemburu berlebihan pun, kita tidak ada kuasa terhadap diri kita sendiri. Misalkan kita sebagai wanita sering berpikir kalau kita akan sangat cemburu apabila suami kita diambil oleh orang lain, tapi kita tidak pernah berpikir bagaimana kalau Allah yang ambil? Jadi semasa kita meminjam hak-hak Allah, kita jaga adab meminjam ini baik-baik. Kalau hendak cemburu boleh, asal jangan berlebihan. Semoga kita bisa mengelola cemburu dengan baik, sehingga cemburu itu menjadi cemburu yang disukai Allah, bukan cemburu yang dibenci oleh Allah.

Ada juga postingan Obat cemburu di sini.

Semoga bermanfaat untuk Saudariku semuanya :)

Tulisan saya ini diambil dari berbagai sumber, ada yang dari video, ada yang dari tulisan guru ngaji, dan tentunya semua atas izin Allah.

[157] Cemburu Itu Perintah Allah


Cemburu itu Fitrah

Ketika seseorang menikah, maka Allah akan hadirkan perasaan ‘cemburu’, yang sebenarnya rasa cemburu ini adalah rasa memiliki, rasa kepunyaan, rasa disayangi. Yaa, perasaan cemburu adalah fitrah dari Allah. Karena cemburu adalah nikmat dalam hidup berumahtangga, dan rasa cemburu itu adalah hadiah yang diberikan oleh Allah. Jadi, tugas kita adalah merawat rasa cemburu itu, jangan sampai Allah mencabut hadiah itu dari diri kita. Maksudnya bagaimana? Adalah fitrah yang diberikan oleh Allah ketika hati kita merasa cemburu saat melihat suami berduaan dengan wanita lain. Kalau rasa cemburu telah dicabut dari diri kita, artinya hadiah dari Allah berupa cemburu itu sudah diambil oleh Allah, maka kita tidak akan peduli lagi tentang apa yang suami kita lakukan, terserah suamiku hendak berduaan dengan wanita mana, hendak berpegangan dengan siapa. Jadi, cemburu itu adalah perintah dari Allah. Jadi tidak boleh suka-suka kita, “aku memilih untuk tidak cemburu”, tidak seperti itu. Karena cemburu adalah perintah Allah.

Sa’ad bin Ubadah ra berkata: “Seandainya aku melihat seorang pria bersama istriku, niscaya aku akan menebas pria itu dengan pedang.” Rosulullah Shalallahu’alaihiwasallam bersabda: “Apakah kalian merasa heran dengan cemburunya Sa`ad? Sungguh aku lebih cemburu daripada Sa`ad dan Allah lebih cemburu daripadaku” (HR Bukhari Muslim).

Saudariku yang dirahmati Allah, dalam hadits tersebut dikisahkan ketika Sa’ad mengatakan bahwa apabila ia melihat seorang pria sedang bersama istrinya, maka Sa’ad akan menebas pria itu dengan pedang. Hingga sampailah berita itu kepada Rosulullah, kemudian Rosulullah Shalallahu’alaihiwasallam bertanya kepada para sahabat, apakah kalian heran dengan cemburunya Sa’ad? Rosulullah mengatakan, “Sungguh aku lebih cemburu daripada Sa’ad, dan Allah lebih cemburu daripadaku.

Jadi jelaslah bahwa Rosulullah pun cemburu, dan Allah pun cemburu. Apabila seorang suami mendapati istrinya sedang bersama laki-laki lain, lantas sang suami tidak cemburu, maka Allah akan sangat marah. Karena cemburu adalah perintah Allah, karena Nabi pun cemburu, karena istri Nabi pun cemburu, dan Allah juga cemburu. Karena sifat cemburu Allah inilah, maka Allah melarang perbuatan keji. Allah pun suka ketika makhluk-makhluk memuji-Nya, bahkan tidak ada yang layak mendapatkan pujian selain Allah.

Rasa cemburu adalah hadiah dari Allah. Rasa cemburu adalah rasa yang Allah hadirkan untuk menjaga sebuah ikatan pernikahan. Tetapi dengan syarat, ketika cemburu itu disebabkan karena kita melihat pasangan kita berbuat sesuatu yang melanggar perintah Allah, atau pun ke arah melanggar perintah Allah.

Contohnya, ketika ada pesan masuk ke handphone suami yang berisi kata-kata mesra dari wanita lain, kemudian sang istri mengatakan “saya tidak cemburu, ini biasa saja, itu kan kawan lamanya”. Di sinilah, Allah sangat-sangat marah. Karena cemburu adalah perintah Allah. Namun, jangan sampai cemburu itu dilampiaskan dengan cara yang tidak benar.

 Wallahu A’lam Bishawab

[156] Cerita dari Desa


Memilih tangkai pohon pisang yang sekiranya pas, menumbuknya, menyisirnya satu persatu. Belum pernah merasa sukses menjadikannya tangkai pohon pisang yang cantik. Senyum menciut, hingga kembali merekah, ketika teman yang baik hati memberikan hasil karyanya untukku. ” Ini dek”. Sepertinya aku lebih suka bermain dengan daun pisah yang diurai. Lebih mudah membuatnya. Sisir, kemudian tempel. Meski hasilnya tak sebagus dari tangkai pohon pisang.

Memanjat pohon melinjo di depan rumah Biyung. Aku lupa, ada berapa pohon melinjo waktu itu. Dua, mungkin dua. Aku suka memanjat pohon melinjo yang ada di sisi “kulon”, di depan rumah biyung, ada perosotan, naah kalau kita menghadap ke selatan membelakangi rumah biyung, pohon melinjonya ada di sebelah kanan perosotan. Seru deh, mencari daun melinjo muda, sama buah melinjo yang sudah berwarna kemerah-merahan. Meski, saat itu aku tak suka makan sayur dari dua jenis bahan itu. Aku hanya suka memanjat, lantas memetiknya. Bersuka ria, lepas, asyik, seru. Oh iya, aku jadi ingat dengan pohon melinjo yang di sebelah “etan”, itu lho yang arah depan dapur. Aku kurang suka memanjat pohon yang itu. Abisnya pohonnya terlalu lebat, kurang asyik.

Jadi inget, zaman suka nangkring di atas pohon waru di deket sawah. Sebelahnya rumahnya Pakdhe Miran. Asik di situ, aku suka menghabiskan masa soreku*siang juga sih, pokoknya abis pulang sekolah gitu, untuk sekedar meneguk semilirnya angin. Lembut meyapu, ramah. Pohon waru itu sedikit bengkok ke arah saluran air di tepi sawah. Jadilah kalau kita manjat naik sedikit saja ke pohonnya, posisi kita uda di atas air. Liat ikan crepeng, bethik, wadher cethur, haaa aku mendapatkan nama-nama ikan itu dari temanku semasa kecil, namanya Dika. Perempuan yang jago banget nangkep ikan. Aku saja sampai bingung. Sejarahku, aku termasuk penakut sama yang namanya tangkep ikan, fresh from the Kalen or Mbanyu. Kalau Dika itu jago banget, nggak jarang aku dapet gratisan tangkepan ikannya, hehee, makasih ya Dika. Meskipun, nggak jarang juga aku jadi ikut diomel-omelin sama Mak’e, akibat terlalu sering main ke Sawah. Heee, secara lah ya, namanya juga ortu, maunya anaknya nggak kakean polah. Tapi yang namanya masa kecil, namanya juga anak kecil, maunya kan main*hihihi pembelaan.

Ohya, aku dulu jago main tali lho. Itu lho yang karet kecil-kecil di sambung trus dipakai loncat-loncatan. Ada yang namanya “merdeka”, ada yang namanya “uding”, jago lah pokoknya. Ada dua jenis karet yang aku tahu waktu itu, kami menyebutnya, aku lupa, aku lupa namanya. Pokoknya sampai sekarang pun aku masih bisa mengenali dua jenis karet itu.

Tau nggak permainan gadheng, gimana ya cara nulisnya, hihi, itu lho yang dari batu kecil-kecil trus dimainin pakai tangan. Biasanya dari batu pilihan ‘kami’. Soalnya ada batu andalan yang asik dan akrab sama tangan karena teksturnya yang pas. Kalau pas zaman SD tu ya, ada puluhan koloni yang main gadheng di sepanjang teras kelas. Asyiik lho, kalau zaman sekarang anak kecil mainannya uda gadget. Huuu cupu. Dulu juga ada yang namanya bekelan. Ada bola dari karet, sama ada yang kecil-kecil jumlahnya 4 dari besi gitu apa ya, namanya apa ya yang 4 itu sampe uda lupa. Aku masih ingat beberapa istilah tentang dunia perbekelan, ada  1 2 3 4, P=Pet, R=Rho, K itu kepanjangan apa ya aku lupa, trus satu lagi S, abis itu N, aku juga lupa kepanjangannya, haaa, terakhirnya juga ada yang ngebuat 1 permainan itu adalah 1 putaran, biasa disebut 1 sawah, namanya juga apa aku lupa. Haaaa aku pernah lho ngerendem tu bola bekel pakai minyak tanah, sampai melembung trus akhirnya pecah geje gitu. Kata orang kalau direndem pke minyak tanah bolanya bisa gede. Jadi, daripada beli bola bekel yang gede kan mahal ya, aku beli yang kecil trus direndem, hehehee, ada yang sukses, ada yang yang sukses pecah. Ternyata tergantung dari bahannya tu bola bekel, ada yang cocok sama minyak tanah, ada yang nggak.

Layang-layang. Jadi inget aku pernah buat layang-layang dari kertas koran apa ya waktu itu. Pokoknya gitu deh, trus nggak bisa terbang gitu, yasudahlah. Seru ya inget masa kecil itu.

Aku juga pernah ngrusakin perkakas dapur. Ceritanya ortu sedang ke sawah. Naah, sebagai anak yang berbakti, aku berencana mau buat surprise ke ortu, rencana awal, hendak memasak. Jadi, kalau ortu pulang dari sawah, kan tinggal menyantap kelezatan masakan sang anak gitu. Yaaa, mungkin aku kurang berbakat, selalu belum sukses menyalakan api dari kayu. Sampai abis minyak tanah berbotol-botol, belum sukses menyala juga itu api. Nyala sebentar efek minyak tanah, trus mati, begitu berulang-ulang, jadilah masakan di atas wajan, hidup segan matipun tak mau. Dan tragisnya peristiwa itu nggak hanya 1 kali terjadi. Setiap ada kesempatan aku bereksperimen di dapur, selalu bermasalah dengan yang namanya susahnya menyalakan api. Jangan tanya kenapa nggak pakai kompor ya. Zaman dulu, belum ada kompor gas. Ada sih kompor minyak tanah, tapi bukan di rumahku, di rumah tentangga, heee. Hingga aku pun melakukan kesalahan, entah bagaimana ceritanya tu wajan kesayangan ortu, aku pakai buat masak yang pakai gula, alhasil itu gula lengket-lengket ke wajan, haaa, trus berujung di wajannya bolong gitu pokoknya, heeee. Hingga aku pernah terpuruk, dan berpikir aku tak berbakat memasak. Padalah aku punya the real of alasan, ‘aku belum sukses menyalakan api’.

Cerita tentang mecahin vas bunga, …. heee udah dulu ya, bener-bener nggak ada abisnya cerita tentang masa kecil..

*Mohon maaf untuk ketidakjelasan penulis dalam menyusun kata-kata hingga membuat pembaca bingung.

Image

[155] Allah Datang


Tulisan di bawah ini saya kutip dari salah satu materi di kuliah online wisata hati. Sengaja saya share di sini. Karena bagi saya, tulisan ini begitu berharga, mengingatkan saya yang masih begitu hina. Saya suka membacanya dengan lirih, terucap dari bibir, bukan membaca dalam hati, bagi saya lebih menyentuh. Menyentuh diri saya yang kotor, penuh dengan dosa.

Tulisan ini ada di Materi Tahajjud (Jalan ampunan, Kemuliaan, Kekayaan, dan Kesehatan), Seri Materi: Allah Datang. Bismillah

Biasanya kita yang datang kepada orang yang lebih kaya.

Ini Allah Yang Maha Kaya yang datang kepada kita.

Allah ini yang punya jagad, datang loh menghampiri kita. Setiap malam DIA datangnya. Ga tanggung-tanggung. Setiap malam. Datang membawa apa yang kita mau, datang membawa apa yang kita harapkan, datang membawa apa yang kita inginkan. DIA yang sudah teramat baik yang selalu memberikan kepada kita apa yang kita butuhkan, masih menawarkan kepada kita pengabulan atas semua doa-doa kita, pengabulan akan hajat dan maksud kita, dan menawarkan juga perlindungan-Nya untuk kita. Subhaanallaah. Untuk mereka yang paham betapa mahalnya apa yang ditawarkan Allah, ternyata rahasianya harusnya begitu mudah bagi mereka yang beriman: Bangun malam, dan kemudian shalat malam.

Tapi manusia ini memang bodoh, bahlul, bin ga ngertilah sebutannya apaan. Payah-payah dia cari rezeki di siang hari. Kadang sampe mengorbankan waktu malamnya. Juga ia korbankan sabtu ahadnya. Sebagai muslim yang harusnya berhari raya di hari Jum’at pun ia korbankan. Banyak fadhilah hari Jum’at yang tidak bisa ia ambil sebab ia masih mencari, mengejar dan memungut rezeki di hari Jum’at itu. Hari Jum’at sama dengan hari-hari biasa lainnya. Tidak ada yang salah. Sepanjang itu juga menjadi ibadah. Namun andai ia tahu kemudahan yang Allah berikan, maka mungkin usaha kerasnya bangun malam, jadi sama kerasnya dengan usahanya di siang hari. Gitu seharusnya.

Ada kalimat kecil yang sering saya ajarkan kepada diri saya, dan kepada siapa yang mau mendengar: Rahasia kecil berburu dunia, bukan di mencari. Namun meminta. Minta sama Allah. Mencari masih ga tahu di mana adanya. Tapi kalo meminta, nanti yang punya yang akan menunjukkan di mana kita harus mencari dan mengambilnya, sehingga energinya tidak besar. Kadang-kadang malah Allah yang mengantarnya!

Ya, saya kadang menarik nafas panjang. Dunia-Nya kita kejar. Namun Pemilik dunia malah tidak kita kejar. Yang memiliki dunia datang dengan membawa dunia yang kita mau kejar, eh yang ditawari, yang sudah susah payah mencari, malah ga tahu bahwa dunia yang dicari dan dikejarnya justru lagi diantar. Kita ga kenal dengan Allah. Itulah sebabnya kita tidak mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan-Nya. Sudah mah di siang hari kita selalu telat terus shalatnya, lalai dalam shalatnya, eh, di malam hari pun masih pula kita abaikan Allah. Kasihan benar diri kita ini.

Jutaan juga manusia mencari dan mengupayakan kesehatan bagi dirinya, tapi siapa yang mencari kesembuhan lewat jalan shalat malam?

Jutaan manusia menginginkan anak yang saleh salehah. Kepengen anaknya gampang diatur, nurut, kalem, tapi juga memiliki prestasi dunia yang bagus, sehat, panjang umur, lagi berbakti sama orang tua. Namun siapa yang kemudian membawa dirinya, membawa keinginannya, dan membawa anak-anaknya untuk ruku’, sujud, dan berdoa kepada Allah di malam hari?

Jutaan manusia menginginkan ilmu Allah. Ilmu yang kalau diteteskan-Nya kepada manusia, maka Kehendak-Nya di atas segalanya. Ada orang-orang yang susah bener ilmu masuk, ada orang yang digampangkan ilmu masuk. Titian ilmu dikejar, sampe kurang S3, masih pula mengikuti pasca doktoral. Kurang pasca doktoral, dititinya lagi disiplin ilmu yang terkorelasi atau bahkan yang berbeda biar tambah mumpuni. Tapi ya ampuuuuuunnnn, buat semakin dekat ke Allah nya, malah makinan engga dekat. Yang punya ilmu datang, untuk DIA bagi ilmu-Nya bagi siapa yang dikehendaki-Nya, namun kemudian yang mencari ilmu ini hanya butuh ilmunya tidak butuh Diri-Nya. Akhirnya, sama seperti nasib pencari dunia. Dunia diberikan, namun keberkahan dicabut. Begitu pula ilmu. Deretan gelar bererot, melebihi panjangnya kosa kata namanya sendiri. namun kemudian ilmu itu dibuat tiada guna buat dirinya, buat keluarganya, dan terlebih lagi buat akhiratnya.

Jangan menjadi bahagian dari jutaan manusia yang mencari kedudukan, kemuliaan, kekayaan, namun kemudian tidak mengenal Allah, tidak mencari Allah, dan tidak berupaya mendekatkan dirinya kepada Allah. Jangan. Kedudukan yang sebenar-benarnya kedudukan, kemuliaan yang sebenar-benarnya kemuliaan, dan kekayaan yang sebenar-benarnya kekayaan, adalah di sisi Allah, dan dari Allah. Cari di Jalan Allah, dan jangan keluar dari jalannya Allah.

Salah satu kekayaan itu adalah tahajjud. Sampai-sampai Allah lewat Rasul-Nya mengatakan shalat malam 2 rakaat di tengah malam, khoirum minad dunyaa wa maa fiihaa, adalah lebih baik dari dunia dan seisinya.

Ayabtaghuuna ‘indahumul ‘izzata, fainnal ‘izzata lillaahi jamii’an. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir tersebut? Maka sesungguhnya semua kekuatan adalah milik Allah. (An Nisaa: 139).

… innal ‘izzata lillaahi jamii’an. Huwas samii’ul ‘aliim. Sesungguhnya kekuasaan itu milik Allah semuanya. Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Yuunus: 65).

Man kaana yuriidul ‘izzata falillaahil ‘izzatu jamii’an. Sesiapa yang menginginkan kemuliaan, maka kemuliaan itu hanyalah milik Allah. (Faathir: 10).

Subhaana robbil ‘izzati ‘ammaa yashifuun. Wa salaamun ‘alal mursaliin. Walhamdulillaahi robbil ‘aalamiin. Maha Suci AllahTuhanmu yang memiliki keperkasaan dari apa yang mereka sifatkan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para Rasul. Dan segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam.(Ash-Shooffaat: 180-182). 

Yaquuluuna la-ir roja’naa ilal madiinati layukhrijannal a-‘azzul minhal adzal. Walillaahil ‘izzatu wa lirosuulih. Walil mu’miniina wa laakinal munaafiqiina laa ya’lamuun. Mereka berkata: “Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah daripadanya.” Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui. (al Munaafiquun: 8).

Bertebaran ayat-ayat Allah tentang Kekuasaan-Nya, Kebesaran-Nya, Keagungan-Nya, Keperkasaan-Nya. Tugas buat Saudara semua adalah:

# Hafalkan ayat berikut ini: Aali ‘Imroon: 26-27, 113-115, al Isroo: 78-84, az Zumar: 9, adz- Dzaariyaat: 15-19, Surah as Sajdah, Surah al Mulk/Tabaarok, al Muzzammil, al Muddatstsir & Surah al Insaan/ad Dahr.

# Cari hadits tentang Allah ini turun ke langit dunia, dan bahwa Allah akan mengabulkan semua doa yang berdoa di malam hari. Cari-cari di berbagai buku yang berisi ajakan dan motivasi shalat malam, dan hafalkan salah satu hadits tentang shalat malam.

Jika ada yang bertanya, koq kenapa kudu dihafal? Emangnya setorannya kemana? Ustadz sempat? Maaf ya. Ini buat Saudara sendiri. ilmu ini buat Saudara. Bukan sekedar ingin didengar dan dipertontonkan kepada yang lain. Saya kepengen ayat-ayat dan hadits-hadits tentang bangun malam dan kekuasaan-Nya ada di hati Saudara semua. Insight gitu di dalam diri. Selamat mempelajari, dan selamat menghafal. Dilihat-lihat juga artinya ya.

Selamat bertahajjud. Meski ilmunya belom lengkap, tapi mudah-mudahan Allah menggerakkan Saudara semua untuk bangun malam dan istiqomah. Amin ya Allah. Sebab pada akhirnya Allah jugalah yang membuat kita semua bisa bangun malam.

//

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 54 pengikut lainnya.