5

[196] Penantian #3


Betapa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu…

Dulu, di masa itu, disebagian besar waktu dalam hidupku, aku sama sekali tak paham, sama sekali tak mengerti, hakikat dari kalimat ‘anak adalah rezeki’. Semasa masih mengenyam pendidikan dasar dan menengah, sempat terbesit pertanyaan, dimana letak poin inti dari kata ‘rezeki’ yang ada pada seorang ‘anak’? Hingga akhirnya, seiring berjalannya waktu, aku pun melupakan pertanyaan itu, toh tidak terlalu penting untuk ku pikirkan, begitulan pemikiran singkatku waktu itu. Kesimpulan yang begitu dangkal, kepuasan atas jawaban yang begitu kikir.

Semasa kuliah, aku kembali teringat dengan pertanyaan itu. Tapi, ternyata, bukan jawaban itu yang selama ini aku cari…..

Hingga, pasca aku menikah, aku diizinkan Allah untuk melalui suatu fase yang mengajarkan kepadaku, memberikan jawaban yang selama ini aku cari….

Dalam durasi waktu itu, penantian #1, penantian#2

Fase Penantian

Menanti buah hati, menanti kabar akan kehamilan, menanti jawaban dari Allah. Menanti rezeki dari Allah.

Bisa dibilang, bukan suatu yang mudah untuk kami (aku dan suami) melalui hari demi hari di fase itu. Sebagaimana manusia biasa, aku pun juga merasakan kesedihan, juga sering pernah menangis tanpa alasan. Merasa lebih sensitif dengan setiap perkataan orang, yang barangkali hanya bisa ku simpan untuk kemudian menceritakan kepada suami, dan kepada Allah. Namun, kami percaya bahwa, pertolongan Allah tidak akan pernah telat.

Mengulang-ulang video kajian hasil download, khususnya yang berkaitan dengan do’a agar memperoleh keturunan yang shaleh/shalehah, tak henti-hentinya aku putar. Bahkan, bisa jadi aku pun hafal kalimat per kalimat perkataan dari ustadz tersebut. Juga kajian tentang ‘mendirikan shalat malam’, agar diri ini termotivasi untuk bangun dan meminta kepada Allah di waktu mustajab itu, dimana semua do’a akan dikabulkan oleh Allah.

Dalam fase itu, aku banyak belajar. Alhamdulillah, Allah masih mengizinkan kami (aku dan suami) untuk masuk dalam fase itu, fase yang insyaaAllah menjadikan diri kami lebih baik lagi, atas izin Allah. Lebih berhati-hati dalam memilih kosa-kata, juga dalam memandang  sesuatu yang terjadi di sekitar.

Satu hal yang begitu tertanam kuat dalam benakku, “Betapa Allah Maha Baik, mengizinkanku memasuki fase itu. Fase yang membuatku banyak belajar akan Kuasa Allah.”

Bahkan, sempat terbesit pikiran konyol, ‘kalau saja Allah tak mengizinkan kami masuk ke dalam fase itu, mungkin kami akan menjadi pasangan yang begitu brutal, tak pernah memikirkan perasaan orang lain, sombong, dan entahlah.’ Meskipun, sampai detik ini, saat kami hampir selesai melalui fase ini, kami masih begitu kotor dan banyak melakukan kesalahan, tapi apa jadinya kami tanpa fase itu? Mungkin jauh lebih kotor dari diri kami yang kotor saat ini.

Rabbi habli minash sholihin. Rabbi habli minash sholihin. Rabbi habli minash sholihin. Rabbi habli minash sholihin….

5

[195] Penantian #2


Menikah dengan laki-laki terbaik yang telah Allah pilihkan, kemudian diberikan rezeki mempunyai momongan yang shaleh dan shalehah. Betapa bahagianya…

Tapi, setiap orang punya kisah sendiri-sendiri, baik dalam menemukan cinta, dan mendapatkan momongan…Penantian #1

Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah. Atas izin Allah, saya dan suami memiliki kesempatan selama kurang lebih 3 tahun untuk terus memperbaiki diri dan memantaskan diri menyambut buah hati.

Dalam skala normal, waktu penantian kami terbilang cukup lama. Kami menikah 1 Juli 2012, dan baru pertama kali mendapatkan garis 2 di tespek pada 24 Mei 2016 (hpht 15 April 2016), hampir bersamaan dengan SK kepindahan saya per 2 Mei 2016 dari BPS Kab.Gorontalo ke BPS Provinsi Gorontalo. Bismillah, semoga kantor baru membawa berkah, aamiin.

Maha besar Allah, begitu banyak pelajaran berharga dan hikmah yang kami dapati selama masa penantian. Perjalanan yang luar biasa, yang belum tentu akan kami dapatkan jika kami tidak diminta oleh Allah untuk ‘menunggu’ sekian waktu ini.

Tentang kami dan penantian kami,

Pertanyaan yang sering muncul ketika kami dalam masa penantian adalah, “sudah hamil belum?” Sebuah pertanyaan yang mungkin begitu sensitif, dan akhirnya kami menyadari bahwa ketika pertanyaan itu muncul, saat itu lah momen yang tepat bagi kami untuk meminta agar kami didoakan, untuk segera mendapatkan momongan.

Selama hampir 4 tahun itu apakah kami tidak berusaha untuk berkonsultasi dengan ahli? Alhamdulillah, kami masih diizinkan Allah untuk bisa berkonsultasi, baik ke SpOG maupun ke SpOG(K). Satu, dua, tiga, empat, …. entahlah sampai berapa dokter kami telah berkunjung, dengan berbagai keterbatasan jumlah dokter perempuan di provinsi kecil yang kami tinggali, hingga kami juga pergi ke dokter laki-laki. Pernah juga ke klinik infertil (Restu Ibu) waktu mudik ke Purwokerto tapi hanya 1 kali karena keterbatasan hari cuti tahunan, rujukan dari dokter SpOG perempuan di Purwokerto. Dari satu dokter ke dokter lain, kami selalu diberi resep obat tak jarang juga kena marah dokter hehe, dan sejauh ini kami belum pernah melakukan treatmen lain, selain minum obat, belum pernah disuntik, HSG, ataupun yang lainnya. Dan tak hanya itu, ada banyak aktivitas lain yang juga kami sering usahakan, mulai dari pijit badan, karena banyak yang bilang kalau kami kecapekan kerja hehee. Sudah banyak tukang pijit juga yang membantu kami, terimakasih juga kepada teman-teman kantor yang selama ini sibuk mencarikan saya tukang pijit, spesial buat mb Dewi Datau dan keluarga. Juga banyak aktivitas lain yang menyenangkan yang kami lakukan, seperti sepedaan, piknik bersama suami, jogging, berenang, terapi air hangat, senam indoor, sit up, dll. Alhamdulillah, suami sangat mendukung dan memberikan fasilitas indoor agar kami jadi senang berolahraga, seperti membeli piranti sit up di rumah, membeli kaset senam agar kami tak harus keluar rumah untuk mencari komunitas senam, juga download senam-senam, sehingga bisa bebas loncat-locat di rumah tapi tetep semangat dan benar-benar keluar keringat banyak. Dan yang paling lucu suamiku mengikuti gerakan senam SKJ, hehe,  karena senam selain SKJ instruktur senamnya mayoritas perempuan dengan pakaian mini. Jadilah suamiku berSKJ ria, hehe.

Untitled2

alat sit up yang kami pakai selama program, salah satu motivasinya adalah untuk olahraga biar perut kami gak buncit

Berjuang mendapatkan nomor antrian di dokter, bolak balik rumah-tempat praktek dokter karena kadang prosedur pengambilan nomor menuntut seperti itu, pulang tengah malam alhamdulillah jarak dari rumah ke dokter waktu itu hanya sekitar 30 menit, pernah malah kita sampai di rumah itu sekitar pukul 2 dini hari karena dapet nomor urut diatas 70, hehe. Alhamdulillah Gorontalo aman, sehingga tetap PD meski harus bermotor ria di tengah malam, masih banyak orang soalnya hehe. Membeli madu kesuburan hingga habis berapa pasang botol, hunting kurma muda di online (sampai pernah kurma muda itu dititipkan ke mahasiswa indonesia yang kuliah di sana, karena takut keburu matang kalau dikirim dengan paket), membeli herbal penunjang lainnya (madu, merebus kayu manis, serbuk kayu manis, propolis, habbatussauda, manjakani, tribulus, daun kemangi, mengganti air mineral dengan kangen water dll), minum susu persiapan kehamilan yg mengandung asam folat hingga beberapa dus, sibuk belajar membuat bubur kacang hijau meskipun sampai sekarang gak sukses-sukses jadinya keseringan beli bubur jadi berharap tanpa pemanis buatan, makan semangka banyak-banyak, sibuk bereksperimen membuat kecambah sendiri, dan masih banyak keseruan yang kami lakukan. Pernah juga di ‘kera’, semacam sauna tapi uapnya berasal dari rebusan bermacam-macam daun dan rempah-rempah ala Gorontalo (jahe, kunyit, daun kunyit, daun salam, serai, akar-akaran, dedauanan yang entahlah).

Untitled

(rebusan macam-macam daun dan rempah untuk ‘kera’, semacam sauna tradisional)

Meskipun kami menyadari bahwa, ikhtiar yang kami lakukan, pada akhirnya hanyalah tinggal menjadi ikhtiar, dengan harapan agar segala ikhtiar kami menjadi amalan ibadah yang diridhai Allah. Karena kami yakin, pada akhirnya hanya dengan Kuasa Allah lah, kehendak atas penciptaan manusia.

Alhamdulillah, saya termasuk orang beruntung, memiliki keluarga dan mertua yang begitu baik. Tak pernah menyudutkan saya, atau pun berkata kasar. Mereka senantiasa memberikan suport terbaiknya untuk kami. Meskipun sesekali saya ‘pernah’ menangis, lantaran kata-kata yang tidak menyenangkan dari tetangga, tapi selalu saja suami saya memberikan nasehat kepada saya, hingga akhirnya saya pun kembali kuat menatap dunia. Membaca kisah-kisah di group ‘Aku Ingin Hamil’ atau biasa disingkat AIH, membaca perjuangan dan juga tips-tips dari teman-teman yang juga sedang berjuang dengan berbagai kisah masing-masing. Meskipun hanya menjadi silent reader, jujur saya sangat antusias dengan group fb AIH, begitu banyak kiat-kiat, juga suport dari anggota dan tentu juga admin. Salut dengan perjuangan teman-teman semuanya, saya kadang merasa malu ternyata perjuangan yang kami lakukan tak seberapa dibandingkan dengan perjuangan teman-teman di group yang begitu sabar, telaten, dan semangat melakukan treatment dan juga pemeriksaan yang bahkan saya pun sukar sekali membayangkannya. Terimakasih AIH, mohon maaf jika selama ini hanya menjadi silent reader. 

Tentang kami dan penantian kami,

Dalam masa penantian ini, ada banyak pola pikir saya yang kemudian bergeser ke arah yang lebih baik insyaaAllah. Setidaknya saya mulai belajar untuk menghargai perasaan dan menghargai pilihan orang lain, belajar untuk ikhlas, lebih banyak muhasabah diri, kami mohon maaf khususnya kepada semua orang yang pernah bersinggungan dengan kami dan pernah merasa kami sakiti kami sungguh mohon maaf atas kekhilafan kami baik sengaja ataupun tidak sengaja, dan berharap semoga Allah akan ampunkan segala dosa kami, dan menjauhkan kami dari siksa kubur, juga siksa api neraka. Kami juga belajar untuk menyuburkan sedekah, memperbanyak istigfar, berdo’a di waktu-waktu mustajab (saat hendak berbuka puasa, antara adzan dan iqomah, di sepertiga malam, dll). Dan tak lupa senantiasa meminta doa restu kepada orangtua dan keluarga.

Hingga ada suatu titik yang membuat diri ini tersadar bahwa ternyata kami begitu egois. Pantaskah kami merana hanya karena belum diberi keturunan, sedangkan di Suriah sana, di Palestina sana, begitu banyak orang tua yang kehilangan anaknya, begitu banyak anak yang kehilangan orangtuanya, tertembak peluru dengan begitu kejamnya, tapi mereka kuat untuk berjuang sekuat tenaga, menanti syahid dan menjadi syuhada. Umat terhadulu, juga mengalami cobaan yang begitu sulit, pastaskah diri ini mengeluh hanya dengan ujian seperti ini? Hingga saya pun segera mengganti doa saya menjadi, “Ya Allah, jika memang memiliki keturunan adalah yang terbaik untuk kami, terbaik untuk keluarga kami, terbaik untuk dunia kami, terbaik untuk akhirat kami, terbaik untuk agama kami, mudahkanlah kami untuk bisa memiliki keturunan ya Rabb.” Do’a itu lah yang senantiasa saya lantunkan dalam setiap kesempatan. Dan tak lupa kami juga sering mengulang-ulang Qur’an Surah As Saffat ayat 100, “Rabbi habli minash shalihin”

Oh ya, beberapa hari setelah saya tahu kalau saya positif, saya segera pergi ke dokter untuk melakukan USG. Agar lebih tenang kami pergi ke 2 dokter, untuk mencari second opinion, alhamdulillah, sudah terlihat kantung janinnya. Terimakasih kepada teman-teman di group Emak-Emak Hore 49 yang telah mengajak saya bergabung, dan mohon maaf waktu itu tidak sempat membalas chat dari semuanya. Saya sungguh senang, dan saya menitikkan air mata waktu itu, terharu karena banyak yang chatingin baik group maupun pm, terimakasih teman-teman semuanya. Semoga teman-teman semuanya dan juga keluarga senantiasa dalam keadaan sehat. Saya mohon doanya, agar kehamilan saya sehat sampai nanti proses persalinan dan selanjutnya, aamiin.

Sekali lagi, terimakasih kepada keluarga besar AIH. Banyak sekali postingan yang mengispirasi saya untuk kemudian kambali bersemangat untuk promil. Semoga, keluarga besar AIH yang hingga saat ini masih menanti buah hati, disegerakan diberikan jawaban indah oleh Allah, aamiin.

Tulisan ini spesial buat Tika yang request di group, hehe🙂

0

[194] Diundang Allah


Kayaknya udah lama banget saya nggak ‘login’ di kuliah online wisata hati. Tetiba hati tergerak untuk kemudian mencoba mengingat-ingat kombinasi huruf dan angka, apa usernamenya, apa pula passwordnya.

Alhamdulillah, masih diizinkan untuk login.

Dalam tulisan ini, saya ingin me-repost tulisan dari Ust. Yusuf Mansur. Judulnya “Diundang Allah”. Semoga tulisan ini bermanfaat, aamiin.

Diundang Allah

Bangganyaaaaa diundang Gubernur, Presiden, Menteri, Orang Kaya…

Tapi ga bangga diundang Allah…

Allah Mengundang kita. Memanggil kita. Lewat azannya muadzdzin. Lewat panggilan shalat. Ga tangung-tanggung. Allah Memanggil kita langsung ke “Kediaman-Nya”. Ke Rumah-Nya. Ke Istana-Nya. Ke Masjid-Nya. Kita diistimewakan, bisa datang sebelum waktunya, dan dilayani Allah dengan Allah menerima siapa yang mau shalat duluan. Disediakan oleh Allah shalat sunnah tahiyyatul masjid, sebelum tiba masuk shalat fardhunya, sebagai Grand-Meeting sama Allah. Dan kita diperbolehkan-Nya berdoa, sebelum berdoa setelah menyembah-Nya di waktu shalat fardhu datang, dengan melaksanakan shalat fardhu. Allah jamu kita tanpa membeda-bedakan siapa kita. Siapa yang datang duluan, dan bisa duduk di shaf 1, silahkan di shaf 1. Dan Allah tidak membatasi waktunya. Silahkan jika mau berlama-lama. Subhaanallaah.

Tapi kita ga memenuhi undangan Allah ini.

Kalaupun memenuhi Undangan-Nya, datangnya ga sepenuh hati. Datangnya tidak dengan badan yang wangi. Datangnya tidak dengan pakaian yang istimewa, bersih, dan wangi pula, dan datangnya males-malesan, ogah-ogahan, sisa energi terakhir, dan dalam keadaan letih, plus mungkin pula: ngantuk.

Sekali lagi, Allah Mengundang kita untuk shalat menghadap-Nya. Untuk bertemu-Nya. Dan kita ini diundang sebenernya langsung ke Rumah-Nya. Ke Istana-Nya. Yakni ke Masjid-Nya. Tapi ya ampuuuuuuunnn… Kita ini bener-bener ga kenal Allah. Ga kenal Rumah-Nya. Ga kenal Istana-Nya. Maka jadilah seperti yang saya tulis ini. Dan ini terjadi sama saya. Ya Allah…

Maka tulisan ini untuk saya.

Ampuni saya ya Allah. Dan ampuni semua orang yang sudah melalaikan Panggilan-Mu. Melalaikan Undangan-Mu. Melalaikan Perintah-Mu. Ampuni kami yang begitu menyepelekan shalat 5 waktu. Jika undangan yang kaya yang berkuasa begitu kami perhatikan, kami pakai pakaian yang habis dilaundry, atau bahkan baru. Kami perlakukan sebagai undangan sangat-sangat istimewa yang harus diabadikan, dicatat dalam sejarah, dibicarakan hingga anak cucu, dipajang fotonya, ga boleh sakit, ga boleh macet, ga boleh ketinggalan, maka kami malu ya Allah. Kami beristighfar. Macam apa kami memperlakukan Diri-Mu dan Panggilan-Mu? Macam apa kami memperlakukan Diri-Mu dan Undangan-Mu? Macam apa kami perlakukan Diri-Mu dan Perintah-Mu. Yaa Allah, maafkan kami…

Coba jajal hal berikut ini:

  1. Siapin persiapan fisik. Insya Allah, fisik oke, hati oke, kan tambah sip. Siapkan pakaian terbaik untuk menghadap Allah. Orang-orang betawi saleh zaman dulu bahkan mengganti pakaian dalam. Maaf ya. Padahal pakaian dalam itu ga kelihatan sama manusia. Tapi kata orang-orang tua betawi saleh zaman dulu, pakaian dalam pun dilihat Allah. Makanya zaman dulu, betawi-betawi tua, yang sekarang tentunya udah pada almarhum, pada salin di masjid. Salin kaen, salin baju, salen daleman. Subhaanallaah.
  2. Siapin minyak wangi. Tanpa alkohol. Untuk membedakan ketemu manusia dengan ketemu Allah.
  3. Menyengaja datang dengan bergembira. Riang. Bahwa yang kita datangi adalah Allah, Yang Telah Memberikan Segala Ni’mat-Nya untuk kita. Yang kita datangi adalah Yang Sudah Memanjangkan umur kita. Yang kita datangi adalah Yang Sudah Menjamin Kebutuhan dan Keperluan kita. Dan yang kita datangi adalah Yang Pasti Bisa Membantu kita asal Allah Berkehendak Membantu kita.
  4. Perhatikan kerapihan diri, kerapihan fisik. Buat saya, ini penting. Ngadep manusia aja super rapih, super keren, super wangi. Malah kadang pakaiannya adalah pakaian baru yang baru selesai dijahit, dibeli, dilaundry. Ubah ini. Ke Allah, harus lebih keren lagi. ke manusia, dipake tuh dasi, jas, kemeja cakep. Ke Allah, cukup dengan kaos, pakaian training/olahraga, kemeja lecek. Maasyaa Allah.
  5. Datangnya sebelum Allah Mengundang. Datang duluan. Pas azan tiba, kita harus usahakan kita udah di atas sajadah, sudah di Masjid, sudah selesai tahiyyatul masjid, berdoa, dan lain-lain zikir. Insya Allah jika dilakukan berturut-turut, tiada putus, tiada lelah, tiada merasa cape, istiqomah, ga mengeluh, insya Allah akan kelihatan perubahan dalam hidup.

Seperti kita mendatangi orang kaya, harusnya lebih dari itu kita datang kepada Allah. Kita bener-bener perlu sama Allah, dan perhatikan adabnya dalam menghadap Allah.

(Oleh Ust. Yusuf Mansur)

4

[193] Shadow Economy


Saat aku menulis tulisan ini, aku masih juga belum selesai membaca karya Tere Liye yang berjudul ‘PULANG’. Dan aku pun berniat untuk menyelesaikannya. Sebuah buku yang membuatku tertohok, bahkan sejak di awal-awal kisah.

Untitled

Aku dan suami memang gemar membeli novel akhir-akhir ini, entahlah angin apa yang membuat suamiku ikutan candu membaca novel. Bahkan menjadi rekor, beberapa novel yang dibeli, telah tuntas dibaca suami, tapi belum juga terjamah olehku. Juga beberapa novel terjemahan. Sungguh aku sempat bertanya berulang-ulang, “apakah beliau baik-baik saja?”. Termasuk buku berjudul PULANG ini.

 Berkebalikan dengan awal-awal pernikahan, dulu aku lah yang khusyu’ meminta izin suamiku untuk membawa novel ke kasir. Saat itu suamiku terbiasa membaca di sudut ruangan toko buku, membaca tentang arsitek, fotografi atau hal lain yang begitu sulit aku jangkau. TAPI, bekebalikan dengan beberapa kurun waktu terakhir. Beberapa hari yang lalu, aku dan suami main ke toko buku. Seperti biasanya, suamiku menghampiri komputer yang nangkring di dinding, mengetik sesuatu, dan memasang wajah sedikit lesu jika buku yang dinanti-nanti belum jua ada di toko buku ini. Sebagaimana kemarin, suamiku pun menyodorkan 2 judul novel ke arahku meminta pendapat dan tanda setuju, sedang aku hanya menghabiskan waktu untuk membaca judul buku aneka resep masakan. Tapi hasilnya nihil. Tak ada satu judul pun yang menarik perhatianku, hingga aku tertarik untuk membeli DVD senam hiphop yang nangkring di barisan sebelah rak buku masak-masakan, dengan niat untuk olahraga indoor, demi membakar kalori. Semoga Allah ridha dengan perniagaan kami, aamiin.

Sepulang dari toko buku, aku tertarik untuk sekedar membolak-balik buku yang dipilih suamiku. Hingga akhirnya aku memabca buku PULANG tersebut. Tentu saja suamiku tidak komplain, karena beliau sedang asyik membaca novel yang satu lagi.

Saat aku menulis tulisan ini, aku masih juga belum selesai membaca karya Tere Liye yang berjudul ‘PULANG’. Sebuah buku yang membuatku tertohok, bahkan sejak di awal-awal kisah.

Pengetahuanku memang begitu sempit, apalah yang aku tahu tentang perekonomian, nol besar, aku tak tahu apa-apa. Meskipun dalam setiap tahunnya aku menulis publikasi berkaitan dengan perekonomian salah satu kabupaten. Buku yang memaparkan tentang seberapa besar Produk Domestik Regional Bruto baik berdasarkan harga nominal, ataupun harga konstan, juga tentang pertumbuhan ekonomi, distribusi perekonomian, indeks implisit serta lajunya, dan aku berusaha untuk menghitung angka-angka itu, hingga angka itupun rilis. Sebuah buku yang terbit dengan nilai serba estimasi, karena begitu sukarnya mendapatkan data-data tersebut di lapangan. Mencoba menghitung dengan metode pendekatan terbaik, mengumpulkan data-data dari berbagai sumber, dan sebagainya. Hingga, aku pun membaca berulang-ulang, ketika Tere Liye mengupas tentang shadow economy di dalam novel PULANG. Hubungan antara PDRB dan shadow economy……..

Karya-karya Tere Liye selalu membuat aku ternganga. Kagum dengan semua pengetahuannya yang ia tuangkan melalui karya-karyanya. Oh ya, aku juga suka banget dengan buku berjudul RINDU karya Tere Liye. Yuk membaca🙂

0

[191] Liburan ke Makassar


Di penghujung tahun 2015 lalu, kami (aku dan suamiku) memutuskan untuk berlibur. Entah angin apa yang berhembus ke neurit dan dendrit kami, hingga kami berkesimpulan bahwa kami memerlukan refreshing sejenak. Mengingat padatnya kegiatan selama tahun 2015, khususnya dipertengahan tahun, hingga membuat suamiku [sempet] kurus untuk beberapa bilangan waktu. Dan usut punya usut, inilah liburan pertama kami selama kami menikah, maksudnya liburan yang bener-bener harus menginap dan bawa baju ganti, hehehe. Atau bisa dikatakan sebagai honeymoon yang sempat tertunda selama lebih dari 3 tahun.

Setelah berdiskusi panjang lebar, kami memutuskan dengan kilat, bahwa kami akan berlibur ke Makassar. Bermodal nekad, dan mencari informasi via google dengan sangat mendadak. Malam hari packing sembari googling, paginya kami berangkat.

Pagi-pagi sekitar pukul 8 pesawat kami landing di Bandara Sultan Hasanudin. Dan memang telah direncanakan sebelumnya bahwa kami hendak mencicipi Kondro Karebosi yang konon legendaris itu, tapi pas kami tiba si pedagang belum buka, akhirnya kami makan di kios depan Kondro Karebosi. Kami beruntung, kondro bakar yang kami lahap sungguh lezat.

1

kondro karebosi

 

Kami memulainya dari Benteng Routerdam, kemudian berlanjut istirahat di Red Planet hotel, dan sorenya ke Pantai Losari. Menikmati semilir angin di tepi pantai, hingga makan malam di salah satu resto sekitar pantai.

Sesuai rencana sebelumnya, kami berdua sungguh ingin melihat masjid terapung yang ada di area Pantai Losari, memastikan apa benar terapung apa tidak, heheee.

Intinya sih, kami cuma banyak foto-foto, hape suami, hp ku, plus dslr, hehe.

 

 

Hari kedua, awalnya kami berniat pergi ke Tanjung Bira, ke  pantai pasir putih sekaligus melihat langsung pembuatan kapal phinisi. Tapi opsi itu tidak terealisasi mengingat jarak tempuh ke Bira memakan cukup banyak waktu. Sedangkan kami di Makassar hanya 3 hari. Ada juga opsi ke Toraja, tapi agak horor juga melihat mayat-mayat, heee. Opsi lain ke Pulau Samalona, tapi honor juga dengan ombak di bulan-bulan akhir tahun. Akhirnya kami memilih opsi untuk berpetualang ke Taman Nasional Bantimurung.

Alhamdulillah, bersyukur bisa sampai ke Bantimurung, melihat kuasa Allah. Ada banyak kupu-kupu di sana, dan aku heboh banget pas lihat kupu-kupu hahaaa. Minta difoto dengan berbagai gaya haaa. Selain itu udara di sana juga nyaman, ada air terjun, dan gua yang sungguh luas dan panjang. Kami pun menyempatkan untuk masuk ke gua itu, sungguh gelap, dan di dalam gua aku jadi teringat pesan dari Ustadz, “di gua itu gelap, sungguh gelap, tak ada cahaya matahari yang bisa masuk ke dalam gua, berjalan pun tak tentu arah nabrak sana-nabrak sini ketika kita berjalan dalam gua tanpa cahaya penerangan. Ibarat ketika kita menjalani hidup di dunia, semua gelap ketika kita tak mendapat cahaya yaitu petunjuk dari AL Qur’an.”

 

Malamnya kami mencicipi Palubasa Srigala yang konon terkenal enak dari googling, dan ternyata aku kurang suka dengan palubasanya heee

Dan di hari ke tiga, pagi-pagi kami pergi ke pantai Losari *lagi, berlanjut ke trans studio hingga sore. Malamnya mencoba makan mi titie yang aku kira enak karna punya banyak cabang…heee ternyata kurang pas di lidah kami, harga dan porsi yang tidak jelas.

14

mi titi

11

palubasa srigala

Oh ya, sepanjang kami di Makassar, kami stay di red planet hotel. Alhamdulillah cukup nyaman dengan harga yang waktu itu nyaman di kantong karena kami mendapat diskon dari travel…

12

15

Heee…itulah catatan ringkas dari traveling kami. Mohon maaf kalau ngalor ngidul hehe…

Ohya, kami juga sempat mencoba naik damri saat keluar bandara, salah satu alternatif lain selain naik taxi. Kami juga mencoba busway nya makassar. Intinya sih seru.

Semoga Allah ridha dengan tafakkur kami. Aamiin.

2

[190]Ruang Tunggu


Malam itu. Serupa dengan putaran kaset yang tak kunjung berujung.

Hatiku masih tetap sama. Dingin, tapi tidak beku. Sama halnya dengan lelaki tampan di sebelahku. Lantas kami tersenyum, tergelak bersama. Berdiskusi untuk hal yang penting sampai hal yang tidak penting sekalipun. Menikmati segala bentuk keindahan lukisan malam. Sesekali menongok bintang gemintang, memastikan mereka masih setia di sana.

Ruang tunggu… Pendingin ruangan serta barisan kursi, seolah menceritakan kepada kami akan banyak hal. Tentang rerumputan yang dulu pernah menjadi teman terbaiknya, saat kursi-kursi itu masih berwujud sebatang pohon. Tampak asyik menari tertiup angin. Ahh, sungguh mempesona.

Ruang tunggu… Pintu kayu berwarna coklat, pintu kaca dengan beningnya. Silih berganti menjejaliku dengan pertanyaan. Dan dalam keyakinanku, aku tidak lebih tau dari mereka. Yang sama-sama berada di ruang tunggu.

Ruang tunggu… Untuk sekeping benda dengan berbagai rupa 4 dimensinya, warna-warni, besar-kecil.

Malam nan dingin, semakin dingin.

 

–ruang tunggu–