2

[181] Kerinduan itu,


Cerita tentang sebuah kerinduan yang begitu sulit untuk dideskripsikan. Tentang segala letupan tanpa syarat. Tentang kenangan yang begitu mudah membuat mata ini seolah kelilipan.

Di sana, di sebuah desa yang jauh dari kata ‘ramai’. Di tempat itulah aku pernah melukiskan kenangan. Di tempat itulah, tempat dimana aku mulai berani menyusun mimpi, berdo’a untuk pengharapan yang terbaik. Di tempat itulah, aku mulai tahu apa arti sebuah kesederhanaan. Tak banyak yang tahu, akan apa yang ada dalam imajinasiku. Sebuah rute yang aku susun, penuh dengan peluh, untuk bergeser, menjauhi garis kemiskinan itu.

Kini, aku berdiri di belahan bumi lainnya. Untuk melanjutkan puzzle mimpi yang dulu pernah aku bangun. Bahagia? Tentu iya. Aku berdiri di sini bersama seseorang yang telah Allah pilihkan untuk menjadi pendampingku. Tapi, di sisi lain, jika aku ditanya akan hal lain, tentang seoonggok perasaan di sudut kecil relung hatiku. Maka, begitu sulit untukku bisa menahan tangis ini. Yaaa, tentang ‘kerinduan’. Dan disaat mataku berada pada titik terlemahnya, Allah mengizinkanku, untuk selalu mendapatkan sandaran  itu. Allah mengizinkanku, untuk bersandar di bahu sang belahan hati.

Yaaa, bukankah Allah tidak pernah salah? Tergantung dari sisi mana, manusia hina ini, hendak berprasangka. Tergantung dari sisi mana, manusia lemah ini, hendak melihatnya.

Dan, rasa syukur, bersyukur dalam setiap kondisi, insyaaAllah lebih baik, daripada melakukan hal yang sebaliknya.

Untukmu, wahai ibu, untuk keluargaku, begitu sukar untukku melukiskan perasaanku dalam setiap waktu….

IMG_3920 edMak’e (ibu), semoga Allah berikan surga tertinggi untuk beliau….

IMG_3895 edBiyung (nenek), semoga Allah senantiasa memberikan berkah kepada beliau

IMG_3922 edLia, Biyung, Mak’e, Aku

IMG_4001 edDoddy, Pak’e, Biyung (nenek), Aku

IMG_3948 edDoddy, Pak’e, Lia, Mb Rini, Aku, Ori, Bulek Kikin, Linda, Mb Rita

Fatah, Mas Diyan, Lala, Hiban

IMG_3944 edMb Rini, Fatah, Lia, Mas Diyan, Aku, Bulek, Linda, Ori

Lala

IMG_3906 edWaduk Gajah Mungkur, Wonogiri with love :)

12

[180] Malioboro, Mudik 2015


Selalu ada cerita indah dalam setiap mudik ke kampung halaman.

Tahun ini, aku dan suami diberi kesempatan oleh Allah untuk bertafakkur ke Yogya. Sebuah provinsi yang penuh dengan berjuta cerita, sekitar 2 jam jika ditempuh dengan kendaraan bermotor dari tanah kelahiranku, Sukoharjo.

Seperti biasanya, kami berangkat tanpa ‘objek wisata nan jelas tergambar’. Niatnya ingin ngebolang. Finally, berpedoman pada petunjuk arah yang nangkring di atas papan hijau di setiap jalanan, sampailah kami ke area Malioboro. Sebuah tujuan yang tetiba muncul saat perjalanan menuju Yogya.

IMG_3825 ed

Yup, berjalan sepanjang jalan Malioboro memang sungguh asyik. Apalagi bersama dengan orang tercinta.

Usai memarkir motor, suamiku langsung heboh menuju papan bertuliskan ‘Jalan Malioboro’. Entah apa yang ada dalam pikiran beliau, begitu antusias memotret dari berbagai sisi. Awalnya aku hanya nyengir alakadarnya, tapi lama-lama menarik juga berfoto dengan background tulisan itu, hiii, terlebih banyak juga rombongan yang ingin berfoto di tempat itu, sampai ngantri lho, hii.. Gimana sih, penampakan tulisan Malioboro itu, ini dia hasil jepretan sang tripot kami, hehee..

IMG_3692 ed Lebih jelasnya seperti ini teman,

IMG_3686 ed

Nothing special? Tapii, seru juga lho…

Banyak jajanan makanan dengan harga terjangkau di sepanjang jalan Malioboro ini. Salah satunya adalah pecel. Kami memilih beli pecel di ibuk-ibuk yang sengaja menutup barang dagangannya dengan plastik bening, setidaknya kadar debu dan frekuensi terkena hinggapan lalat lebih sedikit dibanding yang terbuka. Hmmm, yummi bukan? Hii, satu porsi berkisar antara 5 ribu rupiah, sudah lengkap dengan gorengan 1 buah, ketupat/nasi, sayur pecel. Rasanya pun, enak. Kalau di Gorontalo, mana bisa beli makanan semurah itu, hiii…

IMG_3732 ed Selain itu, banyak juga penjual cindera mata aneka rupa, harga terjangkau dengan variasi yang cukup banyak. Kami juga sempat singgah ke sebuah toko nan besar, di dalamnya lengkap dijual aneka rupa jenis souvenir, mulai dari yang harga ribuan sampai jutaan rupiah. Terdesain rapi dengan banyak kasir di setiap lantainya, tapi yaaa tetep antri karena banyaknya pembeli. Aku lupa ada berapa lantai, kalau tidak salah terdiri dari 3 atau 4 lantai. Nama tokonya saja enggak sempet ngebaca, haaa. Cirinya di depan toko itu dijual bakpia Raminten.

Ohya, sepanjang jalan Malioboro ini juga ada halte bus lho, kalau di Jakarta semacam halte busway gitu, tapi ukuran bus nya jauh lebih kecil dibanding di Jakarta.

Kalau kalian capek untuk berjalan kaki, tersedia juga transportasi darat, misalnya becak, atau semacam kereta kuda.

IMG_3707 edOhya, di sini kamu juga bisa menemui buanyaaak sekali turis dari berbagai negara. Berseliweran sana-sini…

IMG_3738 ed

Kami juga singgah di salah satu objek di sepanjang jalan Malioboro, ke sebuah musium. Namanya Vredeburg, dahulunya ini adalah sebuah benteng, kayaknya sih begitu, haaa. Yang aku sangat salutkan dari musium ini adalah penataan, kebersihan, dan segala pernak-perniknya tersusun dengan begitu baik. Bahkan kamar mandinya pun bersih, aku sampai terkesima. Tiket masuk waktu itu 2000/orang. Harga yang cukup ekonomis untuk bisa belajar banyak di dalam musium itu.

IMG_3743 ed Oh ya, gedung musiumnya juga lumayan terawat lho..

IMG_3780 edDari jalan Malioboro juga terbilang dekat kalau hendak menuju Keraton. Kami saat itu belum singgah ke kraton. Hanya saja, waktu shalat jum’at kami menuju Masjid Gede di deket kraton. MasyaaAllah, waktu itu ada 2 orang warga negara asing yang mengucapkan syahadat pasca shalat jum’at. Allah akbar. Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?

0

[179] Rindu Biyung


‘Biyung’ adalah panggilan untuk nenekku. Nenek dari garis ibuku.

Sebagian warga masyarakat desa Bogor, Kec.Cawas, Kab.Klaten memanggil nenek dengan sebutan ‘biyung’.

Semalam, aku diberi kesempatan oleh Allah untuk ngobrol bersama biyung via telepon pintar itu. Gorontalo-Jawa Tengah. Sejujurnya, berkali-kali aku mengusap air mata yang datang tanpa diundang itu. Air mata kerinduan seorang cucu kepada biyung.

Biyung adalah perempuan hebat. Pandai memasak, tak pernah marah padaku,dan semuanya….

Kini, biyung sudah tak muda lagi. Kerut diwajahnya mungkin sudah tak bisa kuhitung lagi. Cara berjalannya yang juga kian terbata, pendengarannya yang mulai berkurang.Alhamdulillah, biyung sehat.

Kesehatan yang sungguh begitu luar biasa yang Allah beri untuk biyung di usianya yang sudah terlampau jauh ini.

Semalam biyung banyak cerita. Cerita yang membuatku mulai mengingat hal-hal yang acapkali aku lalai.

Tentang indah dan asrinya suasana di rumah biyung.

Biyung, aku merindukanmu. Rindu akan semua cerita dan canda bersamamu. Semoga Allah ridha…

0

[178] Memasak & Membaca


“membaca”. Yaaa, jawaban itulah yang acapkali nangkring di setiap kuesioner dari zaman SD hingga saat ini, ketika tersebut pertanyaan apa kegemaranmu?

Ada beberapa kisah dalam buku yang pernah saya baca, bahkan sampai saat ini hal tersebut masih lekat menempel dalam ingatan. Tentunya, banyak juga yang sudah terlupakan begitu saja, hhihihi.

Namun di sisi lain, ada beberapa scene yang terekam baik bahkan hingga saat ini. Tentunya, semua terjadi atas kehendak Allah. Sebuah kisah tentang mengubah tantangan menjadi peluang, tentang kesederhanaan, tentang hidup apa adanya, tentang bersyukur, tentang perjuangan, dan hal lain-lainnya. Oh ya, yang perlu kita ingat adalah, tidak semua isi buku karya manusia itu berisi kebenaran, ada juga yang berisi ketidakbenaran.

Dulu, saat saya masih kecil. Saya begitu gemar pergi ke perpustakaan. Dimulai dari zaman SD, yaaa sampai saya sendiri bingung, buku mana yang belum pernah saya baca? Buku-buku bersampul lusuh, buku-buku cerita yang sudah mulai usang, buku-buku referensi pelajaran dan lainnya. Kebiasaan menjadi pengunjung perpustakaan itupun berlanjut hingga SMP. Tak jarang, saya kena denda karena telat mengembalikan novel sastra lama. Novel tebal dengan gaya bahasa lama, juga novel baru dengan gaya bahasa baru.

Hal yang sama terulang saat saya telah berseragam abu-abu. Yaa, namanya juga anak muda, bacaannya sudah sedikit bergeser. Enggak banyak novel di rak buku SMA, yang ada literatur penunjang materi di sekolah. Alhasil, saya pun jadi kian khusyu’ untuk mendalami materi pelajaran di sekolah. Meskipun terkadang baca majalah-majalah untuk selingan agar berwarna. Dan parahnya, saat itu, karena saya belum tahu tentang hukum zodiak serta ilmu perbintangan. Dulu, saya kerapklai membaca kolom itu. Astagfirullah, semoga Allah ampunkan dosa-dosa ini.

Oh ya, suka juga ikutan kuis di majalah atau koran lokal langganan perpus yang tergeletak di perpus. Namun, tak pernah nama saya tercantum sebagai pemenang dalam kuis itu, hiii.

Saya mengenyam pendidikan SMA di ibu kota kabupaten, sebuah SMA favorit, sebut saja SMA N 1 Sukoharjo. Dan, imbas yang baik saya dapatkan ketika bertemu dengan orang-orang pinter nan rajin. Saya pun jadi rajin banget belajar. Abis sudah buku di perpus sekolah, saya hijrah ke perpustakaan kabupaten yang berlokasi di dekat simpang lima. Sebagai bentuk pelampiasan karena saya tak bisa membeli beberapa buku rujukan dari guru di kelas sih, heee, alhasil baca di perpus umum.

Di perpustakaan umum itu banyak materi pelajaran sekolah yang bisa saya pelajari lebih dalam lagi. Kadang juga singgah di situ lantaran pengen nebeng tempat, karena beberapa jam lagi ada les di alfagama, hihii.

11116657_801187153321873_1400935098_n

Sekarang, setelah saya lulus kuliah di STIS, kemudian menikah. Kalau ada pertanyaan apa kegemaranmu? Biasanya akan saya jawab: menulis, membaca, memasak, berkutat seputaran craft. Semoga Allah ridha dengan semuanya. aamiin

*Untuk sahabat semuanya yang mempunyai banyak keterbatasan untuk bisa membaca, misalnya tak punya cukup uang untuk membeli buku dan lainnya. Jangan putus asa ya! Karena Allah Maha Besar. Dan yuk mari sama-sama mengingatkan untuk senantiasa berlindung kepada Allah, sebelum membaca buku. Agar apa yang kita baca adalah ilmu yang bermanfaat, dan ketika kita membaca hal yang salah, sistem dalam tubuh kita sudah memberikan warning akan hal itu, aamiin.

0

[177] Souvenir Handmade by Cuindcraft


Alhamdulillah, di bulan April 2015 ini cuindcraft telah diizinkan Allah untuk meluncurkan produk berupa souvenir pernikahan.

Bagaimana penampakannya, taraaa…

1. Souvenir yang pertama ini, desainnya dicoba untuk kesan vintage gitu, hiii. Jadi box nya kami pilih warna yang soft, ada 4 warna: pink, kuning muda, biru muda. hijau muda.

Ini adalah souvenir nikahannya teman waktu kuliah di STIS dulu. Souvenir berisi cruel bros by cuindcraft, dibungkus dengan box berbahan karton manila. Naaah, untuk desain dibelakang box itu kami sudah dapet dari calon pengantin,, jadi kami tinggal cetak deh, hiii. Desain siluetnya juga dari calon pengantin, kami tinggal cetak di kertas sesuai request.

Naah, awalnya dicetak ke bentuk kertas persegi panjang seperti ini.

IMG_2189

Hiii, ternyata calon pengantinnya suka kalau bentuknya lingkaran. Dan setelah dicoba ternyata hasilnya tambah cantik kalau lingkaran. Alhamdulillah.

IMG_2234

Untuk desain semacam ucapan yang dibagian atas yang ada siluetnya itu, terdiri dari warna dasar yang sama antara satu dan yang lainnya, yaitu putih.

2. Souvenir yang kedua ini, bertema colorfull. Jadi pemilihan boxnya kami pilih warna hijau tua, kuning tua mendekati orange, biru, dan pink.

Untuk desain ucapan ‘thanks for coming’ nya juga bertema colorfull, jadi warna-warni. Beda antara satu dan yang lainnya.

IMG_2258

IMG_2262 ed

3. Untuk souvenir yang ketiga ini, boxnya berwarna senada yaitu pink semuanya. Ucapannya juga berwarna pink, sesuai request calon pengantin. Naah, untuk boxnya ada yang persegi ada yang persegi panjang, menyesuaikan isi brosnya.

IMG_2020IMG_2047

IMG_2055 ed

Souvenir ini dibuat kalau kami udah pulang dari kantor, atau pas hari-hari libur. Alhamdulillah, bisa untuk sarana refreshing. Sejenak beralih dari tumpukan kerjaan yang serba angka itu. Naah, yang buat box itu adalah suamiku, beliau suka dengan bidang itu. Teliti dan akurat. Hiii, beda banget dengan diriku. Kalau aku yang buat bros, tapi pita, finishing dan lain-lainnya. Semua atas izin Allah. Tanpa izin dan kuasa-Nya, kami tak kan bisa melakukannya.

Alhamdulillah selesai tepat waktu, karena yang pesen memang udah jauh-jauh hari sih, heee. Jadi kami punya spare waktu yang panjang untuk mengerjakannya.

Semoga Allah ridha.

by cuindcraft

0

[176] Salah Tingkah


Jakarta masih saja menyuguhkan berbagai kemegahannya. Semoga kota ini tak akan beralih sunyi dan terkubur seperti Petra di Yordania. Petra yang sampai sekarang masih menjadi saksi bisu sejarah dengan bukit batu yang dipahat sedemikian megahnya menjadi tempat tinggal Arab Nabatean. Sebut saja Khazneh, bangunan dengan tiang-tiang penuh ukiran Romawi berdiri tegak hasil pahatan di tebing gunung. Yaaa, bangunan megah itu dipahat di tebing gunung. Dilengkapi dengan sistem hidrolik yang sangat maju, pengairan berupa air bersih yang modern dan melimpah. Dulu, penduduk Petra berjaya dan sukses, hingga membuat mereka sombong. Peradaban masa lalu yang sedemikian maju, teknologi tingi, dan kekayaan melimpah ruah, akhirnya hilang. Yang tersisa hanyalah bangunan batu yang kosong. Peradaban yang bersumber dari kesombongan itulah yang dimusnakan oleh Allah. Selama kurang lebih 500 tahun Petra hilang, dan barulah ditemukan oleh arkeolog dari Swedia pada tahun 1812. Sekarang, Petra telah menjadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Sungguh sayang, apabila itu semua hanya menjadi tempat wisata untuk berfoto ria, tanpa mengambil hikmah. Senada dengan Madain Saleh, kaum Tsamud yang ditakdirkan oleh Allah bisa memahat gunung untuk dijadikan rumah. Atas izin Allah, mereka diberi umur panjang, bahkan lebih panjang dari usia rumah yang mereka buat.

Jakarta dengan langit mendungnya. Tak ada satupun bintang yang terlihat menampakkan cahayanya. Udara kurang bersahabat, polusi udara pun tak mau absen meskipun hari sudah gelap. Gedung-gedung tinggi berjajar, ada juga beberapa ruko tiga lantai yang turut serta berbaris di sepanjang jalan utama. Pemandangan yang cukup kontras dengan keadaan permukiman di belakang gedung-gedung itu. Padat dengan rumah-rumah warga yang saling berimpit, beberapa kios-kios pedagang kaki lima menghias lorong dan gang sempit, warna selokan pekat, juga sungai yang tak lagi mengalir.

Petang itu, Fitri berjalan sendirian menuju rumah. Ia masih mengenakan seragam sekolahnya, baju putih panjang, dipadankan dengan rok panjang warna abu-abu. Fitri menyusuri lorong-lorong yang sudah tak asing lagi baginya. Kedua tangannya sibuk mendekap buku berwarna kuning setebal 6 sentimeter. Buku referensi matematika yang ia peroleh dari tempat lesnya, buku yang entah Fitri sendiri jua belum mengerti apa maksudnya. Haha. Hingga sampailah Fitri di lampu merah depan indomart. Sengaja, Fitri memperlambat langkahnya, melihat kanan kiri untuk berjaga-jaga karena hendak menyebrang jalan. Reflek, langkah kecil Fitri terhenti tanpa dikomando. Kedua matanya berbinar. Bagaimana tidak, tiba-tiba saja pemuda itu muncul dari arah yang berlawanan dari tempat ia berdiri. Menaiki sepeda merah dengan ransel hitam yang berbentuk kotak  itu. Ditambah deburan angin, menyapu rambut hitam yang lurus dengan penuh pesona itu. Cahaya lampu menambah amboi warna rambutnya. MasyaaAllah, hati Fitri berdebar tak karuan. Hatinya berdebar kencang. Gugup. Yaaa, Fitri berusaha mengendalikan dirinya. Sayang, jilbab yang ia kenakan sudah terlipat rapi di ranselnya, padahal ia ketemu dengan pemuda shaleh itu.

“Hmmm, nyesel deh jilbabnya uda dilepas, padahal kan mau terlihat shalehah ketemu pemuda itu.” (Hello Fitri, pakai jilbab itu kan memang wajib kalies untuk kaum hawa, bukan karena ingin distempel terlihat shalehah)

Fitri kembali menunduk. Mencoba bersikap seperti biasa, mempraktikkan seperti yang ustadzahnya sampaikan bahwa perempuan itu harus menjaga pandangan. Yap, seketika Fitri menjadi sosok yang kalem.

“Assalamu’alaikum, darimana kok baru pulang malam-malam begini?” Terdengar suara pemuda itu dari seberang.

Dengan wajah masih menunduk, Fitri memberikan jawaban panjang lebar. “Hmmm, abis selesai les di rumah Ustadzah Siti. Sepulang sekolah, ana bersama rekan-rekan akhwat pergi ke rumah Ustadzah Siti, belajar matematika bareng-bareng. Maklum akhi, ana kan perempuan yang rajin jadi yaaa beginilah adanya. Akhi darimana malam-malam begini?” Fitri mencoba bertanya kepada sosok pemuda itu, sembari memberanikan diri menegakkan kembali wajahnya berharap bisa melihat sosok tampan itu di depannya.

Tampak beberapa langkah dari ia berdiri, terlihat pemuda itu sibuk mengobrol dengan Doddy, si adek kelas yang cerdas itu.

“Jadi, tadi bukan bertanya padaku ya?” Tuing-tuing, Fitri merasa konyol dengan dirinya sendiri, bagaimana ceritanya dia mengobrol tanpa lawan bicara, bak orang gila pula ini. Beberapa saat kemudian, pemuda itu bersama dengan Doddy melintas di depan Fitri. Sedang Fitri masih dalam keadaan ‘bengong’. Doddy si adek kelas pun segera menyapa, “Kak Fitri ngapain? Kok malah bengong malam-malam di pinggir jalan?”

“Ehh, kamu Dod, nggak papa kok.”

Pemuda itu pun berlalu bersama dengan Doddy, sedangkan Fitri masih sibuk menata hati yang kadung malu. Sembari melirik ibu pedagang nasi goreng bersama dengan para pembeli yang menertawainya lantaran sikap Fitri yang terlihat konyol.

Lekas-lekas Fitri mengembalikan konsentrasinya untuk menyeberang jalan dan meneruskan tujuan awal, pulang ke rumah, bukan ke hati pemuda itu.

Yuk, fokus Ukh :)

0

[175] Kiamat Kecil


20150124_174042

Memang bukan suatu yang mudah untuk bisa mengimajinasikan bahwa setiap kita pasti akan mati. Meninggalkan segala bentuk kemewahan dan juga gemerlap dunia.

Yaa, jika hari ini kita mendengar informasi ada orang yang meninggal dunia, jika saat ini kita menziarahi orang yang meninggal dunia. Yakinlah, bahwa suatu ketika ‘kita’ yang akan meninggal dunia, dan akan diziarahi seperti kita menziarahi yang meninggal kemarin.

Yakinlah bahwa setiap kita akan merasakan huru hara hari kiamat. Apakah kiamat besar dalam bentuk masal ataukah kiamat kecil dalam bentuk kematian setiap orang.

Sebuah nasehat dari seorang Syaikh Tantowi yang sudah diterjemahkan dengan terjemahan yang baik. InsyaaAllah.

Saya senang membaca nasehat ini dengan membaca lirih, bukan dalam hati. Berasa lebih menghayati, semoga Allah ampunkan dosa-dosa ini.

Pada saat engkau mati janganlah kau bersedih. Jangan pedulikan jasadmu yang sudah mulai layu. Karena orang-orang islam akan mengurus jasadmu. Mereka akan melucuti pakaiannmu, memandikanmu, dan mengafanimu, lalu membawamu ke tempatmu yang baru yaitu kuburan. Akan banyak orang yang mengantar jenazahmu bahkan meraka akan meninggalkan pekerjaannya untuk ikut mengubur kamu dan mungkin banyak yang sudah tidak lagi memikirkan nasehatmu pada suatu hari.

Barang-barangmu akan dikemas . Kunci-kuncimu , buku-bukumu, koper-kopermu , sepatumu dan pakaianmu. Jika keluargamu setuju, barang-barang itu akan disedekahkan agar bermanfaat buat kamu

Yakinlah. Dunia dan alam semesta tidak akan bersedih dengan kepergian kamu. Ekonomi akan tetap berlangsung. Posisi pekerjaanmu akan diisi oleh orang lain. Hartamu menjadi harta halal bagi ahli warismu. Sedangkan kamu akan dihisab dan akan diperhitungkan untuk yang kecil dan yang besar dari hartamu . Kesedihan atasmu ada 3. Orang yang mengenalmu sekilas akan mengatakan kasihan. Kawan-kawanmu akan bersedih beberapa jam atau beberapa hari, lalu mereka kembali seperi sedia kala dan tertawa-tawa lagi. Begitu juga anak-anakmu. Di rumah, di rumah ada kesedihan yang mendalam. Keluargamu akan bersedih seminggu, dua minggu, sebulan, dua bulan dan mungkin sampai setahun. Selanjutnya mereka akan meletakkanmu dalam arsip kenangan.

Demikianlah kisahmu telah berakhir di tengah-tengah manusia. Dan kisahmu yang sesungguhnya baru dimulai, yaitu akhirat. Telah musnah kemuliaan, habis semua harta, kesehatan bahkan anak. Telah engkau tinggalkan rumah, istana dan keluarga tercinta. Kini hidup yang sesungguhnya telah dimulai . Pertanyaannya adalah. Apa persiapanmu untuk kuburmu dan akhiratmu? Hakikat ini memerlukan renungan. Usahakan dengan sungguh-sungguh, menjalankan kewajiban-kewajiban, hal-hal yang disunnahkan, sedekah secara rahasia, merahasiakan amal shaleh, shalat malam sendirian, semoga saja engkau selamat. Andai engkau sekarang masih hidup maka perbaikilah hidupmu saat ini juga.

 *Tulisan ini saya kutip dari materi kajian tadabbur surah At Takwir di Pondok Indah yang disampaikan oleh Ust. Bachtiar Nasir. Karena materi kajiannya banyak, saya hanya mengutip sebagian kecil dari materi kajian tersebut. Semoga Allah ridha.