0

[179] Rindu Biyung


‘Biyung’ adalah panggilan untuk nenekku. Nenek dari garis ibuku.

Sebagian warga masyarakat desa Bogor, Kec.Cawas, Kab.Klaten memanggil nenek dengan sebutan ‘biyung’.

Semalam, aku diberi kesempatan oleh Allah untuk ngobrol bersama biyung via telepon pintar itu. Gorontalo-Jawa Tengah. Sejujurnya, berkali-kali aku mengusap air mata yang datang tanpa diundang itu. Air mata kerinduan seorang cucu kepada biyung.

Biyung adalah perempuan hebat. Pandai memasak, tak pernah marah padaku,dan semuanya….

Kini, biyung sudah tak muda lagi. Kerut diwajahnya mungkin sudah tak bisa kuhitung lagi. Cara berjalannya yang juga kian terbata, pendengarannya yang mulai berkurang.Alhamdulillah, biyung sehat.

Kesehatan yang sungguh begitu luar biasa yang Allah beri untuk biyung di usianya yang sudah terlampau jauh ini.

Semalam biyung banyak cerita. Cerita yang membuatku mulai mengingat hal-hal yang acapkali aku lalai.

Tentang indah dan asrinya suasana di rumah biyung.

Biyung, aku merindukanmu. Rindu akan semua cerita dan canda bersamamu. Semoga Allah ridha…

0

[178] Memasak & Membaca


“membaca”. Yaaa, jawaban itulah yang acapkali nangkring di setiap kuesioner dari zaman SD hingga saat ini, ketika tersebut pertanyaan apa kegemaranmu?

Ada beberapa kisah dalam buku yang pernah saya baca, bahkan sampai saat ini hal tersebut masih lekat menempel dalam ingatan. Tentunya, banyak juga yang sudah terlupakan begitu saja, hhihihi.

Namun di sisi lain, ada beberapa scene yang terekam baik bahkan hingga saat ini. Tentunya, semua terjadi atas kehendak Allah. Sebuah kisah tentang mengubah tantangan menjadi peluang, tentang kesederhanaan, tentang hidup apa adanya, tentang bersyukur, tentang perjuangan, dan hal lain-lainnya. Oh ya, yang perlu kita ingat adalah, tidak semua isi buku karya manusia itu berisi kebenaran, ada juga yang berisi ketidakbenaran.

Dulu, saat saya masih kecil. Saya begitu gemar pergi ke perpustakaan. Dimulai dari zaman SD, yaaa sampai saya sendiri bingung, buku mana yang belum pernah saya baca? Buku-buku bersampul lusuh, buku-buku cerita yang sudah mulai usang, buku-buku referensi pelajaran dan lainnya. Kebiasaan menjadi pengunjung perpustakaan itupun berlanjut hingga SMP. Tak jarang, saya kena denda karena telat mengembalikan novel sastra lama. Novel tebal dengan gaya bahasa lama, juga novel baru dengan gaya bahasa baru.

Hal yang sama terulang saat saya telah berseragam abu-abu. Yaa, namanya juga anak muda, bacaannya sudah sedikit bergeser. Enggak banyak novel di rak buku SMA, yang ada literatur penunjang materi di sekolah. Alhasil, saya pun jadi kian khusyu’ untuk mendalami materi pelajaran di sekolah. Meskipun terkadang baca majalah-majalah untuk selingan agar berwarna. Dan parahnya, saat itu, karena saya belum tahu tentang hukum zodiak serta ilmu perbintangan. Dulu, saya kerapklai membaca kolom itu. Astagfirullah, semoga Allah ampunkan dosa-dosa ini.

Oh ya, suka juga ikutan kuis di majalah atau koran lokal langganan perpus yang tergeletak di perpus. Namun, tak pernah nama saya tercantum sebagai pemenang dalam kuis itu, hiii.

Saya mengenyam pendidikan SMA di ibu kota kabupaten, sebuah SMA favorit, sebut saja SMA N 1 Sukoharjo. Dan, imbas yang baik saya dapatkan ketika bertemu dengan orang-orang pinter nan rajin. Saya pun jadi rajin banget belajar. Abis sudah buku di perpus sekolah, saya hijrah ke perpustakaan kabupaten yang berlokasi di dekat simpang lima. Sebagai bentuk pelampiasan karena saya tak bisa membeli beberapa buku rujukan dari guru di kelas sih, heee, alhasil baca di perpus umum.

Di perpustakaan umum itu banyak materi pelajaran sekolah yang bisa saya pelajari lebih dalam lagi. Kadang juga singgah di situ lantaran pengen nebeng tempat, karena beberapa jam lagi ada les di alfagama, hihii.

11116657_801187153321873_1400935098_n

Sekarang, setelah saya lulus kuliah di STIS, kemudian menikah. Kalau ada pertanyaan apa kegemaranmu? Biasanya akan saya jawab: menulis, membaca, memasak, berkutat seputaran craft. Semoga Allah ridha dengan semuanya. aamiin

*Untuk sahabat semuanya yang mempunyai banyak keterbatasan untuk bisa membaca, misalnya tak punya cukup uang untuk membeli buku dan lainnya. Jangan putus asa ya! Karena Allah Maha Besar. Dan yuk mari sama-sama mengingatkan untuk senantiasa berlindung kepada Allah, sebelum membaca buku. Agar apa yang kita baca adalah ilmu yang bermanfaat, dan ketika kita membaca hal yang salah, sistem dalam tubuh kita sudah memberikan warning akan hal itu, aamiin.

0

[177] Souvenir Handmade by Cuindcraft


Alhamdulillah, di bulan April 2015 ini cuindcraft telah diizinkan Allah untuk meluncurkan produk berupa souvenir pernikahan.

Bagaimana penampakannya, taraaa…

1. Souvenir yang pertama ini, desainnya dicoba untuk kesan vintage gitu, hiii. Jadi box nya kami pilih warna yang soft, ada 4 warna: pink, kuning muda, biru muda. hijau muda.

Ini adalah souvenir nikahannya teman waktu kuliah di STIS dulu. Souvenir berisi cruel bros by cuindcraft, dibungkus dengan box berbahan karton manila. Naaah, untuk desain dibelakang box itu kami sudah dapet dari calon pengantin,, jadi kami tinggal cetak deh, hiii. Desain siluetnya juga dari calon pengantin, kami tinggal cetak di kertas sesuai request.

Naah, awalnya dicetak ke bentuk kertas persegi panjang seperti ini.

IMG_2189

Hiii, ternyata calon pengantinnya suka kalau bentuknya lingkaran. Dan setelah dicoba ternyata hasilnya tambah cantik kalau lingkaran. Alhamdulillah.

IMG_2234

Untuk desain semacam ucapan yang dibagian atas yang ada siluetnya itu, terdiri dari warna dasar yang sama antara satu dan yang lainnya, yaitu putih.

2. Souvenir yang kedua ini, bertema colorfull. Jadi pemilihan boxnya kami pilih warna hijau tua, kuning tua mendekati orange, biru, dan pink.

Untuk desain ucapan ‘thanks for coming’ nya juga bertema colorfull, jadi warna-warni. Beda antara satu dan yang lainnya.

IMG_2258

IMG_2262 ed

3. Untuk souvenir yang ketiga ini, boxnya berwarna senada yaitu pink semuanya. Ucapannya juga berwarna pink, sesuai request calon pengantin. Naah, untuk boxnya ada yang persegi ada yang persegi panjang, menyesuaikan isi brosnya.

IMG_2020IMG_2047

IMG_2055 ed

Souvenir ini dibuat kalau kami udah pulang dari kantor, atau pas hari-hari libur. Alhamdulillah, bisa untuk sarana refreshing. Sejenak beralih dari tumpukan kerjaan yang serba angka itu. Naah, yang buat box itu adalah suamiku, beliau suka dengan bidang itu. Teliti dan akurat. Hiii, beda banget dengan diriku. Kalau aku yang buat bros, tapi pita, finishing dan lain-lainnya. Semua atas izin Allah. Tanpa izin dan kuasa-Nya, kami tak kan bisa melakukannya.

Alhamdulillah selesai tepat waktu, karena yang pesen memang udah jauh-jauh hari sih, heee. Jadi kami punya spare waktu yang panjang untuk mengerjakannya.

Semoga Allah ridha.

by cuindcraft

0

[176] Salah Tingkah


Jakarta masih saja menyuguhkan berbagai kemegahannya. Semoga kota ini tak akan beralih sunyi dan terkubur seperti Petra di Yordania. Petra yang sampai sekarang masih menjadi saksi bisu sejarah dengan bukit batu yang dipahat sedemikian megahnya menjadi tempat tinggal Arab Nabatean. Sebut saja Khazneh, bangunan dengan tiang-tiang penuh ukiran Romawi berdiri tegak hasil pahatan di tebing gunung. Yaaa, bangunan megah itu dipahat di tebing gunung. Dilengkapi dengan sistem hidrolik yang sangat maju, pengairan berupa air bersih yang modern dan melimpah. Dulu, penduduk Petra berjaya dan sukses, hingga membuat mereka sombong. Peradaban masa lalu yang sedemikian maju, teknologi tingi, dan kekayaan melimpah ruah, akhirnya hilang. Yang tersisa hanyalah bangunan batu yang kosong. Peradaban yang bersumber dari kesombongan itulah yang dimusnakan oleh Allah. Selama kurang lebih 500 tahun Petra hilang, dan barulah ditemukan oleh arkeolog dari Swedia pada tahun 1812. Sekarang, Petra telah menjadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Sungguh sayang, apabila itu semua hanya menjadi tempat wisata untuk berfoto ria, tanpa mengambil hikmah. Senada dengan Madain Saleh, kaum Tsamud yang ditakdirkan oleh Allah bisa memahat gunung untuk dijadikan rumah. Atas izin Allah, mereka diberi umur panjang, bahkan lebih panjang dari usia rumah yang mereka buat.

Jakarta dengan langit mendungnya. Tak ada satupun bintang yang terlihat menampakkan cahayanya. Udara kurang bersahabat, polusi udara pun tak mau absen meskipun hari sudah gelap. Gedung-gedung tinggi berjajar, ada juga beberapa ruko tiga lantai yang turut serta berbaris di sepanjang jalan utama. Pemandangan yang cukup kontras dengan keadaan permukiman di belakang gedung-gedung itu. Padat dengan rumah-rumah warga yang saling berimpit, beberapa kios-kios pedagang kaki lima menghias lorong dan gang sempit, warna selokan pekat, juga sungai yang tak lagi mengalir.

Petang itu, Fitri berjalan sendirian menuju rumah. Ia masih mengenakan seragam sekolahnya, baju putih panjang, dipadankan dengan rok panjang warna abu-abu. Fitri menyusuri lorong-lorong yang sudah tak asing lagi baginya. Kedua tangannya sibuk mendekap buku berwarna kuning setebal 6 sentimeter. Buku referensi matematika yang ia peroleh dari tempat lesnya, buku yang entah Fitri sendiri jua belum mengerti apa maksudnya. Haha. Hingga sampailah Fitri di lampu merah depan indomart. Sengaja, Fitri memperlambat langkahnya, melihat kanan kiri untuk berjaga-jaga karena hendak menyebrang jalan. Reflek, langkah kecil Fitri terhenti tanpa dikomando. Kedua matanya berbinar. Bagaimana tidak, tiba-tiba saja pemuda itu muncul dari arah yang berlawanan dari tempat ia berdiri. Menaiki sepeda merah dengan ransel hitam yang berbentuk kotak  itu. Ditambah deburan angin, menyapu rambut hitam yang lurus dengan penuh pesona itu. Cahaya lampu menambah amboi warna rambutnya. MasyaaAllah, hati Fitri berdebar tak karuan. Hatinya berdebar kencang. Gugup. Yaaa, Fitri berusaha mengendalikan dirinya. Sayang, jilbab yang ia kenakan sudah terlipat rapi di ranselnya, padahal ia ketemu dengan pemuda shaleh itu.

“Hmmm, nyesel deh jilbabnya uda dilepas, padahal kan mau terlihat shalehah ketemu pemuda itu.” (Hello Fitri, pakai jilbab itu kan memang wajib kalies untuk kaum hawa, bukan karena ingin distempel terlihat shalehah)

Fitri kembali menunduk. Mencoba bersikap seperti biasa, mempraktikkan seperti yang ustadzahnya sampaikan bahwa perempuan itu harus menjaga pandangan. Yap, seketika Fitri menjadi sosok yang kalem.

“Assalamu’alaikum, darimana kok baru pulang malam-malam begini?” Terdengar suara pemuda itu dari seberang.

Dengan wajah masih menunduk, Fitri memberikan jawaban panjang lebar. “Hmmm, abis selesai les di rumah Ustadzah Siti. Sepulang sekolah, ana bersama rekan-rekan akhwat pergi ke rumah Ustadzah Siti, belajar matematika bareng-bareng. Maklum akhi, ana kan perempuan yang rajin jadi yaaa beginilah adanya. Akhi darimana malam-malam begini?” Fitri mencoba bertanya kepada sosok pemuda itu, sembari memberanikan diri menegakkan kembali wajahnya berharap bisa melihat sosok tampan itu di depannya.

Tampak beberapa langkah dari ia berdiri, terlihat pemuda itu sibuk mengobrol dengan Doddy, si adek kelas yang cerdas itu.

“Jadi, tadi bukan bertanya padaku ya?” Tuing-tuing, Fitri merasa konyol dengan dirinya sendiri, bagaimana ceritanya dia mengobrol tanpa lawan bicara, bak orang gila pula ini. Beberapa saat kemudian, pemuda itu bersama dengan Doddy melintas di depan Fitri. Sedang Fitri masih dalam keadaan ‘bengong’. Doddy si adek kelas pun segera menyapa, “Kak Fitri ngapain? Kok malah bengong malam-malam di pinggir jalan?”

“Ehh, kamu Dod, nggak papa kok.”

Pemuda itu pun berlalu bersama dengan Doddy, sedangkan Fitri masih sibuk menata hati yang kadung malu. Sembari melirik ibu pedagang nasi goreng bersama dengan para pembeli yang menertawainya lantaran sikap Fitri yang terlihat konyol.

Lekas-lekas Fitri mengembalikan konsentrasinya untuk menyeberang jalan dan meneruskan tujuan awal, pulang ke rumah, bukan ke hati pemuda itu.

Yuk, fokus Ukh :)

0

[175] Kiamat Kecil


20150124_174042

Memang bukan suatu yang mudah untuk bisa mengimajinasikan bahwa setiap kita pasti akan mati. Meninggalkan segala bentuk kemewahan dan juga gemerlap dunia.

Yaa, jika hari ini kita mendengar informasi ada orang yang meninggal dunia, jika saat ini kita menziarahi orang yang meninggal dunia. Yakinlah, bahwa suatu ketika ‘kita’ yang akan meninggal dunia, dan akan diziarahi seperti kita menziarahi yang meninggal kemarin.

Yakinlah bahwa setiap kita akan merasakan huru hara hari kiamat. Apakah kiamat besar dalam bentuk masal ataukah kiamat kecil dalam bentuk kematian setiap orang.

Sebuah nasehat dari seorang Syaikh Tantowi yang sudah diterjemahkan dengan terjemahan yang baik. InsyaaAllah.

Saya senang membaca nasehat ini dengan membaca lirih, bukan dalam hati. Berasa lebih menghayati, semoga Allah ampunkan dosa-dosa ini.

Pada saat engkau mati janganlah kau bersedih. Jangan pedulikan jasadmu yang sudah mulai layu. Karena orang-orang islam akan mengurus jasadmu. Mereka akan melucuti pakaiannmu, memandikanmu, dan mengafanimu, lalu membawamu ke tempatmu yang baru yaitu kuburan. Akan banyak orang yang mengantar jenazahmu bahkan meraka akan meninggalkan pekerjaannya untuk ikut mengubur kamu dan mungkin banyak yang sudah tidak lagi memikirkan nasehatmu pada suatu hari.

Barang-barangmu akan dikemas . Kunci-kuncimu , buku-bukumu, koper-kopermu , sepatumu dan pakaianmu. Jika keluargamu setuju, barang-barang itu akan disedekahkan agar bermanfaat buat kamu

Yakinlah. Dunia dan alam semesta tidak akan bersedih dengan kepergian kamu. Ekonomi akan tetap berlangsung. Posisi pekerjaanmu akan diisi oleh orang lain. Hartamu menjadi harta halal bagi ahli warismu. Sedangkan kamu akan dihisab dan akan diperhitungkan untuk yang kecil dan yang besar dari hartamu . Kesedihan atasmu ada 3. Orang yang mengenalmu sekilas akan mengatakan kasihan. Kawan-kawanmu akan bersedih beberapa jam atau beberapa hari, lalu mereka kembali seperi sedia kala dan tertawa-tawa lagi. Begitu juga anak-anakmu. Di rumah, di rumah ada kesedihan yang mendalam. Keluargamu akan bersedih seminggu, dua minggu, sebulan, dua bulan dan mungkin sampai setahun. Selanjutnya mereka akan meletakkanmu dalam arsip kenangan.

Demikianlah kisahmu telah berakhir di tengah-tengah manusia. Dan kisahmu yang sesungguhnya baru dimulai, yaitu akhirat. Telah musnah kemuliaan, habis semua harta, kesehatan bahkan anak. Telah engkau tinggalkan rumah, istana dan keluarga tercinta. Kini hidup yang sesungguhnya telah dimulai . Pertanyaannya adalah. Apa persiapanmu untuk kuburmu dan akhiratmu? Hakikat ini memerlukan renungan. Usahakan dengan sungguh-sungguh, menjalankan kewajiban-kewajiban, hal-hal yang disunnahkan, sedekah secara rahasia, merahasiakan amal shaleh, shalat malam sendirian, semoga saja engkau selamat. Andai engkau sekarang masih hidup maka perbaikilah hidupmu saat ini juga.

 *Tulisan ini saya kutip dari materi kajian tadabbur surah At Takwir di Pondok Indah yang disampaikan oleh Ust. Bachtiar Nasir. Karena materi kajiannya banyak, saya hanya mengutip sebagian kecil dari materi kajian tersebut. Semoga Allah ridha.

0

[174] Mencintaimu Dalam Diam


Saat ini aku mengalami persoalan yang menurutku lebih sulit dibandingkan menyelesaikan persamaan kuadrat atau pun cacing-cacing limit itu. Karena, semua logika matematika bisa ku babat habis saat ujian kelulusan SMA dua tahun silam, tentunya atas izin Allah.
Namun, kali ini aku menemui persoalan yang lebih sulit dari ujian Statistik Matematik dengan berbagai teori rumitnya itu. Soal-soal Statistik Matematik dengan berbagai rumus gila nya, cukup membuat aku keriting. Jujur, aku pernah jungkir balik untuk sekedar memahami rumus di buku tebal berbahasa asing itu. Hingga akhirnya aku pun lulus dengan nilai yang  tak begitu layak. Sembilan. Tapi terbalik. Yaa, enam. Di semester tiga saat kuliah kemarin.
 Namun, sekarang, ada yang lebih rumit lagi dibanding itu semua. Dan sampai saat ini aku belum bisa menyelesaikannya. Perkara ‘hati’.
Jujur, aku pernah menjadi secret admirer. Menjadi perempuan yang begitu alay. Memandang segala tindak tanduk laki-laki berambut ala iklan sampo itu dari kejauhan. Mantengin statusnya di sosial media, yang sejujurnya, jarang banget status itu di update. Tak taukah ia disana bahwa aku begitu menanti update-tan statusnya? Yaaa, menurut hipotesaku, dia memang tipe yang tak terlalu heboh dengan gemerlap sosmed, yang bahkan saat itu sosmed menjadi oksigen bagi remaja kebanyakan. Tapi pemuda itu memilih untuk ‘berbeda’. Ia melakukan hal yang lebih produktif dibandingkan dengan penggila smartphone.
Jujur, aku menikmati rutinitas baruku sebagai petugas monitoring akun sosmed nya. Bahkan aku sering cengar-cengir nggak karuan karena membaca sesuatu di monitor. Kadang aku juga merasa sebel bercampur cemburu ketika ada perempuan lain yang terlihat berkomunikasi dengannya di sosmed. Aneh memang, tak ada hak atasku untuk meletakkan secuil rasa cemburu kepada laki-laki yang bukan siapa-siapaku.
Namun, aku masih saja kalap. Seolah, aku pun tak mau terlewat barang sepatah kata pun dari status yang ia tulis. Laki-laki kelahiran Banyumas itu telah sukses mencuri hatiku dengan berbagai bentuk keshalihan yang melekat pada dirinya.
Aktivitas menjadi petugas monitoring itu berjalan kurang lebih satu tahun. Aku begitu detail. Bahkan bisa dibilang aku lebih jeli dari bos besar yang sedang mengintai aktivitas pegawainya. Lebih  teliti dibandingkan seorang akuntan ketika merekap laporan keuangan.
Hmmmm, aku hanya bisa menghala nafas panjang untuk kemudian banyak berdzikir kepada Allah. Dengan sekuat tenaga aku meminta perlindungan kepada Dzat Yang Maha Suci.
Alhamdulillah. pertolongan Allah memang tak pernah telat. Ada sebuah titik balik yang membuat aku berputar seratus delapan puluh derajat. Tentunya dengan proses yang tidak singkat.
Ada rutinitas lain yang lebih menyenangkan dibandingkan menjadi secret admirer laki-laki shaleh itu.
Ada aktivitas yang lebih membuat hati ini tenteram dan nyaman.
Allah berkehendak, hingga akhirnya aku bergabung bersama para pejuang dakwah. Melakukan berbagai kegiatan sosial yang membuat hariku senantiasa berwarna. Berkenalan dengan orang-orang hebat yang begitu visioner. Berjuang untuk islam, bukan untuk jabatan atau pun posisi. Yaa, mulai saat itu aku menikmati hidup dengan penuh semangat juang, dengan tak hanya berpangku tangan. Benar adanya, hatiku menjadi kian khusyu’ untuk menegakkan agama Allah. Aku begitu bersemangat untuk senantiasa berdo’a pada Allah, agar ketika Allah cabut nyawa ini, aku berada dalam kondisi keimanan tertinggi dalam siklus kehidupanku.
Karena bagaimana cara kita hidup, begitulah cara kita mati. Bagaimana cara kita mati, begitulah cara kita nanti dibangkitkan. Dan bagaimana cara kita dibangkitkan, begitulan gambaran kehidupan kita diakhirat kelak.
Akhir-akhir ini, aku menjadi kian bersemangat untuk mendirikan shalat di sepertiga malam. Memohon ampunan kepada Allah, atas semua goresan tinta kelam yang pernah aku ukir dalam buku kehidupanku. Maha Besar Allah, sejak diriku begitu bersemangat untuk mengatur aktivitas malam ku dengan beribadah, Allah jua mudahkan segala urusanku di kala siang. Ya Rabb, mudahkan hamba yang begitu hina dina dihadapan-Mu, agar bisa meraih ridha-Mu dan jauhkanlah  hamba-Mu ini dari siksa api neraka. Ya Rabb, izinkan hamba untuk senantiasa mengingat-Mu dan menghujamkan rasa cinta kepada-Mu di setiap waktu, termasuk dalam diamku.
*pojok hati anak remaja

0

[173] Kontributor Sayembara KDKD


Layaknya anak kecil kebanyakan, aku pun suka sekali jika mendapatkan kiriman/paket entah dari siapa. Baik itu via POS, atau pun agen pengiriman lainnya. Sadar sih, usia uda nggak bisa dibilang kecil lagi, uda seperempat abad, hihihi. Tapi, rasa ‘seneng’ ketika mendapat paket masih saja asik untukku. Meskipun kalau dikonversi ke nilai rupiah, barangkali tak seberapa, tapi seru aja gitu dapet paketan.

Dari zaman kecil, aku jarang banget dapet kiriman paket, hiii, mau dapet kiriman darimana coba, keluarga bisa dijangkau hanya dengan beberapa menit. Juga keluarga dari kedua orangtuaku, budhe, pakdhe, dan lainnya. Trus, aku suka kepengen gitu liat teman yang suka dapet paketan dari keluarganya. Padahal bisa jadi teman-temanku malah kepengen jadi kaya aku, yang nggak pernah dapet paketan dari keluarga. Karena artinya, aku bisa bertemu dengan kedua orangtuaku setiap pulang sekolah, aku bisa berkunjung ke kerabat tanpa harus bayar tiket.

Yaps, seiring berjalanannya waktu, kami mulai berpencar kesana-kemari, khususnya dari keluarga inti-ku. Aku sebagai anak pertama, udah lintas pulau dari keluarga Mamak di Jawa. Sekarang aku di tinggal di Gorontalo, karena terkait pekerjaan (sebut saja BPS), dan tentunya karena kehendak Allah. Adekku perempuan, sekarang masih kuliah di STAN Jakarta. Yang satu lagi masih SMP, masih tinggal sama Mamak dan Bapak.

Berkaitan dengan geografis inilah, akhirnya aku kerapkali dapet kiriman paket, baik dari keluarga di Jawa, maupun dari onlineshop. Hiii, jujur sih, aku jadi sering banget belanja via online, karena alasan ini itu. Berdalih, barang belum ada di Gorontalo atau perkara compare kualitas.

Naah, siang ini ada yang beda dari biasanya. Barusan ada anak PKL (yang sedang magang di kantor) datang ke ruanganku. Yaps, dia mengantarkan paketan untukku. Paketan yang uda dinanti-nanti saking norak nya diriku. Kiriman itu dari Penerbit Wahyu Qolbu. Isinya jilbab, goodiebag, pin, dan buku berjudul ‘Kutinggalkan dia karena DIA’. Intinya, kiriman satu paket merchandise dari panitia.

10727542_1412940779004828_40652725_n

Jadi ceritanya aku menjadi salah satu kontributor di buku itu. Berawal dari sayembara yang diadakan penerbit wahyu qolbu dan dunia jilbab. Finally, aku memutuskan untuk ikut, alhamdulillah, atas izin Allah menjadi salah satu dari 15 peserta yang terpilih. Yaa, meskipun tulisanku hanya mengisi sekitar 11 halaman dari 1 buku, senengnya uda nggak ketulungan, hihihi. Bener-bener norak akut.

Buku ‘Kutinggalkan dia karena DIA’ bisa ditemui di gramedia seluruh indonesia in syaaAllah. Bisa juga langsung ke republika fiksi.

Bismillah, semoga Allah ridha.Semoga isinya bermanfaat. Ya Rabb, hamba hanyalah hamba-Mu yang hina dina dihadapan-Mu….