0

[194] Diundang Allah


Kayaknya udah lama banget saya nggak ‘login’ di kuliah online wisata hati. Tetiba hati tergerak untuk kemudian mencoba mengingat-ingat kombinasi huruf dan angka, apa usernamenya, apa pula passwordnya.

Alhamdulillah, masih diizinkan untuk login.

Dalam tulisan ini, saya ingin me-repost tulisan dari Ust. Yusuf Mansur. Judulnya “Diundang Allah”. Semoga tulisan ini bermanfaat, aamiin.

Diundang Allah

Bangganyaaaaa diundang Gubernur, Presiden, Menteri, Orang Kaya…

Tapi ga bangga diundang Allah…

Allah Mengundang kita. Memanggil kita. Lewat azannya muadzdzin. Lewat panggilan shalat. Ga tangung-tanggung. Allah Memanggil kita langsung ke “Kediaman-Nya”. Ke Rumah-Nya. Ke Istana-Nya. Ke Masjid-Nya. Kita diistimewakan, bisa datang sebelum waktunya, dan dilayani Allah dengan Allah menerima siapa yang mau shalat duluan. Disediakan oleh Allah shalat sunnah tahiyyatul masjid, sebelum tiba masuk shalat fardhunya, sebagai Grand-Meeting sama Allah. Dan kita diperbolehkan-Nya berdoa, sebelum berdoa setelah menyembah-Nya di waktu shalat fardhu datang, dengan melaksanakan shalat fardhu. Allah jamu kita tanpa membeda-bedakan siapa kita. Siapa yang datang duluan, dan bisa duduk di shaf 1, silahkan di shaf 1. Dan Allah tidak membatasi waktunya. Silahkan jika mau berlama-lama. Subhaanallaah.

Tapi kita ga memenuhi undangan Allah ini.

Kalaupun memenuhi Undangan-Nya, datangnya ga sepenuh hati. Datangnya tidak dengan badan yang wangi. Datangnya tidak dengan pakaian yang istimewa, bersih, dan wangi pula, dan datangnya males-malesan, ogah-ogahan, sisa energi terakhir, dan dalam keadaan letih, plus mungkin pula: ngantuk.

Sekali lagi, Allah Mengundang kita untuk shalat menghadap-Nya. Untuk bertemu-Nya. Dan kita ini diundang sebenernya langsung ke Rumah-Nya. Ke Istana-Nya. Yakni ke Masjid-Nya. Tapi ya ampuuuuuuunnn… Kita ini bener-bener ga kenal Allah. Ga kenal Rumah-Nya. Ga kenal Istana-Nya. Maka jadilah seperti yang saya tulis ini. Dan ini terjadi sama saya. Ya Allah…

Maka tulisan ini untuk saya.

Ampuni saya ya Allah. Dan ampuni semua orang yang sudah melalaikan Panggilan-Mu. Melalaikan Undangan-Mu. Melalaikan Perintah-Mu. Ampuni kami yang begitu menyepelekan shalat 5 waktu. Jika undangan yang kaya yang berkuasa begitu kami perhatikan, kami pakai pakaian yang habis dilaundry, atau bahkan baru. Kami perlakukan sebagai undangan sangat-sangat istimewa yang harus diabadikan, dicatat dalam sejarah, dibicarakan hingga anak cucu, dipajang fotonya, ga boleh sakit, ga boleh macet, ga boleh ketinggalan, maka kami malu ya Allah. Kami beristighfar. Macam apa kami memperlakukan Diri-Mu dan Panggilan-Mu? Macam apa kami memperlakukan Diri-Mu dan Undangan-Mu? Macam apa kami perlakukan Diri-Mu dan Perintah-Mu. Yaa Allah, maafkan kami…

Coba jajal hal berikut ini:

  1. Siapin persiapan fisik. Insya Allah, fisik oke, hati oke, kan tambah sip. Siapkan pakaian terbaik untuk menghadap Allah. Orang-orang betawi saleh zaman dulu bahkan mengganti pakaian dalam. Maaf ya. Padahal pakaian dalam itu ga kelihatan sama manusia. Tapi kata orang-orang tua betawi saleh zaman dulu, pakaian dalam pun dilihat Allah. Makanya zaman dulu, betawi-betawi tua, yang sekarang tentunya udah pada almarhum, pada salin di masjid. Salin kaen, salin baju, salen daleman. Subhaanallaah.
  2. Siapin minyak wangi. Tanpa alkohol. Untuk membedakan ketemu manusia dengan ketemu Allah.
  3. Menyengaja datang dengan bergembira. Riang. Bahwa yang kita datangi adalah Allah, Yang Telah Memberikan Segala Ni’mat-Nya untuk kita. Yang kita datangi adalah Yang Sudah Memanjangkan umur kita. Yang kita datangi adalah Yang Sudah Menjamin Kebutuhan dan Keperluan kita. Dan yang kita datangi adalah Yang Pasti Bisa Membantu kita asal Allah Berkehendak Membantu kita.
  4. Perhatikan kerapihan diri, kerapihan fisik. Buat saya, ini penting. Ngadep manusia aja super rapih, super keren, super wangi. Malah kadang pakaiannya adalah pakaian baru yang baru selesai dijahit, dibeli, dilaundry. Ubah ini. Ke Allah, harus lebih keren lagi. ke manusia, dipake tuh dasi, jas, kemeja cakep. Ke Allah, cukup dengan kaos, pakaian training/olahraga, kemeja lecek. Maasyaa Allah.
  5. Datangnya sebelum Allah Mengundang. Datang duluan. Pas azan tiba, kita harus usahakan kita udah di atas sajadah, sudah di Masjid, sudah selesai tahiyyatul masjid, berdoa, dan lain-lain zikir. Insya Allah jika dilakukan berturut-turut, tiada putus, tiada lelah, tiada merasa cape, istiqomah, ga mengeluh, insya Allah akan kelihatan perubahan dalam hidup.

Seperti kita mendatangi orang kaya, harusnya lebih dari itu kita datang kepada Allah. Kita bener-bener perlu sama Allah, dan perhatikan adabnya dalam menghadap Allah.

(Oleh Ust. Yusuf Mansur)

4

[193] Shadow Economy


Saat aku menulis tulisan ini, aku masih juga belum selesai membaca karya Tere Liye yang berjudul ‘PULANG’. Dan aku pun berniat untuk menyelesaikannya. Sebuah buku yang membuatku tertohok, bahkan sejak di awal-awal kisah.

Untitled

Aku dan suami memang gemar membeli novel akhir-akhir ini, entahlah angin apa yang membuat suamiku ikutan candu membaca novel. Bahkan menjadi rekor, beberapa novel yang dibeli, telah tuntas dibaca suami, tapi belum juga terjamah olehku. Juga beberapa novel terjemahan. Sungguh aku sempat bertanya berulang-ulang, “apakah beliau baik-baik saja?”. Termasuk buku berjudul PULANG ini.

 Berkebalikan dengan awal-awal pernikahan, dulu aku lah yang khusyu’ meminta izin suamiku untuk membawa novel ke kasir. Saat itu suamiku terbiasa membaca di sudut ruangan toko buku, membaca tentang arsitek, fotografi atau hal lain yang begitu sulit aku jangkau. TAPI, bekebalikan dengan beberapa kurun waktu terakhir. Beberapa hari yang lalu, aku dan suami main ke toko buku. Seperti biasanya, suamiku menghampiri komputer yang nangkring di dinding, mengetik sesuatu, dan memasang wajah sedikit lesu jika buku yang dinanti-nanti belum jua ada di toko buku ini. Sebagaimana kemarin, suamiku pun menyodorkan 2 judul novel ke arahku meminta pendapat dan tanda setuju, sedang aku hanya menghabiskan waktu untuk membaca judul buku aneka resep masakan. Tapi hasilnya nihil. Tak ada satu judul pun yang menarik perhatianku, hingga aku tertarik untuk membeli DVD senam hiphop yang nangkring di barisan sebelah rak buku masak-masakan, dengan niat untuk olahraga indoor, demi membakar kalori. Semoga Allah ridha dengan perniagaan kami, aamiin.

Sepulang dari toko buku, aku tertarik untuk sekedar membolak-balik buku yang dipilih suamiku. Hingga akhirnya aku memabca buku PULANG tersebut. Tentu saja suamiku tidak komplain, karena beliau sedang asyik membaca novel yang satu lagi.

Saat aku menulis tulisan ini, aku masih juga belum selesai membaca karya Tere Liye yang berjudul ‘PULANG’. Sebuah buku yang membuatku tertohok, bahkan sejak di awal-awal kisah.

Pengetahuanku memang begitu sempit, apalah yang aku tahu tentang perekonomian, nol besar, aku tak tahu apa-apa. Meskipun dalam setiap tahunnya aku menulis publikasi berkaitan dengan perekonomian salah satu kabupaten. Buku yang memaparkan tentang seberapa besar Produk Domestik Regional Bruto baik berdasarkan harga nominal, ataupun harga konstan, juga tentang pertumbuhan ekonomi, distribusi perekonomian, indeks implisit serta lajunya, dan aku berusaha untuk menghitung angka-angka itu, hingga angka itupun rilis. Sebuah buku yang terbit dengan nilai serba estimasi, karena begitu sukarnya mendapatkan data-data tersebut di lapangan. Mencoba menghitung dengan metode pendekatan terbaik, mengumpulkan data-data dari berbagai sumber, dan sebagainya. Hingga, aku pun membaca berulang-ulang, ketika Tere Liye mengupas tentang shadow economy di dalam novel PULANG. Hubungan antara PDRB dan shadow economy……..

Karya-karya Tere Liye selalu membuat aku ternganga. Kagum dengan semua pengetahuannya yang ia tuangkan melalui karya-karyanya. Oh ya, aku juga suka banget dengan buku berjudul RINDU karya Tere Liye. Yuk membaca:)

0

[191] Liburan ke Makassar


Di penghujung tahun 2015 lalu, kami (aku dan suamiku) memutuskan untuk berlibur. Entah angin apa yang berhembus ke neurit dan dendrit kami, hingga kami berkesimpulan bahwa kami memerlukan refreshing sejenak. Mengingat padatnya kegiatan selama tahun 2015, khususnya dipertengahan tahun, hingga membuat suamiku [sempet] kurus untuk beberapa bilangan waktu. Dan usut punya usut, inilah liburan pertama kami selama kami menikah, maksudnya liburan yang bener-bener harus menginap dan bawa baju ganti, hehehe. Atau bisa dikatakan sebagai honeymoon yang sempat tertunda selama lebih dari 3 tahun.

Setelah berdiskusi panjang lebar, kami memutuskan dengan kilat, bahwa kami akan berlibur ke Makassar. Bermodal nekad, dan mencari informasi via google dengan sangat mendadak. Malam hari packing sembari googling, paginya kami berangkat.

Pagi-pagi sekitar pukul 8 pesawat kami landing di Bandara Sultan Hasanudin. Dan memang telah direncanakan sebelumnya bahwa kami hendak mencicipi Kondro Karebosi yang konon legendaris itu, tapi pas kami tiba si pedagang belum buka, akhirnya kami makan di kios depan Kondro Karebosi. Kami beruntung, kondro bakar yang kami lahap sungguh lezat.

1

kondro karebosi

 

Kami memulainya dari Benteng Routerdam, kemudian berlanjut istirahat di Red Planet hotel, dan sorenya ke Pantai Losari. Menikmati semilir angin di tepi pantai, hingga makan malam di salah satu resto sekitar pantai.

Sesuai rencana sebelumnya, kami berdua sungguh ingin melihat masjid terapung yang ada di area Pantai Losari, memastikan apa benar terapung apa tidak, heheee.

Intinya sih, kami cuma banyak foto-foto, hape suami, hp ku, plus dslr, hehe.

 

 

Hari kedua, awalnya kami berniat pergi ke Tanjung Bira, ke  pantai pasir putih sekaligus melihat langsung pembuatan kapal phinisi. Tapi opsi itu tidak terealisasi mengingat jarak tempuh ke Bira memakan cukup banyak waktu. Sedangkan kami di Makassar hanya 3 hari. Ada juga opsi ke Toraja, tapi agak horor juga melihat mayat-mayat, heee. Opsi lain ke Pulau Samalona, tapi honor juga dengan ombak di bulan-bulan akhir tahun. Akhirnya kami memilih opsi untuk berpetualang ke Taman Nasional Bantimurung.

Alhamdulillah, bersyukur bisa sampai ke Bantimurung, melihat kuasa Allah. Ada banyak kupu-kupu di sana, dan aku heboh banget pas lihat kupu-kupu hahaaa. Minta difoto dengan berbagai gaya haaa. Selain itu udara di sana juga nyaman, ada air terjun, dan gua yang sungguh luas dan panjang. Kami pun menyempatkan untuk masuk ke gua itu, sungguh gelap, dan di dalam gua aku jadi teringat pesan dari Ustadz, “di gua itu gelap, sungguh gelap, tak ada cahaya matahari yang bisa masuk ke dalam gua, berjalan pun tak tentu arah nabrak sana-nabrak sini ketika kita berjalan dalam gua tanpa cahaya penerangan. Ibarat ketika kita menjalani hidup di dunia, semua gelap ketika kita tak mendapat cahaya yaitu petunjuk dari AL Qur’an.”

 

Malamnya kami mencicipi Palubasa Srigala yang konon terkenal enak dari googling, dan ternyata aku kurang suka dengan palubasanya heee

Dan di hari ke tiga, pagi-pagi kami pergi ke pantai Losari *lagi, berlanjut ke trans studio hingga sore. Malamnya mencoba makan mi titie yang aku kira enak karna punya banyak cabang…heee ternyata kurang pas di lidah kami, harga dan porsi yang tidak jelas.

14

mi titi

11

palubasa srigala

Oh ya, sepanjang kami di Makassar, kami stay di red planet hotel. Alhamdulillah cukup nyaman dengan harga yang waktu itu nyaman di kantong karena kami mendapat diskon dari travel…

12

15

Heee…itulah catatan ringkas dari traveling kami. Mohon maaf kalau ngalor ngidul hehe…

Ohya, kami juga sempat mencoba naik damri saat keluar bandara, salah satu alternatif lain selain naik taxi. Kami juga mencoba busway nya makassar. Intinya sih seru.

Semoga Allah ridha dengan tafakkur kami. Aamiin.

2

[190]Ruang Tunggu


Malam itu. Serupa dengan putaran kaset yang tak kunjung berujung.

Hatiku masih tetap sama. Dingin, tapi tidak beku. Sama halnya dengan lelaki tampan di sebelahku. Lantas kami tersenyum, tergelak bersama. Berdiskusi untuk hal yang penting sampai hal yang tidak penting sekalipun. Menikmati segala bentuk keindahan lukisan malam. Sesekali menongok bintang gemintang, memastikan mereka masih setia di sana.

Ruang tunggu… Pendingin ruangan serta barisan kursi, seolah menceritakan kepada kami akan banyak hal. Tentang rerumputan yang dulu pernah menjadi teman terbaiknya, saat kursi-kursi itu masih berwujud sebatang pohon. Tampak asyik menari tertiup angin. Ahh, sungguh mempesona.

Ruang tunggu… Pintu kayu berwarna coklat, pintu kaca dengan beningnya. Silih berganti menjejaliku dengan pertanyaan. Dan dalam keyakinanku, aku tidak lebih tau dari mereka. Yang sama-sama berada di ruang tunggu.

Ruang tunggu… Untuk sekeping benda dengan berbagai rupa 4 dimensinya, warna-warni, besar-kecil.

Malam nan dingin, semakin dingin.

 

–ruang tunggu–

2

[189] Menulis Buku


“Menjadi penulis” adalah sebuah cita-cita besar yang ingin aku capai. Semoga Allah membimbingku untuk mewujudkannya, menjadi pejuang berpedang pena, mengail pahala  dari rangkaian kata-demi kata. Berharap, tulisan itu akan menjadi pemberat amal baik di yaumul hisab kelak.

Dan hingga saat ini, bahkan di usiaku yang telah menginjak 26 tahun, aku belum lah menjadi apa-apa. Masih saja menjadi daging bernyawa dengan rutinitas semu. Sok sibuk tanpa goals yang nyata. Berasa jalan ditempat, terbuai dengan fatamorgana dunia.

Jujur, sejujurnya aku sangat senang tiada tara saat itu. Betapa Allah maha baik. Saat aku membaca informasi bahwa tulisanku masuk sebagai salah satu kontributor dalam buku “Ku Tinggalkan dia Karena DIA” yang diterbitkan oleh Wahyu Qolbu. Aku senang, senang sekali, bak anak kecil yang mendapat sebutir permen dari ibunya.

Meskipun aku juga sadar, itu hanyalah sebuah pencapaian kecil, dan tentu saja banyak yang menganggap itu hanyalah hal yang biasa-biasa saja. Nggak ada istimewa-istimewanya. Yaa, aku menyadari itu. Karena, prioritas seseorang untuk menempatkan sebuah penghargaan tentu tidak sama antara orang yang satu dengan orang yang lain. Seperti halnya aku menganggap ‘bisa mengendarai sepeda’ adalah hal yang biasa-biasa saja, tapi bisa jadi ‘bisa mengendarai sepeda’ adalah hal yang begitu istimewa bagi orang lain.

Oke, lanjut ke cerita bahagiaku, hehe. Jadi pengumuman kontributor itu ada di web wahyuqolbu, penampakannya seperti ini:

kdkd 2Namaku ada di nomor 2, tapi sepertinya itu urutan bukan berdasarkan peringkat, jadi nomor 2 bukan berarti terbaik ketiga, bisa jadi terbaik ke 15 hehee.

Naaah, bukunya bisa didapatkan di Gramedia di seluruh Indonesia. Dan jujur, aku seneeeng banget waktu nemu buku ini uda nangkring di rak buku gramedia di provinsiku (norak banget ya, haha).

Penampakan sampulnya seperti ini, (pict nya ngambil dari google)

10854248_881015398605206_4077352940301962178_o(ini juga dari google)

B81LN1lCMAEEsAJIni dia kutipan ceritaku…..

kdkd

Naah, meskipun tulisanku hanya ada beberapa lembar saja, tapi aku sungggguh senang. berharap isi tulisan itu diridhai Allah, aamiin. Bukan malah membuat Allah murka, aamiin.

0

[188] Suwiran Hati


image

Ibarat kaca pecah, ia terserak berkeping-keping menjadi potongan yg lebih kecil, hingga tak terhitung berapa jumlahnya.

Kini ia telah kalah untuk kesekian kalinya. Hatinya perih, sakit, kecewa, entahlah. Pantas dan layakkah ia merasakan rasa ini?

Merasa dibohongi oleh orang yang sangat ia percaya dalam hidupnya. Untuk kesekian kalinya. Dan kini ia menyerah. Ia kalah. Kaca di hatinya terlanjur pecah berkeping. Meskipun kini, kaca itu telah kembali menyatu dengan balutan double-tip yang rapuh, untuk kesekian kalinya. Yang juga siap terhempas kembali dengan mudahnya.

Duhai engkau, betapa sulitkan untuk mengungkapkan apa adanya. Sesulit apapun, semua akan lebih baik didiskusikan di awal waktu. Bukankah seberapa tinggi rasa ketakutan untuk mengungkapkan kepadanya, seberapa tinggi rasa takut yang engkau tumpuk itu menunjukkan seberapa tinggi rasa ketidakpercayaanmu pada dirinya? Karena double tip tak kan mampu merekatkan serpihan hatinya seperti sedia kala.

_reminder_