0

[175] Kiamat Kecil


20150124_174042

Memang bukan suatu yang mudah untuk bisa mengimajinasikan bahwa setiap kita pasti akan mati. Meninggalkan segala bentuk kemewahan dan juga gemerlap dunia.

Yaa, jika hari ini kita mendengar informasi ada orang yang meninggal dunia, jika saat ini kita menziarahi orang yang meninggal dunia. Yakinlah, bahwa suatu ketika ‘kita’ yang akan meninggal dunia, dan akan diziarahi seperti kita menziarahi yang meninggal kemarin.

Yakinlah bahwa setiap kita akan merasakan huru hara hari kiamat. Apakah kiamat besar dalam bentuk masal ataukah kiamat kecil dalam bentuk kematian setiap orang.

Sebuah nasehat dari seorang Syaikh Tantowi yang sudah diterjemahkan dengan terjemahan yang baik. InsyaaAllah.

Saya senang membaca nasehat ini dengan membaca lirih, bukan dalam hati. Berasa lebih menghayati, semoga Allah ampunkan dosa-dosa ini.

Pada saat engkau mati janganlah kau bersedih. Jangan pedulikan jasadmu yang sudah mulai layu. Karena orang-orang islam akan mengurus jasadmu. Mereka akan melucuti pakaiannmu, memandikanmu, dan mengafanimu, lalu membawamu ke tempatmu yang baru yaitu kuburan. Akan banyak orang yang mengantar jenazahmu bahkan meraka akan meninggalkan pekerjaannya untuk ikut mengubur kamu dan mungkin banyak yang sudah tidak lagi memikirkan nasehatmu pada suatu hari.

Barang-barangmu akan dikemas . Kunci-kuncimu , buku-bukumu, koper-kopermu , sepatumu dan pakaianmu. Jika keluargamu setuju, barang-barang itu akan disedekahkan agar bermanfaat buat kamu

Yakinlah. Dunia dan alam semesta tidak akan bersedih dengan kepergian kamu. Ekonomi akan tetap berlangsung. Posisi pekerjaanmu akan diisi oleh orang lain. Hartamu menjadi harta halal bagi ahli warismu. Sedangkan kamu akan dihisab dan akan diperhitungkan untuk yang kecil dan yang besar dari hartamu . Kesedihan atasmu ada 3. Orang yang mengenalmu sekilas akan mengatakan kasihan. Kawan-kawanmu akan bersedih beberapa jam atau beberapa hari, lalu mereka kembali seperi sedia kala dan tertawa-tawa lagi. Begitu juga anak-anakmu. Di rumah, di rumah ada kesedihan yang mendalam. Keluargamu akan bersedih seminggu, dua minggu, sebulan, dua bulan dan mungkin sampai setahun. Selanjutnya mereka akan meletakkanmu dalam arsip kenangan.

Demikianlah kisahmu telah berakhir di tengah-tengah manusia. Dan kisahmu yang sesungguhnya baru dimulai, yaitu akhirat. Telah musnah kemuliaan, habis semua harta, kesehatan bahkan anak. Telah engkau tinggalkan rumah, istana dan keluarga tercinta. Kini hidup yang sesungguhnya telah dimulai . Pertanyaannya adalah. Apa persiapanmu untuk kuburmu dan akhiratmu? Hakikat ini memerlukan renungan. Usahakan dengan sungguh-sungguh, menjalankan kewajiban-kewajiban, hal-hal yang disunnahkan, sedekah secara rahasia, merahasiakan amal shaleh, shalat malam sendirian, semoga saja engkau selamat. Andai engkau sekarang masih hidup maka perbaikilah hidupmu saat ini juga.

 *Tulisan ini saya kutip dari materi kajian tadabbur surah At Takwir di Pondok Indah yang disampaikan oleh Ust. Bachtiar Nasir. Karena materi kajiannya banyak, saya hanya mengutip sebagian kecil dari materi kajian tersebut. Semoga Allah ridha.

0

[174] Mencintaimu Dalam Diam


Saat ini aku mengalami persoalan yang menurutku lebih sulit dibandingkan menyelesaikan persamaan kuadrat atau pun cacing-cacing limit itu. Karena, semua logika matematika bisa ku babat habis saat ujian kelulusan SMA dua tahun silam, tentunya atas izin Allah.
Namun, kali ini aku menemui persoalan yang lebih sulit dari ujian Statistik Matematik dengan berbagai teori rumitnya itu. Soal-soal Statistik Matematik dengan berbagai rumus gila nya, cukup membuat aku keriting. Jujur, aku pernah jungkir balik untuk sekedar memahami rumus di buku tebal berbahasa asing itu. Hingga akhirnya aku pun lulus dengan nilai yang  tak begitu layak. Sembilan. Tapi terbalik. Yaa, enam. Di semester tiga saat kuliah kemarin.
 Namun, sekarang, ada yang lebih rumit lagi dibanding itu semua. Dan sampai saat ini aku belum bisa menyelesaikannya. Perkara ‘hati’.
Jujur, aku pernah menjadi secret admirer. Menjadi perempuan yang begitu alay. Memandang segala tindak tanduk laki-laki berambut ala iklan sampo itu dari kejauhan. Mantengin statusnya di sosial media, yang sejujurnya, jarang banget status itu di update. Tak taukah ia disana bahwa aku begitu menanti update-tan statusnya? Yaaa, menurut hipotesaku, dia memang tipe yang tak terlalu heboh dengan gemerlap sosmed, yang bahkan saat itu sosmed menjadi oksigen bagi remaja kebanyakan. Tapi pemuda itu memilih untuk ‘berbeda’. Ia melakukan hal yang lebih produktif dibandingkan dengan penggila smartphone.
Jujur, aku menikmati rutinitas baruku sebagai petugas monitoring akun sosmed nya. Bahkan aku sering cengar-cengir nggak karuan karena membaca sesuatu di monitor. Kadang aku juga merasa sebel bercampur cemburu ketika ada perempuan lain yang terlihat berkomunikasi dengannya di sosmed. Aneh memang, tak ada hak atasku untuk meletakkan secuil rasa cemburu kepada laki-laki yang bukan siapa-siapaku.
Namun, aku masih saja kalap. Seolah, aku pun tak mau terlewat barang sepatah kata pun dari status yang ia tulis. Laki-laki kelahiran Banyumas itu telah sukses mencuri hatiku dengan berbagai bentuk keshalihan yang melekat pada dirinya.
Aktivitas menjadi petugas monitoring itu berjalan kurang lebih satu tahun. Aku begitu detail. Bahkan bisa dibilang aku lebih jeli dari bos besar yang sedang mengintai aktivitas pegawainya. Lebih  teliti dibandingkan seorang akuntan ketika merekap laporan keuangan.
Hmmmm, aku hanya bisa menghala nafas panjang untuk kemudian banyak berdzikir kepada Allah. Dengan sekuat tenaga aku meminta perlindungan kepada Dzat Yang Maha Suci.
Alhamdulillah. pertolongan Allah memang tak pernah telat. Ada sebuah titik balik yang membuat aku berputar seratus delapan puluh derajat. Tentunya dengan proses yang tidak singkat.
Ada rutinitas lain yang lebih menyenangkan dibandingkan menjadi secret admirer laki-laki shaleh itu.
Ada aktivitas yang lebih membuat hati ini tenteram dan nyaman.
Allah berkehendak, hingga akhirnya aku bergabung bersama para pejuang dakwah. Melakukan berbagai kegiatan sosial yang membuat hariku senantiasa berwarna. Berkenalan dengan orang-orang hebat yang begitu visioner. Berjuang untuk islam, bukan untuk jabatan atau pun posisi. Yaa, mulai saat itu aku menikmati hidup dengan penuh semangat juang, dengan tak hanya berpangku tangan. Benar adanya, hatiku menjadi kian khusyu’ untuk menegakkan agama Allah. Aku begitu bersemangat untuk senantiasa berdo’a pada Allah, agar ketika Allah cabut nyawa ini, aku berada dalam kondisi keimanan tertinggi dalam siklus kehidupanku.
Karena bagaimana cara kita hidup, begitulah cara kita mati. Bagaimana cara kita mati, begitulah cara kita nanti dibangkitkan. Dan bagaimana cara kita dibangkitkan, begitulan gambaran kehidupan kita diakhirat kelak.
Akhir-akhir ini, aku menjadi kian bersemangat untuk mendirikan shalat di sepertiga malam. Memohon ampunan kepada Allah, atas semua goresan tinta kelam yang pernah aku ukir dalam buku kehidupanku. Maha Besar Allah, sejak diriku begitu bersemangat untuk mengatur aktivitas malam ku dengan beribadah, Allah jua mudahkan segala urusanku di kala siang. Ya Rabb, mudahkan hamba yang begitu hina dina dihadapan-Mu, agar bisa meraih ridha-Mu dan jauhkanlah  hamba-Mu ini dari siksa api neraka. Ya Rabb, izinkan hamba untuk senantiasa mengingat-Mu dan menghujamkan rasa cinta kepada-Mu di setiap waktu, termasuk dalam diamku.
*pojok hati anak remaja

0

[173] Kontributor Sayembara KDKD


Layaknya anak kecil kebanyakan, aku pun suka sekali jika mendapatkan kiriman/paket entah dari siapa. Baik itu via POS, atau pun agen pengiriman lainnya. Sadar sih, usia uda nggak bisa dibilang kecil lagi, uda seperempat abad, hihihi. Tapi, rasa ‘seneng’ ketika mendapat paket masih saja asik untukku. Meskipun kalau dikonversi ke nilai rupiah, barangkali tak seberapa, tapi seru aja gitu dapet paketan.

Dari zaman kecil, aku jarang banget dapet kiriman paket, hiii, mau dapet kiriman darimana coba, keluarga bisa dijangkau hanya dengan beberapa menit. Juga keluarga dari kedua orangtuaku, budhe, pakdhe, dan lainnya. Trus, aku suka kepengen gitu liat teman yang suka dapet paketan dari keluarganya. Padahal bisa jadi teman-temanku malah kepengen jadi kaya aku, yang nggak pernah dapet paketan dari keluarga. Karena artinya, aku bisa bertemu dengan kedua orangtuaku setiap pulang sekolah, aku bisa berkunjung ke kerabat tanpa harus bayar tiket.

Yaps, seiring berjalanannya waktu, kami mulai berpencar kesana-kemari, khususnya dari keluarga inti-ku. Aku sebagai anak pertama, udah lintas pulau dari keluarga Mamak di Jawa. Sekarang aku di tinggal di Gorontalo, karena terkait pekerjaan (sebut saja BPS), dan tentunya karena kehendak Allah. Adekku perempuan, sekarang masih kuliah di STAN Jakarta. Yang satu lagi masih SMP, masih tinggal sama Mamak dan Bapak.

Berkaitan dengan geografis inilah, akhirnya aku kerapkali dapet kiriman paket, baik dari keluarga di Jawa, maupun dari onlineshop. Hiii, jujur sih, aku jadi sering banget belanja via online, karena alasan ini itu. Berdalih, barang belum ada di Gorontalo atau perkara compare kualitas.

Naah, siang ini ada yang beda dari biasanya. Barusan ada anak PKL (yang sedang magang di kantor) datang ke ruanganku. Yaps, dia mengantarkan paketan untukku. Paketan yang uda dinanti-nanti saking norak nya diriku. Kiriman itu dari Penerbit Wahyu Qolbu. Isinya jilbab, goodiebag, pin, dan buku berjudul ‘Kutinggalkan dia karena DIA’. Intinya, kiriman satu paket merchandise dari panitia.

10727542_1412940779004828_40652725_n

Jadi ceritanya aku menjadi salah satu kontributor di buku itu. Berawal dari sayembara yang diadakan penerbit wahyu qolbu dan dunia jilbab. Finally, aku memutuskan untuk ikut, alhamdulillah, atas izin Allah menjadi salah satu dari 15 peserta yang terpilih. Yaa, meskipun tulisanku hanya mengisi sekitar 11 halaman dari 1 buku, senengnya uda nggak ketulungan, hihihi. Bener-bener norak akut.

Buku ‘Kutinggalkan dia karena DIA’ bisa ditemui di gramedia seluruh indonesia in syaaAllah. Bisa juga langsung ke republika fiksi.

Bismillah, semoga Allah ridha.Semoga isinya bermanfaat. Ya Rabb, hamba hanyalah hamba-Mu yang hina dina dihadapan-Mu….

0

[172] Mesin Jahit Janome 380


Punya mesin jahit, tapi jarang digunakan tuh rasanya nggak nyaman banget. Dan, aku sendiri mengalaminya. Saat ini, aku masih kesulitan untuk membagi waktu, untuk kemudian bisa belajar menjahit dengan benar. Yang lebih nggak nyaman lagi, itu adalah mesin jahit kedua yang dibelikan oleh suamiku. Betapa beliau sangat mendukungku agar aku bisa berkarya. Lengkap sudah, rasa bersalahku apabila tidak memanfaatkan dengan baik terkait keberadaan si mesin jahit tersebut.

Pada awalnya, aku dibelikan mesin jahit mini, sew mini sew. Aku sendiri yang memilihnya, harga plus ongkir ke Gorontalo waktu itu kurang lebih 850 ribu rupiah. Mesin ini menurutku lumayan cocok untuk pemula sepertiku. Selain harganya terjangkau, mesinnya pun mudah untuk dioperasikan. Kelemahannya, mesin ini kurang cocok untuk menjahit bahan yang lumayan tebal. Bisa dikatakan, nggak bisa untuk jahit yang tebel-tebel. Trus, aku suka kebingungan kalau ditanya orang, merknya apa? Huaaaa, itu adalah salah satu pertanyaan yang begitu sukar. Coba lihat di kardusnya? Heee, entahlah apa merknya mesin ini. Ada kardusnya sih, tapi aku pun kurang paham apa merknya. Beberapa temanku juga mempunyai mesin jahit warna ungu, sekilas begitu mirip dengan mesin ini. Tapi ternyata berbeda-beda. Ada satu, dua, tiga orang yang aku tahu punya milik mesin ungu ini. Kisaran harganya juga mirip, tapi ada yang merk janome dll. Ceritanya aku ikut-ikutan untuk membeli mesin ini, terinspirasi dari teman-teman yang begitu kreatif, secara aku yang paling amatir, hihi.

Bisa buat apa aja sih mesin ini? Beberapa karya yang bisa dihasilkan dari mesin ini bisa diintip di sini. Pernah juga membuat baju, yang hasilnya sukar untuk dideskripsikan, saking parahnya, hii, lihat di sini yak. Ini dia penampakannya, yaa meskipun gambarnya begitu ngeblur, tapi terlihat lah ya, hii.

ba0e2ccc6dfa11e388e70eb3a58c3a0f_7Setelah beberapa bulan kemudian, aku diminta sama suami tercinta, untuk membeli mesin jahit baru. Yang lebih kuat untuk menjahit kain yang tebel, ceritanya begitu. Karena waktu itu, kami berkeinginan untuk membuat produk tas atau dompet handmade  untuk kemudian dipasarkan. Sebuah proyek yang sampai sekarang belum terealisasi.

Yap, akhirnya, pilihan kami jatuh ke mesin jahit Janome 380. Penampakannya seperti ini. Kenapa memilih Janome 380? Karena pas itu aku tanya sama bapak penjualnya yang kuat untuk jahit dompet dan tas dengan harga yang miring. Bapaknya merekomendasikan mesin ini. Kata bapaknya, mesin ini cukup kokoh untuk membuat dompet , cukup handal, full besi, beratnya sekitar 8-9 kg, untuk jahit jeans bisa 5-6 lapis, spare part janome mudah dicari, ada kopernya (kopernya belum sempat terfoto di picture ini). Begitulah kira-kira ringkasan penjelasan dari pak Wahyu penjual mesin jahitnya.

10311183_461169654029426_766348565_n

Kualitas dan variasi jahitannya jauh dibandingkan dengan mesin jahitku yang pertama. Harganya saat itu (tahun 2014) 2,5 juta. Kami membeli mesinnya dari Jakarta, secara di Gorontalo belum ada yang jual (*atau kami yang belum tahu tempat jualannya, yang jelas udah muter-muter nggak nemu-nemu). Total sama ongkir nyaris 3 juta. Beruntunglah bagi temen-temen yang berdomisili di Jawa, dimana ongkirnya masih terjangkau. Atau malah bisa beli langsung ke penjualnya dengan memilih secara live.

Dari mesin jahit ini, aku pernah membuat semacam pouch seperti ini,

10731425_1483753531913262_1676777740_n10724115_343823512460220_558090667_nPouch spesial untuk suamiku, sebagai tempat peralatan mandi, sisir, dll saat pergi ke Jakarta beberapa bulan yang lalu.

Ohya, untuk spesifikasi mesin Janome 380, aku sendiri kurang begitu bisa menjelaskan, hii. Bisa search mbah google yak. Yang jelas mesin ini seharusnya bisa memberikan output yang indah, menarik, dan syar’i. Do’akan kami ya, semoga suatu ketika kami bisa berjuang bersama mesin jahit yang seringkali terlantar ini.

//

0

[171] Kreasi dari Pita dan Kain Katun


Menjadi crafter, sama sekali bukanlah sebuah cita-cita yang pernah terbesit dalam benakku semasa kecil. Jangankan mengangankan, menghargai benda handmade saja masih setengah hati. Seiring berjalannya waktu, Allah membimbingku untuk akrab dengan berbagai jenis pita dan kain. Meskipun baru beberapa jenis kain dan pita yang aku kenal, hiii. Pada awalnya, aku tertarik dengan aneka rupa-rupa karya dari kain flanel. Namun, entah mengapa, tanganku ini serasa kurang bersahabat untuk memainkan jenis kain yang satu ini. Seringkali, aku merasa kesulitan untuk membuat bentuk rupa-rupa seperti halnya yang aku liat di picture milik orang lain. Yaps, akhirnya aku hijrah untuk memainkan jenis kain yang lain. Aku memilih kain katun sebagai proyek selanjutnya. Ketertarikanku pada kain katun semakin menjadi, terlebih ketika melihat kain katun dengan corak nan cantik dengan berbagai pilihan warna dan coraknya. Yang paling aku suka adalah corak polkadot dan motif bunga-bunga. Aku sengaja menghindari corak hewan atau manusia atau tiruan manusia, semoga Allah mudahkan kami untuk bisa selektif dalam memilih kain. Aku juga sering memperhatikan corak kain, antisipasi kalau mendapat corak kain dengan selipan simbol bintang berdaun 6 atau bintang david  simbol Yahudi.

Ini dia salah satu hasil karya handmade dengan kain katun. 10852838_913559675362758_42322272_n

Aku suka melihat warna-warni kainnya. Dengan mengusung tema ‘bunga-bunga’, aku menjuluki hasil karya handmade dengan kalimat khas ‘mekar’. Bunga-bunga cuindcraft bermekaran.

Alhamdulillah, dari bros kain katun ini, ada yang memesan untuk souvenir pernikahan. Alhamdulillah. Tunggu tanggal mainnya kami upload hasil final bros yang telah dikemas cantik yak. Niatnya akan meng-upload foto souvenirnya saat hari H pelaksanaan walimahnya. Semoga Allah ridha. Aamiin.

10852575_741161442618629_317034810_n

Kalau gambar di atas ini, adalah custom order. Waktu itu ada teman kantor yang request penjepit rambut untuk anaknya yang masih berusia sekitar 1 tahun. Jadilah produk imut-imut itu.

Selain bermain dengan kain katun, sekarang aku juga mulai akrab bermain dengan pita satin. Semoga untuk kedepannya bisa menemukan supplier pita satin yang pas. Karena tempat dimana aku membeli pita satin jenis ini, stoknya udah abis, diganti dengan merk lain yang kualitasnya lebih rendah. Serupa tapi tak sama lho.

10832206_320655798128601_506596410_n

10569958_810769338964544_1985851345_n

Kalau ini adalah kombinasi antara pita satin dengan monte-monte. Kalau monte-montenya kami beli di Pasar Pagi di Mangga Dua. Waktu itu suamiku ada acara di Jakarta, jadilah diriku nitip monte-monte buanyaak. Di sana terdapat monte-monte dengan berbagai pilihan warna dan kualitas, kata suami sih begitu, heee.

Ini dia beberapa orderan yang sempat terdokumentasi.

1516740_1468962820047799_932019426_nOrderan Kalimantan

10747792_594066590720161_1721419615_nOrderan Gorontalo

10254072_540513722748408_534381132_nOrderan Depok

Untuk kardus packing-nya dibuat secara handmade juga. Spesialis pembuatnya adalah sang suami tercinta, hiii. Soalnya, aku merasa kurang ahli kalau diminta mengukur sesuatu dengan presisi yang pas begitu hiii.

Yaaps, meskipun masih paruh waktu aku bermain dengan kain dan pita, aku berniat untuk serius menggeluti bidang yang satu ini. Sepulang kantor, setelah selesai memasak, atau di saat hari libur tiba aku melepas rasa rinduku untuk kemudian bermain dengan pita dan kain. Alhamdulillah.

Tentang pengalaman menarik di dunia craft itu adalah tentang perasaan. Menurut pengalaman pribadiku, hasil karya sangat dipengaruhi oleh mood. Kalau suasana hati sedang dirundung pilu, biasanya hasil karyanya ‘kurang bagus’. Soalnya kan jadi grusa-grusu gitu buatnya, jadi setengah hati. Kalau hati ikhlas, in syaaAllah, proses dan hasilnya pun akan dimudahkan Allah.

Sering juga tertusuk jarum, kemudian berdarah. Pernah juga kena lelehan lem tembak yang begitu panas. Panas dan sakit banget waktu itu. Saat tanganku luka, aku seringkali mengingat akan api  neraka. Seperti tersebut dalam Al Qur’an bahwasanya panasnya begitu dasyat. Ya Allah, jauhkanlah kami semua dari api neraka.

Do’akan kami ya, semoga usaha ini barokah dan senantiasa dirihdai Allah. Aamiin.

0

[170] Sebuah Mimpi


10818038_400302593468187_465002507_n

Tekad itu harus dibangun dari diri sendiri. Dan setiap kita harus punya mimpi. Mimpi kita juga harus kita bayar mahal dengan semua usaha-usaha maksimal yang bisa kita lakukan.

Itulah sebuah quote yang saya tulis di kertas, kemudian kertas itu saya tempel di dinding rumah. Quote itu juga yang saya tulis sebagai ‘semacam’ pelengkap dekorasi meja kantor. Quote itu pertama kali saya dengar dari guru ngaji di AQL dalam salah satu kajiannya. Saya lupa, apakah saya dengar saat mengikuti kajian langsung, atau via streaming, atau via video hasil download. Yang jelas, atas izin Allah, kalimat itu mampu menyulut semangat saya kala saya merasa malas untuk berkerja. Bekerja dalam segala hal.

Siapa sih yang nggak punya mimpi? Nggak punya harapan untuk kemudian ingin mencapainya? Sebuah mimpi dan harapan besar dalam hidupnya yang hendak ia capai.

Seperti kisah terkenal tentang sang katak. Saya pernah menuliskan di blog ini juga, tapi saya ingin sekali menuliskannya kembali.

Alkisah ada tigabelas pejuang katak. Ya, ada tigabelas ekor katak yang sedang mengikuti sebuah perlombaan untuk mencapai puncak setinggi Himalaya, dimana puncak itu sangat licin, curam, terjal, dan sebangsanya. Siapa yang bisa mencapai puncak dialah yang menang (*yaiyaaalah, masak yang jatuh duluan yang menang). Maksud penulis barang siapa ada katak yang bisa mencapai puncak dengan waktu tercepat, maka katak tersebut akan mendapat imbalan istimewa dari panitia. Yaaaa, perlombaan dimulai, disaksikan ribuan warga katak-katak lain. Riuh suara bergemuruh menyoraki kemustahilan bisa mencapai puncak tersebut.

“Mana mungkin bisa mencapainya, itu tinggi sekali”. “Sia-sia saja berusaha mencapai puncak, tiang itu sangat licin”. “Hanya katak-katak bodoh yang mau ikut perlombaan itu, mustahil bisa mencapai puncak”.

Akhirnya, satu persatu katak-katak itu berguguran. Satu, dua, tiga, …. duabelas. Genap duabelas katak jatuh tak sukses mencapai puncak. Tapi tahukah engkau kawan? Satu ekor katak masih terus melaju ke atas menuju puncak tiang. Sedangkan para penonton masih riuh bersorak, “ aiihhh, mustahil mencapai puncak, itu hanya teori belaka”. “Sebentar lagi juga akan jatuh”.

Namun di luar dugaan, ternyata katak itu terus dan terus melaju dan sampai akhirnya mencapai puncak. Dan taukah engkau kawan? ternyata katak sang juara itu adalah katak tuli. Sehingga katak tersebut tak mendengar kata-kata dan sorakan kemustahilan dari sang penonton, menjadikan katak tersebut terus melaju dengan semangat yang ada dalam dirinya. Sehingga sorakan kemustahilan itu menjadi sugesti negatif bagi pejuang katak yang lain. Namun, bagi katak tuli itu, dimana ia sama sekali tak mendengar kata-kata kemustahilan, membuatnya hanya fokus pada tujuan.

Katak pemenang yakin bahwa bukan suatu yang mustahil untuk mencapai puncak. Yang ada dalam pikiran katak itu hanyalah terus melaju untuk menjadi pemenang dan menjadi sang juara tanpa sedikit pun mendengar sugesti negatif dari yang lain. Dia melaju dengan sugesti positif yang timbul dari dirinya sendiri. Dan katak itu benar-benar mencapai puncak dan menjadi sang juara.

Usut punya usut keduabelas katak yang jatuh itu tidaklah tuli, sehingga mereka mendengar sugesti negatif dari para penonton. Katak yang terakhir jatuh, sudah berusaha ber-acting tuli tapi ternyata acting nya kurang sempurna. Yaaaaa ia masih membaurkan sugesti negatif masuk dalam pikirannya. Berusaha tak mendengar, tapi ternyata belum sepenuhnya mampu.

Buruk kah keduabelas katak yang jatuh dan belum menjadi pemenang itu? Tidak. Sama sekali tidak. Mereka itu katak-katak hebat, tapi belum beruntung. Kenapa begitu? Mau mencoba menjadi peserta itu adalah pilihan yang luar biasa. Mau mencoba mengikuti perlombaan sebelum berucap kata menyerah. Daripada katak penonton, hanya menjadi sekedar menonton dan mencemooh.

Tekad itu harus dibangun dari diri sendiri. Dan setiap kita harus punya mimpi. Mimpi kita juga harus kita bayar mahal dengan semua usaha-usaha maksimal yang bisa kita lakukan.

//

0

[169] Fotografi?


Tentang dunia fotografi yang begitu asing bagiku. Eee tapi suka banget kalau disuruh mantengin poto-poto yg kece-kece. Poto masakan yang terlihat begitu transparan rasa lezatnya. Poto pemandangan yang apik tentang kuasa Allah dan alam semesta. Poto produk handmade juga poto produk lainnya yang terlihat elegan dan menggoda mata kala melihatnya. Alhamdulillah, Allah masih mengizinkan mata ini untuk melihat rupa-rupa pesona yang ditimbulkan oleh pantulan berbagai jenis cahaya. Semoga mata ini senantiasa diberikan hikmah sehingga melihat sesuatu yang bisa menambah pemberat amalan baik kelak. Aamiin.

Sepulang dari Jakarta beberapa hari yang lalu, suamiku membawakan oleh-oleh yang membuat diriku bertanya-tanya. Mas udah beli kameranya? Katanya uangnya belum cukup? Mas belinya dimana? Harganya berapa? Ini kamera gimana cara pakainya?

Seperti biasanya beliau seringkali mencoba  memberikan kejutan baik. Alhasil aku mencoba beberapa kali jepret dengan gaya tanganku yang masih begitu kaku  saat pegang kamera. Sebuah penuturan jujur dari suamiku. Ada rasa ingin bisa. Tapi kok ya begitu gapteknya diriku. Hampir semua fungsi di dalam kamera tak ada satupun yang aku mengerti. Setelah diberi kuliah beberapa menit sama suami yaa ngerti dikit. Diminta baca bukunya dulu biar nggak gaptek-gaptek amat, juga kurang nafsu, heee. Minta doanya kepada sahabat semuanya, semoga nanti dimudahkan sama Allah. Aamiin.

Sebenarnya keinginan beliau ingin membeli kamera udah lama ada. Secara beliau hobi sama dunia fotografi. Namun, aku sendiri yang suka bilang ‘nggak usah dulu ya, belum terlalu penting, Rosul kan nggak ngajarin kita untuk boros terutama untuk hal yang tidak penting.’
Yaaa, akhirnya kami selalu menundanya. Karena bagiku, harga kamera itu tidaklah sedikit. Masih banyak posting lain yang sekiranya lebih penting. Sebagai menteri keuangan jelaslah aku yang menang dalam urusan neraca rumah tangga kami, menepiskan segala keterangan lanjutan dari suami tentang dslr. Ya tentu beliau menerima argumenku dengan lapang dada. Secara aku membacakan buku Sirah para Sahabat Rosulullah. Sebut saja Abdurahman bin Auf, seorang kaya raya yang mendermakan kekayaannya untuk kepentingan islam. Sedangkan diri ini? Jauh dari kaya raya, tapi semoga Allah izinkan kita semua untuk bersikap dermawan. Aamiin.

Hingga tibalah kami di sebuah pekerjaan yang memang memerlukan dslr sebagai pendukungnya. Alhamdulillah, Allah izinkan diri ini untuk memulai usaha berbau craft dan handmade. Dimana peran fotografi dalam dunia promosi online diperlukan. Setidaknya bisa memunculkan gambar yang nyaris sama dengan aslinya. Bismillah. Segala sesuatu tidak akan terjadi tanpa kehendak dari Allah.

Semoga Allah kabulkan keinginan baik kami, semoga Allah ridha, dan menjadi salah satu jalan untuk bisa menjadi  pedagang yang sukses seperti Rosulullah, juga Khadijah.

Doakan kami ya sahabat semuanya. Semoga hasil jepretannya nanti apik. Nantikan kami bersama produk kami bersama Canon Eos700D. Kalau Allah sampaikan usia kita semua.

Penampakannya menyusul in syaaAllah.

//