[156] Cerita dari Desa


Memilih tangkai pohon pisang yang sekiranya pas, menumbuknya, menyisirnya satu persatu. Belum pernah merasa sukses menjadikannya tangkai pohon pisang yang cantik. Senyum menciut, hingga kembali merekah, ketika teman yang baik hati memberikan hasil karyanya untukku. ” Ini dek”. Sepertinya aku lebih suka bermain dengan daun pisah yang diurai. Lebih mudah membuatnya. Sisir, kemudian tempel. Meski hasilnya tak sebagus dari tangkai pohon pisang.

Memanjat pohon melinjo di depan rumah Biyung. Aku lupa, ada berapa pohon melinjo waktu itu. Dua, mungkin dua. Aku suka memanjat pohon melinjo yang ada di sisi “kulon”, di depan rumah biyung, ada perosotan, naah kalau kita menghadap ke selatan membelakangi rumah biyung, pohon melinjonya ada di sebelah kanan perosotan. Seru deh, mencari daun melinjo muda, sama buah melinjo yang sudah berwarna kemerah-merahan. Meski, saat itu aku tak suka makan sayur dari dua jenis bahan itu. Aku hanya suka memanjat, lantas memetiknya. Bersuka ria, lepas, asyik, seru. Oh iya, aku jadi ingat dengan pohon melinjo yang di sebelah “etan”, itu lho yang arah depan dapur. Aku kurang suka memanjat pohon yang itu. Abisnya pohonnya terlalu lebat, kurang asyik.

Jadi inget, zaman suka nangkring di atas pohon waru di deket sawah. Sebelahnya rumahnya Pakdhe Miran. Asik di situ, aku suka menghabiskan masa soreku*siang juga sih, pokoknya abis pulang sekolah gitu, untuk sekedar meneguk semilirnya angin. Lembut meyapu, ramah. Pohon waru itu sedikit bengkok ke arah saluran air di tepi sawah. Jadilah kalau kita manjat naik sedikit saja ke pohonnya, posisi kita uda di atas air. Liat ikan crepeng, bethik, wadher cethur, haaa aku mendapatkan nama-nama ikan itu dari temanku semasa kecil, namanya Dika. Perempuan yang jago banget nangkep ikan. Aku saja sampai bingung. Sejarahku, aku termasuk penakut sama yang namanya tangkep ikan, fresh from the Kalen or Mbanyu. Kalau Dika itu jago banget, nggak jarang aku dapet gratisan tangkepan ikannya, hehee, makasih ya Dika. Meskipun, nggak jarang juga aku jadi ikut diomel-omelin sama Mak’e, akibat terlalu sering main ke Sawah. Heee, secara lah ya, namanya juga ortu, maunya anaknya nggak kakean polah. Tapi yang namanya masa kecil, namanya juga anak kecil, maunya kan main*hihihi pembelaan.

Ohya, aku dulu jago main tali lho. Itu lho yang karet kecil-kecil di sambung trus dipakai loncat-loncatan. Ada yang namanya “merdeka”, ada yang namanya “uding”, jago lah pokoknya. Ada dua jenis karet yang aku tahu waktu itu, kami menyebutnya, aku lupa, aku lupa namanya. Pokoknya sampai sekarang pun aku masih bisa mengenali dua jenis karet itu.

Tau nggak permainan gadheng, gimana ya cara nulisnya, hihi, itu lho yang dari batu kecil-kecil trus dimainin pakai tangan. Biasanya dari batu pilihan ‘kami’. Soalnya ada batu andalan yang asik dan akrab sama tangan karena teksturnya yang pas. Kalau pas zaman SD tu ya, ada puluhan koloni yang main gadheng di sepanjang teras kelas. Asyiik lho, kalau zaman sekarang anak kecil mainannya uda gadget. Huuu cupu. Dulu juga ada yang namanya bekelan. Ada bola dari karet, sama ada yang kecil-kecil jumlahnya 4 dari besi gitu apa ya, namanya apa ya yang 4 itu sampe uda lupa. Aku masih ingat beberapa istilah tentang dunia perbekelan, ada  1 2 3 4, P=Pet, R=Rho, K itu kepanjangan apa ya aku lupa, trus satu lagi S, abis itu N, aku juga lupa kepanjangannya, haaa, terakhirnya juga ada yang ngebuat 1 permainan itu adalah 1 putaran, biasa disebut 1 sawah, namanya juga apa aku lupa. Haaaa aku pernah lho ngerendem tu bola bekel pakai minyak tanah, sampai melembung trus akhirnya pecah geje gitu. Kata orang kalau direndem pke minyak tanah bolanya bisa gede. Jadi, daripada beli bola bekel yang gede kan mahal ya, aku beli yang kecil trus direndem, hehehee, ada yang sukses, ada yang yang sukses pecah. Ternyata tergantung dari bahannya tu bola bekel, ada yang cocok sama minyak tanah, ada yang nggak.

Layang-layang. Jadi inget aku pernah buat layang-layang dari kertas koran apa ya waktu itu. Pokoknya gitu deh, trus nggak bisa terbang gitu, yasudahlah. Seru ya inget masa kecil itu.

Aku juga pernah ngrusakin perkakas dapur. Ceritanya ortu sedang ke sawah. Naah, sebagai anak yang berbakti, aku berencana mau buat surprise ke ortu, rencana awal, hendak memasak. Jadi, kalau ortu pulang dari sawah, kan tinggal menyantap kelezatan masakan sang anak gitu. Yaaa, mungkin aku kurang berbakat, selalu belum sukses menyalakan api dari kayu. Sampai abis minyak tanah berbotol-botol, belum sukses menyala juga itu api. Nyala sebentar efek minyak tanah, trus mati, begitu berulang-ulang, jadilah masakan di atas wajan, hidup segan matipun tak mau. Dan tragisnya peristiwa itu nggak hanya 1 kali terjadi. Setiap ada kesempatan aku bereksperimen di dapur, selalu bermasalah dengan yang namanya susahnya menyalakan api. Jangan tanya kenapa nggak pakai kompor ya. Zaman dulu, belum ada kompor gas. Ada sih kompor minyak tanah, tapi bukan di rumahku, di rumah tentangga, heee. Hingga aku pun melakukan kesalahan, entah bagaimana ceritanya tu wajan kesayangan ortu, aku pakai buat masak yang pakai gula, alhasil itu gula lengket-lengket ke wajan, haaa, trus berujung di wajannya bolong gitu pokoknya, heeee. Hingga aku pernah terpuruk, dan berpikir aku tak berbakat memasak. Padalah aku punya the real of alasan, ‘aku belum sukses menyalakan api’.

Cerita tentang mecahin vas bunga, …. heee udah dulu ya, bener-bener nggak ada abisnya cerita tentang masa kecil..

*Mohon maaf untuk ketidakjelasan penulis dalam menyusun kata-kata hingga membuat pembaca bingung.

Image

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s