[176] Salah Tingkah


Jakarta masih saja menyuguhkan berbagai kemegahannya. Semoga kota ini tak akan beralih sunyi dan terkubur seperti Petra di Yordania. Petra yang sampai sekarang masih menjadi saksi bisu sejarah dengan bukit batu yang dipahat sedemikian megahnya menjadi tempat tinggal Arab Nabatean. Sebut saja Khazneh, bangunan dengan tiang-tiang penuh ukiran Romawi berdiri tegak hasil pahatan di tebing gunung. Yaaa, bangunan megah itu dipahat di tebing gunung. Dilengkapi dengan sistem hidrolik yang sangat maju, pengairan berupa air bersih yang modern dan melimpah. Dulu, penduduk Petra berjaya dan sukses, hingga membuat mereka sombong. Peradaban masa lalu yang sedemikian maju, teknologi tingi, dan kekayaan melimpah ruah, akhirnya hilang. Yang tersisa hanyalah bangunan batu yang kosong. Peradaban yang bersumber dari kesombongan itulah yang dimusnakan oleh Allah. Selama kurang lebih 500 tahun Petra hilang, dan barulah ditemukan oleh arkeolog dari Swedia pada tahun 1812. Sekarang, Petra telah menjadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Sungguh sayang, apabila itu semua hanya menjadi tempat wisata untuk berfoto ria, tanpa mengambil hikmah. Senada dengan Madain Saleh, kaum Tsamud yang ditakdirkan oleh Allah bisa memahat gunung untuk dijadikan rumah. Atas izin Allah, mereka diberi umur panjang, bahkan lebih panjang dari usia rumah yang mereka buat.

Jakarta dengan langit mendungnya. Tak ada satupun bintang yang terlihat menampakkan cahayanya. Udara kurang bersahabat, polusi udara pun tak mau absen meskipun hari sudah gelap. Gedung-gedung tinggi berjajar, ada juga beberapa ruko tiga lantai yang turut serta berbaris di sepanjang jalan utama. Pemandangan yang cukup kontras dengan keadaan permukiman di belakang gedung-gedung itu. Padat dengan rumah-rumah warga yang saling berimpit, beberapa kios-kios pedagang kaki lima menghias lorong dan gang sempit, warna selokan pekat, juga sungai yang tak lagi mengalir.

Petang itu, Fitri berjalan sendirian menuju rumah. Ia masih mengenakan seragam sekolahnya, baju putih panjang, dipadankan dengan rok panjang warna abu-abu. Fitri menyusuri lorong-lorong yang sudah tak asing lagi baginya. Kedua tangannya sibuk mendekap buku berwarna kuning setebal 6 sentimeter. Buku referensi matematika yang ia peroleh dari tempat lesnya, buku yang entah Fitri sendiri jua belum mengerti apa maksudnya. Haha. Hingga sampailah Fitri di lampu merah depan indomart. Sengaja, Fitri memperlambat langkahnya, melihat kanan kiri untuk berjaga-jaga karena hendak menyebrang jalan. Reflek, langkah kecil Fitri terhenti tanpa dikomando. Kedua matanya berbinar. Bagaimana tidak, tiba-tiba saja pemuda itu muncul dari arah yang berlawanan dari tempat ia berdiri. Menaiki sepeda merah dengan ransel hitam yang berbentuk kotak  itu. Ditambah deburan angin, menyapu rambut hitam yang lurus dengan penuh pesona itu. Cahaya lampu menambah amboi warna rambutnya. MasyaaAllah, hati Fitri berdebar tak karuan. Hatinya berdebar kencang. Gugup. Yaaa, Fitri berusaha mengendalikan dirinya. Sayang, jilbab yang ia kenakan sudah terlipat rapi di ranselnya, padahal ia ketemu dengan pemuda shaleh itu.

“Hmmm, nyesel deh jilbabnya uda dilepas, padahal kan mau terlihat shalehah ketemu pemuda itu.” (Hello Fitri, pakai jilbab itu kan memang wajib kalies untuk kaum hawa, bukan karena ingin distempel terlihat shalehah)

Fitri kembali menunduk. Mencoba bersikap seperti biasa, mempraktikkan seperti yang ustadzahnya sampaikan bahwa perempuan itu harus menjaga pandangan. Yap, seketika Fitri menjadi sosok yang kalem.

“Assalamu’alaikum, darimana kok baru pulang malam-malam begini?” Terdengar suara pemuda itu dari seberang.

Dengan wajah masih menunduk, Fitri memberikan jawaban panjang lebar. “Hmmm, abis selesai les di rumah Ustadzah Siti. Sepulang sekolah, ana bersama rekan-rekan akhwat pergi ke rumah Ustadzah Siti, belajar matematika bareng-bareng. Maklum akhi, ana kan perempuan yang rajin jadi yaaa beginilah adanya. Akhi darimana malam-malam begini?” Fitri mencoba bertanya kepada sosok pemuda itu, sembari memberanikan diri menegakkan kembali wajahnya berharap bisa melihat sosok tampan itu di depannya.

Tampak beberapa langkah dari ia berdiri, terlihat pemuda itu sibuk mengobrol dengan Doddy, si adek kelas yang cerdas itu.

“Jadi, tadi bukan bertanya padaku ya?” Tuing-tuing, Fitri merasa konyol dengan dirinya sendiri, bagaimana ceritanya dia mengobrol tanpa lawan bicara, bak orang gila pula ini. Beberapa saat kemudian, pemuda itu bersama dengan Doddy melintas di depan Fitri. Sedang Fitri masih dalam keadaan ‘bengong’. Doddy si adek kelas pun segera menyapa, “Kak Fitri ngapain? Kok malah bengong malam-malam di pinggir jalan?”

“Ehh, kamu Dod, nggak papa kok.”

Pemuda itu pun berlalu bersama dengan Doddy, sedangkan Fitri masih sibuk menata hati yang kadung malu. Sembari melirik ibu pedagang nasi goreng bersama dengan para pembeli yang menertawainya lantaran sikap Fitri yang terlihat konyol.

Lekas-lekas Fitri mengembalikan konsentrasinya untuk menyeberang jalan dan meneruskan tujuan awal, pulang ke rumah, bukan ke hati pemuda itu.

Yuk, fokus Ukh🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s