[182] Holiday


Dulu, saat aku masih kuliah di Jakarta, bukan hal yang istimewa ketika mendengar kata ‘Ancol’. Soalnya berasa deket, tinggal naik busway rute PGC-Ancol, sampai deh.

Sampai sekarang pun, masih sering keingat tentang kejadian waktu itu, saat aku bersama dengan beberapa rekan akhwat pergi ke Ancol dengan tujuan relaksasi pasca menempuh ujian komprehensif. Begitu sukar untuk bisa mendeskripsikan perasaanku saat itu, antara kalut, takut, cemas, kesel, dan segala bentuk rasa was-was yang tak seharusnya muncul. Aku takut kalau nggak lulus ujian komprehensif. Sebuah ujian yang hanya 1 SKS, tapi berisi beberapa matakuliah inti di dunia perstatistikan, dimana ujian kompre merupakan prasyarat inti untuk bisa memasuki jenjang wisuda. Ancaman DO dan yang lainnya. Saat itu aku lampiaskan pergi ke Ancol, melihat laut lepas untuk mengurai pening dalam jiwa. Namun, akhirnya aku tahu, bahwa segala bentuk kepenatan dan kecemasanku berangsur sirna, bukan karena Ancol, tapi karena sabahat-sahabatku. Mereka menyulut energi positif, menyuntikkan semangat, mengingatkan akan iman kepada takdir baik dari Allah.

Ancol, juga pernah menjadi bingkai, saat aku usai wisuda. Saat itu, ibu dan bapakku datang ke Jakarta untuk menghadiri acara wisudaku. Dan, kami juga sempat singgah di Ancol untuk bersepeda ria. Takdir baik dari Allah.

Kini, aku sudah tak berdomisili di Jakarta lagi. Aku tinggal di Gorontalo, di sebuah tempat yang banyak memiliki pantai nan jernih dan biru nan memukau. Pantai yang jauh lebih indah daripada Ancol. Namun, aku tetap rindu Ancol. Tentang berjuta kenangan antara aku, sahabat, keluarga, juga cinta.

Hingga akhirnya, dalam kesempatan liburan tahun 2015 ini, aku dan suamiku memutuskan untuk singgah sementara ke Jakarta, mencukil kenangan demi kenangan yang berserak di sana. Dan kami menyempatkan singgah ke Ancol.

Welcome to Ancol

ed5

Sepeda gandenged9

ed10Memberi makan ikan,

ed6

Mengenang masa kecil,

ed4Dan, kami pun berfoto ria di depan dufan.

ed7Tapi, enggak masuk dufan, karena satu dan lain hal, hiied8Terimakasih Cintaa, untuk sebuah cerita dari gondola.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s