[153] Berkebun itu Menyenangkan


Salam semangat untuk sahabat semuanya. Pada kesempatan kali ini, saya akan bercerita tentang ‘berkebun’. Karena, berkebun itu menyenangkan lho.

Saya dan suami, tidak pernah menyangka akan tumbuh pohon cabai di sebelah rumah. Karena kami memang tidak menanamnya. Betapa Allah Maha Kuasa. Beberapa pohon cabai rawit itu tumbuh di sebelah rumah kontrakan kami. Tanpa kami tanam, tanpa kami sadari.

Ini dia foto pohon cabai di sebelah rumah kontrakan kami.

1168781_279941775498340_1567352650_nBetapa bersyukurnya kami, sudah beberapa kali kami ‘panen’ cabai rawit ini. Satu kali panen, kira-kira dapat sebanyak ini. Alhamdulillah.

928488_694198333970141_1306647968_nHingga akhirnya, semangat berkebun kami pun tumbuh. Saya dan suami memang sudah lama ‘menyimpan’ benih yang telah dikirim dari Jawa. Hiihihi, jadi ceritanya, kami sudah ‘berniat’ untuk berkebun, tapi belum terealisasi dikarenakan beberapa alasan, salah satunya, kami belum menemukan tanah. Karena tanah di depan rumah kontrakan kami berpasir dan berbatu.

1171649_1436356263271201_1690583114_nTaraaa, ini dia lahan di depan kontrakan kami yang telah dibersihkan, dan siap untuk diolah. Awalnya, di sini adalah ‘kebun rumput’. Setelah rumput dibersihkan oleh saya dan suami saya, tanah yang berpasir tersebut dicangkul-cangkul, kemudian diberi campuran apaa gitu, pupuk kandang dll pokoknya, saya juga kurang ngerti. Katanya si, beli di orang yang menjual tanaman gitu, hihihi. Terus ditambah juga dengan kulit biji padi yang sudah dibakar. Apaa ya namanya, hihihi, saya juga kurang ngerti.

10009358_1407441099526244_713172085_n(Ini adalah bibit bayam, kacang panjang, dan mentimun yang dikirim dari Jawa. Padahal kata tentangga, beli di sini juga ada. Kami kan tidak tahu, hihihi)

10245945_287406308091922_673049477_n(saking amatirnya kami, kacang panjang ini harusnya di tanam dengan jarak tertentu, tapi karena kepolosan kami, kami sebar bibit kacang panjangnya, dengan niat setelah agak besar dipindah ke lahan. Kata suami ini adalah pesemaian. Hihihi, alhasil, jadilah pesemaian yang salah alamat, hihihi)

917554_377200125753693_1613882199_n(Kata ibuk, seharusnya bibit kacang panjangnya langsung ditanam dengan jarak tertentu. Jarak yang kami buat juga terlalu dekat. Karena lahan kami sempit, dan kami ingin menanam banyak, alhasil desak-desakan. Ohya, kata Ibuk, satu lubang tanam itu bisa diisi 2 atau 3 bibit)

10175250_280080125492172_710626919_n(Ini dia suami tercinta yang ‘sibuk’ buat pelindung tanaman. Jadi, karena di Gorontalo itu terik siang hari begitu terasa, suami saya sengaja memberi terpal sebagai penutup di bagian atas, agar tanamannya tidak langsung terkena sianr matahari dan akhirnya layu.*Cara ini belum tentu benar ya teman-teman, hehehe. Oh ya, dengan adanya tanaman di depan rumah kontrakan kami, makin banyak orang yang kami kenal di perumahan. Setiap ada yang lewat dan berkesempatan ngobrol, jadilah silahturahmi semakin luas, obrolan dimulai dengan logat Gorontalo “Ba tanam apa Pak?” Hingga berlanjutlah obrolan panjang dan lebar. Maha besar Allah)

10261328_664848456966647_990766346_n(Alhamdulillah, kacang panjangnya mulai merambat. Saat membuat ‘rambatan’ dari bambu ini cukup seru lho sahabat semuanya. Sampai-sampai, bapak yang sering adzan di masjid pun, turut membawa perkakasnya, hingga alat berat pinjeman tetangga pun di bawa olehnya, untuk membantu kami)

927305_301352090027886_1119180878_n(Ini adalah panen bayam pertama kami. Sebenarnya bibitnya adalah bayam cabut, tapi saya iseng untuk panen dengan memotong batangnya, berharap nanti tumbuh tunas, hhihihi)

916042_662179840519881_1839292952_n(Mentimun sudah mulai berbunga, do’akan semoga hasilnya bagus ya sahabat semuanya. Cantik ya? Saya suka lihat fotonya)

10268751_490388817754070_1296090682_n

 (Kalau ini adalah cabai merah besar. Awalnya saya asal buang sisa cabai merah besar yang ada di kulkas. Saking banyaknya, saya asal buang di depan rumah, alhamdulillah, Allah izinkan untuk tumbuh. Namun, kami masih bingung untuk memindahkannya, lagi-lagi belum punya tanah yang siap dimasukkan ke polybag. Polybag nya si uda dikirim dari Jawa, tapi lagi-lagi kami belum menemukan tanah)

Oh ya, bercerita tentang berkebun dan menanam, sebenarnya bukan lagi hal asing bagi saya. Karena semasa kecil, saya rajin turut serta untuk ‘berkontribusi’ di setiap tanaman yang Pak’e dan Mak’e tanam (Pak’e panggilan untuk Bapak, Mak’e panggilan untuk Ibu). Menanam padi, jagung, kacang tanah, bayam, kacang panjang, dll. Yaa, Pak’e dan Mak’e adalah petani cilik. “Petani”. Ya, petani. Dulu, semasa SMP, SMA, bahkan awal-awal saya masuk kuliah, saya seringkali malu ketika harus menjawab pertanyaan atau pun isian kuesioner terkait data diri, terutama di pertanyaan, “apa pekerjaan orangtua”. Entahlah, apa yang saya pikirkan saat itu. Mungkin hati ini terlalu kotor, terlalu angkuh, sampai-sampai  saya malu mengakui pekerjaan orangtua sendiri. Dulu, saya seringkali malu dan tidak PD ketika harus menjawab “pekerjaan orangtua saya adalah petani’. Bahkan tidak jarang, saya sangat berharap ada pilihan jawaban ‘wiraswasta’ , sehinga saya bisa memilih jawaban itu. Atau pun berisi pertanyaan terbuka, sehingga saya leluasa untuk menulis ‘wiraswasta’, dan saat itu saya kurang suka ketika ada pertanyaan lanjutan, wiraswastanya apa? Itu lah saya, saya dengan segala kebodohan saya.

Semoga Allah ampunkan dosa-dosa hamba.

Di titik sekarang, barulah saya merasakan betapa bangganya diri ini, karena orangtua saya merawat dan mengasuh diri ini dengan uang hasil mengolah sawah dan kebun. Daaan, betapa tidak bangganya ‘anak saya’ nanti, ketika ia tahu bahwa ia dibesarkan dengan penghasilan orangtuanya yang bersumber dari pajak, karena orangtuanya adalah seorang PNS. Ya Allah. Do’akan kami sahabat semuanya ya, do’akan kami agar bisa menjadi entrepreneur, hafidz-hafidzah, penulis, petani, juga guru ngaji, aamiin.

Kenapa semasa silam, diri ini merasa minder dan nggak PD dengan pekerjaan orangtua sebagai petani? Padahal itu adalah pekerjaan halal.

Jawabannya, adalah karena ‘cara pandang’ saya yang keliru. Diri ini telah terjerumus dengan fatamorgana dunia. Mata hati ini telah rabun, bahkan pernah buta. Menakar kemuliaan seseorang hanya dari materi. Menganggap bahwa kebahagiaan itu adalah ketika keinginan kita terpenuhi, baik dari segi kebutuhan fisik, maupun kenyamanan ‘status sosial’.

Saat itu, saya tak pernah menyelami bagaimana kehidupan Rosulullah dan para sahabat. Sebutlah kisah Abdurahman bin ‘Auf, seorang saudagar yang sangat sukses, ia sangat kaya raya, seorang mukmin bijaksana yang tidak mau merebut kekayaan dunia dan mengorbankan bekal akhiratnya. Ia tidak ingin kekayaannya membuat ia tertinggal dari iring-iringan iman dan pahala syurgawi. Ia mendermakan kekayaannya tanpa batas, dengan senang hati dan penuh keikhlasan.

Suatu hari, beberapa orang sahabat berkumpul di rumahnya untuk makan bersama. Ketika makanannya mulai dihidangkan ia menangis, para sahabat bertanya, “Apa yang membuatmu menangis wahai Abu Muhammad?” ia menjawab, “Hingga meninggal dunia, Rosulullah dan keluarganya belum pernah makan roti sampai kenyang, aku tidak ingin melihat bahwa kematian kita ditunda untuk sesuatu yang lebih baik bagi kita.”

Kekayaannya sama sekali tidak membuatnya congkak dan sombong. Bahkan jika ada orang asing yang melihatnya duduk bersama pembantunya, orang itu tidak akan bisa membedakan manamajikan dan mana pembantu…..

Allah Akbar

 

//

4 thoughts on “[153] Berkebun itu Menyenangkan

  1. Assalammualaikum wr.wb, teh mau nanya nih apa engga kepikiran buat nulis buku gitu teh ? saya sering baca – baca tulisannya pada bagus – bagus.

    • Wa’alaikumsalam.Wr.Wb.,

      aamiin, minta doanya ya…pengen sekali bisa nulis buku. Sudah ada dfar nya dan uda diajukan ke penerbit tapi sejauh ini belum sukses, heee,,,
      semoga nanti bertemu dengan penerbit yang cocok dengan tulisan saya..aamiin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s