[195] Penantian #2


Menikah dengan laki-laki terbaik yang telah Allah pilihkan, kemudian diberikan rezeki mempunyai momongan yang shaleh dan shalehah. Betapa bahagianya…

Tapi, setiap orang punya kisah sendiri-sendiri, baik dalam menemukan cinta, dan mendapatkan momongan…Penantian #1

Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah. Atas izin Allah, saya dan suami memiliki kesempatan selama kurang lebih 3 tahun untuk terus memperbaiki diri dan memantaskan diri menyambut buah hati.

Dalam skala normal, waktu penantian kami terbilang cukup lama. Kami menikah 1 Juli 2012, dan baru pertama kali mendapatkan garis 2 di tespek pada 24 Mei 2016 (hpht 15 April 2016), hampir bersamaan dengan SK kepindahan saya per 2 Mei 2016 dari BPS Kab.Gorontalo ke BPS Provinsi Gorontalo. Bismillah, semoga kantor baru membawa berkah, aamiin.

Maha besar Allah, begitu banyak pelajaran berharga dan hikmah yang kami dapati selama masa penantian. Perjalanan yang luar biasa, yang belum tentu akan kami dapatkan jika kami tidak diminta oleh Allah untuk ‘menunggu’ sekian waktu ini.

Tentang kami dan penantian kami,

Pertanyaan yang sering muncul ketika kami dalam masa penantian adalah, “sudah hamil belum?” Sebuah pertanyaan yang mungkin begitu sensitif, dan akhirnya kami menyadari bahwa ketika pertanyaan itu muncul, saat itu lah momen yang tepat bagi kami untuk meminta agar kami didoakan, untuk segera mendapatkan momongan.

Selama hampir 4 tahun itu apakah kami tidak berusaha untuk berkonsultasi dengan ahli? Alhamdulillah, kami masih diizinkan Allah untuk bisa berkonsultasi, baik ke SpOG maupun ke SpOG(K). Satu, dua, tiga, empat, …. entahlah sampai berapa dokter kami telah berkunjung, dengan berbagai keterbatasan jumlah dokter perempuan di provinsi kecil yang kami tinggali, hingga kami juga pergi ke dokter laki-laki. Pernah juga ke klinik infertil (Restu Ibu) waktu mudik ke Purwokerto tapi hanya 1 kali karena keterbatasan hari cuti tahunan, rujukan dari dokter SpOG perempuan di Purwokerto. Dari satu dokter ke dokter lain, kami selalu diberi resep obat tak jarang juga kena marah dokter hehe, dan sejauh ini kami belum pernah melakukan treatmen lain, selain minum obat, belum pernah disuntik, HSG, ataupun yang lainnya. Dan tak hanya itu, ada banyak aktivitas lain yang juga kami sering usahakan, mulai dari pijit badan, karena banyak yang bilang kalau kami kecapekan kerja hehee. Sudah banyak tukang pijit juga yang membantu kami, terimakasih juga kepada teman-teman kantor yang selama ini sibuk mencarikan saya tukang pijit, spesial buat mb Dewi Datau dan keluarga. Juga banyak aktivitas lain yang menyenangkan yang kami lakukan, seperti sepedaan, piknik bersama suami, jogging, berenang, terapi air hangat, senam indoor, sit up, dll. Alhamdulillah, suami sangat mendukung dan memberikan fasilitas indoor agar kami jadi senang berolahraga, seperti membeli piranti sit up di rumah, membeli kaset senam agar kami tak harus keluar rumah untuk mencari komunitas senam, juga download senam-senam, sehingga bisa bebas loncat-locat di rumah tapi tetep semangat dan benar-benar keluar keringat banyak. Dan yang paling lucu suamiku mengikuti gerakan senam SKJ, hehe,  karena senam selain SKJ instruktur senamnya mayoritas perempuan dengan pakaian mini. Jadilah suamiku berSKJ ria, hehe.

Untitled2

alat sit up yang kami pakai selama program, salah satu motivasinya adalah untuk olahraga biar perut kami gak buncit

Berjuang mendapatkan nomor antrian di dokter, bolak balik rumah-tempat praktek dokter karena kadang prosedur pengambilan nomor menuntut seperti itu, pulang tengah malam alhamdulillah jarak dari rumah ke dokter waktu itu hanya sekitar 30 menit, pernah malah kita sampai di rumah itu sekitar pukul 2 dini hari karena dapet nomor urut diatas 70, hehe. Alhamdulillah Gorontalo aman, sehingga tetap PD meski harus bermotor ria di tengah malam, masih banyak orang soalnya hehe. Membeli madu kesuburan hingga habis berapa pasang botol, hunting kurma muda di online (sampai pernah kurma muda itu dititipkan ke mahasiswa indonesia yang kuliah di sana, karena takut keburu matang kalau dikirim dengan paket), membeli herbal penunjang lainnya (madu, merebus kayu manis, serbuk kayu manis, propolis, habbatussauda, manjakani, tribulus, daun kemangi, mengganti air mineral dengan kangen water dll), minum susu persiapan kehamilan yg mengandung asam folat hingga beberapa dus, sibuk belajar membuat bubur kacang hijau meskipun sampai sekarang gak sukses-sukses jadinya keseringan beli bubur jadi berharap tanpa pemanis buatan, makan semangka banyak-banyak, sibuk bereksperimen membuat kecambah sendiri, dan masih banyak keseruan yang kami lakukan. Pernah juga di ‘kera’, semacam sauna tapi uapnya berasal dari rebusan bermacam-macam daun dan rempah-rempah ala Gorontalo (jahe, kunyit, daun kunyit, daun salam, serai, akar-akaran, dedauanan yang entahlah).

Untitled

(rebusan macam-macam daun dan rempah untuk ‘kera’, semacam sauna tradisional)

Meskipun kami menyadari bahwa, ikhtiar yang kami lakukan, pada akhirnya hanyalah tinggal menjadi ikhtiar, dengan harapan agar segala ikhtiar kami menjadi amalan ibadah yang diridhai Allah. Karena kami yakin, pada akhirnya hanya dengan Kuasa Allah lah, kehendak atas penciptaan manusia.

Alhamdulillah, saya termasuk orang beruntung, memiliki keluarga dan mertua yang begitu baik. Tak pernah menyudutkan saya, atau pun berkata kasar. Mereka senantiasa memberikan suport terbaiknya untuk kami. Meskipun sesekali saya ‘pernah’ menangis, lantaran kata-kata yang tidak menyenangkan dari tetangga, tapi selalu saja suami saya memberikan nasehat kepada saya, hingga akhirnya saya pun kembali kuat menatap dunia. Membaca kisah-kisah di group ‘Aku Ingin Hamil’ atau biasa disingkat AIH, membaca perjuangan dan juga tips-tips dari teman-teman yang juga sedang berjuang dengan berbagai kisah masing-masing. Meskipun hanya menjadi silent reader, jujur saya sangat antusias dengan group fb AIH, begitu banyak kiat-kiat, juga suport dari anggota dan tentu juga admin. Salut dengan perjuangan teman-teman semuanya, saya kadang merasa malu ternyata perjuangan yang kami lakukan tak seberapa dibandingkan dengan perjuangan teman-teman di group yang begitu sabar, telaten, dan semangat melakukan treatment dan juga pemeriksaan yang bahkan saya pun sukar sekali membayangkannya. Terimakasih AIH, mohon maaf jika selama ini hanya menjadi silent reader. 

Tentang kami dan penantian kami,

Dalam masa penantian ini, ada banyak pola pikir saya yang kemudian bergeser ke arah yang lebih baik insyaaAllah. Setidaknya saya mulai belajar untuk menghargai perasaan dan menghargai pilihan orang lain, belajar untuk ikhlas, lebih banyak muhasabah diri, kami mohon maaf khususnya kepada semua orang yang pernah bersinggungan dengan kami dan pernah merasa kami sakiti kami sungguh mohon maaf atas kekhilafan kami baik sengaja ataupun tidak sengaja, dan berharap semoga Allah akan ampunkan segala dosa kami, dan menjauhkan kami dari siksa kubur, juga siksa api neraka. Kami juga belajar untuk menyuburkan sedekah, memperbanyak istigfar, berdo’a di waktu-waktu mustajab (saat hendak berbuka puasa, antara adzan dan iqomah, di sepertiga malam, dll). Dan tak lupa senantiasa meminta doa restu kepada orangtua dan keluarga.

Hingga ada suatu titik yang membuat diri ini tersadar bahwa ternyata kami begitu egois. Pantaskah kami merana hanya karena belum diberi keturunan, sedangkan di Suriah sana, di Palestina sana, begitu banyak orang tua yang kehilangan anaknya, begitu banyak anak yang kehilangan orangtuanya, tertembak peluru dengan begitu kejamnya, tapi mereka kuat untuk berjuang sekuat tenaga, menanti syahid dan menjadi syuhada. Umat terhadulu, juga mengalami cobaan yang begitu sulit, pastaskah diri ini mengeluh hanya dengan ujian seperti ini? Hingga saya pun segera mengganti doa saya menjadi, “Ya Allah, jika memang memiliki keturunan adalah yang terbaik untuk kami, terbaik untuk keluarga kami, terbaik untuk dunia kami, terbaik untuk akhirat kami, terbaik untuk agama kami, mudahkanlah kami untuk bisa memiliki keturunan ya Rabb.” Do’a itu lah yang senantiasa saya lantunkan dalam setiap kesempatan. Dan tak lupa kami juga sering mengulang-ulang Qur’an Surah As Saffat ayat 100, “Rabbi habli minash shalihin”

Oh ya, beberapa hari setelah saya tahu kalau saya positif, saya segera pergi ke dokter untuk melakukan USG. Agar lebih tenang kami pergi ke 2 dokter, untuk mencari second opinion, alhamdulillah, sudah terlihat kantung janinnya. Terimakasih kepada teman-teman di group Emak-Emak Hore 49 yang telah mengajak saya bergabung, dan mohon maaf waktu itu tidak sempat membalas chat dari semuanya. Saya sungguh senang, dan saya menitikkan air mata waktu itu, terharu karena banyak yang chatingin baik group maupun pm, terimakasih teman-teman semuanya. Semoga teman-teman semuanya dan juga keluarga senantiasa dalam keadaan sehat. Saya mohon doanya, agar kehamilan saya sehat sampai nanti proses persalinan dan selanjutnya, aamiin.

Sekali lagi, terimakasih kepada keluarga besar AIH. Banyak sekali postingan yang mengispirasi saya untuk kemudian kambali bersemangat untuk promil. Semoga, keluarga besar AIH yang hingga saat ini masih menanti buah hati, disegerakan diberikan jawaban indah oleh Allah, aamiin.

Tulisan ini spesial buat Tika yang request di group, hehe🙂

5 thoughts on “[195] Penantian #2

  1. Selalu dan selalu terharu sembari memohon para malaikat turut meng-amin-kan do’a kami untuk teman2 semua… Karena Alloh tau yg terbaik untuk kita semua…

    Semoga Alloh memberkahi setiap ikhtiar kita. Sehat selalu jeng manis…Selamat jg atas kepindahan ke kantor baru… Smg tambah barokah…

  2. Ping-balik: [196] Penantian #3 | Endri Notes

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s