[190]Ruang Tunggu


Malam itu. Serupa dengan putaran kaset yang tak kunjung berujung.

Hatiku masih tetap sama. Dingin, tapi tidak beku. Sama halnya dengan lelaki tampan di sebelahku. Lantas kami tersenyum, tergelak bersama. Berdiskusi untuk hal yang penting sampai hal yang tidak penting sekalipun. Menikmati segala bentuk keindahan lukisan malam. Sesekali menongok bintang gemintang, memastikan mereka masih setia di sana.

Ruang tunggu… Pendingin ruangan serta barisan kursi, seolah menceritakan kepada kami akan banyak hal. Tentang rerumputan yang dulu pernah menjadi teman terbaiknya, saat kursi-kursi itu masih berwujud sebatang pohon. Tampak asyik menari tertiup angin. Ahh, sungguh mempesona.

Ruang tunggu… Pintu kayu berwarna coklat, pintu kaca dengan beningnya. Silih berganti menjejaliku dengan pertanyaan. Dan dalam keyakinanku, aku tidak lebih tau dari mereka. Yang sama-sama berada di ruang tunggu.

Ruang tunggu… Untuk sekeping benda dengan berbagai rupa 4 dimensinya, warna-warni, besar-kecil.

Malam nan dingin, semakin dingin.

 

–ruang tunggu–

2 thoughts on “[190]Ruang Tunggu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s