[149] Rindu


Untuk kesekian kalinya diri ini diizinkan Allah untuk bertemu dengan sosok laki-laki itu. Laki-laki yang baik, ramah, dan begitu sayang padaku… Laki-laki yang selalu diam, tak berbicara sepatah kata pun ketika bertemu denganku di alam mimpi. Hanya isyarat yang sering ku tangkap darinya. Laki-laki yang membuat aku sering merasa rindu. Paktuwo, begitulah kami biasa memanggilnya. Bapak dari ibu kandungku. Dialah kakekku, yang telah dipanggil Allah beberapa tahun silam.

Semoga Allah, akan mempertemukan kami di syurga nanti. Jauhkanlah kami dari api neraka-Mu ya Rabb…

Oya, aku ingin menceritakan sesuatu. Sesuatu yang seringkali membawaku berpetualang dengan masa kecilku. Tentang hembusan angin, tentang bau tanah, tentang suhu, dan segala perniknya, dan suasana itu bisa mengingatkanku akan masa kecilku. Semilir angin, suara hembusan angin, cuaca, seringkali menyikap kenangan-kenangan ku bersama Paktuwo dan Biyung. (Paktuwo itu panggilan untuk Kakek, Biyung itu panggilan untuk nenek. Itu adalah panggilan yang biasa digunakan di tempat Kakek dan Nenekku tinggal, di Desa Bogor, Kab. Klaten, Jateng. Kecamatannya, kalau tidak salah, Cawas. Sepanjang memoriku, aku hanya ingat tentang Kakek dan Nenek dari Ibu. Kalau Kakek dan Nenek dari Bapak, aku sama sekali tidak ingat. Orang bilang, sewaktu aku bayi, aku pernah digendong oleh beliau, dan beliau telah dipanggil oleh Allah)

Tentang Paktuwo dan Biyung. Tentang rumah sederhana di tepi sawah itu, angin yang  terarak kencang menyapu debu-debu gundukan tanah itu, daun-daun pisang yang rapi terlipat itu, batang pohon pisang yang terolah menjadi  tali untuk pembungkus tempe itu…..Dan, lagi-lagi, aku tak kuasa untuk membendung airmata ini.

931d66e8866211e3b6060a121491ab0d_7

Kini, aku telah dewasa, telah menjadi seorang istri dari lak-laki yang telah Allah pilihkan untukku. Namun, aku tetaplah seorang cucu yang merindukan masa kecilku. Setiap kali aku dibonceng naik motor oleh suami, mata ini acapkali terpana dengan pemandangan sekitar, entah itu pepohonan, bunga-bunga, batu-batuan, orang-orang yang berlalu lalang dengan kesibukkannya, dan masih banyak yang lainnya. Tak jarang bertemu, seorang pria tua renta, dan lagi-lagi mengupas kenangan indah itu. Sesekali aku menyeka air mata, tanpa sepengetahuan pria tampan yang sedang memboncengkanku. Yaaa, karena aku ingat tentang cerita yang dibawakan oleh Paktuwo, tentang uang dan makanan spesial yang sering diberikan untukku, tentang lemari yang penuh buku itu, tentang kerajinan dari bambu itu, tentang piawainya memanjat pohon kelapa, tentang semuanya….

Rabb, jauhkanlah paktuwo dari siksa kubur-Mu, jauhkanlah dari api neraka-Mu
Rabb, berilah kesehatan untuk Biyung, kebahagiaan dunia, juga akhirat….
catatan rindu seorang cucu….

//

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s