[148] Resign


Tentang bekal di peradilan Allah nantinya. Peradilan yang sungguh berbeda dengan peradilan manusia…

Tentang hidup bersama islam secara total, secara kaffah, bukan setengah-setengah…

Tentang porsi rezeki yang telah Allah tetapkan, bahkan sejak diri ini belum lahir ke dunia. Tentang rezeki yang tak akan pernah tertukar…

Menjadi ibu rumah tangga yang bisa sepenuhnya menabung pahala dari sekian banyak aktivitas di rumah, yang belum tentu pahala itu bisa ku peroleh di kantor tempat aku bekerja…

Menatap pagi dengan simpul senyum, bersemangat untuk menyapa sederet kesibukkan tentang Allah, Rosul-Nya, dan Islam. Bukan mengawali pagi dengan setumpuk rasa cemas, tak bersemangat, bahkan takut dengan semua pekerjaan duniawi yang belum tentu bisa sedikit saja menambah timbangan amal baik di akhirat kelak. Atau bahkan, malah sebaliknya….. Bukan larut dan terjerat dalam pekerjaan-pekerjaan yang kabur antara halal dan haram. Bukan hidup dari penghasilan yang bersumber atas ‘pajak’, yang bahkan diri ini pun terlalu lemah untuk membedakan mana yang berasal dari pakak minuman keras, pajak rokok, pajak…. Astagfirullah..

“Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia, para sahabat bertanya, “Siapakah mereka ya Rosulullah?” Rosul menjawab, “Para ahli Qur’an. Merekalah keluarga Allah  dan pilihan-pilihanNya”. (HR Ahmad)

Tentang sebuah cita-cita besarku. Cita-cita yang baru saja aku tanam. Cita-cita yang muncul, di saat aku telah menyandang gelar sebagai perempuan pegawai kantoran. Yaaaa, aku pikir semua belum terlambat. Tentang cita-cita besar itu, yaitu menjadi seorang hafidzah, penulis, dan entrepreneur. Betapa indahnya, ketika setiap hari bergelut dengan anak-anak untuk bersama-sama belajar Al Qur’an. Diselipkan kegiatan membuat berbagai jenis hasil olahan dari bahan kain dan sejenisnya. Menjadi seorang entrepreneur sukses bersama cuindcraft, bekerja penuh dengan semangat bersama islam, yang senantiasa bersemangat saat menatap pagi. Mengasuh anak yang memang telah menjadi kewajiban, fullday, bukan parttime. Anak adalah titipan Allah, jangan lagi dititipkan pada orang yang salah, semoga diri ini masih diizinkan Allah untuk menjadi seorang Ibu…. Menjadi orangtua yang sukses, memiliki tabungan yang sangat berharga, anak-anak yang hafidz dan hafidzah, Allah Akbar…1004942_606433802762206_1868802354_n

Semoga suatu ketika tulisan ini, bukan lagi menjadi sekedar cita-cita, tapi menjadi sebuah kenyataan. Aamiin…

//

2 thoughts on “[148] Resign

  1. Ping-balik: [153] Resign oh resign | Endri Notes

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s