[144] Surat untuk Ibu,


Seorang anak perempuan yang senantiasa bersemangat untuk menyantap sarapan paginya. Suatu rutinitas yang ia lakukan, sebelum ia pergi ke sekolah. Kalian tahu kenapa? Jika kalian berpikir menu sarapannya seperti di hotel bintang lima, kalian salah. Menu yang tersaji hanya sederhana, bahkan tak jarang hanya itu-tu saja. Nasi hangat dengan tempe goreng, sesekali telur ceplok, sesekali gereh layur (sejenis ikan asin yang terkenal di masa itu), sesekali gereh besek (sejenis ikan pindang yang biasanya dibeli oleh masyarakat menengah ke bawah). Kalau sayur nya sudah matang, ia juga suka sayur. Sayur yang sebagian besar di petik sang ibu dari pekarangannya, sesekali beli sayur mentah di warung.

Semasa ia masih berseragam putih-merah, sang ibu selalu menekankan kalau sarapan pagi itu penting, perut nggak boleh kosong, biar bisa fokus saat belajar di sekolah. “Iya, Bu”, ia rajin pergi ke dapur setiap pagi, menyantap sarapannya di sebuah dingklik (bangku kecil yang biasanya digunakan untuk duduk melantai di dapur). Begitu polosnya wajah sang anak, pikirannya belum sampai untuk sekedar merasakan perjuangan sang ibu yang telah menyiapkan sarapan pagi. Ia hanya tahu, sarapan di dapur lengkap dengan tawa canda bersama sang ibu, menceritakan ini itu, tak jarang sang ayah juga sesekali menyambangi dapur bergabung di tengah keceriaan’

Ia belum pernah berpikir tentang pakaiannya yang selalu dicucikan oleh ibunya setiap hari. Bahkan sampai ia SMA pun, ia belum mencuci pakaiannya sendiri. Di masa itu tidak semua rumah mempunyai sumur, termasuk keluarganya. Yaaa, begitu besar perjuangan ibunya.

Ia belum tahu, apa itu ‘perjuangan’. Yang ia tahu barulah ‘nggambek’, ‘mogok makan’, layaknya seorang anak perempuan pada umumnya.

Ia masih seorang anak yang penurut dengan sarapan paginya. Rutinitas itu berjalan terus, bahkan sampai ia  menginjak jenjang sekolah menengah atas. Kehendak Allah, ia diterima di sebuah sekolah favorit di kabupatennya, dan tentunya semakin banyak tantangan untuk dirinya yang dalam keterbatasan. Saat ada kesempatan untuk pilihan ekstrakulikuler, di saat teman-temannya berbondong-bondong memilih KIR, basket, IT; ia memilih ekstrakulikuler ‘menjahit’. Ia berpikir, kalau tak bisa melanjutkan sekolah, ia ingin menjadi penjahit pakaian…..

Menjelang kelulusan, ia mulai resah. Ayahnya seorang petani kecil. Namun, sang ayah masih terus bersemangat agar ia mau untuk melanjutkan kuliah. Kehendak Allah, ia diterima di salah satu perguruan tinggi negeri di karisidenannya. Biaya administrasi cukup membuatnya kaget, lagi-lagi sang ayah membayarkannya dengan senyuman lebar. “sudah, pakai saja uangnya, masih ada kok’. Meskipun ia tahu, kalau ayahnya tak punya cukup uang, ia mulai belajar apa itu perjuangan….

Kehendak Allah, ia juga diterima di salah satu sekolah tinggi yang tidak mengharuskan ia untuk membayar, bahkan akan dibayar setiap bulan ‘mendapat uang saku’ katanya, langsung kerja katanya……. Tapi, bagaimana dengan uang ayahnya yang sudah terpakai untuk administrasi di kampus sebelumnya? Lagi-lagi ayahnya, menjawab dengan senyuman. “Tak apa-apa, Nak”…..Mulai dari situlah, Allah mengizinkan keluarganya untuk bergeser dari kemiskinan.

Ia mulai tinggal jauh dari orang tuanya. Ia merantau ke sebuah kota yang jauh dari tanah kelahirannya, untuk berjuang. Rindu orang tua itu pasti, tapi di balik itu semua Allah telah mengatur yang terbaik untuknya. Di tanah rantaunya, ia dipertemukan dengan orang-orang yang senantiasa mengajaknya ke jalan Allah. Di tanah rantau, ia mulai belajar apa itu ‘tiada Tuhan selain Allah’.

….

Teknologi sudah semakin berkembang, ada magicom, kompor gas, dan perangkat dapur lainnya yang serba mudah untuk digunakan. Di situlah ia mulai belajar, belajar untuk memahami perjuangan sang ibu. Kalau sekarang ia bisa memasak nasi hanya dengan mudahnya.

Padahal dahulu, perjuangan sang ibu…

Air yang digunakan untuk memasak sang ibu tidak bisa diambil dari sumur sekitar, karena rasanya asin. Air harus diambil dari tempat yang cukup jauh menggunakan derigen yang dibonceng dengan sepeda onthel. Belum punya sepeda motor saat itu. Warga bilang air yang bisa digunakan untuk memasak itu adalah ‘air anyep’. Air tersebut juga bagus digunakan untuk mencuci pakaian karena busa yang ditimbulkan bisa melimpah. Kok nggak pakai PDAM? Yaaa, PDAM belum masuk ke desa tersebut. Begitu besarnya perjuangan sang ibu dan sang ayah untuk menyiapkan air. Dilanjutkan dengan aktivitas memasak yang menggunakan kayu bakar. Ibu, tak pernah mengeluh ketika memasak, sepanas apapun  suasana dapur saat itu. Ibu tak pernah menceritakan ribetnya memasak dengan kendil, yang kemudian harus di tapung dipindahkan ke dandang. Bahkan, sampai sekarang saat sang anak sudah bisa memasak dengan magicom pun, ibu tak pernah menceritakan kalau dulu untuk memasak nasi harus ribet, ibu tak pernah menceritakan itu semua, ibu……

Ibu tak pernah menceritakan ribetnya proses memasak air, yang dulu sering diminum. Ibu tak pernah bercerita, peluh sang ayah yang capek pasca kerja di sawah, harus pergi mengambil air anyep, barulah air dimasak, barulah bisa diminum. Ibu tak pernah membandingkan kalau sekarang sang anak hanya cukup dengan membeli air galon apabila menyiapkan minum untuk sang ibu. Ibu….

9aecc150868211e39320122adf243e91_7

Ibu, kini anakmu telah menikah. Anak yang engkau besarkan dengan penuh rasa cinta sedari kecil. Belum jua anakmu ini berbakti kepadamu, anakmu sudah mencintai orang lain yang baru saja ia temui dan hidup bersama laki-laki itu dalam ikatan pernikahan.

Ibu, kini jarak terbantang jauh diantara kita, meskipun tulisan di blog ini belum tentu akan terbaca olehmu. Ibu….

Ibu, engkau yang serba bisa dalam mengatur waktu, padahal perjuangan engkau mencuci pakaian sungguh tak bisa dibandingkan dengan diriku saat ini. Engkau yang selalu tersenyum meski pun belum ada sumur. Pantaskan anakmu ini mengeluh, ketika cucian menggunung, padahal semua serba mesin. Engkau yang begitu terampil mengurus pekerjaan rumah dalam keterbatasan peralatan dan kesibukan mengurus sawah. Engkau yang tak pernah telat menyiapkan sarapan untukku, hingga anakmu ini tak pernah kenal apa itu sakit maagh. Pantaskah anakmu ini mengeluh untuk bisa menjadi sepertimu, bisa menyiapkan makanan untuk keluarga, padahal dengan peralatan dan air yang sangat jauh dari saat itu. Ibu, betapa aku sangat mencintaimu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s