[138] Keluarganya Allah [episode 3]


Tentang kehidupan, tentang segala bentuk nikmat dari Allah, tentang diri yang sering lalai untuk bersyukur. Ampuni hamba-Mu ya Rabb.

Beberapa hari yang lalu, ia pergi jalan-jalan di youtube. Mencoba mencari-cari video dari Ust. Yusuf Mansur. Sayangnya, tubemate yang terinstal di handphone-nya sedang bermasalah. Hingga ia pun tidak bisa men-download video yang ia play dari samsung-nya. Payahnya, ia pun belum jua berubah dari dirinya yang dulu. Kurang kreatif dalam perkara ‘IT’. Mencari solusi kenapa tubemate­-nya bermasalah pun tak mau. Kalau tidak bisa download lagi, ya sudaah,  nonton saja via youtube. Itu artinya kuota pun menjadi boros dan lebih parah lagi, ia tak bisa menyimpan video yang dirasa bagus.

Setelah berjalan sana-sini, akhirnya ia bertemu dengan video yang mengupas terkait mimpi bertemu dengan Rosulullah. Dalam video itu, Wirda (anak sulung dari Ust. Yusuf Mansur) menceritakan mimpinya bertemu dengan Rosulullah, yang berkaitan juga dengan menghafal Al Qur’an. MasyaAllah. Dalam video itu juga menampilkan 3 bersaudara (dalam usia yang masih muda) yang hafal Al Qur’an.MasyaAllah. Satu diantara 3 bersaudara tersebut, namanya Habib, suaranya MasyaAllah. 

“Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia, para sahabat bertanya, “Siapakah mereka ya Rosulullah?” Rosul menjawab, “Para ahli Qur’an. Merekalah keluarga Allah  dan pilihan-pilihanNya”. (HR Ahmad)

Suasana sabtu malam tertanggal 13 Desember 2013, ia yang masih bersama dengan semangatnya yang pasang-surut. Keputusannya untuk mengikuti Utsmani online memang sudah mantap insyaAllah. Namun, hingga pertemuan ke-7 pun, ia masih saja belum sadar. Masih sering menghafal ‘mepet’ beberapa jam sebelum setoran. Ahad pagi ia setoran, hari sabtu ia baru heboh untuk menghafal. Kemana saja ia selama 6 hari sebelumnya? Apakah ia tidak pernah bersyukur, betapa besar nikmat yang Allah berikan kepadanya. Nikmat kesehatan, nikmat fasilitas, nikmat kesempatan, nikmat….

Surah Al Mulk, surah ke-67, surah pertama di juz 29. Surah yang tak asing lagi baginya. Kerap ia membaca surah itu sebelum tidur, bahkan sangat sering ia mendengarkan surah itu dari handphone­-nya. Sering ia dengarkan lengkap dengan terjemahannya, hingga menjadi kebiasaannya.

Sabtu malam, lepas isya’, ketika semangat menghafalnya tak kunjung jua datang, ia mencoba mencari-cari motivasi. Mencoba kembali berjalan-jalan di youtube, berharap dapat bertemu dengan video yang bisa melecutkan semangatnya. Dalam perjalanannya di youtube, ia bertemu dengan video dari Wisata Hati Selasa 29 Oktober 2013 yang dibawakan oleh Wirda. Dalam video itu Wirda melantunkan 2 kali surah Al Mulk. Betapa senang hatinya menemukan video itu. Beberapa kali ia memutar video itu, live via youtube dari handphone-nya, tanpa bisa menyimpan video itu. Hingga akhirnya datanglah sang pangeran baik hati yang membantunya untuk kembali menginstall tubemate, Alhamdulillah ia bisa kembali men-download, dan memutarnya kembali kapan pun ia mau, tanpa harus tersedot pulsa.

Semangatnya kembali melejit, ia sangat senang mendengarkan surah Al Mulk yang dibawakan oleh Wirda. Alhamdulillah, Allah memberi kemudahan untuk menghafal ayat-ayat-Nya. Beberapa kali ia mengulang video tersebut, hingga terdengar suara dari handhone-nya yang menandakan lowbat. Ia masih saja cuek, rasa-rasanya malas beranjak untuk sekedar mengambil charger.

Taraaaa…tiba-tiba gelap. Semua lampu mati, alias sedang mati lampu.

Bagaimana ini, menghafal belum selesai, murajaah juz 30 juga belum ia lakukan, PR mahraj dan sifat huruf belum ia kerjakan, hukum Mad yang menjadi PR pun belum ia review. Sejenak ia terdiam dalam gelap. Sama sekali ia tidak bisa melihat sekitar, sama sekali. Hanya suara suaminya yang bisa ia dengar. Barangkali sebelumnya ia mengalami mati lampu tatkala siang, atau kalau pun malam, masih ada cahaya dari luar rumah. Berbeda dengan saat ini, semuanya gelap. Entahlah, darimana datangnya perasaan itu. Baru pertama kali ia merasakan perasaan seperti itu. Ia mencoba membuka lebar-lebar matanya, tapi nihil, tidak ada sesuatupun yang terlihat. Semuanya gelap. Baru kali ini ia merasakan perasaan seperti itu. Perasaan menjadi seseorang yang berusaha keras untuk membuka matanya lebar-lebar, tapi tidak ada satupun benda yang terlihat. Ya Rabb betapa hamba-Mu ini seharusnya senantiasa bersyukur, Engkau telah memberi nikmat mata sehingga diri ini bisa melihat dunia-Mu ya Rabb.

Tak banyak yang bisa ia lakukan, ada harapan tetap bisa menghafal dengan mendengarkan suara Wirda, tapi apa daya, handphone lowbat. Hingga sang suami pun bergegas mencari senter untuk penerangan agar sang istri masih bisa menghafal Al Mulk.

Ya Rabb, betapa banyak dosa yang telah hamba timbun. Nikmat mata yang seharusnya menjadi bentuk kesyukuran, tapi hamba seringkali menggunakannya untuk melakukan maksiat kepada-Mu ya Rabb. Betapa hamba seringkali menggerutu , menyalahkan pihak yang mengelola listrik, ketika listrik padam di saat yang tidak tepat. Bahkan hamba, seringkali tidak bersyukur, ketika listrik padam hanya untuk sementara, bagaimana kalau nikmat mata ini dicabut, sehingga hamba merasakan gelap yang tidak sementara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s