[134] Keluarganya Allah [episode 1]


Seorang muslimah yang masih saja setia berendam dalam kubangan kemalasan. Masih saja belum sukses melompat dari jaring-jaring ilusinya. Merasa terperangkap dalam kesibukkan duniawi dengan semua angan-angan palsunya. Yaaa, hanya sebatas rekayasa cita-cita yang mampu ia lukis. Bagaimana tidak? Pandai menyusun cita-cita, tapi tidak terampil dalam mengaplikasikannya. Entahlah, sejak kapan ia mulai menjadi sang ‘pengarang’ cita-cita. Entahlah, sudah berapa banyak ia menulis ‘quotes’ tentang cita-citanya itu. Di dinding rumah, sticky notes di kantor, berbagai buku catatannya, dimana-mana ia tulis cita-cita besarnya itu. Harapannya agar tulisan itu senantiasa terbaca dan membuat ia termotivasi. Namun, faktanya ia belum mampu jua menjadi orang yang bekerja keras untuk meraih cita-citanya itu. Hanya sekedar bekerja ringan dengan rajin mendengarkan playlist yang sering ia putar, ikut mengucapkan dilafal tertentu yang ia hafal.

Alhamdulillah, beruntung ia belum menghilangkan kebiasaan lamanya, rajin mendownload video dari web aql. Rajin memutar kajian-kajian dari guru ngaji. Namun, masih saja hanya sekedar bekerja dengan ringannya. Belum ada peluh, belum ada keringat buih kerja kerasnya. Hanya ringan menjalani semuanya.

Bagaimana mungkin ia masih belum termotivasi? Ada apa dengan dirinya? Hampir dalam setiap hari-harinya, memasakkah, bekerja di kantorkah, menjelang tidurkah, dalam setiap waktu yang memungkinkan ia rajin mendengarkan kajian-kajian yang telah didownload. Rajin pula mendengarkan playlist dari cita-cita besarnya. Rajin pula mendengarkan siaran ulang dari salah satu program televisi yang diupload melalui youtube. Bahkan ia sering terisak meskipun telah memutar siaran itu berulang-ulang kali. Mendengarkan ayat-ayat suci yang indah terlantun dari anak-anak yang usianya begitu jauh di bawahnya. Ia terisak malu, ada apa dengan dirinya?

 “Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia, para sahabat bertanya, “Siapakah mereka ya Rosulullah?” Rosul menjawab, “Para ahli Qur’an. Merekalah keluarga Allah  dan pilihan-pilihanNya”. (HR Ahmad)

Makna dari hadist tersebutlah yang menjadi cita-cita besarnya. Ia ingin sekali menjadi keluarganya Allah. Ingin sekali. Bahkan sudah tak bisa terhitung lagi, berapa kali ia mengungkapkan cita-cita tersebut pada suami tercintanya, “Mas, adee ingin menjadi hafidzah”. Bahkan, sang muslimah itu juga sudah hafal dengan jawaban suaminya, saking kerapnya ia mengungkapkannya.

Sang muslimah itu juga sering teringat nasehat guru ngajinya, bahwa menghafal Qur’an itu susah di awal. Yaa, memang sulit di awal ketika ingin memulai, sulit juga di tengah, dan juga di akhir. Pada intinya memang butuh perjuangan dan kerja keras besar.

“Tekad itu harus dibangun dari diri sendiri. Dan setiap kita harus punya mimpi. Mimpi kita juga harus kita bayar mahal dengan semua usaha-usaha maksimal yang bisa kita lakukan” (Ust. Bachtiar Nasir)

Selama ia hidup di Jakarta, semasa ia kuliah dan pasca kuliah, ia masih rajin ‘hadir’ di Utsmani. Memperbaiki bacaannya, menambah sedikit demi sedikit hafalannya, menerima motivasi yang luar biasa dari lingkungan indah itu, hingga menerima teguran apabila ia lalai. Dalam setiap pekan, ia setoran hafalan. Hampir saja. Hampir saja ia selesai level tahfidz putaran pertama. Hampir saja iya selesai setoran juz 30. Apakah pembaca tahu artinya hampir saja? Yaaaa, ia belum pernah selesai setoran juz 30. Padahal di levelnya, beberapa dari temannya telah beranjak ke juz 29, sedangkan ia masih setia dengan juz 30. Yaaa, padahal ia telah menargetkan juz 30 itu selesai disetor pada level talaqqi. Tapi, faktanya? Ia bawa juz 30 sampai ke level tahfidz putaran pertama. Itulah buah dari kemalasan, berdalih sibuk kuliah kah, sibuk skripsi kah, sibuk sidang kah, sibuk mempersiapkan walimah kah, sibuk dengan kesibukan baru menjadi seorang istri kah? Ia dengan semua alasan-alasan klasiknya.

Beberapa waktu kemudian, sesaat sebelum ia sampai pada jadwal ujian tahfidz putaran pertama. Takdir Allah memboyong diri dan suaminya untuk tugas ke Gorontalo. Dua puluh enam Desember 2012, besi terbang itu mengajaknya menjamah tanah baru. Sejak saat itu, ia mulai kehilangan lingkungan indah di tanah metro.

Tibalah di suatu titik, rindu itu memuncak. Rindu Utsmani. Rindu suasana memecah pagi buta untuk sekedar menunggu metromini merah-orange lusuh itu lewat. Rindu sahabatnya Putri dengan semangatnya. Rindu itu semua. Akhirnya ia meminta izin kepada suaminya untuk mengikuti Utsmani online. Tentu saja sang suami menyambut kabar itu dengan suka cita, dalam hati beliau, “akhirnyaaaa”.

Setelah kembali berkomunikasi dengan Ustadzah di Utsmani, tersebutlah bahwa media Utsmani online menggunakan skype. Taraaa, kembali berpusing ria, bagaimana bisa terkoneksi skype, signal modem saja ‘begitulah adanya’. Mau coba langganan seperti di Jawa? Hmmm ternyata kabelnya belum sampe ke perumahannya. Mau pakai wifi kantor? Cepat siii, tapi apa iya mau pakai fasilitas kantor untuk keperluan pribadi? Kalimat penutup kepada Ustadzah di Utsmani, ‘sementara belum dulu Ustadzah, karena masih berusaha mencari signal yang oke punya’.

Yaaaa, begitu besar godaan syetan itu. Sukses menggagalkan semangatnya yang telah membara beberapa saat yang lalu.

Hampir satu tahun ia vakum dengan jamaah penghafal Qur’an. Hampir satu tahun ia kehilangan Ustadzah yang senantiasa menegurnya.

Tibalah di suatu waktu indah, entah darimana munculnya semangat itu. Ia memutuskan untuk kembali menghubungi sang Ustadzah via whatsApp.

Wa’alaikumsalam..

Untuk sendiri atau kelompok mbak?

Mbak tentukan waktu belajarnya nanti supaya bisa diatur dengan gurunya

Untuk pembayaran bisa via transfer

Empat hari setelahnya…

Assalamu’alaikum mbak

Alhamdulillah sudah ada gurunya

Nanti untuk ID Skypenya mbak smsan aja ya

Ustadzah Subartini

Alhamdulilah, tertanggal 28 September 2013, ia resmi memantapkan langkahnya.

Tertanggal 30 September 2013, ia menghubungi ustadzah yang akan membimbingnya belajar kembali.

OK, InsyaAllah kita coba sabtu besok jam 6.30 WIB ya. Add skype saya ***** ***i

Anti kan sudah pernah belajar utsmani dan sudah dapat sertifikat level 5, jadi besok langsung setor hafalan ya. Boleh dari an nas atau dari an naba terserah.

Sedikit kaget. Yaaaa, ayo kembali memulai. Memulai kembali. Mengejar cita-cita besar itu.

Alhamdulillah, semoga ia akan sukses melalui hari-harinya untuk mengejar cita-cita besarnya. Semoga jaringan akan bersahabat, karena ia pun belum tahu apakah signal modemnya akan bisa berjalan dengan baik dengan durasi 2 jam dalam setiap pertemuan. Ia yakin, ada Allah.

Ia beruntung memiliki suami yang senantiasa memberi motivasi, sarana, dan cintanya. Yang dengan sabarnya mendengarkan hafalannya. Tapi entahlah, ia kurang suka jikalau harus belajar mengaji dengan suaminya. Karena suaminya dianggapnya terlalu tampan dan susah membuatnya konsentrasi.

Semoga dengan tulisan ini semangatnya kembali berkobar, dan ia akan merasa malu jika tidak bisa kembali konsisten. Aamiin.

*Ia adalah saya. Semoga Allah memudahkannya untuk menumpas segala bentuk kemalasan yang setiap saat telah siap untuk membuainya.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

 

//

4 thoughts on “[134] Keluarganya Allah [episode 1]

  1. wuuiih ngeliat tulisan2 mb endri saya iri…irinya itu semacam pengen sperti mb endri pengetahuannya byak dan pintar😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s