[133] Roda-roda cinta


Kurang lebih 12 tahun silam untuk pertama kalinya aku belajar mengendarai motor. Masa-masa peralihan dari putih-merah ke putih-birutua. Yes. Senang rasanya bisa mengendarai motor. SIM belum di tangan, jadi aku hanya boleh memakai motor untuk rute tertentu. Padahal, keinginan untuk sering-sering mengendarai motor ini meluap-luap. Serius. Barangkali sebagian orang juga merasakan hal ini, ketika awal-awal belajar mengendarai motor atau mobil.

Setelah mulai mahir, menjadi kesenangan tersendiri bagiku ketika mengendarai motor dengan kecepatan tinggi. Serasa lepas, dan asyik. Meskipun aku hanya pandai di rute lurus, kalau urusan tikungan ke kiri masih lumayan lah yaa, tapi kalau urusan tikungan ke kanan aku mengakui masih belum ‘sukses’. Tentang pengalaman jatuh. Pernah jatuh, berdalih ingin menghindari nenek-nenek yang ingin menyebrang, alhasil motorku sukses mencium batu-batu di lereng gunung Sregan. Allah menegurku. Sejak peristiwa kecelakaan itu, aku mulai menurunkan kecepatan motorku. Aku mengendarai dengan cukup pelan, tapi ternyata itu hanya berlangsung dalam hitungan hari. Selanjutnya, masih dalam kondisi kaki luka, aku nekat ke sekolah dengan kostum putih abu-abu, dan mulai menjadi ‘pembalap’  lagi.

Tahun berganti, ketika aku harus memutuskan untuk menempuh pendidikan lanjutan di kota metro Jakarta, aku harus rela berpisah dengan motor. Awalnya terkekang, merasa gatal tangan ini. Lambat laun terbiasa juga, kesana kemari naik kendaraan umum. Hanya sesekali ketika pulang kampung, aku luapkan rasa rinduku pada suasana asyik itu.

Tahun pun berganti lagi. Sekarang aku menjadi seorang istri. Bisa dihitung jari berapa kali aku mengendarai motor dalam setiap bulannya. Itu pun ketika memang mendesak, aku harus sendiri. Selebihnya aku menjadi penumpang setia. Ternyata dibonceng itu lebih menyenangkan, terlebih dibonceng oleh seseorang yang sangat spesial di hati. Dari sini, aku mulai mengerti kenapa dulu teman-teman sering protes dan teriak-teriak ketika aku boncengin kebut-kebutan, ternyata sungguh senam jantung. Maafkan aku ya teman-teman. Terutama untuk sipo dan ika, maafkan aku ya.

Ada kejadian lucu terkait peristiwa bonceng-membonceng antara aku dan suamiku. Peristiwa itu terjadi saat kami mendapat tugas untuk task force di salah satu kecamatan yang cukup jauh. Kami hafal kalau di rute jalan yang akan kami lalui itu sering ada razia kelengkapan mengendara terkait SIM atau STNK. Waktu itu, SIM suamiku habis masa berlakunya. Hingga akhirnya kami tukaran posisi sebelum melintasi pos razia tersebut, aku yang membonceng-suami yang dibonceng. Dan saat itu kami menggunakan motor pribadi, bukan motor dinas plat merah. Biasanya kalau plat merah tidak diberhentikan soalnya, kami pernah mengalaminya beberapa kali dengan plat merah ‘lolos’ tanpa pemeriksaan. Ditambah lagi, saat itu kami mengenakan jaket PKL STIS, jaket zaman kuliah dulu. Lengkap sudah lah kami seperti layaknya 2 anak kuliah yang lagi kasmaran dan cocok untuk diberhentikan. Tibalah di TKP, kurang lebih begini percakapannya:

Pak polisi: Selamat pagi,

Kami       : Pagi Pak

Pak Polisi : Kenapa ini laki-laki yang dibonceng?

Aku       : Kami suami-istri pak. (aku menjawab sekenanya, padahal pak polisi tidak bertanya apa hubungan diantara kami berdua, haha)

Pak Polisi : Seharusnya laki-laki itu yang menjaga, laki-laki itu yang di depan, laki-laki itu yang,,,,, (cukup panjang nasehat pak polisi kala itu)

Suami    : Saya sedang sakit pak (sembari berpose menaik turunkan ingus, saat itu memang suamiku sedang flu. Tapi jujur, saat itu aku berusaha sekuat tenaga untuk menahan tawa melihat ekspresi suamiku yang sangat lucu. Aku pun segera mencoba menyibukkan diri dengan mengambil SIM dan STNK)

Pak polisi  : Tapi…..(kembali memberi nasehat, sembari memerika STNK beserta SIM. Dilihat-lihat sebentar, kemudian dikembalikan lagi)

Kami        : Ya Pak, ya pak (aku pun segera melaju ala balap, karena tak kuat menahan tawa, beberapa detik kemudian pecahlah tawa kami berdua, haha)

OLYMPUS DIGITAL CAMERAini dia suamiku tercinta

OLYMPUS DIGITAL CAMERAlokasi di Gorontalo (*kalau hasil jepretan suami hasilnya bagus ya, coba bandingkan dengan foto sebelumnya, tempat sebagai latarnya sih sama, tapi karena saya yang fotoin hasilnya jadi belum maksimal)

OLYMPUS DIGITAL CAMERApasca wedding

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s