[117] Sayangilah, Meski Hanya Seekor Semut


Hari ini pagi tersenyum cerah di Gorontalo, tusukan mentari bijak menyapa penghuni bumi. Langit biru berhias awan putih nan teduh turut menambah amboinya suasana pagi ini.

Hari ini hari Sabtu, tanggal 19 Januari 2013. Hari sabtu, hari libur kantor. Dari sebuah keluarga kecil di wilayah Duulomo Selatan, Gorontalo, terdengar cerita.

“Mas, banyak semut di situ”, ku tunjuk tempat sampah di pojokan yang berhias barisan semut menyerbu botol yakult.

“Iya gak papa, semut-semutnya lagi menikmati rejeki”, jawab suamiku ringan dengan senyuman khasnya.

Beberapa menit kemudian, suamiku merapikan tempat sampah tanpa mengganggu keasikan semut-semut itu menikmati rejekinya. MasyaAllah.

Setelah selesai merapikannya, suamiku duduk disebelahku. Alhamdulillah. Sembari menikmati pagi, suamiku berpetuah padaku,

“Kalau Mas di kamar mandi dan melihat ada semut, mas sangat hati-hati. Satu persatu semut itu, Mas pindahkan ke tempat lain. Jangan sampai semut itu akhirnya mati hanya karena kita menyiram air untuk mengusirnya.”

“Iya Mas”, jawabku ringan, sembari mencerna baik-baik kalimat dari suamiku. Berarti besok-besok tak boleh menyiram semut lagi kalau ingin mengusir semut. Aku mengulum senyum semanisku, biar tak kena gelitik pangeran di sebelahku. Karena ketahuan kalau kemarin menyiram semut di kamar mandi.

“Adee tau kan, semut itu kecil, tapi dia juga ciptaan Allah?”

“Iya ya Mas, setiap ciptaan Allah punya hak untuk hidup, jadi kita tak boleh semena-mena terhadapnya ya Mas, meski hanya seekor semut” ku jawab dengan nada manjaku, aku kembali menanamkan rasa cintaku pada semut yang sempat luntur.

Ku lanjutkan ceramahku, “Adee salut sama Mas. Mas sering mempersiapkan makanan untuk kucing yang suka datang ke sini, padahal Mas juga tidak tau itu kucing milik siapa”, masih dengan wajah polosku aku melanjutkan ceramahku lagi.

“Mas, mas. Mas juga sering sedekah untuk burung-burung alam bebas itu. Sejak tinggal disini dan Mas tau kalau ada burung-burung yang sering singgah di kabel-kabel depan. Setiap hari Mas menaburkan beras di teras depan, sengaja untuk burung-burung itu. Adee sampai hafal, setiap pulang kantor, Mas berbisik pada Adee.

“Dee, liat beras-beras yang tadi pagi sudah habis.”

Dan Adee sering becandain Mas, “Itu kan karena berasnya terbang kena angin”.

Beras itu dimakan oleh burung-burung yang terbang di alam lepas. MasyaAllah.

Suamiku melanjutkan petuahnya,

“Adee ingat saat pertama kali kita datang ke tempat ini, waktu bersih-bersih ada laba-laba besar dan Adee teriak heboh. Adee tanya, kenapa Mas tidak membunuh laba-laba itu. Mas tau Adee takut, Adee bilang laba-laba itu beracun. Tapi, laba-laba itu belum mengganggu kita. Makanya Mas masukan plastik dan Mas lepaskan laba-laba itu jauh dari tempat ini. Mas tidak mau membunuhnya, kecuali kalau dia sudah mengganggu kita, kita boleh membunuhnya. Atau, kecuali kalau itu adalah hewan berbahaya misalkan ular, barulah kita boleh membunuhnya.”

Aku tersenyum, aku harus banyak belajar lagi. Rabbana, betapa aku sangat mencintai suamiku.

“Mas, Mas, Adee sayang Mas karena Allah”, dan satu kecupan cinta mendarat bebas di keningku🙂

2 thoughts on “[117] Sayangilah, Meski Hanya Seekor Semut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s