[115] Diorama Cinta


Allahu ya Rahman. Allahu ya Rahman. Allah Allah Allah Allah Allahu ya Rahman…

Suara handphone menggerakkan hatiku untuk lekas-lekas mengangkatnya.

“Assalamu’alaykum,” ku sapa seseorang diseberang lengkap dengan bunga-bunga hati.

“Wa’alaykumsalam, Cintaa, “

“em em em,” aku hanya tersenyum kecil, kebiasaan tersipu dengan sapaan laki-laki romantis itu.

“Adee keluar kamar bentar ya, Mas ada di depan pintu kamar Adee, kamar nomor 312,” masih dengan suara tenang dan lembutnya.

“Ihhh, kan tadi janjiannya jam 20.00 ambil modemnya, Ini kan masih jam 19.20, Adee kan mau pakai dulu, “ ku jawab dengan nada manja lengkap dengan rajukan.

“He em, keluar dulu ya,” disambung dengan suara ketukan pintu kamar.

Seperti biasanya, beliau sering membuat kejutan-kejutan indah. Begitu pun kali ini, tiba-tiba beliau sudah naik 1 lantai dan sampai di depan kamarku.

Jegreeeek, bunyi suara pintu kamar menyambut pertemuan kami. Pintu terbuka, pandangan pun beradu. Rasa rindu meluap-luap diantara kami. Rindu akan pelukan hangatnya, rindu dengan ciuman mesranya yang bertubi. Rindu makan sepiring berdua seperti kebiasaan kami sebelumnya. Tapiiiii, saat ini tak banyak hal yang bisa kami lakukan. Melepas kangen dengan obrolan ringan di saat-saat makan atau cofee break, sms-an, atau via telepon. Selebihnya kami cukup menyimpan luapan rindu itu. Semoga lekas-lekas kembali pada kondisi normal. Aamiin. Lanjut kepercakapan di depan kamar 312.

“Mas bawa sesuatu untuk Adee, yang satu diminum malam ini, yang satu lagi besok pagi ya Cintaa, “ masih dengan nada tenang dan cool  yang membuatku sering menghemat kedipan mata karena terpesona.

“Apa Mas?”

“Nanti liat aja ya. Mas mau maen pingpong  dulu di lantai atas”

**************sensor

Lekas-lekas ku buka bungkusan itu. MasyaAllah. Pangeran yang super perhatian dan romantis. Isi bungkusan ini hanya bisa dibeli di luar area diklat. Jarak yang cukup jauh. MasyaAllahI love u, Cintaa.

puncak monas

puncak monas

kangen berdua-duan🙂

Foto ini saat kami main ke monas. Diambil live dari puncak monas dengan timer, hehe

Ceritanya kami (*aku dan suami) sedang mengikuti acara diklat dari instansi kami, BPS. Setelah sekian lama menanti, akhirnya panggilan diklat prajabatan golongan III datang jua. Barangkali suatu saat aku akan menceritakan kisah penantian angkatan 49 ini pada orang lain, suatu saat nanti, tercatat tanggal 25 November-13 Desember 2012. Sebuah catatan sejarah baru, buih dari penantian yang ‘unik’ dalam sejarah lulusan STIS. Moratorium.

Selama diklat, kami tinggal di asrama Pusat Pendidikan dan Pelatihan BPS, tepatnya di Lenteng Agung Jakarta. Diklat berlansung selama 19 hari dengan 17 hari efektif. Aturan mainnya meski suami istri tidak boleh 1 kamar. Hmmmm, itulah yang membuat hati ini haus karena rindu. Serasa lamaaaaa bagi kami. Padahal belum ada 1 minggu, hahaha.

 –catatan rindu seorang istri–

//

4 thoughts on “[115] Diorama Cinta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s