[114] Cinta Segiberapa#part 2


Lanjutan dari Cinta Segiberapa#part 1

….

Pagi buta tampaknya ikut enggan menyapaku. Atau barangkali mereka sudah jengah melihat tingkahku. Atau barangkali mereka sedang riuh menertawakan nasibku. Tertawa akan nasib wanita bodoh yang dengan cepatnya menyerahkan diri pada srigala berkepala kelinci.

“Ahhhh, apa yang ku pikirkan. Bukan kah semua ini adalah kehendak Allah,” aku bergumam menghibur diri.

Ku lanjutkan kesibukkan baruku. Mandi air mata. Rasa-rasanya aku tak ingin melihat matahari pagi ini. Aku merasa lebih nyaman dengan gelapnya malam, meski dingin mencekam terasa sampai epidermisku. Meski gelap dan dingin, hati ini serasa bersahabat dengannya, gelap malam saat Mamak tertidur nyenyak. Hari ini hatiku sedang tak suka pagi tiba. Aku belum siap menjawab lemparan pertanyaan Mamak kenapa mataku bengkak. Belum siap menerima sederet laporan Mas Andi berisi tuduhan yang akan diungkap di depan Mamak. Aku, aku, aku tak ingin melihat Mamak sedih dan kecewa.

“Ya Allah”

Berteman lampu temaram, ku lempar pandanganku jauh-jauh ke luar jendela kamar. Berharap ku dapati solusi dari semua ini. Tetapi miris, tak ada hasil. Nihil.

“Ciii, sarapan sudah siap, makan dulu Ci,” panggilan Mamak yang khas masih sama seperti saat-saat aku masih berseragam putih abu-abu.

“Iya Mak, ” jawabku sekenanya, sembari ku liat jam di sebelah kanan dipan, ternyata sudah 2 jam aku bermain mengelap kacamata minusku yang  rutin berembun.

Semenjak aku menikah, Mamak menjadi penghuni tunggal rumah ini. Bapak merantau ke Jakarta untuk menghidupi keseharian kami, sedangkan adik perempuanku kuliah di Purwokerto. Dan aku tinggal di rumah mas Andi sepekan terakhir ini. Tentang diriku. Lulus dari SMA terfavorit di kabupaten, aku melanjutkan kuliah Diploma 4 di Solo mengambil jurusan Kesehatan Kerja. Berkutat dengan laporan. Tentang aku dan Mas Andi. Pasca lulus kuliah itulah awal hari-hariku bersinggungan dengannya. Aku bekerja di salah satu perusahan swasta penjualan mebel dibagian recepcionis. Yaaa, memang pekerjaanku jauh dari apa yang aku pelajari di meja kuliah. Hanya ada 2 wanita yang bekerja di situ, aku dan Dewi.  Karena perusahaan mebel tidak terlalu membutuhkan tenaga wanita. Dewi lah yang menjadi perantara hingga akhirnya aku menikah dengan Mas Andi. Dewi adalah adik kandung Mas Andi. Awalnya semua baik-baik saja, tetapi hari demi hari rasa-rasanya aku merasa terperangkap dalam kubangan cinta palsu. Penyesalan pun akhirnya tiba di akhir, setelah aku menikah dengan laki-laki itu.

“Ayo makan Ci,” ajak Mamak polos seolah tak terlalu mempertanyakan mataku yang bengkak. Atau memang Mamak sudah bisa menebak apa isi hati anak sulungnya ini.

“Maaaak, ” kupeluk erat tubuh wanita hebat yang telah melahirkan dan menyayangiku sampai saat ini. Aku terisak. Tangan Mamak mengelus dengan sayang di punggungku yang terbalut jilbab unguku.

“Tenanglah Ci, ceritakan pada Mamak apa yang terjadi”

Alhamdulillah, terasa lebih ringan beban ini setelah aku ceritakan pada Mamak. Sarapan pagi yang indah, paling indah dalam kurun sepekan trakhir ini. Selama tujuh hari terakhir ini, ku lalui sarapan pagi dengan bumbu pedas tuduhan dari Mas Andi, lengkap dengan bentakan-bentakannya. Sangat berbeda dengan pagi ini, nikmat. Malangnya aku, baru saja hendak menyantap sendok yang kedua, terdengar suara melengking yang memecah kedamaian ini. Rabbana.

“Ciiiii, Suciiiii, dimana kau?”

2 thoughts on “[114] Cinta Segiberapa#part 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s