[83] Singgah di Masjid Kubah Mas (Masjid Dian Al Mahri)


Jumat, tertanggal 23 Maret 2012. Tanggal merah. Kantor libur. Hore /. Maen2 dari Jakarta menuju Depok. Dari Otista naik mikrolet 44 ke menuju station Tebet. Naik kereta melewati station Tebet-Cawang-Duren Kalibata-Pasar Minggu Baru-Pasar Minggu-Tanjung Barat-Lenteng Agung-Universitas Pancasila-UI-Pondok Cina-Depok Baru. Stop sampai station Depok Baru. Keluar area station, masuklah ke terminal Depok. Lanjut naik angkot biru nomor 03, agak lama si, bayarnya 3000 rupiah sadja (*harga per 23 maret 2012). Sampai di pertigaan (pertigaan apa yaaa, lupa namanya^^), pindah ganti naik angkot no 102 (*bayarnya 2000 rupiah), daaan sampailah ke depan Masjid Kubah Mas. Semoga rute ini bermanfaat, bagi teman2 yang barangkali berniat dari Otista ke Depok, untuk berkunjung ke salah satu dari 4 masjid yang berkubah Mas di dunia ini^^

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Untuk pertama kalinya. Bersama saudari seperjuanganku “Putri”, tibalah kami di pintu masuk Masjid Dian Al Mahri atau biasa dikenal orang sebagai “Masjid Kubah Mas”. Masjid ini terletak di tepi jalan Raya Meruyung-Cinere Kecamatan Limo, Depok. Dari jalan raya menuju area masjid, kami disuguhi dengan pot-pot bunga yang tertata rapi di kanan kiri jalan. Area pelataran masjid nan luas penuh rerumputan hijau yang bersih dan terawat. Berhias beberapa papan nangkring, tertulis larangan menginjak rumput. Subhanallah. Ada pula petugas kebersihan yang lalu lalang bermain dengan dedaunan yang jatuh.

Masjid dengan 5 kubah, yaitu satu kubah utama dan 4 kubah kecil. Seluruh kubah dilapis emas setebal 2 sampai 3 milimeter dan mozaik kristal. Jepret-jepret sana sini. Woww, masjid kubah Mas memang menyuguhkan pemandangan yang eksotis. Tapi sayang sekali, karena aku belum mahir maen jeprat jepret jadi yaaa, plus pakai kamera hp yang seadanya, hasilnya heeee😀😀

Masjid nan luas, ada dua akses masuk yang sama-sama luas. Kami berjalan dari pintu utama, lurus, mengambil jalan sebelah kanan masjid, menyusuri sekeliling area masjid. Di sebelah kiri dari kami berjalan, pada bangunan masjid terlihat tulisan pintu masuk untuk laki-laki. Dalam benak, berbisik lirih, Alhamdulillah akses pintu masuk ikhwan dan akhwat terpisah.  Lurus berjalan lagi mengikuti jalan di tepian masjid, sampai batas belakang bangunan masjid, kemudian belok ke kiri (*berarti sekarang posisi kami berada di bagian tampak belakang dari masjid), barulah terbaca pintu masuk untuk wanita. Artinya akses pintu masuk untuk wanita, dari arah shaf paling belakang.

“Sebaik-baik shaf pria adalah shaf yang awal dan sejelek-jelek shaf pria adalah yang akhirnya. Sebaik-baik shaf wanita adalah shaf yang terakhir dan sejelek-jelek shaf wanita adalah yang paling awal.” (Shahih, HR. Muslim )

Melihat tulisan akses masuk untuk wanita, aku dan Putri segera bergegas untuk masuk ke masjid. Tapi, kami berdua ditegur oleh perempuan berhijab hitam rapi yang berada di bawah tenda, tak jauh dari posisi kami. Asumsiku mereka berdua adalah pengurus masjid, mereka memberikan pengarahan bahwa ini hari Jumat, masjid Kubah Mas akan digunakan untuk shalat Jumat. Sehingga, kami diarahkan untuk menuju bangunan yang beratab hijau,  wanita itu menunjukkan arah seberang kanan. Seberang jalan dari posisi kami berdiri yang masih dalam lokasi masjid. Karena area masjid ini memang luas, sehingga ada beberapa bangunan utama.

Area masjid yang lapang. Tempat persinggahan yang beratap hijau ini pun juga luas. Banyak orang-orang masuk lantas istirahat sejenak di bangunan ini sembari menunggu usai shalat jumat.  Tukang foto, penjual souvenir, penjual pop mie, lalu lalang berjuang menawarkan barang dagangannya. Kesana-kemari.

Di sebelah bangunan beratab hijau juga ada bangunan lagi, tempat penjualan souvenir dll, tertulis juga arah menuju toilet putri di sebelahnya. Sehingga memungkinkan untuk wanita ke toilet, ketika area masjid utama tidak boleh dimasuki wanita, contohnya ketika shalat jumat.

Sekitar pukul 10.30 WIB, angin yang menyenangkan, karena banyak pepohonan dan lapangnya area masjid, membuat angin yang bertiup pun membuai. Terlihat beberapa orang dan rombongan sibuk berpose manis untuk berfoto ria dengan background masjid Kubah Mas. Aku duduk dalam bangunan luas beratap hijau, membuka-buka Qur’an, membaca buku untuk persiapan ujian di Utsmani beberapa hari lagi, ini itu, dan akhirnya angin nan  sepoi sukses membuatku tertidur sejenak😀😀

Akhirnya sholat jumat pun usai, kami hendak memasuki area masjid utama untuk shalat dhuhur. Sebelum memasuki area masjid, kita dipersilakan untuk menitipkan sandal/sepatu ke tempat penitipan yang berada lorong melalui tangga turun. Terlihat wanita dengan hijab hitam, memberikan pengarahan kepada kami dengan menggunakan microphone, intinya alas kaki dan makanan tidak boleh dibawa masuk ke dalam masjid dan harus dititipkan ke tempat penitipan yang telah disediakan. Berjalan menuruni anak tangga turun, menukarkan sepatu dengan kertas bertulis nomor “123” waktu itu. Lantas, kembali menaiki anak tangga naik, tapi tak sama dengan anak tangga turun tempat kami masuk tadi*semacam berlawanan arah. Keluar dari lorong penitipan dengan menaiki anak tangga, tibalah kami di area masjid utama.

lorong tempat penitipan sandal/sepatu tampak dari atas

Alhamdulillah karena menggunakan kaos kaki, aku tidak merasa panas ketika menapakkan kaki di lantai yang langsung terkena sinar matahari. Terlihat beberapa orang, meloncat-loncat dan berlari-lari kecil karena telapak kakinya panas. Jadi tu, setelah melewati lorong penitipan alas kaki, kami masuk pelataran masjid, nah disitu tak beratap, begitu juga untuk menuju area wudhu. Sehingga karena suasana siang usai shalat jumat, sinar matahari yang bertemu lantai pun menjadi lumayan panas. Alhamdulillah, ketika kita mengikuti syariat Allah dengan menutup aurat, tak terkecuali dengan telapak kaki, membuat kita lebih nyaman dan terjaga.

Usai wudhu, kami memasuki area masjid dalam, terlihat miniatur kakbah yang berada di pelataran dalam masjid. Mungkin ini digunakan untuk manasik haji. Setelah melewati koridor, sampailah ke dalam masjid. Melihat atas disuguhi dengan langit-langit yang berlukis awan-awan putih di langit biru. Kata-katanya si, langit-langit dalam masjid di desaign akan bisa berubah sesuai dengan kondisi cuaca di luar, tapi karena ketika kami berada di situ, suasananya cerah, jadi yang kami liat hanya lukisan awan-awan cerah di dalam masjid. Belum bisa membuktikan apakah benar berubah ketika malam menjadi awan berbintang. Heee

Interior dalam masjid bernuansa kokoh dengan pilar-pilar bernuasa krem yang membuat suasana masjid menjadi tenang dan agung. Berhias juga di langit-langit, lampu dari kuningan berlapis emas dengan berat 2,7 ton garapan ahli dari Italia.

“Allah Akbar”

Aku dan putri menunaikan shalat dhuhur berjamaah di dalam masjid Kubah Mas.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s