[78] Ikhlas, Belajar Agar Berilmu


Entahlah, beberapa hari ini imajinasi merasa terisolir, ide buntu, stag. Seperti robot yang melakukan sesuatu karena daulat. Hampir lupa akan mimpi-mimpi. Menjadi penulis itu kesenangan, bukan paksaan hati karena ingin tenar. Bukan pula karena ingin mendapat seikat kalimat pamrih. Karena sungguh, mengikuti rute yang bukan pilihan sendiri akan sangat mengekang dan bisa membunuh ide-ide. Biarkan lepas. Bebas ketika menulis. Karna karya bukan sesuatu yang minta untuk dibatasi, tapi kreasi dan berharap tak terbatas, tapi tetap beretika.

Mirip seperti menuangkan air dari bejana kaca ke dalam gelas-gelas kristal. Tertuang dengan indah. Manis tak tercecer. Juga ingin menjadi konduktor yang baik, dengan banyak elektron bebas yang mudah untuk bergerak. Meloncat-loncat acak di celah-celah atom penuh manfaat. Berdifusi menebar ilmu pada saudara. Ohhh, betapa indahnya.

Paling tidak, harus menjadi Germaniaum. Yaaa, dia adalah salah satu figur dari semi konduktor. Menyalurkan ilmu, tak seluruhnya. Sampaikanlah walau hanya satu ayat. Sedikit lebih baik daripada tidak sama sekali. Tetapi….Kalau bisa memberi manfaat banyak, kenapa tidak? Ehmmm, bukankah, ilmu itu akan berlipat ketika dibagi?

Belajar konsep ikhlas. Memberi, tanpa pamrih. Membagi, tanpa harap kembali. Karena yakin Allah Maha Adil. Dia yang akan menggantikan dengan yang lebih baik untuk hamba-hamba-Nya yang melakukan segala sesuatu karena-Nya.

Ketika ada yang bertanya, apakah pantas menyeru kepada kebaikan, padahal diri ini masih belum melakukaknnya? Apakah itu munafik? TIDAK. Karena hendaknya kita menyuruh berbuat baik, walaupun kita belum melakukannya. Dan hendaknya kita juga mencegah kemungkaran meskipun diri ini masih melakukannya. Asalkan jangan sampai menjadi orang yang munafik. Dan akan lebih indah ketika kita menyeru, dan kita sudah melakukannya. Kita mencegah dan kita tidak melakukannya.

Contoh sederhana, ketika ada ulama yang masih single (da’i muda misalnya), apakah ia salah ketika iya berceramah dengan topik “pernikahan”? Dan apakah salah, ketika seorang bapak yang perokok akut melarang anaknya untuk jangan merokok?

Mari menjadi orang yang berilmu. Instropeksi diri dan tidak mencela orang lain, walaupun celaan itu karena Allah. Karena sungguh, bisa jadi kita mencela orang lain, padahal ia lebih baik dari kita.

Karena kita bisa terhindar dari api neraka, bukan karena amalan kita, tapi karena Allah meridhoi kita. Bagaimana agar Allah meridhoi kita? Dimulai dengan kita harus ridho terhadap Allah, tidak kufur terhadap nikmat Allah, dan senantiasa bersyukur.

Semoga Allah meridhoi kita. Aamiin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s