[75] Sampai Kapan Kita Harus Bersabar?


Apakah sabar akan kita hentikan ketika kita sudah merasa bersusah payah ikhtiar tapi tetap harap tak kesampaian? Ataukah sampai ketika keinginan kita telah dikabulkan oleh-Nya, lantas kita tidak butuh bersabar lagi?

“Sabar itu sampai kedua kakimu menapak di syurga-Nya”. Begitulah jawaban Ust. Bachtiar Nasir, ketika salah satu jamaah kamis malam bertanya terkait sabar.

Sabar itu apa? Berangkat dari definisi sederhana. Sabar adalah menahan diri dari hal yang tidak baik. Maksudnya bagaimana? Sabar adalah menahan diri dari setiap yang tidak disukai. Orang beriman, melaksanakan sabar karena Allah. “Menunggu” itu cenderung kita sukai atau tidak? Tentu tidak kan? Apakah menunggu itu menurut kita membosankan? Karena pekerjaan yang paling melelahkan adalah menunggu. So, mari menjadi orang yang beriman dengan menahan diri dari setiap yang tidak disukai karena Allah.

Normalnya, setiap orang tidak akan rela ketika nikmatnya dicabut. Padahal nyata yang memberi dan mencabut nikmat kita adalah Allah. Seperti tersebut dalam QS Ali Imran: 26-27

Katakanlah, “Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang nati, dan Wngkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezeki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab.

Pada ayat tersebut jelas, bahwa Allah lah pemegang kendali dari semua keputusan. Jadi, kalau yang diharap dan diusahakan belum kunjung datang, maka, apa yang harus kita lakukan? Maka bersabarlah.Seperti yang tersebut dalam QS: Al-Baqarah: 45,

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’

Point penting pada ayat tersebut antara lain:

  1. Allah perintahkan kita agar memohon pertolongan hanya kepada-Nya
  2. Bentuknya lewat sabar dan shalat
  3. Karena sesungguhnya sabar dan shalat sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’

Siapakah mereka? Jawabannya ada pada ayat selanjutnya

“(yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya” (QS: Al-Baqarah: 46)

Sabar, shalat, dan khusyu’ menjadi kata kunci di sini.

Definisi lain dari sabar adalah menahan diri dari perbuatan maksiat. Dari Umar Bin Khatab membagi sabar menjadi 2, yaitu:

1. Sabar ketika mendapat musibah. Inilah bentuk sabar yang baik.

2. Sabar menahan diri dari apa yang diharamkan Allah. Sabar yang kedua ini lebih baik dari yang pertama.

Selain sabar, pada ayat 45 surah Al- Baqarah disebutkan juga ‘shalat’ sebagai penolong kita. Yang ditekankan dalam ayat ini adalah betapa pentingnya shalat. Seperti yang dicontohkan Rosulullah, jika sedang risau, maka beliau shalat. Diriwayatkan dari Ali ra, ia berkata, “ Sungguh kami telah menyaksikan pada malam Badr, seluruh orang yang beriman tertidur kecuali Rosul. Beliau mengerjakan shalat dan berdo’a hingga tiba waktu subuh.”

Menilik pada malam perang Badr. Betapa besar nikmat yang Allah berikan pada orang beriman untuk bisa tidur di malam Badr. Kenapa disebut nikmat? Bayangkan ketika esok paginya mereka akan bertarung, antara hidup dan mati. Tetapi, malam harinya Allah masih memberikan nikmat kepada mereka untuk bisa tidur dengan nyaman.

Khusyu’. Kata benda dari Al-khusyu yang artinya tunduk/merendahkan diri. Sinonim kata khusyu’ adalah thadaru’ yang lebih sering digunakan untuk hati, sedangkan kata khusyu’ lebih sering digunakan untuk fisik. Apa si arti khusyu’ itu? Khusyu’ adalah ketertundukkan jasad (fisik). Sedangkan ketertundukkan dengan hati adalah adhara’a. “Jika tunduk hatinya, maka tunduklah badannya”. Khusyu’ juga bisa diartikan cenderung kepada berbuat baik.

So, mari kita implementasikan di kehidupan nyata. Jangan suka mengeluh kepada makhluk-Nya, itu salah satu bentuk praktek sabar. Lhaaaa, kalau kita punya masalah, kepada siapa kita harus berkeluh kesah? Curhatlah kepada Allah.

Ibnu Mubarok dari Ibnu bin Zubair, mendefinisikan sabar sebagai bentuk  pengaduan hamba pada Allah atas apa yang meimpanya. Mengharap hanya pada ridho-Nya. Taukah saudaraku, curhat yang paling buruk adalah mengadukan keburukan pada makhluk-Nya. Karena aib orang beriman adalah menampakkan keluh kesah kepada orang lain.

Selanjutnya bentuk implementasi betapa pentingnya shalat. Mari kita ingat-ingat sejenak, bagaimana shalat kita di kantor atau di tempat kerja? Apakah kita sering menunda-nunda waktu shalat? Siapa yang lebih kita utamakan, pekerjaan dari atasan atau kah menjawab panggilan azan dari pencipta kita? Siapa yang memberi rezeki kita, atasan kita? Atau Allah yang Maha Kaya? Apakah kita shalat dalam keadaan sibuk? Kalau iya, maka Allah akan sibukkan kita sampai nanti. Karena hanya Allah lah penolong kita.

Yakinkan dalam hati kita, bahwa semua urusan kita akan selesai jika Allah menolong kita. So, agendakan waktu untuk beribadah, maka Allah akan selesaikan urusan kita, dan Allah akan cukupkan rezeki kita. MasyaAllah.

2 thoughts on “[75] Sampai Kapan Kita Harus Bersabar?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s