[63] Kisah Bersamamu__Al-Qur’an


Aku harus selalu mencintaimu,

Tersipu senyuman semangat, membayangkan indahnya saat pertama kali aku mengenalmu. Di sebuah surau kecil di tanah kelahiran. TPQ Ar-Rahim. Di tempat itulah aku mulai belajar me-ngeja-mu. Kau memang istimewa, dan aku beruntung bisa mengenalmu mulai dari saat itu. Ku raba-raba memoriku. Otak wanita yang telah berusia 22 tahun ini, mencoba mengingat waktu pastinya kapan kita berkenalan, tapi aku tak ingat. Kira-kira saat aku belum duduk di bangku TK, sekitar usia 4 tahun lah. Yaa, kurang lebih 18 tahun yang lalu perkenalan indah itu terjadi…..

Aku dan keluarga adalah penduduk pendatang. Sebelumnya aku dan keluargaku tinggal di dusun tempat kakekku tinggal. Namun, saat aku usia 3 atau 4 tahun, keluargaku hijrah ke dusun lain yang masih terletak dalam 1 desa. Kepingan memori ini masih sedikit lekat. Sebut saja Sasa kecil. Gadis kecil yang sedikit bandel juga bersemangat. Sebagai penduduk pendatang, aku coba-coba main ke tetangga. Hingga akhirnya aku ikut tawaran teman-teman di dusun baru untuk ngaji iqro’ di TPQ Ar-Rahim. Yaaa, itulah jalan awal aku mengenalmu. Kuingat, dengan bekal mukena putih yang tak lagi sempurna putihnya, aku berangkat dengan senyum semangat ke mushala Ar-Rahim. Mukena pertama-ku. Mukena tanpa renda dan bukan berwarna pink, tapi begitu istimewa bagiku kala itu. Mukena yang membuat senyumku merekah saat bercermin. Mukena yang membuatku merasa lebih manis. Mukena dari seseorang. Seseorang yang sekarang jarang kutemui parasnya. Sosok wanita itu……………”untuk mbak Ratna, semoga engkau selalu dalam lindungan-Nya”.

Aku mulai beradaptasi dengan teman-teman di dusun baruku. Sedikit kaku, tapi pelan-pelan aku mulai akrab, wlopun jujur aku masih canggung. Entahlah, baru dua atau tiga kali aku ikut ngaji di TPQ Ar-Rahim kala itu. Setelahnya aku sakit, sehingga ayahku melarangku untuk ngaji di tempat itu. Beberapa hari setelahnya aku sembuh, tapi entahlah, tak ku lanjutkan ngaji lagi. Akhirnya ku tak lagi mengaji dalam waktu yang cukup lama.

A-Ba-Ta-Tsa-. Kira-kira baru empat huruf hijaiyah itulah yang ku kenal setelah berkenalan di TPQ Ar-Rahim. Tapi aku sangat senang. Yaaa, aku sangat senang kawan^^. Dengan ejaan sebisanya aku ucap A-Ba-Ta-Tsa. Baru beberapa tahun belakangan ini, aku tau kalau cara mengejaku kala itu kurang tepat. Begitu luasnya ilmu Allah. Ternyata dalam setiap huruf punya sifat yang berbeda dari huruf lainnya, punya tempat keluar huruf yang berbeda-beda pula. Delapan belas tahun yang lalu, aku tak mengerti tentang aturan itu, sehingga aku tetap PD dan merasa aku bisa kala itu. Namun, sekarang, setelah aku mulai bertambah usia dan bergabung di lembaga bimbingan Al-Quran Al-Utsmani, aku nyadar, kalau yang dulu2 itu belumlah tepat, dan harus terus belajar semoga bisa istiqomah dalam ketepatan^^. Berikut url nya^^

http://www.alutsmani.com/

Lanjut ke cerita perkenalanku yaaa. Berlanjutlah waktu, tahun pun berganti. Masa-masa SD ku yang penuh sensasi di setiap pelajaran agama islam. Saat aku duduk di bangku SD, perasaanku selalu diliputi harap2 cemas kala ketemu mapel agama islam. Selain membahas materi tentang islam, biasanya pak Slamet guru agama islam-ku ada sesi tersendiri untuk latihan huruf hijaiyah, sesi BTA kami biasa menyebutnya (Baca Tulis Al-Qur’an). Pak Slamet biasanya memberikan beberapa soal tertulis yang dikumpul untuk dikoreksi langsung oleh beliau atau pun dikoreksi sesama teman dengan cara menukarnya. Dan di akhir jam belajar agama islam, kami akan tau berapa nilainya. Tak jarang nilai BTA dimasukkan ke “buku persegi panjang” milik Pak Slamet, dugaanku itu buku daftar nilai. Daaaaan yang membuatku kurang beruntung, Pak Slamet terlalu bersifat khusnuzon pada semua muridnya. Terkait dengan baca tulis Qur’an, beliau barangkali menganggap kita semua mampu dan telah mendapat ilmu itu dari luar kelas, jadi bapaknya itu selalu tiba2 ngasih soal tanpa menjelaskan nama2 hurufnya terlebih dulu. Yaaaa, mana ku tau -_-.

SD kelas 1, aku masih merasa aman bertemu pak Slamet dengan modal A-Ba-Ta-Tsa ku, ditambah informasi baru yang bisa ku hafal Ja-Kha-Kho. Namun, ketika menginjak kelas 2 SD, aku mulai kewalahan. Aku bertemu lagi dengan Pak Slamet dalam pelajaran yang sama. Dan kebiasaan pak Slamet belumlah berubah. Aku merasa buta aksara. Teman2 lain bisa mengerjakan, mungkin karena mereka masih lanjut belajar ngaji. Bahkan temen2 ku kategori bandel dan bandel sekali pun bisa mengerjakan. Kala itu aku merasa polos banget, kenapa juga aku gak coba ngaji lagi. Lupa-lupa ingat juga, alasan kenapa gak lanjut ngaji. Akhirnya tiap minggu, sebelum ketemu pelajaran agama islam, aku menghafal huruf2 hijaiyah dari awal sampai akhir, aku tanya ini itu ke bapak. Alif-bak-tak….. yak…. Karena sistem menghafal geje, hasilnya pun geje. Memang lebih baik belajar sedikit demi sedikit tapi konsisten lewat TPQ, dari pada belajar banyak tanpa guru dalam tempo beberapa menit.

Senam jantungku terasa lebih heboh ketika pak Slamet memunculkan soal2 yang hurufnya mulai disambung. Ya Allah, aku pasrah. Nilai BTA ku payah. Aku buta aksara. Tak jarang aku mendapat nilai dua kalau latihan di kelas, bahkan pernah mendapat nilai nol-_-. Karena aku memang tak mengerti. Lama-lama aku malu sama diriku sendiri, sebagai Sasa kecil yang cukup berprestasi di kelas, masa iya nilai BTA nya selalu jelek. Walaupun memang tak semua siswa tau nilai BTA ku. Tapi aku tak boleh selamanya seperti ini. Aku harus berani melakukan perubahan. Bismillah.

Kalau tak salah ingat, waktu itu aku duduk di bangku kelas 3 SD. Entah datang dari mana dorongan itu. Aku mulai kembali ngaji di Ar-Rahim. Jujur, waktu itu ada rasa malu nempel di hatiku, aku malu karena teman2 sebaya yang mengajarku belajar mengeja dari jilid 1, karena mereka sudah sampai di jilid2 atas. Tapi, Sasa kecil saat itu sangat bersemangat demi perubahan. Tak boleh malu untuk belajar. Akhirnya setelah lewat jilid 1, aku mulai diajar oleh guru ngaji yang lain, tak lagi diajar oleh sebayaku. Alhamdulillah. Semangatku kembali berkobar, aku merasa lebih nyaman diajar oleh mbak2 daripada teman sebayaku, terlebih ada guru favorit yang cantik yang sering mengajarku. Semangatku semakin menyulut ketika aku dizinkan untuk membaca lebih dari 1 halaman dalam 1 kali pertemuan, bisa 2,3,4,5,dst karena perkembanganku dirasa cepat kala itu. Alhamdulillah, dengan semangat Sasa kecil, di akhir kelas 3 SD, aku menuai semangat itu. Alhamdulillah, dengan izin Allah aku lulus jilid 2,3,4,5, dan 6 dengan nilai yang memuaskan dalam tempo yang singkat, hingga akhirnya masuk ke kelas Al-Qur’an dan menjadi perwakilan dalam beberapa perlombaan. Betapa bahagianya hatiku kala itu, aku tak lagi buta aksara^^. Nilai BTA ku tak lagi jelek. Aku tak lagi takut dengan huruf2 yang disambung ataupun huruf yang berharokat selain fathah^^. Betapa riangnya hatiku akla itu, saat akulah yang ditunjuk pak Slamet untuk mengikuti lomba antar sekolah di Kecamatan. Dalam hatiku berbisik, apakah pak Slamet  tahu kalau di kelas 1 dan 2 SD kemarin, aku lah siswa yang selalu keteteran kala bertemu mapel pak Slamet. Siswa yang pernah mendapat nilai nol untuk pelajaran BTA dari beliau. -_-

Sahabatku, janganlah kita merasa sudah terlambat untuk belajar tentang sesuatu. Janganlah kita malu ketika orang lain telah memulainya beberapa waktu silam, tetapi kita baru memulai sesuatu itu sekarang*dalam hal kebaikan yaaak. Tidak ada kata terlambat selama ada kemauan. Seperti kisah perkenalan Sasa kecil dengan Al-Qur’an, walaupun sempat terputus hubungan karena suatu sebab, tetapi dengan modal semangat dan tekat dosis tinggi, akhirnya perkenalan itupun berlanjut dan membuatnya semakin cinta kepada Al-Qur’an. Sahabatku, banyak hal indah saat belajar bersama Al-Qur’an.  Saat belajar membacanya dengan tartil, mentadaburinya, menghafalkan ayat-ayat, mengajarkannya, mengucapkan huruf demi huruf sesuai sifat dan mahrojnya. MasyaAllah, aku harus selalu mencintaimu, Al-Qur’an.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s