[60] Hati Cinta Waktu


Sore yang damai dibumbui angin sepoi. Lengkap dengan tusukan bijak sang mentari yang beranjak ke peraduan. Dua wanita berbeda usia duduk nyaman di teras rumah saling bersebelahan. Keduanya sama-sama melempar pandang ke seberang. Terlihat miniatur lukisan jalanan nan lenggang dengan pepohonan hijau menempel pada kristal mata mereka. Rupa-rupanya sedang asyik bercengkrama menghadap ke studio alam nan luas. Tiba2 terdengar pertanyaan ganjil.

“Mama, bolehkah Sasa bertanya tentang cinta?”

Sontak, wanita setengah baya yang duduk di sebelah wanita kecil itu terperanjat dalam diam. Kaget. Bagaimana bisa gadis kecilnya yang berusia 4 tahun bertanya tentang cinta. Gadis sepolos dia, bahkan untuk mengeja namanya sendiri “Z-a-h-r-a”, ia pun belum mampu, dengan logat polosnya ia panggil dirinya “Sasa” untuk mengeja nama “Zahra”.

“Iya, sayang. Apa yang membuatmu tertarik untuk bertanya tentang cinta?”

Sembari tersenyum dan menggapai pundak anaknya. Ia berharap, itu hanya celoteh ringan sang buah hati yang akan dijawabnya dengan bahasa yang sederhana.

“Mama, apakah cinta itu jahat Ma? Sasa sering melihat tante Imah menangis. Kalau ku tanya, tante Imah selalu menjawab ‘semua karena cinta’. Kalau benar cinta itu jahat, aku akan panggil pak Polisi, Ma. “

Sang ibu hanya tersenyum, padahal sebenarnya ia sedang mendamaikan hatinya, mencari2 kalimat yang tepat untuk menjawab pertanyaan dari putri semata wayangnya. Belum saatnya ia menjelaskan cinta dalam terminolog Al-Quran. Bahasa yang sulit dicerna oleh Zahra si gadis kecil, kalau ia harus mengatakan bahwa dalam Al-Qur’an ditemukan dua kata sebagai padanan kata ‘cinta’, yaitu Al-Hubb/Al-Mahabbah yang terulang 86 kali dalam Al-Qur’an dan Al-Wadudd/ Al-Mawaddah yang terulang 29 kali. Ia mulai menyusun kata….

“Zahra, cinta itu tidak jahat Nak. Cinta itu fitrah dari Allah. Sesuatu yang indah yang dititipkan Allah dalam kehidupan. Dirasa senang, suka, atau sayang.”

“Tapi, Ma. Kenapa tante Imah menangis Ma?”

“Suatu saat, Zahra akan menemukan jawabannya” jawab sang ibu sembari mengurai senyum. Ia meneruskan penjelasannya. “Suatu saat nanti, ketika cinta berusaha membuatmu menangis, kau harus mampu untuk tersenyum. Karena dengan senyuman, semua akan terasa lebih baik. Kalau tak percaya, Zahra boleh mencobanya kapanpun. Misalnya, ketika Zahra kesulitan untuk menghafal ayat, padahal besok harus setor ke bu Guru. Zahra ingiiiin sekali menangis. Nah, saat itu jangan engkau menangis Nak. Cobalah tersenyum untuk semangat hafalanmu. Itu artinya kau tersenyum karena Allah, karena hafalan ayat Zahra tidak hanya untuk setoran ke bu Guru, tapi karena cinta Zahra pada Allah. Itulah cinta, saat kau tak berkata “seandainya……”, tapi kau berkata “aku bersyukur, karena…..”

“Sasa mengerti, Ma,” Sambil manggut-manggut.

“Naaah, itu jawaban yang cantik. Saat kau merasa cinta, jangan ucapkan “kamu gimana, si…….”, tapi ucapkan “aku mengerti,…….”

“Mama, apa hubungannya si cinta itu dengan patah hati Ma? Apakah hati itu seperti plastik sehingga ia mudah patah, Ma? Atau seperti kayu yang tak kuat, Ma?”

“Nak, sesuatu dengan sesuatu yang lain pasti memiliki hubungan, entah kecil entah besar, entah searah atau berlawanan” (*dalam hati, sang ibu berdialog, jadi kayak bicara konsep korelasi dalam statistik—lambang R—koefisien korelasi—berkisar antara -1 sampai 1 — bisa positif/searah, bisa negatif/berlawanan–). Begitu juga dengan cinta vs patah hati, Nak. Anakku, hatimu tergantung dirimu. Buatlah hatimu kuat agar tak mudah patah dengan selalu mengingat-Nya. Sering2lah mengulang hafalan ayat Zahra karena itu salah satu cara untuk memperkokoh hati Zahra, agar tak rapuh dan tak mudah patah.”

“Mama, Sasa belum paham, apa itu patah hati, Ma?”

“Anakku, tak usah engkau pikirkan tentang arti patah hati. Kata2 adalah do’a. Katakanlah yang baik2, agar engkau terbiasa dengan yang baik, dan Allah akan memberimu yang terbaik, karena Mama yakin Zahra punya hati yang kuat”

“Ma, apakah waktu itu sesuatu yang hebat dan pandai, Ma?”

“Kenapa, engkau bertanya seperti itu Nak?” Sang ibu, memaklumi, di usia Zahra banyak hal yang ingin ia tau. Bertanya meloncat2 sering tak terstuktur, tadi tanya cinta sekarang hijrah bertanya waktu. Dalam kondisi seperti ini, aku sebagai ibu harus mampu memposisikan diriku, menjawab pertanyaan anakku dengan baik tanpa dusta dan penuh kesabaran. (*Ketika anak kecilmu menangis dalam suatu perjalanan, jangan kau katakana ‘cup, cup, Nak, diem ya. Nanti kalau uda sampai kita beli mainan, tapi diem dulu ya sekarang’. Padahal kata2 ‘nanti beli mainan’, tak ada bedanya dengan sekedar basa-basi dan rayuan, *kecuali kalau memang mau dibelikan. Taukah kalian, itu artinya, kau mengajarkan kebohongan pada anakmu. Kalaupun “iya” positif akan dibelikan, itu pun kurang baik juga, seolah kau menawarkan racun menangis dengan madu iming2, bisa2 kecanduan madu iming2. Ucapkan yang baik, misalnya ‘Cup, cup, nak, anak baik tak boleh cengeng’, mungkin hal itu akan lebih baik^^).

“Mama, Sasa sering mendengar orang2 dewasa itu mengatakan, “biarlah waktu yang menjawabnya”. Apakah waktu itu sangat pandai, sehingga ia diperintah untuk menjawab berbagai pertanyaan, Ma? Sasa pikir, waktu itu berteman baik dengan jam dinding pink di deket sofa. Kalau waktu itu hebat dan pandai, apakah berarti Sasa harus berteman baik dengan jam dinding  Ma? Iyakah, Ma?” dengan ekspresi muka sangaat ingin tau.

“Anakku, waktu itu seperti pedang. Kalau kita tak pandai2 menggunakannya, ia akan menusuk dan melukai kita. Jadi, tak usah Zahra pikirkan, waktu itu hebat atau pintar. Tapi Zahra yang harus hebat dan pandai menggunakan waktu. Agar jawaban yang akan diberikan waktu, adalah jawaban yang indah”

————-

Tusukan sinar mentari semakin lembut, beriring dengan geraknya bersembunyi.  Sore yang semakin sore, terdengar kalimat indah dari Zahra.

Mama, Hati ku bilang, dia cinta mama sepanjang waktu^^

Dan mama pun tersenyum.  Hati-Cinta-Waktu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s