[57] SOS


Perkenalkan, aku gadis kecil yang hidup di sebuah istana mimpi. Aku tersesat, dan hanya dengan pesan via blog ini aku bisa berkomunikasi dengan orang lain di dunia nyata.

Ceritanya berawal dari komedi putar itu. Aku memang suka bermain-main, tapi kali ini aku terkesan terjebak dalam sebuah permainan. Suatu hari, aku memutuskan untuk keluar istana tanpa berpamintan dengan ibu. Dengan bekal nekat, aku memutuskan untuk keluar istana. Jendela kamar biru itu lah yang awalnya mengantarkanku keluar istana dengan jurus mengendap-endap, tentunya lengkap dengan pakaian penyamaran^^.Seusai sukses keluar istana, aku berjalan tak tentu arah, karena aku memang tak terbiasa dengan kehidupan di luar istana. Aku hanya sering mendengar cerita dari pangeran kecil di istana tentang bagaimana kehidupan di luar istana. Saat aku tidur, aku juga sering bermimpi jalan-jalan ke luar istana, dalam mimpiku diluar istana itu ada taman kebebasan dan padang keramaian. ^^

Ku pergi tanpa peta. Ku ikuti kemana sepatu putihku melangkah. Akhirnya, sampailah aku ke sebuah taman bermain anak2 di dekat pasar. Ramai dan penuh suka cita. Ku lihat ada barisan boneka berbie, mobil tamiya, gulali, dan banyak hal. Ku lihat orang2 berkerumun bergerombol, beberapa orang tua dengan tampang suka cita, ada pula yang tampang khawatir melihat anaknya di kurung dalam jeruji penuh bola (baca : orang tua menunggui anaknya yang sedang bermain mandi bola). Tapi, ada satu hal yang membuatku tertarik, permainan yang cukup menyita perhatianku, di loketnya tertulis “komedi putar” “ Rp 5000, 00”.

Akhirnya tiket di tangan. Kursi nomor 13. Ku lihat-lihat nomor 13, kotak komedinya berwana biru, warna kesukaanku, bergambar bintang, benda idolaku. Aku senang. Akhirnya aku menaiki komedi itu, berputar-putar-putar asyik dan menyenangkan. Semakin lama-semakin lama ku rasa ada yang aneh. Kurasa, permainan ini mulai tak sehat lagi. Rona ceria berganti duka. Aku mulai capek berhitung berapa kali komedi ini berputar. Ku beralih ke jam tangan biru-ku, sekitar lima menit yang lalu, hitungan ku berakhir di angka 1020. Aku mulai bosan. Aku mulai pusing dengan putaran-putaran ini. Ku lihat, tak ada lagi orang-orang yang tadi berkerumun antree mau menaiki komedi putar ini. Tak ada lagi, abang-abang ramah berbaju koko yang tadi mengatur antrean. Tak ada lagi mbak-mbak berjilbab ungu yang melayani kasir tiket. Tak ada lagi orang2 bergerombol untuk sekedar cupa-cuap ceria. Semua berganti menjadi sepi. Taman bermain ini benar-benar sepi. Dan tersadar, akulah satu-satunya orang yang berada di sini. Ku coba mencubit lenganku, “aaaaaaa”, tak ada rasa sakit, dan aku memang masih berada di negeri mimpi.

Aku memang gadis kecil yang suka bermain-main. Tapi, kali ini aku terperangkap dalam permainan komedi putar. Lamunanku membawa ke masa sebelum ini, saat aku termakan oleh permainan hati. Hati-hati dengan perkara hati, maafkan aku teman-teman, saat aku salah menempatkan perasaan dalam bermain padahal belum pas pada waktunya, aku akan bermain tanpa perasaan. ^^

Lamunan itu sedikit menghiburku. Tapi, aku kembali ingat,aku masih terperangkap di komedi putar ini. Aku tak tau apa yang harus ku lakukan. Naluriku sebagai gadis kecil pun muncul—menangis–.  Aku terisak tanpa tau apa yang harus ku lakukan. Salahku, aku tak berpamitan dengan ibu. Aku merasa ketidakberdayaan. Teriakan minta tolongku, seolah menjadi omong kosong. Pilihanku untuk berhenti pun, di kira celoteh anak kecil yang senang karena berputar dalam komedi. Aku tak punya kekuatan walaupun hanya sekedar mengucapkan harapan. Orang-orang disekitar yang tiba-tiba lenyap, seolah mengejekku dengan menutup telinga mereka ketika aku berucap. Padahal, orang-orang dalam istana pasti dengan setia mau mendengarkan harapanku, dan akan menjawab dengan senyuman atas keinginanku.

Aku berdo’a pada Allah, ya Allah engkaulah yang maha berkehendak atas semuanya, berilah petunjuk pada hambamu ya Rabb. Aku kembali menangis. Itu yang bisa ku lakukan. Aku berdo’a ada seseorang yang datang dan menghentikan mesin komedi putar ini. Aku ingin kembali ke istana. Aku rindu ibu dan pelukan hangatnya. Aku rindu pangeran kecil dengan berbagai cerita indahnya. Aku rindu semua penghuni istana. Aku ingin kembali bertemu dengan pejabat2 istana. Aku ingin kembali dan bermain dengan mereka. Aku kangen menghibur pak Bijak dengan lolipopku. Pak Bijak terlalu bermain dengan otak kirinya dalam membuat kebijakan untuk rakyat. Ia serius memutar otak demi kemakmuran rakyat. Saat beliau lelah, aku akan hadir membantu beliau rileks untuk sekedar mengurai senyum. Kalau aku tetap di pusaran komedi putar ini, siapa yang akan menghibur pak Bijak?? Beliau sangat jujur dan penuh pertimbangan, tapi beliau juga butuh lollipop ku, aku tak mau pak Bijak salah dalam mengambil keputusan karena ia terlalu lelah. Berbeda dengan tikus2 berdasi di istana itu, yang sengaja salah dalam mengambil kebijakan. Sok baik di depan pak Bijak dan yang lain, tapi menggrogoti dari belakang. Tikus2 berdasi itu memang jago bermain, tapi ia salah gunakan kecerdasan bermainnya, ia mempermainkan rakyat dengan kebijakan-kebijakan semu itu. Kalau aku tetap disini, siapa yang akan mengusik keasyikan permaianan tikus-tikus berdasi itu. Aku tak ingin, mereka tertawa karena  puas akan permaianannya. Aku ingin kembali ke istana.

Ya, Allah. Engkaulah maha segala maha, maha berkendak atas diriku. Engkau pasti telah mengatur dengan tepat, detik kapan komedi putar ini akan berhenti berputar. Juga telah menentukan siapakah yang akan datang dengan keberanian dan ketulusan hatinya menghentikan pusaran komedi ini.

One thought on “[57] SOS

  1. Ping-balik: [93] SOS #part 2 | Endri Notes

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s