[56] Ketika Niatku Berwarna Kelabu


Karena besar belum tentu banyak dan kecil belum tentu sedikit. Lho kok gitu?? Contoh riil adalah amal dalam bentuk nominal uang. Orang yang beramal setumpuk lembaran rupiah berwarna biru karena ingin dipuji orang lain, tidaklah lebih baik daripada orang yang beramal sekoin rupiah bertekstur bunga melati-burung garuda yang diniatkan tulus karena Allah. Karena Allah menilai dari niat kita. Begitu pentingnya niat, sehingga tersebut dalam urutan pertama hadits Arba’in.

Terkesan sepele, tapi dampaknya bisa membuat sesuatu yang besar seolah menjadi hal yang tak berguna yang dilakukan bertele-tele. Susah payah beramal setinggi gunung Himalaya, ternyata habis tersapu karena salah niat, dan berujung menjadi butiran debu yang tak berarti.

Niat berhubungan erat dengan ilmu, jika ditilik secara statistik diindikasikan terdapat multikolinearitas diantara keduanya. Ibarat amal tanpa ilmu. Misalnya saja, niat baik untuk menjadi hamba yang selalu ingat pada Rabb-nya. Dalam setiap aktivitas diawali dengan membaca basmallah. Sampai-sampai ketika tilawah di surah At-Taubah pun masih mengawali dengan lafal basmallah. Padahal sebagaimana kita tau, di surah ini, kita tidak diperkenankan membaca basmallah. Semoga kita tidak tergolong hamba yang lalai, mari saling mengingatkan. Karena “berbagi” itu indaah.

Cerita tentang “berbagi” dulu ya, heee. Ramadhan kali ini berbeda dari Ramadhan kemarin-kemarin(*versiku). Lebih dari setengahnya ku lalui di negeri rantau Jakarta. Banyak cerita, banyak ceria. Dalam beberapa kali kesempatan, aku bersama sahabatku putri (*yang selalu bersemangat itu) bersama tim dari Ar-Rahman lainnya (*mbak Idah, mbak Silfi, mbak Heti, mbak Ana, dll ) mendapat amanah dari Ar-Rahman, temanya “bagi-bagi ta’jil di area Jakarta Timur”. Seru bersama ratusan kotak putih itu. Walau ada sebagian kecil orang menolak niat kami, entah karena takut terjadi sesuatu karena belum terbiasa atau karena memang beliau tidak menjalankan ibadah puasa. (*Hoooo, jadi inget betapa keras perjuangan pengumpul data statistik di lapangan. Dalam kasus ini, memberi saja berkemungkinan ditolak, apalagi meminta data. Jempol 2 untuk para KSK dan pengumpul data di seantero tanah air). Namun, secara keseluruhan bergelut dengan kotak putih itu menyenangkan. Mobil dan motor plat merah, hitam ataupun kuning menjadi sasaran kami, tak luput juga para pedagang dan pejalan kaki yang bermuka capek usai keluar dari kantor. “Menjemput pahala”, begitu kata ustadz. Sungguh pengalaman yang berharga bagiku, usai membagi kotak-kotak itu biasanya seiring dengan azan Magrib. Dan kami pun berbuka. Dan baru tahun ini aku merasakan berbuka puasa di jalanan, di bawah jembatan, di tepi saluran, hooo. Menyenangkan lho teman, mungkin bisa dicoba untuk buka puasa di jalanan^^.

Kembali fokus ke kelabu-nya niat. Contoh lain terkait niat, seorang pemuda, sebut saja Fulan sedang membara semangatnya dalam menghafal Al-Qur’an. Disetiap tempat, dalam setiap waktu, ia selalu berusaha mengulang hafalannya. Dan meskipun ia kadang terlihat sibuk dengan Hp-nya, ternyata ia sedang menghafal, karena di hp-nya terdapat software Al-Qur’an dalam bentuk tulisan, MasyaAllah ya laki-laki idaman(*haiaaah apa ini^^). Jadi meskipun kondisinya tidak memungkinkan untuk membawa mushaf, Hp selalu di saku. Sampai-sampai saat ke toilet pun, Hp itu masih duduk rapi dalam sakunya dalam kondisi software mushafnya terbuka. Naaah, niat baik menjadi berwarna kelabu karena tidak dibarengi dengan ilmu. Sebagaimana kita tau bahwa tulisan Al-Qur’an tidak boleh dibawa masuk ke dalam toilet, termasuk di dalamnya Hp yang ada software Al-Qur’an digitalnya. Bagaimana dengan hp yang terdapat mp3 Al-Qur’an??? Boleh, asal tidak di-play. Wallahualam. (*jika ada kesalahan dalam penyampaian, mohon koreksinya, karena keterbatasan ilmu penulis)

Contoh lain, pada suatu malam seorang supir yang sangat cinta kebersihan sedang bertugas mengantarkan bos nya untuk ke ATM guna mengambil uang. Dalam perjalanan pulang, ada orang dengan sengaja melempari kaca mobil depan dengan telor. Tanpa pikir panjang, dan reflek karena ia sangat cinta kebersihan, sang sopir mengoperasikan wiper. Niat baik sang sopir untuk menjadikan kaca kembali bersih ternyata tak sesuai harapan. Karena telur jika dicampur dengan air akan berubah seperti susu  dan akan menghalagi pengelihatan sampai 92, 5%. Hoooo, hal ini membuat sang sopir harus keluar dari mobil untuk membersihkannya, dan secara tidak langsung ia menjadi korban perampokan. (*paragraph ini terinspirasi dari status teman di fb, yang kemudian menjadi statusku juga, heee_mohon di share ke yang lain, ini modus perampokan gaya baru).

Terkait dengan niat, salut dengan beberapa rekanku (*tanpa instruksi dari organisasi) yang sampai hari ini masih dengan setia meng-sms tauziah, nasehat, hadist, ataupun arti ayat dalam Al-Quran ke beberapa nomer hp yang ada dalam contacts-nya. Subhanallah^^. InsyaAllah saya selalu  menyalinnya ke catatan khusus terkait dengan sms dari teman-teman (*Hoo berharap berakhlak seperti Aisyah yang sering bergelut dengan hafalan dan tulisan hadist__padahal masih sangat jauh^^)

Paragraph ini terkhusus ku sampaikan untuk kedua adikku terkait dengan niat. Lia adekku yang pertama dan Doddy adekku yang kedua. Mungkin suatu saat kalian akan membaca tulisan di blog ku ini dan akan terjawablah beberapa pertanyaan yang mungkin ada dibenak kalian selama ini. Tidak ada niat sama sekali untuk membedakan, tidak ada niat sama sekali untuk pilih kasih. Adekku, adil itu bukan berarti sama. Tidak membedakan itu bukan berarti harus serupa. Maaf, jika mungkin selama ini ada beberapa hal yang Lia merasa klo mbak lebih memihak Doddy. Sungguh tak ada maksud seperti itu. Karena mbak pikir, Lia lebih dewasa dan harus lebih banyak diberi kail daripada ikan secara langsung, lain halnya dengan Doddy yang harus lebih banyak diberi award. Ketika mbak tidak secara langsung menjawab apa yang Lia tanyakan, bukan berarti mbak tidak peduli. Mbak ingin, Lia mengembangkan clue  yang mbak berikan, karena mbak yakin Lia mampu berlaku lebih baik^^. Terkait dengan gift, memang sengaja(*sering) mbak langsung membelikan apa yang Doddy minta jika sekiranya mbak mampu dan hal itu memang layak, tapi mbak (*sering) tidak langsung membelikan apa yang Lia minta dan hanya memberi beberapa lembaran uang yang kurang berarti untuk Lia. Karena mbak yakin, Lia mampu untuk memanage­ keuangan dan sudah cukup dewasa untuk membeli sesuatu dimana, apa, dan berapa dengan konstrain budget tertentu.

Niat kelabu. Tak jelas entah hitam atau putih. Tak jelas karena salah niat atau tak jelas karena salah tafsir ilmu. Semoga kita senantiasa menjadi hamba yang berniat putih karena Allah, saling berbagi, dan saling mengingatkan/menegur jika yang lain salah. Karena kesempurnaan hanya milik Allah.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

2 thoughts on “[56] Ketika Niatku Berwarna Kelabu

  1. hm… curhat ni..tapi.. blog yg cekup menginspirasi. terimakasih karena banyak hal yg bisa saya ambil manfaatnya. salam kenal -elfani- ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s