[54] Manajemen Resiko


(gambar hasil googling)

Ada sesuatu dalam hening yang membuatku berpikir akan sesuatu. Tentang bahasan hangat yang tak selamanya harus kuhindari. Tentang sebuah tanda tanya besar bagi setiap insan yang memang telah tiba masanya.

Beberapa jam yang lalu, barulah aku tersadar karena tamparan paparan dari kawanku, bahwa ini bukanlah bahasan yang tabu. Bahasan tentang sebuah berita kehilangan sepotong hati. Intinya adalah kita harus—realistis—

Aku mulai memutar otak, menghibur diri agar tak larut dalam pusaran tak tentu arah. Jujur, tanganku belum sampai untuk sekedar menyentuh dinding perkara itu. Serasa ada bongkahan batu besar yang merabunkan pandangan mata hatiku. Hal inilah yang membuatku selalu memberikan jawaban yang mungkin orang lain bosan untuk mendengarnya, sehingga membuat mereka memaksaku untuk belajar akan sesuatu.  —realistis

Sebuah sistem yang membutuhkan manajemen yang tak sederhana. Ibarat ingin melakukan pengujian statistik yang bekerja dengan dua hipotesis.

Ho : β1= β2(Dua hal yang sama )

H1 : β1 ≠ β2 (Dua hal yang berbeda)

Bekerja dengan apha 1 persen, dengan statistik Uji Heart, ternyata nilai signifikansinya lebih kecil dari alpha, artinya tolak Ho. Kesimpulannya, dengan tingkat kepercayaan 99% ternyata terdapat perbedaan yang signifikan antara keduanya.

Pertanyaannya, siapa dua hal itu?? Siapakah yang sedang diuji? Perempuan dan laki-laki….

——————————————————————————————————

Tak bisa kita pungkiri, sejatinya banyak hal yang berbeda dari keduanya(*pembaca pasti lebih tahu). Salah satunya adalah respon karena suatu perkara dalam perdebatan rumahtangga. Perempuan cenderung berusaha untuk menjelaskan duduk perkara dengan runtun, panjang—lebar..Tapi tak jarang sang laki-laki malah berpikir “ahh, mengada-ada saja, terlalu cerewet, dan menyebalkan”. Padahal tak lain dan tak bukan sang perempuan hanya ingin mencoba menenangkan, membuat laki-laki paham, dan mencoba menghibur sebisa mungkin.

Contoh bentuk respon dari sang laki-laki dalam kasus ini adalah pergi tanpa pesan. Hal ini yang mungkin belum sepenuhnya dimengerti oleh sang perempuan. Sang perempuan bisa langsung bersuuzhon atas sikap laki-laki dan mulai menggerakkan tulang air matanya—(baca :menangis )— Karena perempuan tak jarang yang bersikap tak peduli acuh tak acuh, padahal dalam hatinya ia berharap laki-laki menyuarakan perasaannya tanpa diminta. Padahal, dalam hal ini maksud dari respon laki-laki ialah ia ingin mencari sejenak ketenangan, ingin mencoba berpikir jernih dalam sendiri, dan menata hati agar nantinya bisa bijak dalam mengambil sikap.

——————————————————————————————————

Itu hanyalah satu diantara banyak contoh perbedaan diantara laki-laki dan perempuan. Tetapi justru dengan adanya perbedaan itulah yang membuat keduanya bisa saling melengkapi, memberi warna, dan bersama2 menggambar indahnya pelangi kehidupan. Saling melengkapi mirip seperti peristiwa adhesi dalam bahasa kimia (*ingat adhesi bukan kohesi, karena definisi kohesi dalam kimia adalah gaya tarik menarik antar molekul yang sama jenisnya^^)

Bercakap sana-sini, ternyata tak jauh2 dari bahasan itu. Yang mungkin awalnya ku anggap tabu, tapi ternyata perlu untuk ditahu sebagai bekal tambahan ilmu. Manajemen resiko, terkait usia hamil seorang wanita dan durasi antar kehamilan. Wanita usia di atas 35 tahun tidak dianjurkan untuk hamil lagi, bahkan beberapa responden bilang lewat 30 itu sudah tak baik. Durasi antar kehamilan itu idealnya 3 tahun. Kenapa 3 tahun?? 2 tahun diawal prioritas ASI untuk sang anak pertama, 1 tahun hamil yang untuk anak kedua, so total durasinya 3 tahun^^. Hal inilah yang menjadi penyebab kurang baik kalau durasinya kurang dari waktu itu, karena sangat tidak dianjurkan ketika bekerja untuk 2 hal, supplay ASI anak pertama dan hamil anak kedua*hormonnya uda tak baik lagi…Jadi, silakan hitung mundur sesuai durasi yang ideal dan keinginan jumlah anak^^. Yaaa, paragraph ini adalah hasil celoteh penulis dengan beberapa rekannya(*mohon dikoreksi kebenarannya^^), semoga pembaca tidak salah menafsirkan dan tidak menjadikannya ini sebagai hal yang tabu, tapi melihatnya dari sisi ilmu.

Manajemen resiko yang tak sederhana bukan?? Karena akan banyak peran dalam bingkai itu : presiden, koki handal, menteri keuangan, penasehat hukum, suster, satpam, tukang laundry, dll. Naaah, tentunya tak boleh main-main dalam pengambilan keputusan.

Jawaban akan pertanyaan “siapa”, barangkali itulah yang paling sulit untuk dijawab. Kuncinya adalah bebenah diri, karena DIA lah yang maha berkehendak.

Jangan gegabah dalam melangkah, pertimbangan terkait “kecocokan—kepercayaan—dan komunikasi” haruslah dipikirkan matang-matang. Dan bukan karena keterpaksaan….

.

4 thoughts on “[54] Manajemen Resiko

  1. lagi galau ndri?
    hehe

    mantappp tulisanmu..
    ahh.. aq salah satu fans dari tulisan2mu ndri..
    sayangnya tanda tanganmu uda banyak di kertas catatan kuliah..:p

  2. ndak galau kok Tin, hanya mencoba untuk realistis😀

    waaaa, ada fans juga ternyata..makasi2*krik krik krik
    iyaaa, bahkan tanda tangan+namamu juga nangkring di mahkota pencil pink-ku Tin, ada yang nebak juga “ini punya Tina” ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s