[52] Beliau [telah] Bergelar Almarhum


Semua serasa cepat. Peristiwa itu. Yaa peristiwa itu. Peristiwa yang membuat keseharianku sementara berubah. Menjadi aku yang mogok makan, jarang berkedip, cenderung pendiam, sering terisak, dan terlihat bermuram durja.

Hari itu hari rabu, tertanggal 27 Rajab 1432 H. Ditanggal dan bulan yang sama dengan peristiwa Isro’ Mi’roj. Berawal dari telepon tanpa salam pagi itu. Telepon yang seketika membuat senyum dan keceriaanku beku untuk beberapa hari. Telepon dari seberang dengan isak tangis, bahkan mungkin yang menelponku tak sadar ia mengulang2 berkali-kali kalimatnya.

Samsung merah muda dalam gengamanku bergetar. “Home calling”.

“………—-………–………–…………………………………………………..”, terdengar suara dengan kalimat tak terstuktur. Yaaa kabar duka itu. Kakekku dipanggil yang Maha Kuasa.

Dengan nada bijak, tanpa air mata, aku bicara di telpon menjawab  kabar yang dibawa adekku. Aku harus kuat dan berusaha memberi semangat pada adekku yang sedang terisak pikirku “Iyaaa harus ikhlas, memang sudah waktunya berarti, sudah mendapat bonus lebih juga dari usia Rosulullah, paktuwo uda 80an.” Walaupun pada akhirnya air mataku tak bisa menipu adekku……………….

Entah tepatnya pukul berapa, tujuh pagi lewat sekiranya berita itu tiba. Aku bingung, apa yang harus aku lakukan. Seolah tak percaya. Hanya bisa menangis di kamar kostan. Bayangan kenangan antara aku dan kakekku seolah menari-nari dalam memoriku tanpa aku perintah. Aktivitas yang kulakukan tak jelas apakah efek dari ensefalon atau pun medulla spinalis.

Posisiku di kota metro, kakekku di Klaten Jateng. Logika-ku seolah bekerja dengan tak terkoordinir, membayangkan pintu ajaib muncul tepat di depan mata. Agar aku bisa segera pulang ke kampung halaman. Aku hanya bisa menangis, aku bingung, kostan sepi, teman sekamarku yang seharusnya bisa kupeluk saat aku seperti ini—dia sedang pergi karena suatu kepentingan. Aku hanya bisa menangis. Setelah merasa sedikit tenang dan capek menangis, kuputuskan untuk meng-sms 4 orang kawanku yang memang tau kalau sejak beberapa hari yang lalu kakekku dirawat di RS, berharap ada secercah motivasi dan membuatku berfikir tenang.

Samsung merah muda itu kembali bergetar, “om wono calling”. [ceritanya dari kakek dan nenekku punya 4 orang anak, dan hanya keluarga om ku yang domisili Jakarta, 3 anak lainnya termasuk ibukku tinggal di Jateng, jadi aku dan keluarga om ku lah yang mungkin kebingungan mencari pintu ajaib hari itu]

“Mbak, cepat ke Soekarno Hatta sekarang, ditunggu ya”.  

Tanpa pikir panjang, aku segera siap2, bergegas dan meluncur ke tempat yang dimaksud om ku. Terminal 1 C. Kesana kemari serasa susah mencari tiket untuk pemberangkatan secepatnya. Dan akhirnya dapat tiket untuk 5 orang ditangan.

Aku pikir besi terbang itu bisa dengan baik menyusutkan waktu tempuh. Aku pikir besi terbang itu bisa membuatku sekedar mencium kening kakekku meskipun sudah berbalut kain kafan. Aku pikir, aku seperti hidup dalam negeri dongeng  yang bisa seenaknya berkhayal sesuatu. Kenyataannya semua berjalan sesuai kehendak-Nya, bukan kehendak hamba. Delay. Aku kembali ke hoby baru ku, menghabiskan tisu itu.  

 —-kakekku sudah di mandikan—kakekku sudah dishalatkan—-aku hanya bisa sekedar tau kabar itu lewat pesan singkat dengan posisi di Jakarta tanpa ada tindakan riil yang ku lakukan.

Sebisa mungkin aku membujuk pihak rumah agar menunda pemakaman beberapa jam saja, tapi semua sia-sia. Sudah terlalu lama katanya. Dan memang lebih baik disegerakan, ku dapat kata2 itu beberapa menit yang lalu. Lima puluh dua menit samsungku nonaktif, semua demi navigasi besi terbang ini. Lima puluh dua menit, aku tak bisa lagi sekedar telpon atau SMS “tunggu kami, jangan dimakamkan dulu “.

Sampai di Adi Sumarmo. Samsung merah muda ku kembali boleh diaktifkan. Seketika tubuhku lemas. Jawaban telpon dari mbak sepupuku “Sudah menuju ke pemakaman”. Mobil biru ber-plat kuning berpacu dengan kecepatan tinggi membawa kami berlima.

Di tepian kaca mobil, aku kembali melakukan hoby baruku. Kenangan-kenangan dengan kakekku kembali muncul. Membuat  stok tisu dalam tasku semakin menipis. Baru sekitar pukul 16.00 kami sampai di rumah duka. Semua sudah rapi. Tak ada lagi kakekku. Hanya ada pelukan2 dan tepukan pundak itu. Pelukan-pelukan dengan suara isak. Kami hanya saling merangkul, sesekali aku mampu menepuk pundak yang lain.

……………………semua serasa cepat. Tak kudapati lagi, wajah kakekku ataupun wajah berbalut kafan. Sore itu aku bergegas ziarah ke makam kakek. Aku kangen kakek. Terobati dengan pemandangan baru itu: nisan sementara itu, tanah coklat sedikit kemerah-merahan, taburan bunga2 itu. Yaaaa mungkin ini pertama kalinya aku merasakan perpisahan orang terdekat karena kematian.

Kenangan2 itu kembali muncul. Pertemuan terakhir dengan kakekku. Cium tangan kakek waktu itu, telepon dengan kakekku waktu itu….itulah yang terakhir untuk di dunia…… Nasehat-nasehat kakek. Harapan-harapan kakek. Tak henti2nya tanganku meraih tisu di tas. Sampai jumpa lagi Kek. Semoga Allah mempertemukan kita di syurganya, dekat telaga Kautsar itu.

Aku harus kuat. Aku harus ikhlas. Semua yang berawal pasti akan ada akhirnya. Mengingat kisah Rosulullah tersirat dalam surat Adh-dhuha ayat 6 “alam yajidka yatiiman fa aawaa”, yang artinya “Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang yatim, lalu Dia melindungimu”. Betapa berat cobaan Rosulullah, ketika dalam kandungan telah menjadi yatim, berlanjut ketika Rosulullah berusia 6 tahun ibunya meninggal. Kemudian kakekknya kemudian pamannya. Satu persatu dipanggil oleh Allah. Aku juga harus kuat dan ikhlas.

Seperti dalam potongan surat Al-Baqarah ayat 156 : Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un…Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan hanya kepada-Nya lah kami kembali”

 

6 thoughts on “[52] Beliau [telah] Bergelar Almarhum

  1. emm..sy g tau harus menghibur gmana…tapi setiap yang datang pasti pergi…semoga yang pergi di terima di sisi-Nya dan diterima Islam serta di ampuni dosanya serta pula semoga yang ditinggalkan diberikan kesabaran..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s