[50] Aku Mencintaimu, Ibu……….


Jakarta memang tak pernah sepi. Dan di kota ini lah, aku mulai akrab mendengar kata atau frase yang diulang 3 kali. Dan ternyata itulah cara mereka untuk sekedar mengganjal perut.

Tisu, tisu, tisu

Yang dingin, yang dingin, yang dingin

“Bukunya ya, yang biasa dijual sepuluh ribu, disini cukup lima ribu saja. Ada peta lengkap Indonesia 33 provinsi, ada juga resep memasak komplit ya. Cukup lima ribu saja. Ya, dilihat dulu. Melihat bukan berarti harus membeli. Bagi yang berminat silahkan membeli ya. Cukup lima ribu saja. Permisi Bu (*sembari meletakkan buku ke pangkuan salah seorang ibu yang duduk di kursi depan)

Inilah Jakarta. Macet, polusi, pengamen, pedagang asongan, kata-kata yang mungkin cukup mewakili untuk menggambarkan kota Jakarta. Kota yang ramai, tapi kerap membuat hati seseorang menjadi sepi. Beberapa gelintir orang malah lebih parah, hatinya seolah membeku.

Jakarta kumpulan orang rantau…

Dalam suatu siang, ada pengamen cilik masuk ke mikrolet 06 yang kunaiki. Sepertinya sudah tak asing lagi dan merasa hal yang biasa, ketika melihat wajah2 polos itu melantunkan tembang di dalam mikrolet. Saking seringnya, saking kerapnya, sehingga terkesan hal yang biasa. Padahal, seusia mereka seharusnya bernyanyi dalam ruang kelas bersama teman sebayanya untuk menuntut ilmu. Inilah kerasnya hidup.

Dengan suara polos, adek laki-laki kecil itu melantunkan lagu ibu. Dan selalu terbayang Doddy, adek laki-laki ku di kampung tiap melihat anak seusia itu….

“Sebening tetesan embun pagi. Secerah sinarnya mentari. Bila ku tatap wajahmu ibu. Ada kehangatan di dalam hatimu. Air wudhu selalu membahasimu. Ayat suci slalu dikumandangkan. Suara lembut penuh keluh dan kesah. Berdo’a untuk putra putrinya. Oh ibu….. engkaulah wanita, yang ku cinta selama hidupku, maafkan anakmu, bila ada salah, pengorbananmu tanpa balas jasa…………………………………………………..”

Suara adek dalam mikrolet itu bening, tulus penuh cinta. Satu, dua, tiga, empat, lima, enam orang penumpang mikrolet di belakang pun serasa terbius dengan suara adek itu. Ku lihat, ibu di duduk di pojokan mengambil tisu lantas mengusap wajahnya yang mulai keriput, sekedar menghapus air yang keluar dari matanya.

Lagu usai, beberapa uang koin dan lembaran berpindah tangan. Posisi di Kramajati, adek itu turun dari mikrolet, begitu juga denganku. Karena tertarik dengan suaranya yang tulus dan bening, aku SKSD bertanya pada adek itu, pikirku sekalian jalan menuju tempat yang ingin ku tuju. Sejauh ini terlihat searah dengan langkah ade itu.

“Namanya siapa Dek?”

Menoleh ke arahku dengan tenang lantas menjawab, “Mail, Kak”

“Ooo dek Mail, saya Endri”, dengan PD nya diriku menyebut merk pemberian orang tuaku.

Adek itu tak menajwab lagi, ia hanya tersenyum manis sambil menoleh ke arahku. Aku balas senyum polosnya. Dan tanpa diketahuinya, aku kembali mengambil tisu di tas biruku untuk yang ketiga kalinya sejak bertemu Dek Mail di mikrolet tadi. Aku memang cengeng. Sudahlah, pikirku, asal dia tak tau klo aku menangis itu sudah cukup bagiku. Tiba-tiba langkah adek itu terhenti, ia menoleh ke sisi kanan. Ku lihat ada toko bunga mawar tepat di Jalan Dewi Sartika no 35.

“Kenapa Dek?”

“Kakak lihat, bunga mawar putih cantik di toko itu Kak?”

“Iya, cantik ya. Indah. Suci. Tulus.”

“He em”, Dek Mail menjawab singkat lantas menunduk.

“Kenapa Dek, ingin beli ya?”

“Hari ini, aku bertekad membeli bunga itu untuk ibu ku Kak. Hari ini, hari lahir ibuku. Sudah beberapa minggu aku mengumpulkan uang, tapi belum cukup seperti yang ada di toko itu”

“Ehmmm, boleh kakak ikut memberi kado ke ibu Dek Mail?”

“Sungguh?”

“Tentu”

“Boleh Kak, kurang duapuluh dua ribu lagi kak uangnya”

“InsyaAllah kakak ada kok”

“Makasih Kak, maaf Kak, aku menerima tawaran kakak. Hari sudah mulai sore, aku takut tak cukup waktu dari hasil ngamenku. Hari ini hari lahir ibuku.”

Tak banyak kata, lantas kami membeli bunga mawar putih itu. Serangkaian bunga penuh cinta dan ketulusan.

“Boleh kakak ikut.” Entah apa yang ada dalam pikiranku, seolah aku lupa dengan tujuan awalku ke Kramatjati. Merasa ada panggilan hati untuk mengantar adek itu.

“Dengan senang hati Kak.”

Bercengkrama ini itu. Akhirnya Dek Mail mengetuk atap mikrolet kode sudah sampai di tempat tujuan. Dan sungguh di luar dugaan dan bayanganku. Aku pikir aku akan menuju rumah yang sederhana bertemu dengan ibu Dek Mail yang lusuh. Aku pikir, aku akan berhenti di gubuk tua yang reot karena hidup yang serba kekurangan. Bahkan aku sempat berpikir, aku akan terhenti di kolong jembatan karena Dek Mail terlilit kemiskinan. Tapi aku salah. Dek Mail memang terlilit kemiskinan. Tapi untuk saat ini, ternyata aku belum diizinkan ke rumahnya. Mikrolet terhenti di pinggiran pekarangan yang luas, lapang, rindang. Kami berhenti di pemakaman umum. Ibu Dek Mail telah meninggal, sejak Dek Mail berusia 5 tahun. Aku tertunduk lesu. Tak kuasa aku menahan haru, aku peluk tubuh mungil itu. Betapa aku harus bersyukur, aku jauh lebih beruntung. Aku masih punya ibu, yang selalu ada bila ku telpon. Yang selalu memberi pelukan dan senyuman hangat ketika aku pulang kampung. Ibu, aku rindu padamu Ibu. Ibu, aku sungguh mencintaimu Ibu….Maafkan aku, jika kadang ramainya Jakarta membuat aku sok sibuk dan lupa untuk sekedar menelponmu. Setulus dari hatiku, hatiku tak pernah sepi untuk selalu mendo’akanmu Ibu. Aku mencintaimu, Ibu………………

<cerita ini hanya fiktif belaka, semoga tak mengurangi pesan yang ingin disampaikan penulis>

6 thoughts on “[50] Aku Mencintaimu, Ibu……….

  1. Assalamu’alaikum wr wb,,,

    Subhanallah Hendri.. Tulisan hendri sangat indah..
    Sampai ga terasa pipiku basah n_n..

    • wa’alaykumsalam.wr.wb.,
      syukron katsir saudariku Retsi ^^
      semoga kita bisa menjadi sosok yang membuat beliau bangga.. pun jikalau membuat beliau menangis, tangisan itu adalah tangisan bahagia^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s