[47] Cermin bukan kaca


“Jangan bercermin pada cermin yang retak”

Tanya kenapa?

Bayangannya menipu. Membuat yang lurus jadi bengkok, yang bengkok terkesan lurus. Bahkan hasil cerminannya kadang bertumpuk2 tak beraturan. Walaupun ada juga yang bilang itulah seni^^. Akan jadi seni yang molek, jika pas pada tempatnya dan sesuai dengan kondisinya. Misal saja, kombinasi cermin retak bisa jadi penghias ruangan yang elegan kalau diberdayakan oleh tangan2 ahli.

Tentu tak pas manakala kita bercermin pada cermin yang retak terkait hal yang pokok. Bayangannya menipu, membuat yang wajib jadi sunnah, yang benar terkesan aneh. Bahkan cerminannya kadang berbenturan kacau. Dan dalam hal ini tak boleh kita bilang “seni”.

Ingatlah kawan : “kalau perihal muamalah, jika gak ada dalil, selama gak ada larangan, boleh dilakukan. Kalau perihal ibadah, jika gak ada dalil, brati bid’ah.”

Pertanyaannya, cermin yang mana yang harus kita pakai? Menurut Ibnu Tamiyah, yang layak dijadikan cermin adalah:

  1. Para Nabi
  2. Sidiqin ( pada sahabat Nabi, yang satu persatu telah dijanjikan masuk syurga)
  3. Syuhada
  4. Solihin

Coba kelas praktikum yaaa : Ambil uang lembaran 20ribuan, satu lembar aja. Kita coba cerminkan uang itu pada cermin kita. Bolak-balik, amati dengan seksama, sampai kita tahu detail wujud uang kita. Lantas bawa uang kita itu ke mall, serasa jadi menyusut nilai riil uang 20ribuan kita tadi. Serasa kurang bernilai. Intinya kurang banyak laah, kalau kita ke mall cuma bawa uang 20 ribu bae. Kemudian kita coba bawa uang kita ke masjid, dekatkan pada kotak infaq. Tak jarang yang merasa uang itu bernilai begitu besar. Kesannya uang 20 ribuan itu serasa terlalu besar untuk dimasukkan kotak infaq. Padahal kalau kita cerminkan ulang bentuk uangnya sama seperti semula. Dan semoga kita tidak tergolong orang yang seperti dalam kelas praktikum tadi, tapi kebalikannya. Subhanallah^^.

Beraaat ya kesannya bahas cermin^^. Mari kita rileks bae. Kalau kau merasa gundah, sebel, tak suka akan hari ini, banyak masalah, atau apalaah. Ambilah cermin, lantas kau pandang raut mukamu di cermin. Jelek kan^V. Kemudian tersenyumlah, pandangi wajah manis di depanmu. Wajah polos dengan senyuman termanisnya.

Kalau kau merasa sepi, kalau kau merasa sedih. Cobalah mencari semangat dan motivasi dari duplikat maya mu itu. Berinteraksi dengan cermin, pandang ia, dan tersenyumlah dengan manis, maka ia pun akan tersenyum manis untukmu, semanis senyumanmu yang kau berikan untuknya.

Kawan, tak selamanya hidup itu mulus. Ada kalanya ia beriak. Bahkan tak jarang ombak bergulung2 datang. Tapi percayalah, kita bisa melalui itu semua apabila kita masih mau bercermin. Memperbaiki kesalahan2 kita. Jangan biarkan cermin kita bernoda, dan bertambah noda. Tapi mari kita bersihkan apabila ia bernoda. Agar kita akan tetap selalu melihat wajah maya dengan senyuman termanisnya itu.

Cermin itu beda sama kaca lhooo. So, mari kita nyermin dan berinteraksi dengan wajah manis berseri-seri itu. Bukan ngaca dengan wajah berkaca-kaca^^.

2 thoughts on “[47] Cermin bukan kaca

  1. Doa bercermin
    Al Hamdulillaahi Allohumma Kamaa Ahsanta Kholqii Wahassin Khuluq
    :: Segala Puji bagi Alloh ya Tuhanku, sebagaimana Engkau telah memperindah rupaku maka baguskanlah budi pekertiku

    Nice Endri, ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s