[46] Cerita Tentang Wanita Itu


“Kok uda njemur mbak, emang nyucinya kapan?”

Pertanyaan dari seseorang wanita memecah lamunanku. Pagi hari sekitar pukul 8 di balkon belakang aku bermain dengan potongan-potongan kain basah. Wajar wanita itu tak tahu kapan aku mencuci, beliau sibuk dengan cucian dan pekerjaan lain di lantai bawah pagi tadi. Sesekali naik ke lantai atas untuk melakukan pekerjaan lain.

“Eh ibu, pagi tadi Bu nyucinya. Tadi memang sengaja ditinggal ke pasar sebentar beli makan, sembari menunggu rendaman pewanginya masuk ke pakaian”, aku menjawab sekenanya.

“Sudah ada tujuh bulan Bu?” aku kembali membuka pertanyaan

“Iya mbak, sudah tujuh bulan ini. “

“Seharusnya sudah tak boleh angkat2 berat ya Bu?” Kerap kali ibu mengangkat beberapa ember cucian dari lantai bawah untuk dijemur di balkon depan lantai atas. Dan pikirku itu tak ringan. Tujuh bulan itu usia kehamilan ibu itu.

“Seharusnya si gitu mbak, tapi ya mau gimana lagi mbak. Suami masih malas-malasan.

“Lhoo, gak nyupir lagi Bu?”

“Nyupir kalau ada panggilan aja mbak, palingan seminggu sekali. Sebenarnya ada kerjaan nyupir mikrolet, tapi males katanya setorannya banyak dapetnya ke kantong dikit. Harusnya kan ya gak papa, yang penting kerja. Gitulah mbak derita kalau punya suami malas.”

Wanita itu bekerja di kostanku untuk bersih2 ini itu tiap pagi. Aku memanggilnya bu, serasa lebih akrab pikirku. Jarang-jarang juga aku bertemu ibu itu, karena kesibukan masing-masing. Beberapa bulan yang lalu aku bercakap banyak dengan ibu itu(*baca = ibu itu curhat). Dan aku mulai banyak tahu tentang kehidupan pribadinya. Sekitar 6 bulan yang lalu saat aku sibuk dengan adonan kripik teri ku. Merasa kurang mantab, takut rasanya kurang pas. Aku beranjak lari ke tempat setrikaan menemui ibu itu. Itulah awal kami mulai akrab.

“Ibu, tolong cicip adonannya, gimana Bu?”

“Sudah pas kok mbak, coba tambah airnya mbak”

“OOO, masih kurang ya Bu airnya, heee. Makasih Bu” Aku kembali lari ke balkon belakang. Setelah ibu itu selesai dengan setrikaanya, beliau menghampiriku sembari membawa sapu untuk melanjutkan pekerjaan selanjutnya.

“Gimana mbak, uda selesai?”

“Heee, belum Bu”

“Saya juga sering buat kaya gini. Saya tiap hari bekerja di 3 tempat mbak. Pagi di sini, nanti di rumah depan itu, agak siangan ke tempat buat cemilan”

“Waaa, banyaknya Bu. Kirain rumah Ibu yang di depan itu, soalnya sering liat juga ibu njemur pakaian di depan, heee maklum Bu anak kostan baru^^”

“Enggak mbak, rumah saya tu jauuh dari sini. Kalau gak kerja kaya gini gak ada yang dimakan mbak, suami males2an”. Dan berlanjutlah ibu cerita tentang suaminya.

“Saya tu dah coba minum pil KB mbak, niatnya biar gak hamil lagi. Beli mahal-mahal, tapi nyatanya masih hamil mbak, mungkin terlalu kuat.” Aku mencoba mengangguk dan bergumam “Oooo”, padahal aku tak terlalu tahu apa maknanya.

“Niatnya uda gak mau punya akan lagi, anak sudah banyak, tak ada biaya untuk menghidupi.” Lanjut cerita ibu itu.

Berlanjut cerita tentang kisah cinta suaminya dengan wanita2 lain, tentang kerjaannya yang gak beres, tentang suaminya yang kurang bertanggungjawab atas anak-anaknya, tentang dan tentang kemirisan hati seorang wanita yang penuh dengan goresan dari sang suami. Dan ibu itu menutup ceritanya dengan kalimat.

“Mau gimana lagi mbak, nasi sudah menjadi bubur.” Aku terdiam, tak tahu harus berkomentar seperti apa. Lamunanku kabur, tak jelas. Semoga Allah senantiasa menguatkan hati hambaNya. Berharap itu hanyalah tabiat satu diantara seribu laki-laki.

3 thoughts on “[46] Cerita Tentang Wanita Itu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s