[45] Jika perpisahan itu adalah cara terindah


(gambar hasil googling)

“Ada pertemuan ada perpisahan” ibarat pepatah klasik yang barangkali jenuh untuk didengar, tapi akan selalu sarat dengan makna. Indah ketika pertemuan itu bertandang, tapi tak jarang yang berkabung ketika perpisahan mengajak untuk beranjak.

Saudaraku, perpisahan itu adalah sebuah keniscayaan yang sudah menjadi suratan. Jangan lantas kita terisak ketika kita dikenalkan dengan perpisahan. Baik itu perpisahan karena kematian ataupun karena jarak. Percayalah itu adalah cara terindah yang sudah diatur oleh DIA Yang Maha Tahu.

“Ketika tiba saat perpisahan janganlah kalian berduka, sebab apa yang paling kalian kasihi mungkin akan nampak lebih nyata dari kejauhan-seperti gunung yang nampak lebih agung terlihat dari padang dan dataran.” Kahlil Gibran

 

Bagaimana persiapan kita menghadapi perpisahan?

Saudaraku, tak jarang perpisahan itu justru menjadi puncak dari semua perjuangan kita. Jika tak berpisah berarti kita belum sampai puncak. Contoh saja “kelulusan” untuk jenjang SD, SMP, atau SMA dan “wisuda” untuk jenjang bangku perkuliahan. Kalau kita tak berpisah, berarti kita belum lulus. Begitu bukan? Walaupun memang tak semuanya berpisah, mungkin ada beberapa yang masih melanjutkan ke jenjang berikutnya dalam lingkup sekolah/ tempat bekerja yang sama. Ini jenis perpisahan yang sudah terjadwal, maksudnya kita sudah bisa memprediksi, oooo tanggal, bulan, dan tahun sekian kiranya kita akan berpisah kawan. Pisah hanya dilahirnya. So, persiapan kita, jadikan hari2 kita penuh dengan kenangan positif dan bermanfaat. Buatlah memori yang indah bersama sahabat dan saudara2 kita. Karena mungkin sekarang belum merasa betapa specialnya mereka. Mereka yang sering bertanya kepadamu dan mungkin kau mulai bosan dengan pertanyaan2 itu. Tapi itulah yang akan kau rindukan saat perpisahan itu tiba. “Pulang jam berapa?”, “Mau pergi kemana?” Itu lah bentuk perhatian dari sahabat2 kita. So, mari kita buat kenangan yang indah2 bersama mereka.^^

Lain halnya dengan perpisahan yang tak terjadwal. Yaitu perpisahan karena kematian, yang kita tak tahu kapan itu akan terjadi, karena itu rahasia Allah. Kapan kita mati?? Yang ditanya tidak lebih tahu daripada yang bertanya. So, persiapan kita, yaaa selalu taat dengan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Karena sewaktu2 kita bisa dipanggil, tanpa pandang usia.

Jika Perpisahan Benar Terjadi

Barangkali akan terasa kaku di awal. Terkesan tak nyaman. Merasa sepi. Tergambar tak seperti biasanya. Terpikir dia dan mereka yang dahulu ada dalam hari-hariku. Sedih boleh. Mengangis pun tak dilarang. Tak bisa dipungkiri seorang laki-laki rantau pun bisa menangis karena ia jauh dari ibunya. Tak bisa kita salahkan ketika seorang pria dewasa bisa menangis karena anak semata wayangnya dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Itulah perpisahan. Tapi apakah selamanya kita kan larut dalam kubangan air mata dan larut dalam kesedihan? Tentu saja tidak boleh. Karena hidup akan senantiasa berputar. Jangan kau habiskan harimu hanya untuk penyesalan masa lalu, atau pun kekhawatiran masa depan. Tapi bersyukurlah untuk detik ini.

Jika perpisahan itu datang, jangan pernah merasa bahwa engkaulah manusia paling menderita di muka bumi ini.  Itu konyol. Mari kita bekerja dalam telaga, bukan dalam gelas. Kadar cobaan dan kepahitan hidup ini tak jauh berbeda, mari kita gambarkan pahitnya cobaan kehidupan itu ibarat 1 sendok cairan brotowali. ( Brotowali adalah tanaman  obat yang berasa sangat pahit, nama latinnya Tinospora rumphii Boerl ). Yaaa, jika kita masukkan 1 sendok brotowali ke dalam gelas lantas kita minum, beeuuuuh pahit pasti rasanya..pahit..pahit sangat. Tapi jika kita larutkan 1 sendok brotowali tersebut ke dalam telaga, lantas kita minum air telaga itu. Apa yang kita rasakan?? Apakah rasa pahit itu masih terasa?? Pasti tidak, kadar pahit akan melebur dalam telaga hingga tak pahit lagi.

Mari kita jadikan hati kita seluas telaga, bukan sesempit gelas, agar bisa melebur kadar pahit hidup ini. Cobaan ataupun perpisahan akan menjadi sensasi duka yang teramat sangat, manakala kita hanya memiliki hati seluas gelas. Tapi saat hati kita seluas telaga, kita akan banyak tahu apa makna dibalik semua ini. Luaskan hati, lapangkan dada. Karena dengan berlapang dada, kita akan mengerti bahwa hidup ini tak selamanya dalam pertemuan. Dan yakinlah, akan ada pertemuan-pertemuan yang lebih indah di depan sana jika kita yakin akan janji Allah.

Ucapkanlah “sampai jumpa lagi”, bukan “selamat tinggal

6 thoughts on “[45] Jika perpisahan itu adalah cara terindah

  1. Kenapa membaca tulisan yang panjang-panjang . .😀
    Sepatah dua patah kata saja mamah . .

  2. Hiks hiks..
    terharuuuu..

    semoga jodoh fi nanti juga jodoh akhirat.. jadi ga ada kata selamat tinggal.. *loh? hehe

    btw mbk kok ga kunjung menghubungi fi mbk?
    katanya mau cerita ukh?

    • kita berdo’a semoga “sampai jumpa lagi di syurga ^^”
      iya ni dek Fi..mungkin waktu hari H itu mbak menggebu2 kan..mungkin merasa sekarang uda tenang hati jadi diundur dulu dech..yang penting uda simpan nomornya🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s