[31] Karena Hidup Layaknya Coklat


Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 (gambar dari berbagai sumber)

Aku suka coklat lho.Tau gak, kenapa aku suka coklat?” pertanyaan itu sering ku lontarkan ketika aku merasakan ada kegalauan yang merayap di hati lawan bicaraku, biasanya chat via YM^^. Tapi akku memang suka coklat. Sungguh, gak bohoong.^^

“Gak tahu lahh, memangnya kenapa?”

Barangkali waktu itu temanku mencoba berdialog dalam hati, “ni endri aneh2 banget si, aku kan lagi galau. Malah ngarep minta coklat”.

Haaa, wajar kok kalau lawan bicaraku berpikir seperti itu. Tapi sebelum lawan bicaraku menerka2 hal2 yang tak benar, dengan segera aku mencoba menetralkan suasana. Netral tanpa kandungan OH yang membuat rasa basa. Tanpa kandungan H yang membuat rasa asam.

“Karena bagiku coklat itu seperti kehidupan. Yang kita tahu coklat itu enak dan serasa manis, tapi kalau di cerna benar ada rasa pahitnya. Begitulah hidup, ada sisi manis dan pahitnya.

Sembari menunggu temanku membalas chat “ anonim is typing”. Hmmm, kita rihlah sejenak. Ingat coklat ingat kakao. Karena coklat berasal dari olahan biji tanaman kakao. Kakao juga punya nama pena, pakai huruf latin pula, heee*just kidding. Nama latinnya Theobroma cacao. Merujuk ke history, coklat pada awalnya disajikan sebagai minuman. Suku Maya meminum coklat sekitar tahun 400 SM berasa pahit. Biji kakao difermentasi untuk mengurangi rasa pahit. Rasa pahit pada coklat sebenarnya akibat kandungan alkaloidnya.

Karena punya 2 rasa yang dominan, tergantung kita sebagai penikmat coklat kehidupan. Mau dirasa manisnya atau pahitnya. Karena hidup itu penuh pilihan. Dalam pilihan berarti ada kebebasan. Tapi tak jarang, kita membatasi kebebasan dalam serial kehidupan. Mencoba membuat kotak kecil tersendiri, dalam kotak Maha Besar sketsa dari-Nya. Dunia ini luas kawan, bahkan lebih luas dari sejauh mata kita memandang.

Galau, geje, gak semangat harus kita bina agar tak menjalar menjadi momok jahat. Warning ia sebagai buronan, lantas kita penjara dengan belenggu. Biar kapok dan tobat. Agar kita bisa leluasa untuk kampanye apa arti hidup. Hidup dengan kotak manis nan luas. Optimiskan diri kita untuk menjadi kader-kader pembawa visi “La Tahzan”. ( La Tahzan = jangan bersedih). Untuk membawa kita di singgasana penguasa bernama “Hamasah”. (Hamasah = semangat).

Kalau diibaratkan semangat manusia itu laksana krupuk udang (*akku suka krupuk udang, #gakadayangtanyadotcom ). Jagalah ia dari terpaan angin, jagalah ia dari kelembaban, jagalah ia dari dinginnya kehidupan. Tahu kah kenapa??? Yupsss betul (*emang ada yang jawab githu, heee). Karena krupuk udang akan melempem kalau terkena angin berlebih, udara terlalu lembab, dan di ruangan yang dingin.

Nyaris mirip seperti semangat hidup kita. Banyaaaak sekali terpaan angin yang akan mendera, ibarat dera cobaan yang akan selalu berhembus layaknya angin. Ditambah kelembaban suhu yang tak menentu, lembab hingga berembun lantas berair. Berair dari mata, kesedihan atas kehilangan tak jarang akan membuat semangat ini melempem. Beranggapan hilang satu hilang semua. Padahal hilang satu tumbuh seribu lhooo. Tergantung bagaimana kita mampu untuk menemukan yang seribu itu. Dinginnya kehidupan, seolah hari-hari pun enggan menyapa kita dengan sebongkah senyuman. Terkadang merasa sama sekali tak ada kehangatan dalam nafas hidup. Bolak-balik rumah-kantor-kampus-kantin-mall-acara arisan-sekolah-dll, serasa semua manusia di kompleks itu menjadi patung salju. DINGIN. Membuatku tak nyaman. Patung salju dengan selimut sok berwarna putih bersih, tapi sama sekali tak simpatik ketika akku butuh sekedar percikan hiburan. Karena patung itu memang tak hidup dan hanya diam. (baca : orang di seliling kita menjadi menyebalkan*hanya perasaan kita siih, entah di rumah-kantor-kampus-kantin-mall-acara arisan-sekolah-dll)

Nah sebelum melempem, kita harus pandai2 berkenalan dengan kerupuk udang kita. Krupuk itu adalah makanan (*yaaaiyalaaah). Maksudnya krupuk itu adalah makanan yang memiliki banyak rongga. Rongga-rongga itu sangat kecil dan jumlahnya banyak. Apabila berada di ruang terbuka itu sangat rawan. Uap air yang dibawa udara akan terperangkap di dalam rongga-rongga pada krupuk dan membuat krupuk udang kita melempem. So, agar krupuk udang kita tak mudah melempem kita harus menaruhnya di ruang tertutup atau di udara yang kering. So, Jaga semangat kita dalam ruang tertutup. Contohnya dalam ruang tertutup bernama kompleks “optimis bin positif thinking”. Kalau perlu, kita singgah di gang “tak boleh mengeluh”. Di jalan yang terkenal sepanjang masa, tepatnya “ Lilahi ta’ala”. Tepatnya di rumah nomor 1 bercat biru di hunian “selalu tersenyum”. InsyaALLAH aman dari penyebab melempem.

La Tahzan, kawan. Karena hidup ini terlalu sempit kalau kita hanya memaknainya dari sisi “tak keberuntungan”. Karena hidup itu laksana coklat dengan rasa khas manis pahitnya. Kalau merasa, kenapa kita belum mendapat apa yang ingin kita punya / miliki. Itu artinya,sang sutradara Yang Maha Adil sudah membuat teks skenario yang indah di ujung sana. Yang akan indah pada waktunya. Karena itulah, nantikan ia di batas waktu itu.

Karena menikmati diri ini menjadi aktris/aktor kehidupan itu sangat menyenangkan. Skenario itu hak DIA. Tugas kita adalah menjalankan lakon dan alur cerita dengan usaha maksimal. Agar kita bisa mendapat award di penghujung nanti. Karena hidup akan serasa nikmat untuk dinikmati, ketika kita merasa nikmat menjalani hidup. Tersenyumlah^^.

2 thoughts on “[31] Karena Hidup Layaknya Coklat

  1. cara mkn coklat yg trbaik tu nikmati manisnya,,jgn trl dirasain pahitnya..dgn bgtu kt akan mrasakan hdp it lbh indah..^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s