[29] Tarian Saman dan Tsunami


Malam mulai menampakkan larutnya. Dilain pihak, mataku masih belum terpejam. Merasa diri ini tak konsisten dengan schedule yang telah ku rancang pagi tadi. Seharusnya agendaku malam ini merapikan skripsi yang baru menjajak tahap awal. Tapi tak tahu kenapa, malah khusyuk terpikat novel “Hafalan Shalat Delisa” karya Tere-Liye. Novel itu bercerita perihal Tsunami di Aceh 26 Desemder 2004 silam. Pikirku, suatu renungan yang tepat. Dua hari yang lalu, 11 Maret 2011, tsunami mengguncang negeri Sakura Jepang.  Karena bencana datangnya tak pernah ditahu.

Angka memang penuh misteri. Angka yang sama memang tak selalu punya makna yang sama. Contohnya angka 8,9. Bahkan aku pun akan tersenyum manis manakala nilai skripsi-ku 8,9. Itu artinya angka 8,9 mampu membuat orang bahagia. Tapi, ternyata angka 8,9 pun mampu membuat ribuan orang menangis dan bersedih. Tsunami di Aceh dan di Jepang itu berkekuatan 8,9 skala richter telah menyapu senyuman umat menjadi tangis haru biru berkepanjangan. Menggores luka, memberi bekas kesedihan, mencetak duka kehilangan. Sungguh, itulah teguran dari Allah. Bahwasanya kita hanyalah kecil dari sesuatu yang Maha Besar.

Ingat Aceh, ingat pula dengan tari Saman. Tarian nan elok. Tari Saman adalah sebuah tarian suku Gayo yang biasa ditampilkan untuk merayakan peristiwa-peristiwa penting dalam adat. Syair dalam tarian Saman mempergunakan bahasa Arab dan bahasa Gayo. Juga merupakan salah satu media untuk pencapaian pesan (dakwah). Tarian ini mencerminkan pendidikan, keagamaan, sopan santun, kepahlawanan, kekompakan dan kebersamaan. Sebelum saman dimulai yaitu sebagai mukaddimah atau pembukaan, tampil seorang tua cerdik pandai atau pemuka adat untuk mewakili masyarakat setempat (keketar) atau nasihat-nasihat yang berguna kepada para pemain dan penonton.

tari-saman-3

(gambar dari googling)

Terkesan definisi tariannya rumit, tapi eksotis kok tariannya.  Dalam novel “Hafalan Shalat Delisa”, juga diceritakan kakaknya Delisa si kembar Aisyah dan Zahra latihan tari Saman. Terdengar menarik bukan.

Secara live aku pernah menyaksikan tarian itu. Ketika itu ada acara “Kanisa Special” di kampusku, ada suguhan tari Saman. Takjub mata ini, tapi jujur akku tak mengerti makna tersirat dalam tarian itu. Aku orang asli Jawa, tak tahu menahu adat Aceh. Alhasil diriku hanya menjadi penikmat pesona tarian, bukan penikmat makna yang terkandung dalam tarian. Ibarat komunikasi satu arah, pesan tari Saman, belum tersampaikan kepadaku. Tak boleh jua ku sepihak menyalahkan siapapun, manakala aku tak tahu makna tarian itu. Dan aku sadar  bukan kareana tari Saman yang tidak komunikatif, tapi karena kekuranganku yang belum tahu bahasa atau adat negeri Aceh.

Aku, orang Jawa yang melihat pertunjukkan tarian Saman asal Aceh. Seneng nian liat cantiknya tarian itu, tapi gak nyampe pesan yang disampaikan karena kendala bahasa daerah. Solusinya gimana???? Apakah tarian itu harus di-translete ke bahasa Jawa agar penonton mengerti. #terdengar konyol dan merusak adat asli. Alternatif kedua si penonton mempelajari secara ringan makna tarian Saman. Sepertinya pilihan yang kedua lebih bersahabat. Lebih baik kita sebagai penonton, menyadari kekurangan kita dan cepat respon. Jadi jangan salahkan penarinya, tapi sadari kekurangan diri.

Analog ketika kita mendengar berita di TV dengan balutan bahasa Inggris, kita gak ngerti maksudnya. Jangan lantas kita menyalahkan saluran TV nya. Tetapi sadari kekurangan kita, brati kita yang harus belajar bahasa Inggris lebih banyak lagi. Pimpinlah hati kita untuk selalu berorientasi positif untuk koreksi diri, dan kurangi menyalahkan keadaan atau menyalahkan orang lain. Analog dengan hal2 lain dalam hidup ini. Ketika kita tak mengerti perihal sesuatu jangan lantas menyalahkan sesuatu itu, tapi liatlah diri kita terlebih dulu. Koreksi dan muhasabah diri.

“Jika seorang pemimpin tahu bagaimana memasuki suatu urusan, maka ia harus tahu juga bagaimana keluar dari urusan itu, sesempit apapun jalan yang tersedia”.__Amr bin Ash

Tentang pemimpin, tentang laki2, tentang seorang imam, pilihlah baik2. Jangan menyalahkan dulu, tapi mari liat juga diri kita^^

Karena…

Perempuan cenderung berfikir dengan hati. Dan akan berhati2 perkara hati. Berbeda dengan laki2 yang cenderung menggunakan pikirannya. Yaa, karena kita memang tak sama. Perempuan itu cenderung multi-tasking, lebih cerewet ( karena perempuan rata2 menggunakan 20.000 kata per hari, sedangkan laki2 hanya 7000 kata). Laki2 itu tipe otak spasial, suka otak-atik benda. So, tak heran kalau montir mobil lebih banyak yang laki2*lhoooh😀

Itulah seninya perempuan dan laki2. Tak jarang bagi wanita “hal kecil bisa menjadi besar”. Sedangkan laki2, “hal besar bisa menjadi kecil”. Karena itulah mereka akan saling melengkapi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s