[23] Diriku dan melon


Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

(gambar dari berbagai sumber)

Tadi malam, aku sempat chat via YM dengan temanku. Sebut saja seseorang berinitial “K” (*sok misterius). Di tengah percakapan,  aku send copas email yang sebelumnya sempat ku baca dari millis. Niatnya sih, sekedar lucu2an aja, kurang lebih begini copasnya:

Belajar Hidup dari Aneka Buah

1. Jadilah jagung jangan jambu  monyet, jagung membungkus bijinya yang banyak,

tapi jambu monyet malah  memamerkan bijinya yang cuma satu. Artinya : janganlah

suka pamer

2.  Jadilah duren, jangan kedondong, duren walaupun luarnya penuh duri  tajem

tapi dalemnya lembut dan maniz. Kedondong luarnya mulus, rasa agak  asem, di

dalam bijinya berduri. Artinya : jangan menilai seseorang dari  luarnya.

3. Jadilah bengkoang, walaupun hidup dalam kompos  sampah tapi umbinya isinya

tetep putih bersih. Artinya jagalah hati,  jangan terpengaruh lingkungan yang

hitam.

Kemudian temanku bertanya, “bagaimana dengan melon?”

Sontak aku kaget, entah pertanyaan itu kesengajaan atau bukan. Ku juga kurang paham. Sampai sekarang pun dia belum menjawab, kenapa menanyakan buah melon. Aku merasa kaget karena memang ada sesuatu antara aku dan melon, sejujurnya sampai detik ini akku belum bisa untuk makan buah melon. Aku berjanji pada temanku itu akan menceritakan kisah antara aku dan melon di blog . Biarkan dia sesaat untuk penasaran (*sok yes).

Semua berawal dari peristiwa beberapa tahun silam. Aku sendiri tak ingat berapa usiaku saat itu. Tapi klo dirunut, sepertinya aku belum bersekolah TK, artinya usiaku masih di bawah 5 tahun. Seingatku, aku belum punya adek  dan belum punya sepeda. Karena seingatku, baru ketika TK aku bisa mengendarai sepeda. Kalau boleh dikata ingatan ku tentang masa kecilku memang tajam.

Kala itu aku dan mamaku hendak berkunjung ke rumah biyung ( baca di tulisan sebelumnya : a small ripple in our own path ). Di zaman itu, masih jarang ada sepeda motor di desa tempat aku tinggal. Bisa dihitung dengan jari jumlah popolasi sepeda motor di desaku waktu itu.

Kondisi desaku zaman itu sangat jauh dari sekarang, dulu masih banyak pohon2 bambu disekitar rumah2 kami. Orang jawa menyebut pohon bambu dengan nama “wit oren”. Saking banyaknya pohon bambu kali ya, jadi nama desaku Ponowaren, barangkalai artinya “nggone oren”, haaa itu hanya tebakanku saja.

Sekarang pun masih ada bambu2 itu, tapi tak sebanyak dulu. Dulu, pohon bambu tumbuh tak pandang tempat(*tapi masih di tanah kok, heeee). Di halaman, di depan rumah, di sela rumah dengan tetangga, di mana-mana pokoknya. Sekarang pun masih ada, tapi tumbuhnya sudah mulai pandang tempat,paling di kebonan rumah. Yaaa, karena sudah mulai dirapikan oleh empunya.

Jika desaku dilihat dari desa seberang yang agak jauh, pasti terlihat desaku di intari pohon bambu. Entah berapa orang yang menyadari pemandangan unik ini. Seperti negeri diselubungi pohon bambu nampaknya dari jauh. Ponowaren^^Jalanan yang dulu  berlapis tanah, sekarang sudah berlapis aspal. Dulu sering banjir ketika hujan, sekarang sudah muncul saluran air. Serunya dulu, kala hujan tiba, ikan2 banyak bermain di jalan2, melompat2 riang tanpa dosa. Dan satu teman mainku (wanita yang sekarang sudah menikah) sangat lihai mengkap ikan. Aku selalu diberi ikan2 tangkapannya, karena aku  bisanya hanya berteriak saja, “ini, ini ada crepeng”, “ini ini bethik”,”ayo tangkap dik” haaaa padahal jujur saja waktu itu aku tak tahu mana yang disebut crepeng, mana bethik, mana blungsu, dan banyak istilah lain yang sering disebut temanku itu. Sekedar ikut2an saja apa yang temanku katakan. ^^ (*terkesan sangat pelosok kampung halamanku, haaaa memang iya siiih, dulu tapi, sekarang ,,,,,^^)

Aku memang terlahir bukan di kota. Tapi di desa, yang mayoritas masyarakat bermata pencaharian sebagai petani atau buruh tani. Karena sawah terhampar luas, bak permadani hijau nan molek rupa.  Aku pun lahir dari keluarga yang sangat sederhana, bapakku seorang petani. Sempat aku protes kenapa bapak memilih profesi sebagai petani. Dari cerita orang, setelah lulus SMA, bapak melanjutkan studi di  tempat yang menjadi banyak incaran orang kala itu, karena kualitas dan prospeknya. Tapiii,

Di zaman bapak masih muda, masih jarang penduduk desa yang bersekolah sampai jenjang SMA. Tapi bapak dan ke enam saudara bapak beruntung, karena orang tua bapak (kakekku yang telah tiada) sangat memperhatikan pendidikan. Kata orang dulu rumah kakekku adalah satu set model joglo khas adat jawa. Sekarang bagian rumah itu sudah dipisah2, bagian depan yang dulu untuk ruang pertemuan dan ruang tamu dipindah tempat dan sekarang menjadi atap rumahku. Bagian dapur  (empok tempat masak, cuci piring dan bak air) di pindah ke desa seberang menjadi rumah budheku. Bagian tengah (yang dulu ruang bebas, ruang makan, kamar tidur, ruang keluarga ) di jual kakek kepada negara yang sekarang berdiri menjadi bagian dari rumah joglo di Taman Mini Indonesia Indah (TMII).  Hasil dari penjualan bagian dari rumah joglo itulah yang digunakan kakekku untuk menyekolahkan anak-anaknya dan bisa dibelikan banyak sawah. Hingga semua anak kakekku bisa mengenyam pendidikan yang layak. Pilihan yang sangat berat kala itu.

Tapi entah apa yang ada dalam pikiran bapak waktu itu, beliau malah tak melanjutkan sampai wisuda, padahal jalan kuliah yang dilakoni sudah cukup jauh. Setelah menikah dengan mamaku, punya aku dan lia (adik ku), sempat bapak masih melanjutkan kuliah lagi dengan jurusan yang berbeda atas permintaanku. Tapi lagi2 tak sampai ujungnya.

Dan sekarang aku tahu jawabannya, kenapa bapak lebih suka bertani. Karena bertani adalah jiwa dan keahlian bapak. Karena bapak cinta dengan bercocok tanam. Seiring berjalannya waktu aku mulai paham, kalau bapak pandai dan lihai dalam bercocok tanam. Tak jarang sanak saudara, tetangga, orang yang baru kenal sekalipun minta pendapat bapak dalam bertani. Bagaimana biar hasil panen selalu bagus, bagaimana kalau ada hama ini, bagaimana biar padi itu tak habis dimakan tikus, bagaimana biar padi itu tak habis di makan wereng, tak habis dimakan keong, dll. Tak sedikit pula orang minta tolong bapak agar mau menggarap sawahnya. Katanya, biar hasilnya bagus. Sesuatu yang sangat berharga dapat ku petik adalah kita harus menekuni profesi kita atas dasar kecintaan dan ilmu. Karena dengan cinta kita akan senang melakoninya, dan atas dasar ilmu kita bisa maksimal di bidangnya. Apapun profesi itu (*tentunya profesi yang baik). Dan aku bangga menjadi anak seorang petani ^^. Bagiku bapak adalah konsultan tani yang hebat, yang bisa membuat aku ada di sini sekarang. Aku berjanji akan membuat bapak bangga ^^

Lanjut ke cerita melon.

Ketika itu aku dan mamaku hendak berkunjung ke rumah biyung, jaraknya cukup jauh. Tapi memang waktu itu tak ada angkutan untuk menuju ke rumah biyung, belum punya motor pula. Dengan sepeda onthel, mama memboncengkan ku. Kala itu mama membawa oleh2 untuk biyung, beberapa pakaian ganti kita, dan mungkin benda2 lain yang bisa dibilang berharga, aku pun sudah agak lupa. Semua benda itu diikat dengan kain  serbet ( model membawa barang zaman dulu). Aku bonceng mama, dan aku disuruh mama untuk memegang kain serbet itu, di letakkan di pangkuanku.

Sekitar seperempat perjalanan, di tengah sawah, ada truk nangkring. Rupa2nya ada yang panen melon. Di desaku ada sekitar 2 atau 3 sawah yang ditanamni melon, biasanya kalau panen melon tiba, akan ada truk yang datang untuk membawa melon ke kota. Kalau ada melon yang berukuran agak kecil atau berwujud kurang menarik boleh dibeli oleh warga.. Yuups waktu itu mamaku membeli melon, berapa nominalnya dan berapa buah yang dibeli aku juga lupa. Di masukkannya melon2 itu ke dalam kain serbet tadi. Amanahku kembali bertambah^^. Sepanjang jalan mama mengajakku bercerita, maksud hati biar akku tak ngantuk dalam perjalanan. Setiap ditanya,”ngantuk gak?”

Aku selalu menjawab,”gak”

Padahal akku ngantuk berat. Tapi aku tak berani bilang ke mama klo aku ngantuk, takut kalau dimarahi. Akku memang bandel sewaktu kecil, jadi dimarahi itu biasa bagiku😀

Sesampai di rumah biyung, aku baru sadar kalau kain serbet berisi bermacam2 benda tadi tak ada dipangkuanku. Jatuh entah dimana aku tak sadar, mungkin karena ngantuk. Hadooooh celaka duabelas pikirku, aku bakal kena marah besar lagi. Dan benar, akku dimarahi mama, mama sangat kecewa. Selain barang2 berharga, melon pun termasuk berharga kala itu. Huuuu, melon waktu itu barang istimewa di desa ku. Tak tahu berapa bulan lagi akan bertemu tetanggaku yang panen melon, belum lagi boleh tidaknya dibeli oleh warga. Kalau hasil panen melonnya bagus semua, tentunya warga tidak beruntung mencicipi melon, karena semua akan dijual ke kota.

Seingat ku, mama mencoba menelusuri jalanan ulang, tapi hasilnya nihil. Tak didapati kain itu. Waaaa, jreng jreeeng aku kena  marah besar. Padahal aku nyesel juga, karena dulu aku sangat suka makan melon. Seketika itu pikirku baik2 saja, aku tak merasa sedikitpun keanehan pada diriku. Baru beberapa hari setelahnya, aku merasa aneh jika melihat melon, rasa2nya pengen mual dengan bau melon yang sedikit menyengat. Aku mencoba dengan baik2 mau mencoba memakannya, tapi apa daya, aku tak bisa bersahabat dengan baunya. Akhirnya aku pasrah, aku mulai tak memakan melon sejak saat itu dan sampai sekarang. Padahal dalam hati aku ingin seperti dulu, yang lahap memakan buah itu.

Yaaaa sampai detik ini aku tak bisa makan melon, bukan sesuatu yang ku ada-adakan tapi memang mual rasanya. Tapi aku rasa sudah ada perkembangan  dari diriku, sekarang aku sudah bisa makan permen rasa melon. Kalau es buah ada melonnya, aku bisa memakan kuah es buah walau sudah bercampur melon ( tapi kalau melonnya belum bisa, baru kuahnya ^^).  Tak hanya akku, tapi juga berimbas ke mamaku. Mamaku lebih parah, sampai sekarang pun mamaku tak bisa makan melon juga watermelon alias semangka^^. Pernah mencoba makan semangka, tapi tetap dimuntahkan lagi, tak bisa memakannya.  Barangkali aku dan mamaku trauma atau apa ku juga kurang paham. Itulah sedikit kisahku dengan melon, mungkin suatu saat aku akan bisa memakan melon lagi^^.

Itulah “temanku”, jawaban kenapa akku tak bisa makan melon sampai detik ini^^.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s