[21] Metamorfosa


Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

(gambar dari berbagai sumber)

Sore hari bermandikan angin semilir, aku duduk di sofa ruang tamu lantai 2 kostan. Awalnya berniat belajar SIG (Sistem Informasi Geografis) untuk UAS semester 7. SIG adalah sistem informasi berbasis komputer yang digunakan untuk mengolah dan menyimpan data atau informasi geografis. Hasrat belajar, tapi hati berkata lain. Mata ku lebih tertarik melirik akuarium tepat di sebelah kananku berbatas jendela kaca. Akuarium bermuatan bermacam2 ikan nan menawan.

Akuarium itu milik kak Handry, anak ibu kost. Kak Handry memang pengemar ikan. Dari pengamatanku, rutin seminggu atau kurang dari itu Kak Handry mengganti air di akuarium itu. Padahal sepintas ku lihat, itu bukanlah pekerjaan yang mudah. Butuh kesabaran ekstra untuk kembali membuat air akuarium menjadi jernih dari yang sebelumnya nampak keruh. Dari prosesi menguras air dari akuarium, memindahkan ikan2nya sementara, mencuci batu2 penghias, menyikat beberapa perabot di dalamnya, dll entah akupun kurang tahu. Tapi itulah bukti cinta. Cinta membuat kita rela melakukan sesuatu yang barangkali serasa membosankan bagi orang lain. So, mari kita cintai buku, kita cintai mata kuliah, cintai mata pelajaran^^

Akuarium ikan itu ternyata mampu membiusku sementara waktu. Membuatku berimajinasi kesana kemari. Jikalau kita melihat akuarium berisi ikan, barangkali ya biasa- biasa saja, bukanlah hal yang istimewa bagi kita. Kecuali kalau kita memang “penggemar” atau kita pecinta ikan, pasti serasa istimewa.

Terlihat tak istimewa karena sudah biasa. Dan akan sangat mungkin sesuatu terlihat istimewa karena tak biasa. Dan barangkali lebih tepatnya, sesuatu terlihat istimewa karena luar biasa. So, mari kita menjadi seseorang yang istimewa  karena luar biasa^^

Akuarium ikan terlihat biasa saja karena kita kerap melihatnya. Bagaimana kalau kita  disuguhkan pada sekotak akuarium kupu-kupu. Sesaat aku berimajinasi membayangkan betapa molek dan indahnya jikalau ada akuarium kupu2 nan luas. Dengan beraneka ragam warna sayap dan coraknya. So sweet.

Tersadar ada perubahan populasi kupu2 disekitarku. Dulu, semasa kecil di kampung halamanku masih sering ku dapati kupu2 beterbangan di halaman rumahku, mengukir tapak tak beraturan tapi sungguh indah diantara bunga2 di depan rumah. Namun, sekarang kalau aku pulang kampung, jarang bahkan nyaris tak kudapati lagi kupu2 itu. Entah berapa orang yang tersadar jikalau populasi kupu-kupu semakin hari semakin berkurang.

Apakah tak semua kepompong sukses bermetamorfosis ? Ataukah ulat-ulat musnah karena teknologi pertanian berhasil menghadirkan pembasmi hama yang ampuh sehingga ulat-ulat yang hendak menjadi kupu2 pun mati? Atau kah karena ulah manusia dengan teknologinya mulai melupakan keramahan lingkungan ?

Jadi ingat lirik lagu di buku bahasa Indonesia ku waktu SD, bahkan sampai sekarang pun aku masih lekat,

Kupu-kupu yang lucu

kemana engkau pergi

hilir mudik mencari

bunga-bunga yang kembang

pada tangkau yang lemah

berayun-ayun

tidakkah sayapmu

merasa lelah,,,

Yaaa, kemana kupu2 nan elok itu terbang. Aku takut akan terjadi masa dimana anak-anak nanti tak akan bisa menemui kupu2 yang terbang bebas di udara lepas. Dan  punah. Aku berkaca, menatap laptop di depan mata, meskipun aku belajar tentang software komputer yang semakin canggih. Mulai bangga dengan hal2 baru nan modern, tapi tak  boleh lupa dengan hal2 tradisional yang juga tak kalah menarik untuk dilestarikan. Seperti layaknya metamorfosa kupu2.  Ingat kawan, belajar meniru dari negeri sakura, mengambil yang baik dan membuang yang buruk, istilah Jepangnya “Kaizen”.

Sebenarnya kita perlu mulai menumbuhkan kembali Syur’atul Istijabah, yaitu merespon dengan cepat atau istilah lainnya Fauriyatul Istijabah. Merespon dengan cepat segala sesuatu yang berada di sekitar kita, tentunya dengan respon yang benar dan tidak ngawur. Merespon cepat perintah, larangan,kabar gembira, hilangnya sesuatu dari peredaran kita, dll.

Alkisah di masa Rosulullah, ketika Rosul bercerita di depan para sahabat2nya. Beliau berceita bahwa beliau mimpi masuk syurga bersama 70.000 golongan. Para jamaah sahabat hanya sekedar mendengarkan. Tapi satu sahabat Rosul bernama Ukasyah dengan respon cepatnya bertanya,

“ Apakah saya termasuk salah satu diantaranya ya Rosul?”

Barangkali para sahabat yang lain menganggap pertanyaan itu tidaklah penting.

Rosul menjawab, “Sebentar saya lanjutkan tidur lagi. Ya, kamu termasuk diantaranya Ukasyah”

Barulah setelah itu sahabat yang lain, “Saya, saya, saya ya Rosul”

Rosul menjawab, “Kalian terlambat bertanya.”

Itu sekilas ilustrasi betapa respon cepat dengan tepat itu sangat istimewa kawan. Mari kita berlomba2 dalam Taharrid Diqqoh ( melaksanakan perintah dengan tepat dan akurat) agar menjadi contoh disekitar kita.

Merespon dengan sesegera mungkin, dan jangan membiasakan diri menunda suatu pekerjaan. Jikalau kita menunda satu pekerjaan sesungguhnya kita menunda serombongan pekerjaan di depannya, begitu seterusnya dan akan terakumulasi sampai berakhirnya jatah waktu kita. Karena sungguh setiap hari pekerjaan kita bertambah sedangkan waktu yang kita miliki tidak pernah bertambah ( karena justru semakin bergulirnya waktu, jatah hidup kita semakin berkurang).

Mari hidup dengan jurus ala Jepang Kaizen, tentunya tetap dalam syariat-Nya. Menjaga kelestarian metamorfosa diri kita. Agar kita tetap bisa menjadi kupu2 dengan habitat yang bisa akrab teknologi modern. ^^

#catatan mahasiswi yang berusaha belajar SIG untuk UAS besok ^^

6 thoughts on “[21] Metamorfosa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s