[20] A Small Ripple in Our Own Path


(gambar hasil googling)

Sometimes our work feels small and insignificant. But remember, a small ripple can gain momentum. Begin with one small step. Don’t let others stand in your way. Walk your own path.( kutipan)

Baru saja bersua dengan mama via telpon_18/02/2011. Percakapan seperti biasa, cerita ini itu, panjang, lebar, tinggi, tapi tak sampai menghitung volume, apalagi mengukur debit kerinduan per menit. Kerena rinduku pada mama memang tak terhingga. Love u Mam^^

Tak maksud hati, ingin mendengar kabar tak baik dari telpon pagi ini. Tapi memang harapan tak selalu sama dengan kenyataan, diantara keduanya sering ada bias yang menyela. Seperti teori dalam statistic, bahwa bias adalah selisih antara nilai harapan (expected) dengan nilai sebenarnya. Dan karena bias tak selalu bernilai nol.

Bias = E (y )- Y true

E (y )= nilai harapan (expected)

Y true = nilai sebenarnya

Inna lillahi wa inna illaihi rajiun”. “Semua berasal dari Allah, dan akan kembali kepada Allah”

Mama hendak melayat, guru mata pelajaran Seni Rupa SMP-ku dipanggil Yang Kuasa. Sebut saja Pak Giyanto. Beliau adalah guru pertama yang mengenalkan padaku pengertian persepektif, pernah saya sebut nama beliau di cerita saya sebelumnya “Persepektif kehidupan”.

Hidup ini memang misteri kawan, kita tak akan pernah tahu, kapan malaikat Izroil menghampiri kita untuk mencabut nyawa kita. Semoga kita selalu dalam keadaan beriman dan bertaqwa kepada-Nya..amin..

————————————

Beranjak ke cerita lain, mama mengajakku bercengkrama tentang liburanku. Untaian kata-kata mama pagi ini membuat kelopak mataku berembun lagi. Tentang kakek dan nenekku.

“Hampir tiap malam dalam beberapa minggu yang lalu, Biyung selalu meraba suara motor yang lewat, berharap kau yang datang”, ungkap mama.

Mama bilang : [ “Dud udud udud, itu pasti suara motor endri”, kata Biyungmu. ]

Tak kuasa aku menahan butiran air dari kelopak mata. Biyung adalah panggilan untuk nenekku. Paktuwo adalah panggilan untuk kakekku. Sekedar adat di daerah kakek dan nenek. Memang tak salah pepatah berucap:

Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya.”

Kakek dan nenekku ( orang tua dari mamaku) memang tinggal agak jauh dari rumahku. Aku tinggal di kabupaten Sukoharjo, biyung dan paktuwo di kabupaten Klaten.

Kalau orangtua dari bapak, bahkan akupun belum pernah merasa bertemu dengan mereka. Sudah tiada. Kata orang2 dulu sewaktu kecil akku masih sempat digendong oleh mereka, tapi akku pun tak ingat. Semoga beliau dalam lindungan-Mu ya Allah.

Setelah selesai bertukar kabar, telpon pun usai. Kata2 penutup yang rutin terlantun kala telpon sama mama,

“Doakan ya Ma”

“Iya, pasti”

“Assalamu’alaykum,”

“Wa’alaykumsalam, wr,wb.,”

Dan mungkin ketika itu aku dan mama melakukan hal sama, tapi di tempat yang berbeda. Menahan air mata kerinduan.

——————

Usai telpon, teringat peristiwa malam itu, ketika aku pulang kampung hendak berlibur diantara tanggal merah 25 Desember 2010. Suatu malam aku sekeluarga bersama beberapa saudara sepupu menginap di rumah Biyung. Tengah malam, paktuwo batuk-batuk dan terbangun, semua anak, cucu, juga biyung ikut panik, memang kondisi paktuwo sedang tidak fit. Kami semua kalang kabut, bingung, taku-takut hal yang tidak diinginkan terjadi.

Satu kalimat dari Paktuwo malam itu yang membuat darah ku seolah beku sesaat, membuat semua mulut terbungkam sesaat, “Aku ki gor nunggu indri diangkat kok cahhh” (baca : aku ini cuma nunggu indri prajab kok naaak__mungkin setelah itu aku akan tenang untuk tiada). Ya, Allah seketika itu aku tersontak, bingung apa yang harus saya katakan. Ya Allah mudahkanlah jalan kami…Syukur atas nikmat sehat yang Engkau beri selama ini..

———-

Tersadar dengan kondisi dua mata terbuka, diri ini hidup di tanah rantau menuntut ilmu. Mencoba selalu melakukan hal2 yang positif, sekecil apapun. Bertekad akan membuat semua keluargaku selalu tersenyum atas apa yang aku lakukan. Mencerna nasehat dari mama, jangan pernah meremehkan hal2 yang kita anggap kecil, orang2 yang kita anggap kecil, dan segala sesuatu yang kita anggap itu kecil. Karena besar pun tak akan bernah terjadi kalau tak ada kecil. Satu milyar pun tak akan terjadi jika kurang 1 rupiah sekalipun.

Aku pun tak ingin mengukir hidupku hanya sekedar panggung pertunjukkan drama. Dimana orang2 dan banyak personel mempersiapkan diri dan bersusah payah diawal. Mengkonsep dengan menarik, membeli perlengkapan terbaik ini itu, latihan siang malam, gladi kotor dan bersih, dll. Semua itu dilaksanakan untuk mempersembahkan suatu pertunjukkan hebat dalam sekali waktu. Saat pertunjukkan dimulai, itulah saat2 puncak bagi pertunjukkan drama. Tapi setelah itu??? Kembali seperti semula…panggung yang megah pun di koyah, dandanan para actor dihapus.

Aku ingin hidup layaknya sinetron positif yang sessionnya tiada berakhir. Bukan hanya sekedar gemerlap sesaat, tapi hidup bermakna sampai Allah menghentikannya.

Sekali lagi, bukan maksud saya hendak berkata pecinta sinetron dan anti pentas drama, itu hanya sekedar kiasan saja kok ^^

Sometimes our work feels small and insignificant. But remember, a small ripple can gain momentum.

Jangan pernah merasa apa yang kita lakukan selama ini tak berarti kawan. Sejauh itu positif. Lakukan hal2 positif untuk meraih mimpi2 kita. Letakkan mimpi2 itu dekat dengan diri kita, agar kita selalu mengingatnya dan berusaha untuk mencapainya. Mimpi itu bukan angan-angan. Dan jangan buat mimpi2 kita hanya berakhir dengan angan-angan belaka. Bermimpi dan berusaha, bukan sekedar berangan-angan untuk mengkhayal.

Dan tiap insan punya jalur sendiri-sendiri, berbeda antara satu dengan yang lainnya. Tak semuanya punya nasib menjadi presiden. Itulah variasi kawan, jika semua orang di dunia ini beranggapan jadi presiden itu enak, dan semua orang mampu dan ditakdirkan menjadi presiden, bisa dibayangkan apa yang terjadi? Karena akan lebih baik masing2 berotasi menurut orbitnya.

Jangan pernah merasa bahwa kita dan apa yang kita lakukan seolah tak signifikan merubah nasib kita. Siapa yang menanam, dialah yang punya hak untuk memanen^^ Barangkali, sekarang kita sedang melakukan sesuatu hal yang mungkin dinilai kecil oleh orang lain. Barangkali ada juga yang menertawakan atas apa yang kita lakukan. Sedang dilain pihak, orang lain sudah melakukan hal besar. It’s no problem. Karena semua berawal dari hal kecil, dari diri sendiri, dan dari sekarang. Buatlah yang besar dari yang kecil. Begin with one small step. Don’t let others stand in your way. Walk your own path.^^

Mari berusaha membuat seminimal mungkin bias itu, ukir jarak seminimal mungkin antara nilai harapan dan nilai kenyataan. Atau bahkan buat bias itu menjadi nol, sehingga kenyataan yang kita dapatkan sesuai dengan harapan yang kita inginkan dalam durasi waktu yang diberikan oleh-Nya.

^curhatan setelah telpon sama mama, saat masa-masa UAS semester 7..

my grand ma and grandpa ^^ love love love

(gambar dari berbagai sumber)

4 thoughts on “[20] A Small Ripple in Our Own Path

  1. Hfffthh..
    baca ini m’bwt saia inget sma klrga…
    Kyknya ud lma bnget ninggalin mereka
    kulh di STIS brhrp bs mewujudkan mimpi mereka..
    tp entah knp skrg merasa smkn jauh,, ga kebayang adik2ku ud seberapa bsr skrg

    Semoga Allah senantiasa menjaga & memberi kesehatan kepada mereka,, juga pada Paktuwonya Endri..

    Thx ndri..

  2. Amin, , makasih untuk doanya zkyn…

    Keluarga Zkyn pasti bangga nian sama Zkyn…
    Sosok baik hati yang suka ngajarin kita di KSM^^
    KSM MTV nya, terimakasih Zkyn, bisa menyambungkan benang merah yang sebelumnya masih berkumal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s