[3] Serupa kupu-kupu setelah berjibaku dengan waktu_jilbab itu wajib


tulisan ini masuk juara 2 EKSPETASI WM 1430 di kampusku..senangnya hatiku

“Dulu diriku bagai kepompong, na..na…na..na..na…”, seuntai bait hasil renov lagu kepompong. Penat, sempit, sesak, hidup dalam selimut jaring-jaring abu-abu kehitaman itu, dengan kata lain hidup bagai kepompong. Seolah diri ini terbungkus oleh jala palsu, yang tidak bercerita pada khalayak tentang aku yang sesungguhnya. Aku yang diciptakan-Nya dengan beratus, beribu, berjuta, dan tak berhingga amanah tuk berjihad di jalanNya. Dulu, aku tak tahu kalau ternyata Islam itu begitu indah. Dulu aku tak mengrti kalau segala yang diperintahNya itu adalah demi kebaikkan ku. Dulu aku tak paham kalau aku melakukan laranganNya, akan membuat aku celaka. Dulu otakku tak sampai menerima kebenaran yang terlantun dari ayat-ayat Al-Quran. Yaa..h karena dulu aku terbungkus oleh balutan abu-abu itu. Kedipan mataku hanya bisa melihat hidup damai dalam rajutan kegelapan dalam kepompong itu. Aku merasa aman, padahal kalau saja kepompong itu di makan serangga lain musnahlah aku. Aku dalam kepompong yang merasa aman padahal bagai hidup diatas tebing curam, dengan banyak ancaman.

Alhamdulillah, puji syukur waktu telah membantuku mengelupaskan sedikit demi sedikit balutan kepompongku. Aku yakin inilah caraNya  untuk menggugah jiwaku. Ya…aku mulai bercengkrama dengan dedaunan disekitarku.Pula dengan dedaunan yang hijau berklorifil. Dibantu semilir angin, daun itu bicara dengan stomatanya, “Jikala semua daun sepertiku di seantero jagad dikumpulkan ibarat kertas tak kan muat menuliskan nikmatNya”. Subhanallah, hatiku berdecak kagum, daun itu tlah memberiku ilmu yang aku tak tahu sebelumnya. Karna di dalam selimut kepompong yang ku tahu hanyalah aku bisa hidup tenang tanpa harus berebut Oksigen dengan yang lain. Ternyata Oksigen itu salah satu nikmat Nya, yang sungguh mahal. Tapi, aku melewatinya dengan enteng, seolah karena gratis dan mudah mendapatkannya. Padahal jika 5 menit saja aku tak mendapatkannya, nafasku kan tersenggal, hasil terburuk aku mati karena tidak bisa melakukan salah satu cirri makhluk hidup, bernafas.

Detik demi menit aku lewati, membantuku beradaptasi dan membawaku menjadi kupu-kupu. Walau baru sedikit goresan cantik yang menorah sayapku, tapi aku cukup senang. Keadaanku lebih baik dari kepompong, aku tlah mengenal daun dan mendapat secukil dari ilmuNya. Dan aku bisa mengabarkan ilmu dan kebenaran ilmuNya dengan kepakan sayapku, “sampaikanlah kebenaran walau hanya satu ayat” . Kebetulan aku hinggap di bunga mawar. Begitu molek nan rupawan dirinya, dia mengajarkanku tentang hokum berhijab. “Berhijab itu wajib”, katanya. Otakku mulai berkelana mencari manfaat dari ucapan Sang mawar. Karena aku tahu kalau setiap yang diperintahNya pasti bermanfaat. Ya…a aku menemukan foldernya, ada file yang berucap kalau hijab itu adalah pelindung bagi hawa dari sesuatu yang berbahaya. Aku bisa menerima sintaks itu, kalau mawar tak berhijab duri mungkin sembarang makhluk kan bisa mencelakakannya. Ilmu hijab telah menambah daftar goresan cantik(baca : kebenaran yang diperintahkan) di sayapku. Aku mulai mengenakan goresan cantik itu(baca:mengaplikasikan dalam keseharian) dan megepakkan sayapku tuk menebar kebenaran itu pada yang lain. Semua hal itu mungkin takkan ku dapatkan kalau aku hanya bersemayam bagai kepompong, yang tak mau mengail ilmu.

Pagi itu ku apa semut  diseberang sungai, ternyata dengan kemauan dan mau berkelana mecari ilmuNya aku bisa memperolehnya. Semut di seberang sungai mengajarkanku tentang ukhwah islamiyah. Subhanallah, begitu indahnya islam. Para gerombolan semut saling mengucap salam jika bertemu, mendoakan keselamatan saudaranya. Pula mengajariku bekerja sama.

2 thoughts on “[3] Serupa kupu-kupu setelah berjibaku dengan waktu_jilbab itu wajib

  1. islam’s very…very beautiful & mncukupi sgalanya. Allah mnjdikn dir ni slu sejuk dgx di kala mnusia pd mrasa gerah kpanasn ato kdinginan ditimpa ptaka.subhanalloh!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s