Tag Archives: QS : Al A’raaf:57

[40] Hujan yang Tak Menangis


Dalam suatu hari di bulan April 2011, kuliahku usai menjelang magrib. Rintik hujan menemani langkahku menuju persinggahan sementaraku di dunia__sebut saja kost-an.

Jutaan arloji di Jakarta menunjuk zona angka 6 ( baca : sekitar pukul 18.00 WIB). Sayup-sayup azan magrib nan syahdu mulai menggema di beberapa penjuru dengan spot yang beraturan. “Allah Akbar…Allah Akbar…” Dengan sangat sakti, banyak umat muslim yang lihai menangkap gelombang suara azan dengan bagian telinga luarnya. Lantas menelusup dalam rongga melalui lubang telinga, dan mulai menelusuri untuk sekedar menggetarkan sang gendang telinga. Dengan kuatnya menghantam telinga tengah, berkolaborasi dengan sang rumah siput, sebut saja dia “koklea ”. Berakhir dengan berubahnya energi mekanik menjadi energi elektrik untuk digiring ke syaraf pendengaran. Selanjutnya urusan sang syaraf untuk mengolahnya dan akhirnya kita bisa mendengar suara azan. Yaaa begitulah sekelumit prosesi “bagaimana telinga kita bisa mendengar”. Sesuatu yang berulang-ulang terjadi dalan diri kita. Ratusan, ribuan, jutaan kali, bahkan tak terhitung, karena memang kita manusia tak sanggup berhitung dengan fasih seberapa banyak nikmat Allah yang kita nikmati dengan free. Semoga kita termasuk dalam golongan orang-orang yang senantiasa bersyukur atas nikmat dari-Nya.

Beberapa dari banyak manusia menganggap prosesi “mendengar azan” sebagai manik-manik yang tak berarti. Tahu, tapi diabaikan. Dengar, lantas dilalukan. Tahukah kawan?? Azan terdengar sampai ke telinga kita merupakan prosesi rumit. Coba saja manusia membuat tiruan telinga sebagai salah satu sistem pendengaran..hadeeeeh, r.u.m.i.t dan tak akan bisa… Salah satu bukti nyata kuasa Allah adalah sang syaraf pendengaran.  Dan sudah selayaknya syaraf otak beserta syaraf hati kita ikut berprosesi laaah. Diawali dengan gerakan otot hati, lenturkan ia dengan kewajiban dari-Nya dan sunnah Rosul. Gerak itu ekspresi olahraga lhooo. Dan berharap hati kita akan senantiasa sehat, karena rajin berolahraga. Menggerakkan hati, dengan segera shalat setelah mendengar azan. Karena shalat adalah olahraga rohani dan jasmani ^^.

Mari kita awali dengan tindakan^^.

“Karena tindakan belum tentu membawa kebahagian, tapi tak ada kebahagiaan yang sesungguhnya tanpa tindakan” 

—————————–

Kembali ke cerita awal.

Hujan. Rupa-rupanya akku butuh umbrella untuk menemaniku menapaki diagonal ruang waktu. Kalau dunia ini berbentuk kubus, dengan cepat akku bisa menjawab jumlah diagonal ruangnya “4.” Tapi sayang, akku belum bisa meraba bagaimana dimensi ruang waktu. Setiap hari akku bergelut dengan waktu, tapi akku belum tau  berapa diagonal ruangnya.

Setiap hari akku menghabiskan waktu, tapi belum sepenuhnya akku bisa memaknai untuk apa waktu itu kuhabiskan. Semoga, kita menjadi orang yang tak selamanya hanya bisa menghabiskan waktu ( baca : konsumsi), tapi menjadi orang yang lihai memanfaatkan waktu ( baca : produksi ). Karena orang yang berproduksi akan lebih baik daripada orang yang hanya bisa mengonsumsi.

Suatu ketika akku pernah mengikuti kuliah umum di audit kampus nan megah, bersama Guru Besar  FEUI dan Penasihat Menteri Negara PPN/BAPPENAS “Sri-Edi Swasono”. Beliau menyampaikan pentingnya menjadi pribadi yang gemar “produksi”, bukan sekedar bangga menjadi pribadi yang menjadi “konsumen”. Walaupun konsumsi barang2 berkelas—itu bukan sesuatu yang membanggakan. Kalau produsen barang2 berkelas, itu baru keren..Mari menjadi orang dengan jiwa produksi, mari “menanam”. Karena hanya dengan menanam kita akan punya hak untuk menuai.

Kembali ke cerita “Hujan yang tak menangis”

Kulanjutkan perjalananku menuju kost-an dengan tetap menggandeng mesra sang hujan. Mengguling-gulingkan otak, untuk sekedar mencerna apa yang ada disekitar. Pikirku “ Hujan = awan yang menangis”. Apa mungkin awan menangis karena sedih?? Mungkin awan bersedih, karena masih banyak orang-orang yang tak punya tempat berteduh kala hujan mengguyur bumi. Yaaa, barangkali diantara kita, banyak yang dengan nyamannya bisa duduk manis di dalam rumah, tanpa terganggu dengan lebatnya hujan. Tapi kawan?? Masih banyak saudara-saudara kita yang tak punya atap untuk sekedar berteduh. Masih banyak saudara kita yang harus bermain dengan ember, disibukkan dengan bermain air karena rumahnya masih bocor. Masih ada seorang renta yang harus menggigit bibirnya demi menahan dinginnya hujan, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya menjadi kuli batu.

Tapi tak selamanya awan itu menangis dalam kesedihan, awan juga bisa menangis karena terharu bahagia. Sebut saja “Hujan yang tak menangis”, karena ia bisa menggoreskan secercah senyum bagi anak-anak ojek payung di kota metro. Mengukir senyum pada abang penjual jagung rebus. Yaaaa, jagungnya laris manis kala dingin menggigil. Teringat hari  kemarin di malam yang cukup berhawa panas, abang penjual jagung harus pulang dengan jagung penuh di gerobaknya ( artinya jagungnya tak laku). Karena jagung rebus nikmat disantap dalam bediding dingin. Kemarin jagung tak laku, pulang dengan senyum kusut. Suara pun serak untuk menyampaikan berita, “Nak, maaf ya Nak, bapak belum bisa membayar uang SPP mu”. Tapi karena hari ini hujan—jagung laris—SPP terbayar—abang senang—awan pun riang—dan menangis dalam bahagia—hujan yang tak menangis^^

Dia lah yang meniupkan angin sebagai pembawa kabar gembira, mendahului kedatangan rahmat-Nya (hujan), sehingga apabila angin itu membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu. Kemudian kami tumbuhkan dengan hujan itu berbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.” (QS : Al A’raaf:57)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 54 pengikut lainnya.