Tag Archives: matematika nisbi

[109] Jangan Berjuang Hanya ‘Sekelas Kardus’ untuk Islam


Bicara tentang kekejaman rezim Syiah Suriah. Kondisi dimana penguasa menganut aqidah Syi’ah Nusairiyah, yang meyakini tidak wajibnya shalat lima waktu, puasa, zakat, halalnya khamer serta zina. Padahal hanya sekitar 10% penganut sekte Syi’ah Nusairiyah di Suriah, tapi mereka mampu menempati posisi strategis di pemerintahan. Apa akibatnya? Masjid-masjid dihancurkan, menangkap para ulama Suriah, menutup sekolah islam dan pesantren. Memenjarakan para ulama besar, wartawan, dokter, arsitek, jurnalistik, dan pejabat. Yang lebih menyayat hati, mereka memasuki kota Hama yang merupakan kota ilmu syar’i serta banyak masjid. Pasukan memasuki kota kemudian memerkosa wanita-wanitanya, mengeluarkan janin dari tubuh wanita hamil, mengumpulkan para ulama dan keluarga mereka kemudian menggiringnya kejalan dan membunuh mereka dengan peluru panas secara massal. Mengeluarkan wanita-wanita yang menjaga kehormatan mereka ke jalan-jalan dalam keadaan telanjang. Wal ‘iyadzu billah.

Seandainya Indonesia ini tiba-tiba diserang seperti halnya Suriah, suara siapakah yang akan didengar, kalau ‘ia’ mengatakan tiarap maka tiaraplah semua pasukan? Punyakah kita jiwa-jiwa seperti itu? Betapa bahayanya kondisi kita saat ini, tapi inilah riil yang sedang terjadi di negeri kandang ayam ini.

Akankah kita terus-terusan berjuang masih sekelas kardus, berjuang dengan metode yang sangat memalukan. Minta sumbangan via kardus turun ke jalan-jalan? Jika jiwa-jiwa itu yang tertanam pada sebagian mahasiswa, maka apa jadinya pola pikir yang akan terbentuk nanti? Membangun masjid dengan sumbangan via jaring ikan di tepian jalan? Padahal, pemuda Yahudi bekerja dengan keliling Eropa dan Amerika kemudian pulang dengan membawa 1 induk kapal berisi emas, musuh cerdas, sedangkan kita masih via kardus? Apa yang salah? Mari keluar dari kelas kardus.

Berpikir tentang bagaimana cara melawan kekuatan Iblis, artinya bagaimana melawan Iluminati, itulah inti dari kekuatan leadership dalam prinsip kekhalifahan. Mari bersama-sama berikan pundak ini untuk umat, yang kita butuhkan adalah kekuatan konten. Bismillah.

Bukankah manusia ini diutus dimuka bumi sebagai khalifah? Seperti firman Allah dalam QS. Al Baqarah ayat 30

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (QS Al Baqarah ayat 30)

Karena khalifah itu tak harus menjabat. Berkuasa itu tak harus menang dalam kontes. Seperti halnya ketika Rosulullah marah dan hendak merobek kekuasaan besar yang saat itu berdaulat, kekuasaan Heraclius yang sangat kejam. Betapa marahnya Rosulullah saat itu hingga mengatakan, ‘akan aku robek-robek kekuasaan Heraclius itu, dari sini, dari rumahku’. Itulah jiwa khalifah, kemudian Rosulullah berjuang, tak hanya sekedar bicara. Karena jiwa kekhalifahan, tak hanya butuh sikap ‘kelelakian’, tak hanya butuh sikap ‘keberanian’, tapi yang di butuhkan adalah ‘keyakinan’ tentang Allah. Sehinga tetap akan berani meskipun posisi bukan sebagai pemegang kekuasaan, sedangkan yang berkuasa itu salah. Itulah jiwa Rosulullah. Bismillah, mari belajar, bagaimana melawan Iblis, sehingga kita bisa memulai dengan mendapatkan kemenangan-kemenangan kecil dari Allah yang nantinya akan menjadikan template dalam diri kita, sehingga kita akan selalu melihat dari atas, merasakan hati kita terbang seperti layaknya burung-burung yakin bahwa Allah senantiasa bersama kita.

Dari QS. Al Baqarah ayat 30, malaikat mengatakan bahwa manusia akan membuat kerusakan dan pertumpahan darah. Kok malaikat memprediksikan seperti itu? Menurut tafsir ada 2 sebab, yang pertama sekitar 2000 tahun sebelum adam ditunjuk sebagai khalifah, telah ada jin yang ditunjuk sebagai khalifah yang akhirnya melakukan kerusakan dan partumpahan darah. Yang kedua bocoran dari Allah bahwa keturunan Adam nantinya akan ada yang melakukan pertumpahan darah (*sejarah Habil dan Qabil).

Kemudian apa maksudnya? Allah yang menciptakan manusia, Allah juga yang menciptakan Iblis? Karena memang dunia ini adalah panggung sandiwara dengan scenario dari Allah. Allah sendiri yang menciptakan manajemen konfilk ini, dan tentu bukan tanpa maksud. Sehingga Iblis pun, menganggu manusia juga atas izin dari Allah. Analognya seorang pemelihara ikan, ia sengaja memilih kolam yang berarus deras dan sengaja memasukkan hiu dalam kolamnya. Apa akibatnya? Ikan akan protes kenapa dimasukkan hiu? Tentu saja tidak bisa. Ikan-ikan akan berusaha sebaik mungkin agar terhindar dari hiu, akan sedikit tidur dan bergerak aktif, sehingga menjadi ikan yang ‘baik’.

Kembali ke masalah apa yang dilakukan Iblis agar keturunan Adam melakukan kerusakan dan pertumpahan darah. Ternyata Iblis tidak fokus untuk melakukan perusakan lingkungan alam, tapi fokus Iblis adalah melakukan perusakan aqidah dan ilmu, kemudian perusakan akal. Bagaimana caranya? Caranya seperti firman Allah dalam QS Al ‘Araf ayat 16 dan 17

Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, (QS Al ‘Araf ayat 16)

kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (ta’at). (QS Al ‘Araf ayat 17)

Sadarilah bahwa kita ini telah diincar dari muka, dari belakang, dan dari samping oleh Iblis/syetan. Bagaimana caranya? Karena menyerang dari depan itu adalah langkah Iblis yang paling basic, ibaratnya cara yang paling bodoh. Maka dari itu, Iblis mengoda manusia juga dari belakang, dari kiri dan kanan. Iblis itu menjadikan manusia sebagai perpanjangan tangannya. Bahkan bermain dari golongan kiri, antar golongan kanan pun dibuatnya saling berselisih. Bagaimana cara Iblis mendekati kita? Seperti firman Allah dalam QS. Az Zukhruf ayat 36 yang artinya

“Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha pemurah (Al-Qur’an), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya (qarin).” (QS. Az-Zukhruf ayat 36)

Caranya ia membisikkan dalam otak qalbu kita, bibir iblis menempel pada otak qalbu manusia. Menjadi Qarin, menjadi teman yang selalu menyertai manusia yang menempel di otak qalbu kita. Karena pada dasarnya otak yang ada di kepala ini hanya sekedar mengerjakan, sedangkan otak yang ada dalam qalbu inilah yang mengendalikan. Yang menjadi kendali adalah qalbu. Sehingga qarin itu seperti teman sejawat kita yang membisikkan segala sesuatu dengan lembut seperti teman karib membisikkan sesuatu kepada teman karibnya, seperti nasehat teman baik pada teman baiknya. Saking lembutnya, sehingga membius manusia, hingga akhirnya banyak manusia yang terlena, mengerjakan yang sebenarnya itu adalah kekesatan yang nyata.

Membisikkan bukan hanya agar manusia lupa berzikir, tapi agar manusia lupa akan rahmat Allah, lupa akan Allah yang Maha Rahman, Arrahman. Lupa akan energi, lupa akan sinar UV, lupa akan Oksigen yang setiap hari kita hirup, lupa akan sel-sel pembentuk tubuh kita yang telah Allah berikan pada kita. Lupa akan betapa Allah telah memberi rahmat kepada kita.

Syetan-syetan itu menjadikan baik pekerjaan yang kita lakukan seperti dalam firman Allah surat Al Anfaal ayat 48. Menjadikan pola pikir dan definisi ‘baik’ atas logika kita. Disinilah syetan itu bekerja. Mereka membisikkan dalam otak qalbu kita, bermain diantara sense dan persepsi kita. Apa maksudnya? Sense itu berbeda dengan persepsi, Sense setelah melalui proses berpikir dan analisis barulah menjadi persepsi kita. Syetan sering mengacaukan kita di level sense ke persepsi. Jadi, jangan percaya dengan sense kita sendiri. Karena kebenaran itu bukan sesuatu yang memuaskan logika kita, tapi apa yang ada dalam Al-Qur’an.

Gambarannya seperti ini, matematika itu bukanlah ilmu pasti, tapi ilmu nisbi. Secara sense, 2+2 = 4. Apabila dalam keseharian kita hanya mengikuti sense, Oh no, kita akan tersesat dalam logika kita. Persepsi dengan Al-Qur’an, bisa jadi 2+2 = -4, bisa juga 2+2=0, bisa juga 2+2=2800. Bagaimana bisa?

2+2=-4, ketika kita mendapat 2 dari penghasilan haram, kemudian 2 kita belanjakan bukan di jalan Allah, maka – 4 kita peroleh. Kita tergolong orang-orang yang merugi.

2+2=0, ketika kita mendapat 2 dari penghasilan haram, kemudian 2 digunakan untuk taubat, jika Allah menerima taubatnya.

2+2=2800, ketika 2 mendapat 2 dari penghasilan halal, dan 2 digunakan untuk fisabilillah, maka 2+2=4 akan dikalikan 700 sehingga hasilnya 2800. Inilah ilmu pasti yang datang dari Allah. Semua di dunia ini nisbi, karena yang mutlak hanyalah Allah.

(gambar dari google)

 “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” QS Al Baqarah ayat 261

Wallahualam bi sawab.

Catatan ngaji, belajar dari guru ngaji

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 54 pengikut lainnya.